Jumat, 28 Maret 2014

Hijab, I'm in Love !

Hijab, I’m in Love .

Mengutip sebuah tagline populer milik Kak Oky Setiana Dewi, aku mau memulai menuliskan kisah yang sudah lamaaaa sekali ingin dituliskan. Ini tentang Hijab. Aku mulai memakai penutup kepala ini sejak dinyatakan lulus dari SMA, kalau tidak salah ingat, terakhir aku bertemu kawan-kawan SMA-ku tanpa hijab adalah saat acara wisuda kelulusan SMA. Hari itu aku berkebaya biru dengan rambut di keriting ikal merayakan kelulusan 100% plus predikat kelas bahasaku sebagai kelas Bahasa nomor 1 se-DKI Jakarta. Senangnya hari itu bisa membuktikan ke Bapak/Ibu guru kalau kelas bahasa kami bukan sekedar kelas berisik bin bandel, tapi juga bisa mempertahankan gelar yang sudah diraih IPB SMAN 33 selama beberapa tahun belakangan.

Anyway, back to the topic. Kalau ingat zaman-zaman masih nakal dulu… (duileh, kayak sekarang udah nggak aja yah!) parah banget deh pokoknya. Ada satu kisah di masa SMA-ku, yang membuatku sampai sekarang pun masih geleng-geleng kepala kalau ingat. Sewaktu SMA semua siswi di sekolah negeri Jakarta diwajibkan memakai kerudung ke sekolah di hari Jumat. Nah walau cuma diwajibkan seminggu sekali saja~ aku ini bandel. Suatu hari Jumat yang gerah, saat aku masih duduk di kelas sebelas SMA, datang alim ke sekolah dengan kerudung di kepala, tapi belum juga sampai bedug dzuhur berkumandang, kerudungku sudah lepas, terlipat rapih di kolong meja. Bukan cuma aku sih, beberapa teman se-genk juga melakukan hal yang sama. Alasannya? Panas euy! Maklum, di kelas belum ada AC waktu itu. Guru yang seharusnya mengajar pun tidak masuk, jadilah kelas bahasa yang terkenal ramai bikin suasana kelas seketika bak pasar kaki lima.

Tak tahan dengan berisiknya kelas kami yang kebetulan (atau mungkin memang sengaja?) terletak di sebelah ruang guru, seorang guru akhirnya menyambangi kelas kami. Apes buatku, (juga beberapa teman lain) karena guru yang barusan masuk itu adalah guru Agama Islam! Setelah menertibkan kondisi kelas, Pak Guru itu menghampiri tempat dudukku, yang sedari awal sudah ketar-ketir karena tidak keburu memasang lagi kerudung di kepala.

“Mana jilbab kamu?” si Bapak melotot.

“Ada, Pak” jawabku pelan, tertunduk. Tanganku mengeluarkan lipatan kerudung putih dari dalam laci meja.

“Pakai ! kenapa dilepas?! Kalian juga !” hardik si Bapak lagi, kali ini beberapa teman se-genk ku yang lain yang disemprot. Kami pun kembali “terpaksa” memasang kain putih itu menutupi kepala.

Teman-teman (khususnya para teman cowok yang duduk bergerombol di belakang kelas) kontan menyoraki kami. Setelah itu Bapak Guru Agama ini pun melengkapi “serangannya” pada kami dengan wejangan panjang pasal menutup aurat, dan sebagainya, dan sebagainya… Sayangnya aku tak fokus mendengarkan waktu itu karena telinga ini rasanya tersumbat rasa malu! >_<

Setelah Pak Guru keluar, seisi kelas riuh. Gerombolan cowok dibelakang makin semarak menyoraki kami. Beberapa dari mereka bahkan sampai membuat paduan suara dadakan mendendangkan lagu qasidah, “Astagfirullaah Robbal baroyyaa… Astaghfirullaah minal khotuuyaa…” Aku tertunduk makin dalam. Mukaku semerah cumi-cumi rebus. (kepiting sudah terlalu mainstream, hhehe)

Hari Jumat di minggu-minggu berikutnya aku memilih menggunakan kerudung bergo, dengan alasan supaya ringkas dan bisa lepas pakai dengan mudah kalau gerah, tentu saja ini sebagai antisipasi agar kejadian sebelumnya tidak terulang. (duh!)

Kebiasaan lepas pakai jilbab masih terus berlanjut sampai booming novel dan film Ayat-Ayat Cinta. Aku yang sedari SMP sudah tergila-gila dengan Bang Fedi, pemeran Fahri dalam film fenomenal itu pun tak pelak terkena demam AAC. Aku mulai kagum dengan sosok Aisha yang sholehah, dan berpikir bahwa seperti itulah seharusnya untuk jadi wanita yang baik.

Seolah ikut memanas-manasi perhatianku dengan sosok wanita sholehah, beredar rumor kalau kakak kelas cowok yang sudah lama kutaksir di sekolah sedang dekat dengan anak kelas sepuluh, adik kelas yang juga berjilbab dan memiliki pembawaannya kalem. Ah, jealouuuuus…!!! Padahal belakangan aku tahu kalau ternyata adik kelas itu adalah sepupu si kakak kelas.

Lepas dari soal kakak kelas itu pun, entah kenapa seperti mulai ada ketertarikan sendiri untuk pakai kerudung. Aku ingat guru ngajiku sewaktu SD. Aku juga kagum dengan seorang kakak kelas yang lain (kali ini cewek) yang dimataku bagaikan bidadari surga, cantik, kalem dan sholehahnya minta ampun. Diam-diam aku nge-fans dengan kakak itu. Kebiasaannya pergi ke masjid sekolah tiap istirahat pertama untuk sholat dhuha, akhirnya ku ikuti. Aku ingin jadi seperti kakak cantik nan sholehah itu…

“Kalau ada audisi pemeran Aisha di sini, pasti kakak itu yang paling pas!” ujarku suatu hari, melihatnya melintas menuju masjid sekolah dengan jilbab putih panjang yang berkibar tertiup angin, serta wajah teduhnya yang selalu seperti tersenyum. Anggun sekali.

Sejak ngefans dengan Kak Aisha-nya 33 itu, aku insyaf untuk berusaha rutin sholat 5 waktu, sholat sunnah, pokoknya ingin lebih baik dengan belajar tentang islam. Ingin lebih dekat dengan Allah. Setelah itu aku juga mulai SKSD dengan anak-anak KSI (Kelompok Studi Islam, atau bahasa populernya mungkin, anak Rohis). Walaupun bukan anggota resmi, tapi aku mulai suka ikut nimbrung mentoring, rajin datang keputrian tiap Jumat (padahal sebelumnya rajin bolos), dan rajin baca-baca buku atau novel bertema rohani. Dari situ lah semakin terasa keinginan berhijab. Apalagi begitu dapat “surat cinta” dari seorang ukhti yang membuatku sampai terisak-isak membacanya. Surat cinta tentang keutamaan hijab. Surat yang semakin membuatku ingin cepat berhijab. Bahkan aku pernah sampai kebawa mimpi dipakaikan hijab oleh Kak Aisha 33. hhihihihi

Hijab I’m in Love… mungkin tagline itu pas dengan suasana hatiku saat itu. Tapi belum bisa kilat aku menyatakan rasa sukaku dengan langsung mengenakannya di kepala. Masih banyak keraguan yang timbul tenggelam. Selain malu, khawatir diejek teman-teman sekelas (diejek “ciyee tobaaat…!!!”), aku juga tidak punya seragam panjang. Kepalang tanggung, saat itu sudah hampir setengah tahun aku jadi siswa kelas duabelas. Kak Aisha-nya 33 yang kukagumi dan Kakak senior yang kutaksir sudah lulus.

“Mah, aku mau pakai kerudung, kayak gitu…” aku mengaku pada Mama suatu hari, seraya menunjuk seorang gadis kuliahan berjilbab yang berdiri tak jauh dari kami, menunggu angkot.

“Jangan macam-macam, ah” sahut Mama, sepertinya kaget dengan statement-ku yang tiba-tiba itu. Sejurus kemudian Mama menatapku dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan mata tak percaya. Belum setuju rupanya. Keluargaku memang bukan tipe yang agamis sekali. Tradisi pakai jilbab itu ya identik dengan ibu-ibu yang sudah menikah saja. Apalagi saat itu banyak kasus aliran sesat dan penyimpangan agama. Agaknya Mama khawatir aku mendadak minta berhijab karena terpengaruh salah satu aliran aneh. Dan lagi, karena dianggap masih labil, kalaupun benar-benar mau berhijab, khawatir tidak istiqomah dan lepas ditengah jalan. Atau malah nanti susah cari kerja? Ah, tatapan Mama saat itu menyiratkan berbagai kekhawatiran.

Maka setelah menunggu lagi setengah tahun, sambil terus memantapkan hati, sambil terus usaha “ngerecokin” koleksi kerudung Mama dengan memakainya di beberapa kesempatan saat keluar rumah (modus biar dibeliin kerudung sendiri >_<), akhirnya begitu mendapat kabar gembira diterimanya aku di perguruan tinggi negeri, Bismillaah… aku mulai memutuskan untuk terus memakai penutup kepala.

“Ciyeee-ciyeee” dari teman-teman awalnya cukup bikin kuping panas dan muka memerah, lama-lama reda sendiri. Toh walaupun kelihatannya seperti mengejek, sebenarnya mereka senang dengan penampilan baruku dan mendoakan semoga aku istiqomah. Aamiin…!! Semoga dengan ini bisa benar-benar jadi wanita yang lebih baik. Sebagai bonus, bahkan ada yang bilang aku makin cantik dengan hijab, duileh! Jadi senang. Hhaha

Dan yang bikin aku lebih senang, di kampus aku jadi lebih dekat dengan Kak Aisha 33 itu. Kami memang akhirnya sama-sama kuliah di jurusan Pend.Bahasa Jepang UNJ. Thanks for being one of my inspiration, Kuntum Khairunnisa Senpai :)

Kini, sudah masuk tahun kelima wajahku berbingkai hijab. Meski belum rapih menggunakannya, mungkin masih jauh dari kata syar’i, tapi Alhamdulillaah, masih terus berproses menyelaraskan laku dengan hijab yang kukenakan. Semoga Allah SWT senantiasa mengistiqomahkan kita dalam kebaikan.

Hijab, bukan pilihan tapi kewajiban. Hijab merupakan langkah awal untuk memulai perbaikan diri. Kalau logikanya dibalik, menunggu jadi baik dulu baru berhijab, sampai kapan pun mungkin gak akan bisa mulai, karena kita cuma manusia dan bukan malaikat yang bersih dari dosa. So, untuk yang belum atau masih ragu untuk berhijab, tunggu apa? Bismillaah… Yuk, mulai !

Cause every women looks more beautiful in Hijab~


28 Maret 2014 . 21.45 PM JST

-aL- Kamar Asrama , Osaka. 

Senin, 10 Maret 2014

Bagiku, Ski itu Seni Menjatuhkan Diri >_<

Minggu, 2 Maret 2014. Pukul setengah tujuh pagi aku sudah berangkat dengan semangat. Hari ini mau main ski ! Asyik !!! Setelah janjian di Shin-Osaka Eki, aku dan ketiga kakakku, (jadi berasa adik, soalnya paling muda) menuju ke Biwako Valley, di Prefektur Shiga. Kami berangkat satu bus dengan rombongan pemuda-pemudi Jepang lainnya.

Ketiga kakak tadi maksudnya adalah Teh Nurma dan Kak Okie, dua kakak dari PPI-ON (Perhimpunan Pelajar Indonesia Osaka-Nara), lalu Tylor, bule Amrik teman Teh Nurma. Pukul 8 rombongan kami berangkat dari stasiun Shin-Osaka, tak sampai satu setengah jam berikutnya kami sudah sampai di Biwako-Valley, salah satu resort ski-snowboard terkenal di wilayah Kansai.

Biwako Valley ski resort ternyata berada di pegunungan dengan ketinggian lebih dari 1700 M. Tak jauh dari gunung itu terhampar indah danau terluas di Jepang, yaitu Danau Biwa (Biwa-ko). Sejak dari dalam bus, mataku sudah membulat begitu melihat danau yang sering disebut-sebut di buku Minna no Nihongo, buku teks saat aku kuliah di tahun pertama dulu.

Ku kira suhu akan bersahabat karena beberapa hari belakangan sudah mulai terasa hangat, tapi ternyata disana aku masih kedinginan, padahal saat itu kita belum naik ke atas gunung. “Ya ampun, kau kedinginan?! Ini belum apa-apa… apalagi nanti diatas?!” Komentar Tylor melihatku menggigil. Sejurus kemudian kami pun menyewa perlengkapan berupa baju, sepatu, papan ski atau snowboard.

Aku dan Taylor main ski, sedang Kak Okie dan Teh Nurma memilih ber-snowboard. Awalnya aku sendiri bingung mau memilih ski atau snowboard, karena belum pernah dua-duanya, belum tahu mana yang lebih “asyik”. Tapi karena lebih familiar dengan kata ski, jadilah aku memutuskan main ski hari itu.

Betapa kagetnya aku pertama kali mencoba menggunakan sepatu ski. Keras dan sakit luar biasa. “Memang begitu, sepatu itu harus menopang tulang kaki dengan kuat, kalau nggak, bisa patah kakinya” terang Teh Nurma saat aku mengeluh sakit dan susah berjalan. Glek. Patah kaki? Aku menelan ludah mendengarnya.

Amat disayangkan tak ada penyewaan sarung tangan. Jadi aku terpaksa harus beli, karena sarung tangan biasa yang kubawa ternyata tak bisa terpakai. Harus sarung tangan khusus. 2500 yen dana tak terduga yang harus keluar hari itu, demi sepasang sarung tangan ski. “Ya Allah, semoga tahun-tahun berikutnya ada kesempatan lagi bisa main ski. Sayang ini sarung tangannya beli mahal-mahal kalau cuma dipakai sekali…” harapku nelangsa saat itu.

Setelah berganti kostum, lengkap dari sepatu ski, baju-atas bawah, sarung tangan, plus berat menenteng papan ski, aku si anak baru tergopoh-gopoh kepayahan mengiring tiga kakak berpengalaman itu menuju rope-way, sebuah lift besar yang akan mengantar kami ke atas gunung, medan tempur bermain salju 1700 meter dpl tingginya. Pertama kalinya aku naik rope-way begitu. Alhasil noraknya keluar deh, melihat sebuah kendaraan seperti lift yang berjalan horizontal, memuat lebih dari 100 orang sekaligus dan mengantarnya ke atas ketinggian lebih dari seribu meter hanya dalam lima menit.

Sebenarnya kalau tidak tertutup embun di kaca lift, (saking dinginnya suhu udara) 5 menit perjalanan naik itu kami disuguhi pemandangan indah rimbun pepohonan, panorama lereng gunung, hamparan danau Biwa, dan kota di Pref.Shiga yang terlihat dari ketinggian. Sayangnya, uap di kaca lift tadi mengaburkan pandangan kami.
Rope-way (sumber gambar: Google)
Biwako Valley Ski-Snowboard Arena
Sampai di atas gunung, aku terkesima dengan hamparan putih di depan mataku. Wajahku mengernyit silau, sinar mentari cerah hari itu memantul di hamparan es., seluas mata memandang. Seolah memasuki dunia yang lain, mengingat di bawah tadi, tak ada sebutir salju pun. Excited !!! Itulah pemandangan masshiro yang selalu kutunggu-tunggu sejak awal musim dingin. Aku antusias untuk berjalan diatas tumpukan salju~ tapi, saat menginjakkan kaki di sana, hampir-hampir aku terpeleset. Oh men, sepatu ski itu memang menyiksa. Bukan cuma di tanah biasa, di atas salju pun ternyata masih susah untuk berjalan. Harus ekstra pelan-pelan, tertatih-tatih menahan sakit. Tapi aku masih semangat !

Biwako Valley ramai hari itu, maklum, weekend. Bukan hanya orang dewasa dan remaja saja, banyak juga anak-anak kecil usia TK-SD ikut main ski dan snowboard. Bahkan tak sedikit juga balita yang diajak keluarganya, bermain di tempat khusus main salju untuk anak-anak. “Bruk” seorang anak jatuh, tak jauh dari tempat kami berdiri. Tak lama kemudian dibangunkan oleh Ibunya.

“Bersiaplah.. Hari ini kau akan sering mengalami itu” kata Tylor padaku. Aku meringis, “Ya, aku siap!!” jawabku semangat. Well, saat itu maksudnya siap untuk main salju, bukan siap untuk jatuh…

Ternyata arena ski sudah diatur track-tracknya. Zona merah untuk tingkat mahir, zona kuning untuk tingkat menengah, dan zona hijau untuk tingkat pemula. Kelandaian lereng tentu berbeda-beda tiap zonanya. Waktu menunjukkan pukul 11 siang, kami berjanji untuk ketemu pada jam 1 siang untuk makan siang. Teh Nurma dan Kak Okie kemudian berpisah dengan aku dan Tylor untuk mulai berseluncur dengan papan snowboard di zona-zona favorit mereka. Sementara aku, berada di zona hijau, dengan kemiringan lereng 0-15 derajat. Ditemani Tylor, yang berbaik hati mengajari dari nol segala macam soal ski. Mulai dari cara pakai sepatu, pasang papan ski di kaki, cara pegang tongkat ski, cara meluncur, cara mengerem, cara berbelok, dan lainnya, dan lainnya lagi…

Tapi… Ada masalah.

Pertama. Kupingku gak bisa menangkap American English Tylor yang bicara dengan speed sehari-harinya. Mungkin karena udara dingin, atau memang dasarnya kemampuan listening-ku yang payah yaa? ^_^;; Jadi ya begitu deh, walaupun gak 100%, tapi paling tidak, sedikit-sedikit bisalah aku menangkap tutorial ski darinya.

Lalu, masalah kedua. Ternyata ski itu TIDAK SEMUDAH yang dibayangkan dan yang dilihat, Saudara-saudara ! Setelah kedua papan itu terpasang di kaki, rupanya pijakan jadi berkali-kali lipat lebih licin, sehingga aku hampir-hampir tak bisa berdiri. Padahal tanah yang kupijak masih datar, bukan medan yang menurun. Saat coba bergerak, BRUK! Aku terjatuh. Dan sialnya lagi, badanku kenapa berat sekali??! susah payah aku mengangkat badan untuk kembali berdiri. Tylor membantuku.

Hari itu aku benar-benar baru sadar kalau ternyata aku keberatan badan. Medan datar, dimana aku diminta Tylor untuk mendorong badan sendiri agar papan ski bisa membawaku bergerak maju saja, susah payah kulakukan. Rasanya beraaaat sekali ! Begitu sudah bergerak meskipun amat sangat perlahan, tanah mulai melandai, sehingga aku jadi meluncur. Panik tak bisa mengendalikan diri, akhirnya aku jatuh lagi. Aaaarrrggghhh! Belum ada sepuluh menit papan ski terpasang, aku sudah dua kali jatuh !

Satu jam kemudian aku habiskan dengan meluncur sedikit, panik, jatuh, susah payah bangun, meluncur lagi sedikit, jatuh lagi, susah berdiri lagi, begitu saja terus. Progress yang terlihat mungkin adalah saat aku jatuh, sudah bisa bangun sendiri, tanpa dibantu Tylor. Sesekali juga saat meluncur pelan aku berhasil mengerem tanpa jatuh, tapi itu cuma sesekali, mungkin sedang beruntung. Lebih banyak jatuhnya. Dan sekali jatuh, butuh hampir 5 menit untuk bangun saja. Kasihan Tylor. Capek sepertinya melihat progress murid ski-nya yang lambat ini. Aku sendiri mulai frustasi. Kok susah banget siiiiiiiihh…??!!!!

Dan aku nggak enak hati dengan Tylor. Dia mahal-mahal datang ke tempat ski bukan untuk mengajariku saja kan? Makanya saat kebetulan Teh Nurma menghampiri kami, dan bertanya soal kemajuanku, aku bilang saja, “Kayaknya aku pengen belajar sendiri aja deh, Teh.. kasian Tylor nungguin aku kelamaan.” Akhirnya setelah itu kita berpencar. Lebih baik begitu menurutku, jadi tak ada beban merasa ditunggu. Dan juga tak perlu dilihat jatuh berulang-ulang kali. Malu juga kan…

Susah payah jatuh bangun berkali-kali akhirnya aku bisa juga sampai bawah lereng zona hijau. Haus berat. Bisa pingsan dehidrasi kalo gak buru-buru cari air untuk minum. Tapi jidouhanbaiki  mesin otomatis penjual minuman ada di atas lereng tadi, jadi harus pakai lift untuk naik lagi. Dan kawan, untuk duduk di lift saja aku harus jatuh dulu ! Turun lift juga jatuh lagi, kejadian itu sampai-sampai menghentikan laju lift sejenak karena petugasnya harus membantuku berdiri. Aihhhhh… mana mas-mas penjaga lift-nya ikemen pula. Malu-maluin aseli !

Setelah membasahi tenggorokan, aku yang masih bersungut-sungut sebal karena malu atas kejadian di lift tadi memutuskan untuk duduk menepi, di depan area bermain salju anak-anak. Waktu sudah hampir menunjukkan setengah satu. Kalau aku turun ke bawah lereng, malu naik lift-nya lagi. Akhirnya, sambil menunggu ketiga kakak itu datang, aku memandangi anak-anak asyik bermain. Ah~ enaknya… aku juga ingin main perang bola salju saja rasanya. Ternyata ski itu susah… Aku tersenyum kecut teringat percakapanku dengan Teh Nurma di bus pagi tadi.

“Teh, hari ini kita main sampai jam berapa?”
“Sampai jam 4 sore…”
“Yaah.. kurang puas kayaknya ya Teh…”
“Hahaha, masaa? Capek loh, baru dua jam aja ntar kamu pasti minta pulang”
“Hahahaha Nggak lah Teh, masa mahal-mahal baru dua jam minta pulang? Asik kayaknya…” jawabku cengar-cengir saat itu.

Ya, asik kayaknya… kalau bisa ! Dan benar saja, bahkan belum ada dua jam aku sudah frustasi duluan. Padahal ongkos buat ikutan ski, bisa buat uang belanja sebulan~ Hffft… Mungkin karena lapar juga, jadi loyo. Yosh! Setelah makan siang, harus semangat lagi !! tekadku.

Pukul satu. Kak Okie sudah datang. Selama menunggu Tylor dan Teh Nurma, aku dan Kak Okie dikejutkan oleh bunyi sirine. Ternyata sumbernya dari motor salju bertanda plus di bagian depannya. Motor itu mengangkut seorang pria paruh baya. Kuperhatikan kakinya saat pria itu turun dari motor serupa ambulans di atas gunung itu. Jalannya tertatih.

Aa.. Kega shicchatta…” Kak Okie bergumam. Aku mengernyit ngeri. Ya Allah, lindungilah aku dari hal yang semacam itu…

Melihat kejadian sebelum makan siang tadi, aku jadi lebih hati-hati dalam berlatih. Namun tetap saja, jatuh memang jadi harga mati. Entah kenapa, jurus mengerem yang sudah ku pelajari sebelumnya seperti menguap berganti rasa panik saat aku mulai meluncur. Apalagi saat itu arena meluncur cukup ramai, jadi riskan sekali aku menabrak orang lain. Bukan cuma takut mencederai diri sendiri, aku justru lebih takut akan mencederai orang lain, makanya saat meluncur dan tidak bisa mengerem, daripada nanti menabrak orang lain, caraku untuk berhenti adalah dengan menjatuhkan diri.

Dan jatuhnya pun bukan jatuh biasa. Terhempas, terbanting, terpental, terguling, atau apapun namanya. Untung itu salju, tak terlalu sakit. Rasa sakit justru terasa saat mencoba bangun, menopang badan. Begitulah. Hari itu, serasa kembali ke masa balita. Belajar berjalan (baca : meluncur), terjatuh, susah payah bangun dan mencoba lagi. Begitu seterusnya. Rasanya, seumur hidup baru kali itu aku terjatuh sebanyak itu dalam satu hari.
 
Nyeri menggigit yang terasa di lututku akhirnya membuatku menyerah hari itu. aku khawatir cedera. Bisa gawat kalau sampai terjadi. Akhirnya, di bawah lereng itu aku kembali menepi, sendirian saja bermain-main dengan salju. Sementara waktu kian sore, dan kabut mulai membatasi jarak pandang. Ku dengar beberapa lereng di zona merah dan kuning sudah ditutup karena tebalnya kabut, bahaya. Pukul setengah empat aku kembali menaiki lift untuk naik ke atas, menunggu ketiga kakak. Sebentar lagi waktunya pulang. Sebelum naik lift, aku buru-buru melepas papan ski di kaki supaya insiden jatuh disitu tak terulang lagi, dan mas-mas ikemen juga sudah tak ada, sudah ganti shift sepertinya. Hehehe
 
Alhamdulillaah, Terimakasih ya Rabb.. Meski hari itu belum berhasil berseluncur ski dengan baik, tapi bisa berkesempatan datang ke Biwako Valley itu menyenangkan! Seru untuk dijadikan pengalaman, dan tentu pemuas rasa penasaranku selama ini. Terimakasih juga untuk Teh Nurma, Kak Okie dan Tylor atas kebersamaan dan bimbingannya~ Otsukaresama~!

Kak Okie - Teh Nurma - aL - Tylor
Satu hal yang benar-benar bisa kupahami setelah itu, bahwa ski adalah olahraga, bukan sekedar bermain salju. Dan bagiku, ski berarti seni. Seni menjatuhkan diri. >_<


 *kega shicchatta : terluka/cedera


sumber gambar : google dan dokumentasi pribadi


 10 Maret 2014 . 9.45 JST

aL, kamar asrama . Osaka