Kamis, 27 Februari 2014

Kilas Balik . Goes to Tokyo ! #part - 2

Hari Wawancara Kedua
Aku gugup sekali! Kertas coret-coret berisi jawaban yang sudah kutulis dari pertanyaan yang mungkin akan diajukan dalam sesi wawancara kedua itu, sampai lecek saking kubolak-balik berkali-kali sejak baru bangun tidur. Kucoba hafal mati kalimat-kalimat yang kurangkai sendiri itu. Dalam sholat malam, aku berdoa semoga apa yang kupersiapkan bisa maksimal, semoga dimudahkan menjawab pertanyaan-pertanyaan, dilancarkan, dan diberi hasil yang terbaik. 

 “Ya Allah, mudahkanlah prosesnya, jika memang urusan magang ke Jepang ini baik bagiku… “ doa itu kurapal berkali-kali. Sesering aku meminta doa ke Mama, tentang urusan ini. “Mah, doain yaa.. semoga nanti bisa wawancaranya… semoga ada rizki disana yaa” pintaku setulus hati, mencium tangan Mama sebelum berangkat ke pasar pagi itu. 

“Iya, semoga bisa ya..” ucapan Mama menguatkanku ditengah kegugupan.

                                                                              ***

Aku sampai lebih cepat setengah jam sebelum waktu bertemu. Masih ada kesempatan untuk sholat Dhuha, berdoa, berdoa! Aku sholat 2 rakaat di mushola Mall Casablanka, tempat kantor itu berada. Setelahnya, ku ulang-ulang doa mengiring langkahku menuju lantai 5, kantor Pasona.

“Ya Allah, lapangkanlah dadaku, permudahlah urusanku, hilangkanlah kekeluan dari lisanku, agar mereka mengerti perkataanku”

Anggrelita, mahasiswa dari UNSADA itu sudah di tempat. Dia maju lebih dulu. Aku mendengar suara tawa-tawa renyah ketika sesi wawancaranya berlangsung. Ditanya apa saja yaa? Kok sepertinya mereka santai dan menyenangkan sekali, pikirku. Sementara aku masih begitu gugup, mencoba membaca surat-surat pendek Alquran untuk menenangkan hati. 10 menit berlalu, Anggrel keluar. Giliranku! Bismillahi Tawakaltu alallahu...

Berantakan. Semua jawaban yang ku hapal mati tak terpakai. Pertanyaan yang ku kira akan keluar, sama sekali tak ditanyakan. Gugup luar biasa, berhadapan dengan orang nomor satu di perusahaan itu membuat pikiran blank, alhasil apa saja yang ditanyakan (pertanyaan paling simple pun) sepertinya tak bisa kujawab dengan baik. Toyazaki-san, tantousha cantik itu menatapku dengan senyum simpati, mungkin lebih tepat karena kasihan, atau bahkan kecewa? Sensei bilang Toyazaki-san sangat terkesan padaku pada sesi wawancara sebelumnya. Mataku berkaca-kaca.

Bukan langsung pulang, aku kembali menuju mushola. Gak tahan rasanya. Beruntung pada jam itu, tak ada satu orang pun disana, aku mengambil tempat di sudut belakang mushola, meringkuk dan menangis… Sudah di depan mata, karena kesalahanku hilang begitu saja kesempatan ini? Hopeless. Walaupun pengumuman resmi belum keluar, aku sudah merasa 99% gagal. Hanya 1% saja kemungkinan untukku berhasil. Itu pun hanya jika ada “Keajaiban”. Tiba-tiba satu pesan masuk dari whatsappku. Dari Sensei.

“Tuti-chan, kata Toyazaki-san tadi kamu gugup banget yah? Ya udah gapapa, kalau ternyata belum rezeki tahun ini, jangan sedih ya.. Berjuang lagi tahun depan. Sudah sampai tahap ini bagus kok, share pengalaman ke adik-adik kelasnya ya.. Semangat juga untuk beasiswa Monbusho.”

Air mataku semakin deras. Tahun depan? Aku mau berangkat ke Jepang tahun ini ! Monbusho? bersaing dengan satu universitas saja payah begini, apalagi Monbusho yang harus bersaing dengan ratusan anak dari seluruh Indonesia?? Tahun lalu aku sudah gagal dalam seleksi beasiswa Monbusho, padahal saat itu Mama sudah gembar-bembor ke teman-temannya di pasar, bilang kalau anaknya mau ke Jepang, nyatanya aku gagal di tengah jalan. Ah, aku mengusap muka, kebas. Seperti merasa tak berani pulang. Tak berani menghadapi pertanyaan Mama, “Gimana wawancaranya?” sesampainya nanti di rumah.

Aku tahu Mama takkan memarahiku. Aku bukan anak kelas dua SD yang gagal dapat rangking karena malas belajar. Untuk urusan ini, aku tahu Mama tak akan marah. Hanya saja, aku tak berani melihat tatapan Mama, yang sudah kuartikan sebagai “harapan”. Hari itu, sampai Dzuhur aku tak beranjak. Terus menangis.., berdoa... Semoga aku diberi kekuatan menerima apapun hasilnya, semoga Allah berikan yang terbaik… dan semoga… kalau memang masih mungkin… 1% itu bisa benar-benar membawa keajaiban. Aku tak ingin mengecewakan Mama lagi…

Musholla Mall Casablanka - bersama tangis dan doa-doaku siang itu ..
  
Pulang dari sana, sekali lagi aku berjalan dengan hati hampa sendirian menyusuri halte busway Karet. Seolah Déjà vu. Sekali lagi. Empat tahun sebelumnya aku pernah merasakan hal yang sama, di jalan yang sama, ketika pulang dari tes masuk Univ.Indonesia (SIMAK-UI). Bedanya, saat itu aku bersama Riska, kawan karibku sejak SMA. Saat itu kita mampir ke Mall Ambassador melepas stress. Tapi kali ini, aku sendiri, dan rasanya jadi lebih berat. Gak ada acara ngayap ke Mall melepas stress seperti waktu itu, lagipula, aku juga harus segera berangkat mengajar lagi ke Pluit siang itu.

“Nyiing, gue Déjà vu…” bisikku lirih teringat Riska, dan semua kejadian empat tahun lalu dengannya. Mataku masih sembab.

 
Dan Allah Maha Mengabulkan Doa ..
Dua jam perjalanan Kasablanka-Pluit membuatku sedikit lebih tenang. Waktu mengajar belum mulai, aku menunggu bel bunyi di ruang tunggu. Akhirnya aku sudah bisa berdamai dan memaafkan diri sendiri atas kejadian hari itu. Apapun hasilnya nanti, aku siap berlapang dada. Masih banyak jalan menuju Jepang, Inshaa Allah.
 
 Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahawasanya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu mendapat petunjuk (berada dalam kebenaran)”  QS. Al Baqarah : 186

Kawan, pernahkah kalian dengar bahwa doa mampu merubah takdir?


Satu pesan masuk di whatsapp tabletku. Dari Sensei.


“Alhamdulillaah, Tuti. Baru saja diputuskan ternyata kamu yang terpilih. Saya telpon ya.”


Belum bisa mencerna situasi, akari sudah bernyanyi. Sensei menelpon dan mengabari bahwa aku benar-benar terpilih untuk berangkat mengikuti program magang ke Tokyo selama dua bulan. Penampilanku di wawancara pertama mengesankan Toyazaki-san, dan hari ini dimaklumi karena gugup, aku terlihat tidak percaya diri. Masha Allaah, seolah sulit dipercaya, ternyata 1% harapan itu benar-benar membawa keajaiban! Allah SWT membuktikan janji-Nya memenuhi pintaku hari itu juga… Alhamdulillah ya Allahu ya Mujiib… Air mataku menetes lagi. Gemetar menahan buncah rasa bahagia dan tak percaya! Kalau bukan karena tanggung jawab mengajar, rasanya ingin segera pulang ke rumah mengabarkan pada Mama bahwa doanya mustajab untukku!


“Tapi jangan gembar-gembor dulu ya, Ti… Semua bisa terjadi. Sampai semua prosedur selesai, tiket sudah di tangan, jangan banyak gembar-gembor kemana-mana… Tahun ini pertama kalinya mahasiswa Indonesia ikut program ini, jadi kemungkinan apa saja bisa terjadi…” pesan Sensei, meredam kebuncahan di dadaku. Ya, semua memang belum final... Ya Allah, aku pasrah… paling tidak, hari itu aku bisa pulang dan berani menjawab pertanyaan Mama dengan, “Alhamdulillaah, Mah… kemungkinannya sudah ada, cuma masih perlu banyak yang diurus sampai keberangkatan bulan Juni nanti, doain terus ya, semoga semuanya lancar…”


Dan benar saja, ditetapkan terpilih bukan seperti menjadi juara dalam kompetisi yang tinggal pulang membawa piala karena perjuangan telah selesai. Bukan. Justru dari sana lah bermula tantangan-tantangan lain, hambatan-hambatan berbaris, satu persatu silih berganti. Di situlah proses “perjuangan” berlanjut, menguras bukan hanya pikiran dan perasaan, tapi juga tenaga serta uang yang bagiku, tentu tidak sedikit jumlahnya. Di situlah cara Allah melihat hamba-Nya mengoptimalkan ikhtiar, memperkuat doa-doa…



“Jika memang baik untukku menurut pengetahuanMu, ya Rabb…. Mudahkanlah…” Di tengah kegalauan tingkat dewa yang kurasakan, kekurangan dana dan sebagainya, bahkan sampai H-2 sebelum keberangkatan pun, aku masih harus menghadapi beberapa masalah. Namun Allah, maha melihat tiap perjuangan, maha menghitung tiap ikhtiar, maha mendengar tiap doa. Dengan rencana-Nya, maha sempurna pertolongan-Nya melalui banyak orang-orang baik disekitarku, membuat semua hal satu persatu dapat teratasi. Alhamdulillaah, segala puji hanya bagi Allah, dan Dia sebaik-baik pemberi pertolongan. Semoga Allah SWT membalas segala kebaikan sahabat-sahabat, keluarga dan semua pihak yang membantuku dalam perjuangan panjang saat itu. Allah, berikan mereka semua kebaikan yang lebih baik…


Dikala hectic melanda, waktu melesat bagai peluru. Akhirnya tibalah hari keberangkatan yang ditunggu. 25 Juni 2013. Bukan cuma aku, kami sekeluarga berdebar-debar hari itu. Staf Pasona Indonesia yang mengurus keberangkatanku ke Tokyo pun tentu merasakan hal yang sama. Pasona Kokusai Kouryuu Program 2013. Dua bulan program yang membawa banyak kenangan, dan pengalaman luar biasa.


                                                                                   *** 


Bagaimana noraknya aL naik pesawat terbang pertama kalinya? Apa dia benar-benar “sendirian” berangkat menuju negeri impiannya itu? Untuk yang belum baca, yuk lihat kisahnya di sini : 


http://toluteli38.blogspot.jp/2013/11/suatu-hari-di-kisahku-welcome-to-japan.html



28 Februari 2014 . 15.20 PM JST 

aL, Kamar Asrama . Osaka

Kilas Balik , Goes to Tokyo ! #part - 1

30 Agustus 2013 
Koper sudah dibongkar. Isinya berserakan memenuhi ruang tamu tempat tinggalku yang sempit. Beberapa hadiah dari rekan kerja, oleh-oleh, foto-foto, membawa perasaan berbeda. Dua bulan pengalaman yang ku alami ini, Masha Allah... terimakasih Ya Rabb, satu mimpiku terwujud .

1 Januari 2013 
Seorang teman bertanya padaku di malam itu. Satu jam berselang setelah terompet tahun baru semarak dibunyikan.
“Apa resolusi kamu tahun ini?”
Satu dari sekian banyak jawabku padanya saat itu : Berangkat ke Jepang .
Meskipun jujur saja, saat itu aku benar-benar gak tahu bagaimana caranya, dan dari mana jalannya aku bisa berangkat ke sana? Bissmillaah…

Minggu pertama Januari
Mataku membulat. Ku baca berulang-ulang sebuah posting dari seorang Senseiku di grup Facebook mahasiswa jurusan kami. Isinya menawarkan program internship (magang) selama 2 bulan di perusahaan Jepang, di Tokyo, untuk mahasiswa. Syarat pertama : menulis essay bertema (pendapatmu tentang perusahaan Jepang). Ah, boleh nih dicoba, pikirku. Mungkin bisa jadi jalan keberangkatanku ke Negeri Sakura. Setelah mengambil formulir pendaftaran dan tahu lebih jauh, ternyata program itu hanya ditawarkan untuk dua universitas, UNJ dan UNSADA. Dan yang akan lolos berangkat ke Tokyo hanya satu orang. Satu orang! “Duh, kecil sekali kemungkinannya…” nyaliku sempat surut. “Ah, tapi coba dulu lah!” aku bertekad.

Minggu kedua Januari – Deadline pengumpulan berkas!
CV dalam bahasa Jepang, lembar pengenalan dan promosi diri (Jiko PR), lalu essay. Bukan Tuti namanya kalau nggak pake rumus Giri-Giri Safe! Satu hari sebelum deadline pengumpulan aku baru mulai serius mengerjakan. Sebenarnya bukan karena menyepelekan, sudah dari beberapa hari sebelumnya niat dikerjakan, namun karena ide tak jua datang, Akibatnya…

Hari H . Pukul 21.00 WIB
Panik aku menyelesaikan Essay dan Jiko PR. Bunyi guntur membawa perasaan makin kacau, tak karuan. “Ya Allah, tolong jangan hujan dulu, sebelum aku selesai men-scan dokumen ini dan mengirimnya ke perusahaan!” ratapku. Begitu dokumen selesai dan harus pergi ke tukang fotokopi untuk menscan, hujan turun sejadi-jadinya!

Berbekal payung ditangan dan dokumen di bungkus kantong plastik, aku bertekad menembus hujan deras malam itu. “Mah, keluar dulu yah, ke tukang fotokopi sebentar” izinku terburu-buru.

“Ngapain malam-malam hujan deras begini?? besok aja perginya!” hardik Mama keras. Khawatir karena kondisi hujan angin dengan kilat dan guntur bersahutan di luar. Mama tahu jarak tukang fotokopi jauh dari rumah kami. Aku yang sedang kalut diburu waktu dan tertekan kepanikan, refleks balas menghardik Mama tak kalah keras, “Gak bisa, Mah! Malam ini terakhir! Ini demi kesempatan ke Jepang, Mama nih! Bukannya doain malah ngomel-ngomel!!” aku setengah berteriak, dan buru-buru keluar, berkeras menerjang hujan. Mama terdiam, mungkin kaget mendengar jawabanku. Ke Jepang? Sebelumnya aku memang belum bilang apa-apa pada Mama.

Payungku bergeliyat-geliyut diterpa angin kencang. Hujan angin, rasanya tak pernah aku begitu nekatnya menembus hujan angin seperti malam itu. Air menggenang semata kaki. Beberapa kali aku hampir terpeleset di jalan. Dingin… Dengan sedikit menggigil, aku mengujar lirih di tengah deru hujan. “Ya Rabb, ini salah satu ikhtiar yang bisa kulakukan…”

“Maaf mbak, sudah mau tutup. Komputernya sudah dimatikan. Itu lihat sebentar lagi air masuk. Kita mau cepat tutup!” tandas salah satu tukang fotokopi, menghancurkan harapan dan ikhtiar yang coba kuperjuangkan malam itu.

“Sa.. Saya minta tolong, mas… Satu ini saja, keperluan mendesak, besok sudah gak bisa lagi...” aku mencoba memohon, suaraku bergetar saat kudapati gelengan kepala tegas dari mereka. Dengan hati kecewa dan marah sejujurnya, aku pergi. Meneguhkan langkah untuk menuju tempat scan lain yang jaraknya dua kali lipat lebih jauh dari situ. Tetapi…

‘Sraaak!’
Kakiku terperosok ke dalam lubang selokan. Keadaan gelap plus jalan yang tergenang membuatku tak bisa melihat kondisi jalan di sekitar situ. Tubuhku terendam air setinggi paha, sulit bergerak. Dokumen ditanganku pun tak pelak ikut terendam. Astaghfirullah! Kalau tidak dibantu orang-orang di sekitar situ, aku nggak bisa bangun. Malu? ya memang! Tapi rasa kecewa terasa lebih menyakitkan, Dadaku sesak, menyadari ikhtiarku memperjuangkan mimpi terhempas begitu saja malam itu. Menggigil kedinginan, aku bergetar menahan tangis dalam perjalanan pulang. Langkahku gontai, gak mungkin lagi dengan keadaan basah kuyup begitu aku mencari tempat scan lain. “Maaf ya Rabb, aku tadi membentak Mama… mungkin memang bukan dari sini rezekiku bisa pergi kesana… Astaghfirullah…” setetes bulir bening menggenang dari sudut mataku.
 
salah satu dokumen yang basah
Sampai rumah, tanpa ba-bi-bu bahkan tanpa mengucap salam, aku langsung menuju kamar mandi, membersihkan diri dan segera berganti baju. Mama tak bertanya apa-apa. Hanya aneh melihatku basah kuyup padahal keluar membawa payung. Satu lagi yang menyesakkan, handphone yang kusimpan di kantong celana rusak ikut terendam malam itu. Aku cuma menjawab pelan “Kena air, Pak…” begitu Bapak bertanya. Ah, ini benar-benar teguran karena aku membentak orangtua, pikirku.

***

Keesokan harinya, selama beberapa hari hujan terus tercurah membasahi kota. Jakarta lumpuh dilanda banjir. mungkin karena satu alasan itu dan lainnya, Pasona, perusahaan yang mengadakan program magang itu bersedia mengundurkan waktu pengumpulan berkas beberapa hari. Alhamdulillaah! Secercah harapan muncul lagi. Aku langsung menyalin ulang semua dokumen basah kemarin dan meskipun mepet, akhirnya bisa mengumpulkan tepat waktu!


Minggu terakhir Januari - Sesi Wawancara
Seluruh pendaftar yang telah menyerahkan berkas, dipanggil untuk menempuh sesi wawancara dengan pihak HRD dan tantousha program magang tersebut. Dengan kemampuan bicara bahasa Jepang yang ala kadarnya, aku yang sebelumnya sudah berusaha merangkai dan menghafalkan jawaban dari pertanyaan yang kira-kira akan keluar, cukup lancar menjawab pertanyaan yang ternyata benar-benar ditanyakan dalam sesi wawancara tersebut. Selebihnya, untuk pertanyaan yang belum kupersiapkan jawabannya, walaupun mungkin dengan tatabahasa ngawur, dan bisa jadi gak terlalu singkron dengan pertanyaan, kucoba jawab sebisanya. Gugup, tapi rasanya semua aman terkendali karena Toyazaki-san, tantousha yang ramah dan cantik itu mencairkan suasana tegang di ruang wawancara. Ah, aku memang merasa kurang maksimal, tapi lumayanlah.

Di luar, teman-teman duduk menunggu giliran. Ada seorang senior yang ikut juga dalam seleksi itu. Kak Fitriyani, baru beberapa bulan lalu pulang dari Jepang setelah mengikuti program beasiswa Monbusho, belajar bahasa Jepang satu tahun disana. Sudah lama aku selalu kagum dengan Kak Fitri, dan hari itu akhirnya bisa mengobrol langsung dengannya, bertanya-tanya soal kehidupan di Jepang. Ah, semoga aku juga bisa dapat beasiswa Monbusho seperti Kak Fitri... Di satu sisi, kehadiran Kak Fitri ditengah-tengah kami semua juga cukup membuat kami agak minder. Tapi, diantara rasa kurang pede dan kepasrahan yang ada, satu keyakinan dalam hatiku yang gak pernah kuragukan sedikitpun, menguatkanku lagi untuk tetap optimis… “Yakin dan percaya, aL… Rizki dari Allah, gak akan pernah tertukar.”

Sore harinya. Akari, si handphone cina kesayanganku yang telah pulih setelah koma beberapa hari atas insiden “berendam di got” berdering. Nomor tak dikenal. Aku yang saat itu sedang mengajar privat bahasa Jepang di sebuah sekolah swasta di Pluit, mendapat kabar menggembirakan. Ternyata telepon dari Mbak Virgy, salah seorang staf HRD yang siangnya mewawancaraiku. “Selamat Tuti, kamu terpilih bersama satu mahasiswa lagi dari UNSADA untuk masuk ke tahap selanjutnya! Lusa bisa datang ke kantor Pasona jam 10 untuk wawancara lagi dengan Shachou? Dari situ akan diputuskan siapa yang akan berangkat”

AllahuAkbar! Sore yang menakjubkan! Entah bagaimana bisa aku yang terpilih dari UNJ untuk masuk ke seleksi selanjutnya?! Alhamdulillaah ya Allah… satu langkah lagi! Semakin dekat menuju impianku.

“Gimana tesnya, Ti?” tanya Mama begitu aku pulang.
“Alhamdulillaah Mah, hari Rabu diminta tes seleksi selanjutnya.”
“Alhamdulillaah” Mama memandangku, dengan tatapan yang saat itu, gak bisa kudefinisikan maknanya.



* Tantousha : Penanggung jawab
   Shachou : Direktur perusahaan


To be continued~ 


28 Februari 2014, 14.38 JST

aL - Kamar Asrama . Osaka 

Jumat, 21 Februari 2014

PEMUDA MUSLIM YANG TANGGUH

“Beri aku satu pemuda, maka akan kuguncangkan dunia!”

Wih~ siapa yang gak pernah dengar kata-kata dahsyat dari Founding Father bangsa kita Bung Karno itu? Dari kata-kata itu tergambar sekali urgensi peranan pemuda dalam sebuah bangsa.
Nah, sejurus dengan tema itu, saat iseng-iseng jelajah Youtube suatu pagi, aku menemukan rekaman video ceramah dari Ust.Bachtiar Nasir di UNJ kampusku, dalam sebuah acara yang diselenggarakan anak-anak Fak.Ekonomi 3 Oktober 2013 lalu.

Sebenarnya saat itu, Imas salah satu temanku anak Akuntansi mengajakku untuk hadir langsung, aku pun semangat sekali waktu itu, bayangkan! Seorang Ustad yang terkenal ceramahnya selalu “mengena”, dan cara penyampaiannya yang juga banyak menggugah semangat itu hadir di Masjid Nurul Irfaan kami. Sayangnya, waktunya gak pas, karena tanggal 1 Oktober aku sudah harus terbang ke Osaka. Tapi alhamdulillaah, meskipun gak live nonton langsung… Allah SWT masih mengizinkanku untuk mendengarkan ceramah beliau. 

Berikut aku coba ringkas isi Kajian dari Ust.Bactiar Nasir, dengan tema Pemuda Islam Dulu, Kini dan Nanti.

21-35 tahun adalah fase produktif dalam kehidupan manusia. Maka seorang pemuda, pada masa itu harus tahu jelas apa yang dia mau, lalu fokus untuk kejar tujuan itu dengan kerja keras. Masuk ke usia 40 adalah usia kematangan dan fase bersyukur. Jadi sebelum usia 40 pemuda harus kerja keras, mencapai semua target dan cita-citanya, sehingga masuk di usia 40 tahun ke atas, sudah tinggal menjalani apa yang diraih sebelumnya dan sudah bisa “mensyukuri” hasil kerja keras di masa mudanya.

Pemuda muslim yang tangguh dan sangat patut untuk dijadikan tauladan, yang kisahnya diabadikan dalam Al Qur’an adalah Rasulullah SAW, Nabi Ibrahim AS, dan para pemuda Ashabul Kahfi.

Kriteria pemuda yang ideal dan baik menurut Islam itu tersurat juga dalam surat Al Kahfi, yaitu :
1.    Beriman kepada Allah SWT
2.    Allah SWT selalu menambahkan hidayah dalam dada mereka
3.    Mereka bertumbuh dalam ibadah kepada Allah SWT

Ust.Bachtiar Nasir menekankan bahwa pemuda muslim haruslah punya visi misi hidup seperti berikut ini.

Visi : Menegakkan kalimat Laa illaaha ilallaah ..
Misi : Sesuai dengan QS.Al Asr 1-3
1.    Menjadi orang benar
2.    Melakukan yang benar
3.    Mengajak kepada yang benar
4.    Bersabar dalam kebenaran

Selain itu pemuda harus berani melakukan perubahan, melakukan amar makruf nahi munkar (jangan permisif !), ada kemajuan dalam hidupnya (ingat, indikator maju dalam islam adalah semakin dekatnya seorang hamba pada Rabb-nya), serta memiliki mental jihad fii-sabilillaah dan akhiraat oriented dalam setiap gerak dan langkahnya. Pemuda juga harus punya mindset menembus kemustahilan, belajar dari kisah Muhammad Al Fatih dalam penaklukan Konstantinopel di usianya yang baru 21 tahun.

Pemuda-pemuda yang demikianlah yang dibutuhkan bangsa untuk menjadi pemimpin. Bicara tentang pemimpin, Ust.Bachtiar Nasir menyatakan juga bahwa hakikat tugas seorang pemimpin itu ada dalam tiga hal, yaitu :
1.    Menegakkan Agama Allah,
2.    Mengamankan masyarakatnya dari rasa takut, serta
3.    Mengenyangkan masyarakatnya dari rasa lapar.

Berikut link untuk yang ingin menyimak langsung ceramah beliau, semoga bisa sama-sama diambil hikmahnya :) Insha Allaah berkah dan bermanfaat :)

https://www.youtube.com/watch?v=Mrf4YdvjOjk
https://www.youtube.com/watch?v=6bSXDSTx-oM


NB : waktu lagi nulis tulisan ini, pas banget nemu gambar ini dari akun FB Dakwah Kreatif,
Masha Allaah ... makjleb banget ! *mau nangis rasanya* :')


hiks . Semangaat, aL !!! Inshaa Allaah Desember 2014 sudah ikut dan lulus sidang Skripsi, lalu menjelang 24 tahun sudah mendapat gelar S.Pd dari Universitas Negeri Jakarta. Inshaa Allaah... :')


21 Februari 2014 . 11.55 PM JST
aL - Kamar Asrama, Osaka .