Ini
satu cerita lama sebenarnya. Musim dingin lalu aku dan teman-teman study
tour ke Prefektur Shimane, yang berjarak sekitar 4 jam perjalanan dari
Osaka. Sebetulnya aku ikut study tour kali ini dengan setengah hati.
Melihat list daftar tempat yang akan di kunjungi, rasanya tak ada satu
pun yang benar-benar menyentuh minatku. Tapi karena hampir semua teman
ryuugaku ikut, menghabiskan liburan bersama mereka di suatu tempat mungkin bisa jadi kenangan yang manis.
S.chan, salah satu kawan karibku dari negara T, negaranya Sanchai dan Tao Ming Tse (Inget mereka dong yaa? Hahaha Yup, Meteor Garden) menjadi teman duduk seperjalananku dalam bus. Cewek imut ini, meskipun sepertinya sama denganku yang kurang begitu minat dengan sebagian besar tempat yang akan kami kunjungi, rupanya punya “misi khusus” yang memantik semangatnya sendiri.
“En Musubi!” katanya dengan mata bersinar dan senyum sumringah.
“Izumo Taisha, salah satu kuil di Jepang yang terkenal ampuh En-Musubinya. Banyak orang jauh-jauh datang ke sana cuma untuk berdoa, dan mendapatkan jimat pengikat jodoh loh!” terangnya lagi, mengulangi penjelasan Sensei pada kuliah umum pra-studytour yang dilaksanakan seminggu sebelumnya. Tak kusangka dia benar-benar berniat berburu jimat pengikat jodoh di sana.
“Hahahaha menarik, ya…” responku sambil tertawa. Bukan en-musubi itu, tapi S.chan yang menarik. Aku tahu betul apa yang akan dia ucapkan dalam doanya di kuil itu nanti. Kita sering bertukar cerita, dan tahu satu sama lain siapa orang yang sedang kita sukai masing-masing.
“Ah, gak sabaar ! Pengen langsung ke Izumo Taisha aja deh” serunya dengan semangat 46. (karena semangat 45 cuma punya orang Indonesia, Hahaha) Aku tersenyum demi melihat kebulatan tekadnya itu, lalu menatap ke luar jendela bus. Terbersit selintas wajah seseorang, namun kemudian segera hilang terbang terbawa pemandangan salju tebal pegunungan yang berlari di luar kaca bus.
Dan setelah hari pertama study tour dilewatkan dengan bermain salju, mengunjungi berbagai tempat sejarah, kemudian onsen, akhirnya hari yang S.chan tunggu datang juga! Mbak pemandu wisata dalam bus seolah tahu betul bagaimana cara memantik antusias peserta tour. Beberapa kali dia sengaja menambah bumbu-bumbu kisah membahas kemashyuran Izumo Taisha yang konon kabarnya selain sebagai tempat para Dewa se-antero Jepang rapat tahunan, juga merupakan sarana para jomblowan/wati banyak berdatangan untuk berdoa minta jodohnya. Suara cekikikan terdengar riuh rendah dalam bus. Ya begitu deh anak muda, gak bisa banget gitu denger kata jodoh! Hahaha
Setelah berkeliling komplek kuil dan mendengarkan berbagai macam penjabaran sejarahnya, kami, yang sebagian besar aku yakin kurang konsen menyimak gara-gara kepikiran en-musubi, (hahaha) akhirnya diantar ke sebuah bangunan yang terlihat lebih tua dan terletak di bagian belakang komplek kuil. Disitulah katanya tempat berdoa minta jodohnya. S.chan segera merogoh dompet mungilnya, mencari uang receh.
“Sini kameramu, aku rekam video nanti ya! Doanya udah disiapin kan?” selorohku padanya seraya menepi, keluar dari kerumunan yang mulai membentuk barisan ke depan altar doa. S.chan mengangguk dengan binar antusias di matanya. Setelah melempar uang receh dan beberapa kali bertepuk tangan, S.chan tertunduk khusyuk dengan tangan tertangkup di depan wajah. Aku dipinggir sibuk bertugas sebagai kameraman.
Selesai. S.chan mengangkat wajahnya dan menoleh ke arahku. Senyumnya merekah. Seolah lega telah menuntaskan misi besarnya itu. “Tutiii, Makasiiiih… sini gantian. Kamu berdoa, aku yang ambil gambarnya.” katanya.
“Aku nggak usah. Yuk, kita jalan lagi!” jawabku.
“Eh? Nggak berdoa dulu buat…?” tanyanya lagi memastikan. Kaget.
“Uun,. Shinai yo.. Ikou~!” Aku menggeleng mantap. Tertawa melihat ekspresi kaget S.chan. Mungkin baginya, sayang sekali melewatkan kesempatan berdoa di tempat itu.
“Sasuga, Tuti.” timpal satu temanku yang lain, heran dan menyayangkan sikapku juga. Aku cuma tertawa dan bilang…
“Loh, aku mah kan tiap hari juga berdoa, lima kali malah. Hahaha”
Seolah belum afdol, S.chan pun membeli sabuah omamori (jimat) mungil berwarna merah bertuliskan kanji “En” (Jodoh). Harganya aku lupa, kalau tidak salah lebih dari 1000 yen (lebih dari seratus ribu rupiah). Mahal~ Mungkin karena tempat terkenal yaa… Dalam bungkus jimat itu terselip kertas berisi ramalan. Aku tak tahu persis lah, banyak kanji yang tak bisa kubaca. S.chan karena berasal dari negeri kanji, makanya walaupun gak mengerti cara baca, tapi sedikit banyak paham maksudnya. Dan dia senyum-senyum sendiri baca itu. Oh, rupanya dapat ramalan yang bagus, toh~
Setelah dibaca, kertas itu dia ikatkan ke sebuah pohon yang memang menjadi tempat khusus mengikat kertas-kertas ramalan. Bahkan sampai bertumpuk dan batang pohon jadi berwarna putih. Mission Completed! S.chan tersenyum puas. Dan bukan cuma dia, Banyak teman lain juga melakukan hal yang sama. Semua heboh dalam euphoria en-musubi. Yang jomblo ngarep dapat pacar, yang lagi PDKT ngarep biar lancar sama yang digebet, yang udah ada pacar ngarep biar awet, yah begitulah mungkin kira-kira. Atau malah ada juga kali yang ngarep pacarnya nambah? Hahaha #sotoy ah!
***
Tapi… sayang disayang, kira-kira dua bulan setelah itu, S.chan datang padaku dengan wajah lesu. Dia menunjukkan sebuah halaman medsos cowok yang disukainya, dan disana tertulis bahwa cowok itu baru jadian dengan cewek lain. Aku kaget. Hatiku ikut terusik melihat S.chan bersedih. Hari itu, karibku patah hati.
“Aku gak papa, yang penting dia senang.” S.chan mencoba menegarkan hati. Kalimat sakti #akurapopo diaplikasi juga oleh orang asing ternyata.
“Iya, mungkin ini yang terbaik S.chan, kita kan cuma satu tahun disini. Kalau kamu pacaran sama dia, nanti susah kalau udah saatnya pulang kan~?” aku menambahkan. Bingung sebenarnya bagaimana cara menghibur hati yang terluka. eaaah~
Hari berganti, musim semi datang, semester baru pun tiba. Dan waktu memang obat paling mujarab. Sekarang S.chan sudah berhasil move on dan kembali ceria. Dan walaupun gak terjadi sesuai yang diharapkan, tapi sampai sekarang sepertinya S.chan masih terus menyimpan jimat pengikat jodoh itu bersamanya.
S.chan, salah satu kawan karibku dari negara T, negaranya Sanchai dan Tao Ming Tse (Inget mereka dong yaa? Hahaha Yup, Meteor Garden) menjadi teman duduk seperjalananku dalam bus. Cewek imut ini, meskipun sepertinya sama denganku yang kurang begitu minat dengan sebagian besar tempat yang akan kami kunjungi, rupanya punya “misi khusus” yang memantik semangatnya sendiri.
“En Musubi!” katanya dengan mata bersinar dan senyum sumringah.
“Izumo Taisha, salah satu kuil di Jepang yang terkenal ampuh En-Musubinya. Banyak orang jauh-jauh datang ke sana cuma untuk berdoa, dan mendapatkan jimat pengikat jodoh loh!” terangnya lagi, mengulangi penjelasan Sensei pada kuliah umum pra-studytour yang dilaksanakan seminggu sebelumnya. Tak kusangka dia benar-benar berniat berburu jimat pengikat jodoh di sana.
“Hahahaha menarik, ya…” responku sambil tertawa. Bukan en-musubi itu, tapi S.chan yang menarik. Aku tahu betul apa yang akan dia ucapkan dalam doanya di kuil itu nanti. Kita sering bertukar cerita, dan tahu satu sama lain siapa orang yang sedang kita sukai masing-masing.
“Ah, gak sabaar ! Pengen langsung ke Izumo Taisha aja deh” serunya dengan semangat 46. (karena semangat 45 cuma punya orang Indonesia, Hahaha) Aku tersenyum demi melihat kebulatan tekadnya itu, lalu menatap ke luar jendela bus. Terbersit selintas wajah seseorang, namun kemudian segera hilang terbang terbawa pemandangan salju tebal pegunungan yang berlari di luar kaca bus.
Dan setelah hari pertama study tour dilewatkan dengan bermain salju, mengunjungi berbagai tempat sejarah, kemudian onsen, akhirnya hari yang S.chan tunggu datang juga! Mbak pemandu wisata dalam bus seolah tahu betul bagaimana cara memantik antusias peserta tour. Beberapa kali dia sengaja menambah bumbu-bumbu kisah membahas kemashyuran Izumo Taisha yang konon kabarnya selain sebagai tempat para Dewa se-antero Jepang rapat tahunan, juga merupakan sarana para jomblowan/wati banyak berdatangan untuk berdoa minta jodohnya. Suara cekikikan terdengar riuh rendah dalam bus. Ya begitu deh anak muda, gak bisa banget gitu denger kata jodoh! Hahaha
Setelah berkeliling komplek kuil dan mendengarkan berbagai macam penjabaran sejarahnya, kami, yang sebagian besar aku yakin kurang konsen menyimak gara-gara kepikiran en-musubi, (hahaha) akhirnya diantar ke sebuah bangunan yang terlihat lebih tua dan terletak di bagian belakang komplek kuil. Disitulah katanya tempat berdoa minta jodohnya. S.chan segera merogoh dompet mungilnya, mencari uang receh.
“Sini kameramu, aku rekam video nanti ya! Doanya udah disiapin kan?” selorohku padanya seraya menepi, keluar dari kerumunan yang mulai membentuk barisan ke depan altar doa. S.chan mengangguk dengan binar antusias di matanya. Setelah melempar uang receh dan beberapa kali bertepuk tangan, S.chan tertunduk khusyuk dengan tangan tertangkup di depan wajah. Aku dipinggir sibuk bertugas sebagai kameraman.
Selesai. S.chan mengangkat wajahnya dan menoleh ke arahku. Senyumnya merekah. Seolah lega telah menuntaskan misi besarnya itu. “Tutiii, Makasiiiih… sini gantian. Kamu berdoa, aku yang ambil gambarnya.” katanya.
“Aku nggak usah. Yuk, kita jalan lagi!” jawabku.
“Eh? Nggak berdoa dulu buat…?” tanyanya lagi memastikan. Kaget.
“Uun,. Shinai yo.. Ikou~!” Aku menggeleng mantap. Tertawa melihat ekspresi kaget S.chan. Mungkin baginya, sayang sekali melewatkan kesempatan berdoa di tempat itu.
“Sasuga, Tuti.” timpal satu temanku yang lain, heran dan menyayangkan sikapku juga. Aku cuma tertawa dan bilang…
“Loh, aku mah kan tiap hari juga berdoa, lima kali malah. Hahaha”
Seolah belum afdol, S.chan pun membeli sabuah omamori (jimat) mungil berwarna merah bertuliskan kanji “En” (Jodoh). Harganya aku lupa, kalau tidak salah lebih dari 1000 yen (lebih dari seratus ribu rupiah). Mahal~ Mungkin karena tempat terkenal yaa… Dalam bungkus jimat itu terselip kertas berisi ramalan. Aku tak tahu persis lah, banyak kanji yang tak bisa kubaca. S.chan karena berasal dari negeri kanji, makanya walaupun gak mengerti cara baca, tapi sedikit banyak paham maksudnya. Dan dia senyum-senyum sendiri baca itu. Oh, rupanya dapat ramalan yang bagus, toh~
Setelah dibaca, kertas itu dia ikatkan ke sebuah pohon yang memang menjadi tempat khusus mengikat kertas-kertas ramalan. Bahkan sampai bertumpuk dan batang pohon jadi berwarna putih. Mission Completed! S.chan tersenyum puas. Dan bukan cuma dia, Banyak teman lain juga melakukan hal yang sama. Semua heboh dalam euphoria en-musubi. Yang jomblo ngarep dapat pacar, yang lagi PDKT ngarep biar lancar sama yang digebet, yang udah ada pacar ngarep biar awet, yah begitulah mungkin kira-kira. Atau malah ada juga kali yang ngarep pacarnya nambah? Hahaha #sotoy ah!
***
Tapi… sayang disayang, kira-kira dua bulan setelah itu, S.chan datang padaku dengan wajah lesu. Dia menunjukkan sebuah halaman medsos cowok yang disukainya, dan disana tertulis bahwa cowok itu baru jadian dengan cewek lain. Aku kaget. Hatiku ikut terusik melihat S.chan bersedih. Hari itu, karibku patah hati.
“Aku gak papa, yang penting dia senang.” S.chan mencoba menegarkan hati. Kalimat sakti #akurapopo diaplikasi juga oleh orang asing ternyata.
“Iya, mungkin ini yang terbaik S.chan, kita kan cuma satu tahun disini. Kalau kamu pacaran sama dia, nanti susah kalau udah saatnya pulang kan~?” aku menambahkan. Bingung sebenarnya bagaimana cara menghibur hati yang terluka. eaaah~
Hari berganti, musim semi datang, semester baru pun tiba. Dan waktu memang obat paling mujarab. Sekarang S.chan sudah berhasil move on dan kembali ceria. Dan walaupun gak terjadi sesuai yang diharapkan, tapi sampai sekarang sepertinya S.chan masih terus menyimpan jimat pengikat jodoh itu bersamanya.
3 Juni 2014 . 11.48 PM JST
aL, kamar asrama . Osaka
Tidak ada komentar:
Posting Komentar