Hari
Wawancara Kedua
Aku gugup sekali! Kertas coret-coret berisi
jawaban yang sudah kutulis dari pertanyaan yang mungkin akan diajukan dalam
sesi wawancara kedua itu, sampai lecek saking kubolak-balik berkali-kali sejak
baru bangun tidur. Kucoba hafal mati kalimat-kalimat yang kurangkai sendiri
itu. Dalam sholat malam, aku berdoa semoga apa yang kupersiapkan bisa maksimal,
semoga dimudahkan menjawab pertanyaan-pertanyaan, dilancarkan, dan diberi hasil
yang terbaik.
“Ya Allah, mudahkanlah prosesnya, jika memang urusan magang ke
Jepang ini baik bagiku… “ doa itu kurapal berkali-kali. Sesering aku meminta
doa ke Mama, tentang urusan ini. “Mah, doain yaa.. semoga nanti bisa
wawancaranya… semoga ada rizki disana yaa” pintaku setulus hati, mencium tangan
Mama sebelum berangkat ke pasar pagi itu.
“Iya, semoga bisa ya..” ucapan Mama menguatkanku
ditengah kegugupan.
***
***
Aku sampai lebih cepat setengah jam sebelum
waktu bertemu. Masih ada kesempatan untuk sholat Dhuha, berdoa, berdoa! Aku
sholat 2 rakaat di mushola Mall Casablanka, tempat kantor itu berada.
Setelahnya, ku ulang-ulang doa mengiring langkahku menuju lantai 5, kantor
Pasona.
“Ya Allah, lapangkanlah dadaku, permudahlah
urusanku, hilangkanlah kekeluan dari
lisanku, agar mereka mengerti perkataanku”
Anggrelita, mahasiswa dari UNSADA itu sudah
di tempat. Dia maju lebih dulu. Aku mendengar suara tawa-tawa renyah ketika
sesi wawancaranya berlangsung. Ditanya apa saja yaa? Kok sepertinya mereka
santai dan menyenangkan sekali, pikirku. Sementara aku masih begitu gugup,
mencoba membaca surat-surat pendek Alquran untuk menenangkan hati. 10 menit
berlalu, Anggrel keluar. Giliranku! Bismillahi Tawakaltu alallahu...
Berantakan. Semua jawaban yang ku hapal
mati tak terpakai. Pertanyaan yang ku kira akan keluar, sama sekali tak
ditanyakan. Gugup luar biasa, berhadapan dengan orang nomor satu di perusahaan
itu membuat pikiran blank, alhasil apa
saja yang ditanyakan (pertanyaan paling simple pun) sepertinya tak bisa kujawab
dengan baik. Toyazaki-san, tantousha
cantik itu menatapku dengan senyum simpati, mungkin lebih tepat karena kasihan,
atau bahkan kecewa? Sensei bilang Toyazaki-san sangat terkesan padaku pada sesi
wawancara sebelumnya. Mataku berkaca-kaca.
Bukan langsung pulang, aku kembali menuju mushola.
Gak tahan rasanya. Beruntung pada jam itu, tak ada satu orang pun disana, aku
mengambil tempat di sudut belakang mushola, meringkuk dan menangis… Sudah di
depan mata, karena kesalahanku hilang begitu saja kesempatan ini? Hopeless.
Walaupun pengumuman resmi belum keluar, aku sudah merasa 99% gagal. Hanya 1%
saja kemungkinan untukku berhasil. Itu pun hanya jika ada “Keajaiban”. Tiba-tiba
satu pesan masuk dari whatsappku. Dari Sensei.
“Tuti-chan, kata Toyazaki-san tadi kamu
gugup banget yah? Ya udah gapapa, kalau ternyata belum rezeki tahun ini, jangan
sedih ya.. Berjuang lagi tahun depan. Sudah sampai tahap ini bagus kok, share
pengalaman ke adik-adik kelasnya ya.. Semangat juga untuk beasiswa Monbusho.”
Air mataku semakin deras. Tahun depan? Aku
mau berangkat ke Jepang tahun ini ! Monbusho? bersaing dengan satu
universitas saja payah begini, apalagi Monbusho yang harus bersaing dengan
ratusan anak dari seluruh Indonesia?? Tahun lalu aku sudah gagal dalam seleksi
beasiswa Monbusho, padahal saat itu Mama sudah gembar-bembor ke teman-temannya
di pasar, bilang kalau anaknya mau ke Jepang, nyatanya aku gagal di tengah
jalan. Ah, aku mengusap muka, kebas. Seperti merasa tak berani pulang. Tak
berani menghadapi pertanyaan Mama, “Gimana wawancaranya?” sesampainya nanti di
rumah.
Aku tahu Mama takkan memarahiku. Aku
bukan anak kelas dua SD yang gagal dapat rangking karena malas belajar. Untuk
urusan ini, aku tahu Mama tak akan marah. Hanya saja, aku tak berani melihat
tatapan Mama, yang sudah kuartikan sebagai “harapan”. Hari itu, sampai Dzuhur
aku tak beranjak. Terus menangis.., berdoa... Semoga aku diberi kekuatan menerima
apapun hasilnya, semoga Allah berikan yang terbaik… dan semoga… kalau memang
masih mungkin… 1% itu bisa benar-benar membawa keajaiban. Aku tak ingin
mengecewakan Mama lagi…
![]() |
| Musholla Mall Casablanka - bersama tangis dan doa-doaku siang itu .. |
Pulang dari sana, sekali lagi aku berjalan
dengan hati hampa sendirian menyusuri halte busway Karet. Seolah Déjà vu. Sekali
lagi. Empat tahun sebelumnya aku pernah merasakan hal yang sama, di jalan yang
sama, ketika pulang dari tes masuk Univ.Indonesia (SIMAK-UI). Bedanya, saat itu
aku bersama Riska, kawan karibku sejak SMA. Saat itu kita mampir ke Mall Ambassador
melepas stress. Tapi kali ini, aku sendiri, dan rasanya jadi lebih berat. Gak
ada acara ngayap ke Mall melepas stress seperti waktu itu, lagipula, aku juga
harus segera berangkat mengajar lagi ke Pluit siang itu.
“Nyiing, gue Déjà vu…” bisikku lirih
teringat Riska, dan semua kejadian empat tahun lalu dengannya. Mataku masih
sembab.
Dan Allah Maha Mengabulkan Doa ..
Dua jam perjalanan Kasablanka-Pluit
membuatku sedikit lebih tenang. Waktu mengajar belum mulai, aku menunggu bel
bunyi di ruang tunggu. Akhirnya aku sudah bisa berdamai dan memaafkan diri
sendiri atas kejadian hari itu. Apapun hasilnya nanti, aku siap berlapang dada.
Masih banyak jalan menuju Jepang, Inshaa Allah.
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya
kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahawasanya Aku dekat. Aku mengabulkan
permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah
mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman
kepada-Ku, agar mereka selalu mendapat petunjuk (berada dalam kebenaran)” QS. Al Baqarah : 186
Kawan, pernahkah kalian dengar bahwa doa mampu merubah takdir?
Kawan, pernahkah kalian dengar bahwa doa mampu merubah takdir?
Satu pesan masuk di whatsapp tabletku. Dari
Sensei.
“Alhamdulillaah, Tuti. Baru saja diputuskan
ternyata kamu yang terpilih. Saya telpon ya.”
Belum bisa mencerna situasi, akari sudah
bernyanyi. Sensei menelpon dan mengabari bahwa aku benar-benar terpilih untuk
berangkat mengikuti program magang ke Tokyo selama dua bulan. Penampilanku di wawancara pertama mengesankan Toyazaki-san, dan hari ini dimaklumi karena gugup, aku terlihat tidak percaya diri. Masha Allaah, seolah sulit dipercaya, ternyata 1% harapan itu benar-benar membawa
keajaiban! Allah SWT membuktikan janji-Nya memenuhi pintaku hari itu juga…
Alhamdulillah ya Allahu ya Mujiib… Air mataku menetes lagi. Gemetar menahan
buncah rasa bahagia dan tak percaya! Kalau bukan karena tanggung jawab
mengajar, rasanya ingin segera pulang ke rumah mengabarkan pada Mama bahwa
doanya mustajab untukku!
“Tapi jangan gembar-gembor dulu ya, Ti… Semua
bisa terjadi. Sampai semua prosedur selesai, tiket sudah di tangan, jangan
banyak gembar-gembor kemana-mana… Tahun ini pertama kalinya mahasiswa Indonesia
ikut program ini, jadi kemungkinan apa saja bisa terjadi…” pesan Sensei,
meredam kebuncahan di dadaku. Ya, semua memang belum final... Ya Allah, aku
pasrah… paling tidak, hari itu aku bisa pulang dan berani menjawab pertanyaan
Mama dengan, “Alhamdulillaah, Mah… kemungkinannya sudah ada, cuma masih perlu
banyak yang diurus sampai keberangkatan bulan Juni nanti, doain terus ya,
semoga semuanya lancar…”
Dan benar saja, ditetapkan terpilih bukan
seperti menjadi juara dalam kompetisi yang tinggal pulang membawa piala karena
perjuangan telah selesai. Bukan. Justru dari sana lah bermula
tantangan-tantangan lain, hambatan-hambatan berbaris, satu persatu silih
berganti. Di situlah proses “perjuangan” berlanjut, menguras bukan hanya
pikiran dan perasaan, tapi juga tenaga serta uang yang bagiku, tentu tidak sedikit jumlahnya. Di situlah cara Allah
melihat hamba-Nya mengoptimalkan ikhtiar, memperkuat doa-doa…
“Jika memang baik untukku menurut
pengetahuanMu, ya Rabb…. Mudahkanlah…” Di tengah kegalauan tingkat dewa yang
kurasakan, kekurangan dana dan sebagainya, bahkan sampai H-2 sebelum
keberangkatan pun, aku masih harus menghadapi beberapa masalah. Namun Allah,
maha melihat tiap perjuangan, maha menghitung tiap ikhtiar, maha mendengar tiap doa. Dengan
rencana-Nya, maha sempurna pertolongan-Nya melalui banyak orang-orang baik
disekitarku, membuat semua hal satu persatu dapat teratasi. Alhamdulillaah, segala puji hanya
bagi Allah, dan Dia sebaik-baik pemberi pertolongan. Semoga Allah SWT membalas
segala kebaikan sahabat-sahabat, keluarga dan semua pihak yang membantuku dalam
perjuangan panjang saat itu. Allah, berikan mereka semua kebaikan yang lebih
baik…
Dikala hectic melanda, waktu melesat bagai
peluru. Akhirnya tibalah hari keberangkatan yang ditunggu. 25 Juni 2013. Bukan cuma
aku, kami sekeluarga berdebar-debar hari itu. Staf Pasona Indonesia yang
mengurus keberangkatanku ke Tokyo pun tentu merasakan hal yang sama. Pasona
Kokusai Kouryuu Program 2013. Dua bulan program yang membawa banyak kenangan,
dan pengalaman luar biasa.
***
Bagaimana noraknya aL naik pesawat terbang
pertama kalinya? Apa dia benar-benar “sendirian” berangkat menuju negeri
impiannya itu? Untuk yang belum baca, yuk lihat kisahnya di sini :
http://toluteli38.blogspot.jp/2013/11/suatu-hari-di-kisahku-welcome-to-japan.html
28 Februari 2014 . 15.20 PM JST
aL, Kamar Asrama . Osaka


