30
Agustus 2013
Koper sudah dibongkar. Isinya berserakan
memenuhi ruang tamu tempat tinggalku yang sempit. Beberapa hadiah dari rekan
kerja, oleh-oleh, foto-foto, membawa perasaan berbeda. Dua bulan pengalaman
yang ku alami ini, Masha Allah... terimakasih Ya Rabb, satu mimpiku terwujud .
1
Januari 2013
Seorang teman bertanya padaku di malam itu.
Satu jam berselang setelah terompet tahun baru semarak dibunyikan.
“Apa resolusi kamu tahun ini?”
Satu dari sekian banyak jawabku padanya
saat itu : Berangkat ke Jepang .
Meskipun jujur saja, saat itu aku benar-benar
gak tahu bagaimana caranya, dan dari mana jalannya aku bisa berangkat ke sana?
Bissmillaah…
Minggu
pertama Januari
Mataku membulat. Ku baca berulang-ulang
sebuah posting dari seorang Senseiku di grup Facebook mahasiswa jurusan kami.
Isinya menawarkan program internship (magang) selama 2 bulan di perusahaan
Jepang, di Tokyo, untuk mahasiswa. Syarat pertama : menulis essay bertema
(pendapatmu tentang perusahaan Jepang). Ah, boleh nih dicoba, pikirku. Mungkin
bisa jadi jalan keberangkatanku ke Negeri Sakura. Setelah mengambil formulir
pendaftaran dan tahu lebih jauh, ternyata program itu hanya ditawarkan untuk dua
universitas, UNJ dan UNSADA. Dan yang akan lolos berangkat ke Tokyo hanya satu
orang. Satu orang! “Duh, kecil sekali kemungkinannya…” nyaliku sempat surut. “Ah,
tapi coba dulu lah!” aku bertekad.
Minggu
kedua Januari – Deadline pengumpulan berkas!
CV dalam bahasa Jepang, lembar pengenalan
dan promosi diri (Jiko PR), lalu
essay. Bukan Tuti namanya kalau nggak pake rumus Giri-Giri Safe! Satu hari sebelum deadline pengumpulan aku baru mulai
serius mengerjakan. Sebenarnya bukan karena menyepelekan, sudah dari beberapa
hari sebelumnya niat dikerjakan, namun karena ide tak jua datang, Akibatnya…
Hari
H . Pukul 21.00 WIB
Panik aku menyelesaikan Essay dan Jiko PR. Bunyi guntur membawa perasaan
makin kacau, tak karuan. “Ya Allah, tolong jangan hujan dulu, sebelum aku
selesai men-scan dokumen ini dan mengirimnya ke perusahaan!” ratapku. Begitu
dokumen selesai dan harus pergi ke tukang fotokopi untuk menscan, hujan turun
sejadi-jadinya!
Berbekal payung ditangan dan dokumen di
bungkus kantong plastik, aku bertekad menembus hujan deras malam itu. “Mah,
keluar dulu yah, ke tukang fotokopi sebentar” izinku terburu-buru.
“Ngapain malam-malam hujan deras begini??
besok aja perginya!” hardik Mama keras. Khawatir karena kondisi hujan angin
dengan kilat dan guntur bersahutan di luar. Mama tahu jarak tukang fotokopi
jauh dari rumah kami. Aku yang sedang kalut diburu waktu dan tertekan
kepanikan, refleks balas menghardik Mama tak kalah keras, “Gak bisa, Mah! Malam
ini terakhir! Ini demi kesempatan ke Jepang, Mama nih! Bukannya doain malah
ngomel-ngomel!!” aku setengah berteriak, dan buru-buru keluar, berkeras
menerjang hujan. Mama terdiam, mungkin kaget mendengar jawabanku. Ke Jepang?
Sebelumnya aku memang belum bilang apa-apa pada Mama.
Payungku bergeliyat-geliyut diterpa angin
kencang. Hujan angin, rasanya tak pernah aku begitu nekatnya menembus hujan
angin seperti malam itu. Air menggenang semata kaki. Beberapa kali aku hampir
terpeleset di jalan. Dingin… Dengan sedikit menggigil, aku mengujar lirih di
tengah deru hujan. “Ya Rabb, ini salah satu ikhtiar yang bisa kulakukan…”
“Maaf mbak, sudah mau tutup. Komputernya
sudah dimatikan. Itu lihat sebentar lagi air masuk. Kita mau cepat tutup!”
tandas salah satu tukang fotokopi, menghancurkan harapan dan ikhtiar yang coba kuperjuangkan
malam itu.
“Sa.. Saya minta tolong, mas… Satu ini
saja, keperluan mendesak, besok sudah gak bisa lagi...” aku mencoba memohon,
suaraku bergetar saat kudapati gelengan kepala tegas dari mereka. Dengan hati
kecewa dan marah sejujurnya, aku pergi. Meneguhkan langkah untuk menuju tempat
scan lain yang jaraknya dua kali lipat lebih jauh dari situ. Tetapi…
‘Sraaak!’
Kakiku terperosok ke dalam lubang selokan.
Keadaan gelap plus jalan yang tergenang membuatku tak bisa melihat kondisi
jalan di sekitar situ. Tubuhku terendam air setinggi paha, sulit bergerak.
Dokumen ditanganku pun tak pelak ikut terendam. Astaghfirullah! Kalau tidak dibantu
orang-orang di sekitar situ, aku nggak bisa bangun. Malu? ya memang! Tapi rasa
kecewa terasa lebih menyakitkan, Dadaku sesak, menyadari ikhtiarku
memperjuangkan mimpi terhempas begitu saja malam itu. Menggigil kedinginan, aku
bergetar menahan tangis dalam perjalanan pulang. Langkahku gontai, gak mungkin lagi
dengan keadaan basah kuyup begitu aku mencari tempat scan lain. “Maaf ya Rabb,
aku tadi membentak Mama… mungkin memang bukan dari sini rezekiku bisa pergi
kesana… Astaghfirullah…” setetes bulir bening menggenang dari sudut mataku.
![]() |
| salah satu dokumen yang basah |
Sampai rumah, tanpa ba-bi-bu bahkan tanpa
mengucap salam, aku langsung menuju kamar mandi, membersihkan diri dan segera
berganti baju. Mama tak bertanya apa-apa. Hanya aneh melihatku basah kuyup
padahal keluar membawa payung. Satu lagi yang menyesakkan, handphone yang
kusimpan di kantong celana rusak ikut terendam malam itu. Aku cuma menjawab
pelan “Kena air, Pak…” begitu Bapak bertanya. Ah, ini benar-benar teguran
karena aku membentak orangtua, pikirku.
***
Keesokan harinya, selama beberapa hari
hujan terus tercurah membasahi kota. Jakarta lumpuh dilanda banjir. mungkin
karena satu alasan itu dan lainnya, Pasona, perusahaan yang mengadakan program
magang itu bersedia mengundurkan waktu pengumpulan berkas beberapa hari.
Alhamdulillaah! Secercah harapan muncul lagi. Aku langsung menyalin ulang semua
dokumen basah kemarin dan meskipun mepet, akhirnya bisa mengumpulkan tepat
waktu!
Minggu
terakhir Januari - Sesi Wawancara
Seluruh pendaftar yang telah menyerahkan
berkas, dipanggil untuk menempuh sesi wawancara dengan pihak HRD dan tantousha program magang tersebut. Dengan
kemampuan bicara bahasa Jepang yang ala kadarnya, aku yang sebelumnya sudah
berusaha merangkai dan menghafalkan jawaban dari pertanyaan yang kira-kira akan
keluar, cukup lancar menjawab pertanyaan yang ternyata benar-benar ditanyakan
dalam sesi wawancara tersebut. Selebihnya, untuk pertanyaan yang belum
kupersiapkan jawabannya, walaupun mungkin dengan tatabahasa ngawur, dan bisa
jadi gak terlalu singkron dengan pertanyaan, kucoba jawab sebisanya. Gugup,
tapi rasanya semua aman terkendali karena Toyazaki-san, tantousha yang ramah dan cantik itu mencairkan suasana tegang di
ruang wawancara. Ah, aku memang merasa kurang maksimal, tapi lumayanlah.
Di luar, teman-teman duduk menunggu
giliran. Ada seorang senior yang ikut juga dalam seleksi itu. Kak Fitriyani,
baru beberapa bulan lalu pulang dari Jepang setelah mengikuti program beasiswa Monbusho,
belajar bahasa Jepang satu tahun disana. Sudah lama aku selalu kagum dengan Kak
Fitri, dan hari itu akhirnya bisa mengobrol langsung dengannya, bertanya-tanya
soal kehidupan di Jepang. Ah, semoga aku juga bisa dapat beasiswa Monbusho
seperti Kak Fitri... Di satu sisi, kehadiran Kak Fitri ditengah-tengah kami
semua juga cukup membuat kami agak minder. Tapi, diantara rasa kurang pede dan
kepasrahan yang ada, satu keyakinan dalam hatiku yang gak pernah kuragukan
sedikitpun, menguatkanku lagi untuk tetap optimis… “Yakin dan percaya, aL… Rizki dari Allah, gak
akan pernah tertukar.”
Sore harinya. Akari, si handphone cina
kesayanganku yang telah pulih setelah koma beberapa hari atas insiden “berendam
di got” berdering. Nomor tak dikenal. Aku yang saat itu sedang mengajar privat
bahasa Jepang di sebuah sekolah swasta di Pluit, mendapat kabar menggembirakan.
Ternyata telepon dari Mbak Virgy, salah seorang staf HRD yang siangnya
mewawancaraiku. “Selamat Tuti, kamu terpilih bersama satu mahasiswa lagi dari
UNSADA untuk masuk ke tahap selanjutnya! Lusa bisa datang ke kantor Pasona jam
10 untuk wawancara lagi dengan Shachou?
Dari situ akan diputuskan siapa yang akan berangkat”
AllahuAkbar! Sore yang menakjubkan! Entah
bagaimana bisa aku yang terpilih dari UNJ untuk masuk ke seleksi selanjutnya?!
Alhamdulillaah ya Allah… satu langkah lagi! Semakin dekat menuju impianku.
“Gimana tesnya, Ti?” tanya Mama begitu aku
pulang.
“Alhamdulillaah Mah, hari Rabu diminta tes
seleksi selanjutnya.”
“Alhamdulillaah” Mama memandangku, dengan
tatapan yang saat itu, gak bisa kudefinisikan maknanya.
* Tantousha : Penanggung jawab
Shachou : Direktur perusahaan
To be continued~
28 Februari 2014, 14.38 JST
aL - Kamar Asrama . Osaka

serius pernah ke Jepang?
BalasHapus(penasaran)
Tuti pernah kuliah 1 tahun di Osaka University & Magang 2 bulan di perusahaan Jepang di Tokyo. Semua pengalaman yg ditulis disini pasti pernah dilakuin lah mas, masa iya asal bicara tanpa bukti.
HapusNying, sampek gue printout loh essay elu yg basah diatas itu. Gue sedih, kalau aja gue bisa kuliah bhs.asing dulu sesuai keinginan sendiri, gue pasti bisa baca & tau artinya. Sekarang? Cuma bisa baca hiragana & katakananya doang disitu tanpa tahu artinya.
BalasHapus