Sabtu, 10 Mei 2014

M.san dan Negeri Impian

Kemarin salah satu temanku berulang tahun. Ada perayaan sederhana dimana kita makan siang dan mengobrol bersama. Tidak banyak yang datang, dan justru karena itu kita bisa lebih banyak interaksi satu sama lain.

Salah satu teman yang datang adalah M.san, teman se-program dari S, sebuah negara maju di Eropa yang tahun ini gak lolos piala dunia (aduh, clue-nya absurd ya? hahaha) yah, gampangnya kalo orang Indonesia pasti kenal dengan pepatah "SW*** payung sebelum hujan". Nah, itu .

Aku gak begitu akrab dengan M.san, interaksi kami selama ini bisa dihitung jari. Tapi kemarin kita banyak mengobrol bersama. Mulai dari pembicaraan soal hari turunnya beasiswa bulanan, (yang alhamdulillaah, turun hari ini! >_<) sampai ke statementnya yang membuatku melongo.
"Gak tahu deh soal bayaran sekolah, gue nggak pernah."

What?! NGGAK PERNAH bayaran sekolah??

"Maksudnya?" tanyaku, minta penjelasan lebih lanjut.
"Gak pernah. Di negara gue sekolah gratis. Bahkan buat yang mau, bisa dapat uang dari pemerintah tiap bulan, sekitar 3 man (3 juta rupiah)." jawabnya santai, sambil mengunyah puding.

"Gratis?? berarti gak ada anak yang gak sekolah dong?"
"Banyak, di sana banyak kok yang gak mau kuliah dan lebih milih langsung kerja.."
"Maksudku, gak ada dong anak yang gak bisa sekolah karena kendala ekonomi??"
"Wah kalo itu mah gak ada. SAMA SEKALI."

Aku menahan nafas demi mendengar jawabannya itu.

"Enak ya... Gratis ya dari SD sampai SMA...?" gumamku pelan, mengaduk-aduk teh (yang sebenarnya gak pakai gula juga), lebih seperti bertanya pada diri sendiri. Terbayang sosok anak-anak kampung di pelosok negeri, masih banyak yang gak bisa sekolah.

"Sampe kuliah." tandasnya.
"sampe KULIAH??" suaraku meninggi, mengangkat wajah dan memandang M.san gak percaya. Dia serius?!

Entahlah, dibilang norak atau apa. Aku memang pernah dengar kalau ada negara yang benar-benar membebaskan biaya pendidikan begitu. Hanya saja, aku belum percaya salah satu anak beruntung yang bisa merasakan fasilitas itu duduk di depanku saat ini. Aku terdiam. Sebersit rasa iri menjalari hati. Terbayang lagi masa-masa dimana aku nyaris putus kuliah dulu...

Dan bukan cuma aku, beberapa teman lain juga sepertinya merasakan iri yang sama pada M.san.

"Ah, tapi kan disana biaya hidup mahal. Mana pajaknya gede banget" sergah salah seorang temanku yang lain.

"Ya justru karena pajak itu kita bisa sekolah gratis kan.." lanjut M.san lagi, masih dengan gaya santainya. Menyuap puding terakhir di piringnya.

'Ah, sial. Coba di Indonesia gak ada korupsi.' aku mengumpat dalam hati. Mungkin memang tak bisa dibandingkan Indonesia yang luas dari sabang sampai merauke dengan negara M.san, tapi paling tidak, andai tak ada korupsi... andai tak ada korupsi...!!!

Aku percaya pendidikan merupakan salah satu jalan meningkatkan kesejahteraan hidup. Dan betapa irinya mengetahui kontrasnya negara M.san dengan negeriku, dimana pendidikan, terutama jenjang universitas masih jadi barang "mewah" bagi sebagian besar penduduknya.

Ah, negara M.san seolah bagai negeri impian. Indonesia kapan ya bisa begitu?
Balik lagi deh tanya diri sendiri, "Aku bisa apa ya untuk Indonesia?"

Pertanyaan yang bikin galau.



28 April 2014 . 07.58 AM JST


aL - Kamar Asrama . Osaka