Kamis, 27 Februari 2014

Kilas Balik , Goes to Tokyo ! #part - 1

30 Agustus 2013 
Koper sudah dibongkar. Isinya berserakan memenuhi ruang tamu tempat tinggalku yang sempit. Beberapa hadiah dari rekan kerja, oleh-oleh, foto-foto, membawa perasaan berbeda. Dua bulan pengalaman yang ku alami ini, Masha Allah... terimakasih Ya Rabb, satu mimpiku terwujud .

1 Januari 2013 
Seorang teman bertanya padaku di malam itu. Satu jam berselang setelah terompet tahun baru semarak dibunyikan.
“Apa resolusi kamu tahun ini?”
Satu dari sekian banyak jawabku padanya saat itu : Berangkat ke Jepang .
Meskipun jujur saja, saat itu aku benar-benar gak tahu bagaimana caranya, dan dari mana jalannya aku bisa berangkat ke sana? Bissmillaah…

Minggu pertama Januari
Mataku membulat. Ku baca berulang-ulang sebuah posting dari seorang Senseiku di grup Facebook mahasiswa jurusan kami. Isinya menawarkan program internship (magang) selama 2 bulan di perusahaan Jepang, di Tokyo, untuk mahasiswa. Syarat pertama : menulis essay bertema (pendapatmu tentang perusahaan Jepang). Ah, boleh nih dicoba, pikirku. Mungkin bisa jadi jalan keberangkatanku ke Negeri Sakura. Setelah mengambil formulir pendaftaran dan tahu lebih jauh, ternyata program itu hanya ditawarkan untuk dua universitas, UNJ dan UNSADA. Dan yang akan lolos berangkat ke Tokyo hanya satu orang. Satu orang! “Duh, kecil sekali kemungkinannya…” nyaliku sempat surut. “Ah, tapi coba dulu lah!” aku bertekad.

Minggu kedua Januari – Deadline pengumpulan berkas!
CV dalam bahasa Jepang, lembar pengenalan dan promosi diri (Jiko PR), lalu essay. Bukan Tuti namanya kalau nggak pake rumus Giri-Giri Safe! Satu hari sebelum deadline pengumpulan aku baru mulai serius mengerjakan. Sebenarnya bukan karena menyepelekan, sudah dari beberapa hari sebelumnya niat dikerjakan, namun karena ide tak jua datang, Akibatnya…

Hari H . Pukul 21.00 WIB
Panik aku menyelesaikan Essay dan Jiko PR. Bunyi guntur membawa perasaan makin kacau, tak karuan. “Ya Allah, tolong jangan hujan dulu, sebelum aku selesai men-scan dokumen ini dan mengirimnya ke perusahaan!” ratapku. Begitu dokumen selesai dan harus pergi ke tukang fotokopi untuk menscan, hujan turun sejadi-jadinya!

Berbekal payung ditangan dan dokumen di bungkus kantong plastik, aku bertekad menembus hujan deras malam itu. “Mah, keluar dulu yah, ke tukang fotokopi sebentar” izinku terburu-buru.

“Ngapain malam-malam hujan deras begini?? besok aja perginya!” hardik Mama keras. Khawatir karena kondisi hujan angin dengan kilat dan guntur bersahutan di luar. Mama tahu jarak tukang fotokopi jauh dari rumah kami. Aku yang sedang kalut diburu waktu dan tertekan kepanikan, refleks balas menghardik Mama tak kalah keras, “Gak bisa, Mah! Malam ini terakhir! Ini demi kesempatan ke Jepang, Mama nih! Bukannya doain malah ngomel-ngomel!!” aku setengah berteriak, dan buru-buru keluar, berkeras menerjang hujan. Mama terdiam, mungkin kaget mendengar jawabanku. Ke Jepang? Sebelumnya aku memang belum bilang apa-apa pada Mama.

Payungku bergeliyat-geliyut diterpa angin kencang. Hujan angin, rasanya tak pernah aku begitu nekatnya menembus hujan angin seperti malam itu. Air menggenang semata kaki. Beberapa kali aku hampir terpeleset di jalan. Dingin… Dengan sedikit menggigil, aku mengujar lirih di tengah deru hujan. “Ya Rabb, ini salah satu ikhtiar yang bisa kulakukan…”

“Maaf mbak, sudah mau tutup. Komputernya sudah dimatikan. Itu lihat sebentar lagi air masuk. Kita mau cepat tutup!” tandas salah satu tukang fotokopi, menghancurkan harapan dan ikhtiar yang coba kuperjuangkan malam itu.

“Sa.. Saya minta tolong, mas… Satu ini saja, keperluan mendesak, besok sudah gak bisa lagi...” aku mencoba memohon, suaraku bergetar saat kudapati gelengan kepala tegas dari mereka. Dengan hati kecewa dan marah sejujurnya, aku pergi. Meneguhkan langkah untuk menuju tempat scan lain yang jaraknya dua kali lipat lebih jauh dari situ. Tetapi…

‘Sraaak!’
Kakiku terperosok ke dalam lubang selokan. Keadaan gelap plus jalan yang tergenang membuatku tak bisa melihat kondisi jalan di sekitar situ. Tubuhku terendam air setinggi paha, sulit bergerak. Dokumen ditanganku pun tak pelak ikut terendam. Astaghfirullah! Kalau tidak dibantu orang-orang di sekitar situ, aku nggak bisa bangun. Malu? ya memang! Tapi rasa kecewa terasa lebih menyakitkan, Dadaku sesak, menyadari ikhtiarku memperjuangkan mimpi terhempas begitu saja malam itu. Menggigil kedinginan, aku bergetar menahan tangis dalam perjalanan pulang. Langkahku gontai, gak mungkin lagi dengan keadaan basah kuyup begitu aku mencari tempat scan lain. “Maaf ya Rabb, aku tadi membentak Mama… mungkin memang bukan dari sini rezekiku bisa pergi kesana… Astaghfirullah…” setetes bulir bening menggenang dari sudut mataku.
 
salah satu dokumen yang basah
Sampai rumah, tanpa ba-bi-bu bahkan tanpa mengucap salam, aku langsung menuju kamar mandi, membersihkan diri dan segera berganti baju. Mama tak bertanya apa-apa. Hanya aneh melihatku basah kuyup padahal keluar membawa payung. Satu lagi yang menyesakkan, handphone yang kusimpan di kantong celana rusak ikut terendam malam itu. Aku cuma menjawab pelan “Kena air, Pak…” begitu Bapak bertanya. Ah, ini benar-benar teguran karena aku membentak orangtua, pikirku.

***

Keesokan harinya, selama beberapa hari hujan terus tercurah membasahi kota. Jakarta lumpuh dilanda banjir. mungkin karena satu alasan itu dan lainnya, Pasona, perusahaan yang mengadakan program magang itu bersedia mengundurkan waktu pengumpulan berkas beberapa hari. Alhamdulillaah! Secercah harapan muncul lagi. Aku langsung menyalin ulang semua dokumen basah kemarin dan meskipun mepet, akhirnya bisa mengumpulkan tepat waktu!


Minggu terakhir Januari - Sesi Wawancara
Seluruh pendaftar yang telah menyerahkan berkas, dipanggil untuk menempuh sesi wawancara dengan pihak HRD dan tantousha program magang tersebut. Dengan kemampuan bicara bahasa Jepang yang ala kadarnya, aku yang sebelumnya sudah berusaha merangkai dan menghafalkan jawaban dari pertanyaan yang kira-kira akan keluar, cukup lancar menjawab pertanyaan yang ternyata benar-benar ditanyakan dalam sesi wawancara tersebut. Selebihnya, untuk pertanyaan yang belum kupersiapkan jawabannya, walaupun mungkin dengan tatabahasa ngawur, dan bisa jadi gak terlalu singkron dengan pertanyaan, kucoba jawab sebisanya. Gugup, tapi rasanya semua aman terkendali karena Toyazaki-san, tantousha yang ramah dan cantik itu mencairkan suasana tegang di ruang wawancara. Ah, aku memang merasa kurang maksimal, tapi lumayanlah.

Di luar, teman-teman duduk menunggu giliran. Ada seorang senior yang ikut juga dalam seleksi itu. Kak Fitriyani, baru beberapa bulan lalu pulang dari Jepang setelah mengikuti program beasiswa Monbusho, belajar bahasa Jepang satu tahun disana. Sudah lama aku selalu kagum dengan Kak Fitri, dan hari itu akhirnya bisa mengobrol langsung dengannya, bertanya-tanya soal kehidupan di Jepang. Ah, semoga aku juga bisa dapat beasiswa Monbusho seperti Kak Fitri... Di satu sisi, kehadiran Kak Fitri ditengah-tengah kami semua juga cukup membuat kami agak minder. Tapi, diantara rasa kurang pede dan kepasrahan yang ada, satu keyakinan dalam hatiku yang gak pernah kuragukan sedikitpun, menguatkanku lagi untuk tetap optimis… “Yakin dan percaya, aL… Rizki dari Allah, gak akan pernah tertukar.”

Sore harinya. Akari, si handphone cina kesayanganku yang telah pulih setelah koma beberapa hari atas insiden “berendam di got” berdering. Nomor tak dikenal. Aku yang saat itu sedang mengajar privat bahasa Jepang di sebuah sekolah swasta di Pluit, mendapat kabar menggembirakan. Ternyata telepon dari Mbak Virgy, salah seorang staf HRD yang siangnya mewawancaraiku. “Selamat Tuti, kamu terpilih bersama satu mahasiswa lagi dari UNSADA untuk masuk ke tahap selanjutnya! Lusa bisa datang ke kantor Pasona jam 10 untuk wawancara lagi dengan Shachou? Dari situ akan diputuskan siapa yang akan berangkat”

AllahuAkbar! Sore yang menakjubkan! Entah bagaimana bisa aku yang terpilih dari UNJ untuk masuk ke seleksi selanjutnya?! Alhamdulillaah ya Allah… satu langkah lagi! Semakin dekat menuju impianku.

“Gimana tesnya, Ti?” tanya Mama begitu aku pulang.
“Alhamdulillaah Mah, hari Rabu diminta tes seleksi selanjutnya.”
“Alhamdulillaah” Mama memandangku, dengan tatapan yang saat itu, gak bisa kudefinisikan maknanya.



* Tantousha : Penanggung jawab
   Shachou : Direktur perusahaan


To be continued~ 


28 Februari 2014, 14.38 JST

aL - Kamar Asrama . Osaka 

3 komentar:

  1. serius pernah ke Jepang?
    (penasaran)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tuti pernah kuliah 1 tahun di Osaka University & Magang 2 bulan di perusahaan Jepang di Tokyo. Semua pengalaman yg ditulis disini pasti pernah dilakuin lah mas, masa iya asal bicara tanpa bukti.

      Hapus
  2. Nying, sampek gue printout loh essay elu yg basah diatas itu. Gue sedih, kalau aja gue bisa kuliah bhs.asing dulu sesuai keinginan sendiri, gue pasti bisa baca & tau artinya. Sekarang? Cuma bisa baca hiragana & katakananya doang disitu tanpa tahu artinya.

    BalasHapus