Mengutip sebuah tagline populer milik Kak
Oky Setiana Dewi, aku mau memulai menuliskan kisah yang sudah lamaaaa sekali
ingin dituliskan. Ini tentang Hijab. Aku mulai memakai penutup kepala ini sejak
dinyatakan lulus dari SMA, kalau tidak salah ingat, terakhir aku bertemu
kawan-kawan SMA-ku tanpa hijab adalah saat acara wisuda kelulusan SMA. Hari itu
aku berkebaya biru dengan rambut di keriting ikal merayakan kelulusan 100% plus
predikat kelas bahasaku sebagai kelas Bahasa nomor 1 se-DKI Jakarta. Senangnya
hari itu bisa membuktikan ke Bapak/Ibu guru kalau kelas bahasa kami bukan sekedar
kelas berisik bin bandel, tapi juga bisa mempertahankan gelar yang sudah diraih
IPB SMAN 33 selama beberapa tahun belakangan.
Anyway, back to the topic. Kalau ingat
zaman-zaman masih nakal dulu… (duileh, kayak sekarang udah nggak aja yah!)
parah banget deh pokoknya. Ada satu kisah di masa SMA-ku, yang membuatku sampai
sekarang pun masih geleng-geleng kepala kalau ingat. Sewaktu SMA semua siswi di
sekolah negeri Jakarta diwajibkan memakai kerudung ke sekolah di hari Jumat. Nah
walau cuma diwajibkan seminggu sekali saja~ aku ini bandel. Suatu hari Jumat
yang gerah, saat aku masih duduk di kelas sebelas SMA, datang alim ke sekolah
dengan kerudung di kepala, tapi belum juga sampai bedug dzuhur berkumandang, kerudungku
sudah lepas, terlipat rapih di kolong meja. Bukan cuma aku sih, beberapa teman
se-genk juga melakukan hal yang sama. Alasannya? Panas euy! Maklum, di kelas belum
ada AC waktu itu. Guru yang seharusnya mengajar pun tidak masuk, jadilah kelas
bahasa yang terkenal ramai bikin suasana kelas seketika bak pasar kaki lima.
Tak tahan dengan berisiknya kelas kami yang
kebetulan (atau mungkin memang sengaja?) terletak di sebelah ruang guru, seorang
guru akhirnya menyambangi kelas kami. Apes buatku, (juga beberapa teman lain)
karena guru yang barusan masuk itu adalah guru Agama Islam! Setelah menertibkan
kondisi kelas, Pak Guru itu menghampiri tempat dudukku, yang sedari awal sudah ketar-ketir
karena tidak keburu memasang lagi kerudung di kepala.
“Mana jilbab kamu?” si Bapak melotot.
“Ada, Pak” jawabku pelan, tertunduk.
Tanganku mengeluarkan lipatan kerudung putih dari dalam laci meja.
“Pakai ! kenapa dilepas?! Kalian juga !”
hardik si Bapak lagi, kali ini beberapa teman se-genk ku yang lain yang disemprot.
Kami pun kembali “terpaksa” memasang kain putih itu menutupi kepala.
Teman-teman (khususnya para teman cowok
yang duduk bergerombol di belakang kelas) kontan menyoraki kami. Setelah itu
Bapak Guru Agama ini pun melengkapi “serangannya” pada kami dengan wejangan
panjang pasal menutup aurat, dan sebagainya, dan sebagainya… Sayangnya aku tak
fokus mendengarkan waktu itu karena telinga ini rasanya tersumbat rasa malu! >_<
Setelah Pak Guru keluar, seisi kelas riuh. Gerombolan
cowok dibelakang makin semarak menyoraki kami. Beberapa dari mereka bahkan sampai
membuat paduan suara dadakan mendendangkan lagu qasidah, “Astagfirullaah Robbal
baroyyaa… Astaghfirullaah minal khotuuyaa…” Aku tertunduk makin dalam. Mukaku
semerah cumi-cumi rebus. (kepiting sudah terlalu mainstream, hhehe)
Hari Jumat di minggu-minggu berikutnya aku
memilih menggunakan kerudung bergo, dengan alasan supaya ringkas dan bisa lepas
pakai dengan mudah kalau gerah, tentu saja ini sebagai antisipasi agar kejadian
sebelumnya tidak terulang. (duh!)
Kebiasaan lepas pakai jilbab masih terus
berlanjut sampai booming novel dan film Ayat-Ayat Cinta. Aku yang sedari SMP
sudah tergila-gila dengan Bang Fedi, pemeran Fahri dalam film fenomenal itu pun
tak pelak terkena demam AAC. Aku mulai kagum dengan sosok Aisha yang sholehah,
dan berpikir bahwa seperti itulah seharusnya untuk jadi wanita yang baik.
Seolah ikut memanas-manasi perhatianku
dengan sosok wanita sholehah, beredar rumor kalau kakak kelas cowok yang sudah
lama kutaksir di sekolah sedang dekat dengan anak kelas sepuluh, adik kelas
yang juga berjilbab dan memiliki pembawaannya kalem. Ah, jealouuuuus…!!! Padahal
belakangan aku tahu kalau ternyata adik kelas itu adalah sepupu si kakak kelas.
Lepas dari soal kakak kelas itu pun, entah
kenapa seperti mulai ada ketertarikan sendiri untuk pakai kerudung. Aku ingat
guru ngajiku sewaktu SD. Aku juga kagum dengan seorang kakak kelas yang lain (kali
ini cewek) yang dimataku bagaikan bidadari surga, cantik, kalem dan sholehahnya
minta ampun. Diam-diam aku nge-fans dengan kakak itu. Kebiasaannya pergi ke masjid
sekolah tiap istirahat pertama untuk sholat dhuha, akhirnya ku ikuti. Aku ingin
jadi seperti kakak cantik nan sholehah itu…
“Kalau ada audisi pemeran Aisha di sini,
pasti kakak itu yang paling pas!” ujarku suatu hari, melihatnya melintas menuju
masjid sekolah dengan jilbab putih panjang yang berkibar tertiup angin, serta
wajah teduhnya yang selalu seperti tersenyum. Anggun sekali.
Sejak ngefans dengan Kak Aisha-nya 33 itu,
aku insyaf untuk berusaha rutin sholat 5 waktu, sholat sunnah, pokoknya ingin
lebih baik dengan belajar tentang islam. Ingin lebih dekat dengan Allah. Setelah
itu aku juga mulai SKSD dengan anak-anak KSI (Kelompok Studi Islam, atau bahasa
populernya mungkin, anak Rohis). Walaupun bukan anggota resmi, tapi aku mulai suka
ikut nimbrung mentoring, rajin datang keputrian tiap Jumat (padahal sebelumnya
rajin bolos), dan rajin baca-baca buku atau novel bertema rohani. Dari situ lah
semakin terasa keinginan berhijab. Apalagi begitu dapat “surat cinta” dari
seorang ukhti yang membuatku sampai terisak-isak membacanya. Surat cinta
tentang keutamaan hijab. Surat yang semakin membuatku ingin cepat berhijab. Bahkan
aku pernah sampai kebawa mimpi dipakaikan hijab oleh Kak Aisha 33. hhihihihi
Hijab I’m in Love… mungkin tagline itu pas
dengan suasana hatiku saat itu. Tapi belum bisa kilat aku menyatakan rasa
sukaku dengan langsung mengenakannya di kepala. Masih banyak keraguan yang
timbul tenggelam. Selain malu, khawatir diejek teman-teman sekelas (diejek “ciyee
tobaaat…!!!”), aku juga tidak punya seragam panjang. Kepalang tanggung, saat itu
sudah hampir setengah tahun aku jadi siswa kelas duabelas. Kak Aisha-nya 33 yang
kukagumi dan Kakak senior yang kutaksir sudah lulus.
“Mah, aku mau pakai kerudung, kayak gitu…”
aku mengaku pada Mama suatu hari, seraya menunjuk seorang gadis kuliahan
berjilbab yang berdiri tak jauh dari kami, menunggu angkot.
“Jangan macam-macam, ah” sahut Mama,
sepertinya kaget dengan statement-ku yang
tiba-tiba itu. Sejurus kemudian Mama menatapku dari ujung kepala sampai ujung
kaki dengan mata tak percaya. Belum setuju rupanya. Keluargaku memang bukan
tipe yang agamis sekali. Tradisi pakai jilbab itu ya identik dengan ibu-ibu yang
sudah menikah saja. Apalagi saat itu banyak kasus aliran sesat dan penyimpangan
agama. Agaknya Mama khawatir aku mendadak minta berhijab karena terpengaruh
salah satu aliran aneh. Dan lagi, karena dianggap masih labil, kalaupun
benar-benar mau berhijab, khawatir tidak istiqomah dan lepas ditengah jalan. Atau
malah nanti susah cari kerja? Ah, tatapan Mama saat itu menyiratkan berbagai
kekhawatiran.
Maka setelah menunggu lagi setengah tahun,
sambil terus memantapkan hati, sambil terus usaha “ngerecokin” koleksi kerudung
Mama dengan memakainya di beberapa kesempatan saat keluar rumah (modus biar
dibeliin kerudung sendiri >_<), akhirnya begitu mendapat kabar gembira diterimanya
aku di perguruan tinggi negeri, Bismillaah… aku mulai memutuskan untuk
terus memakai penutup kepala.
“Ciyeee-ciyeee” dari teman-teman awalnya
cukup bikin kuping panas dan muka memerah, lama-lama reda sendiri. Toh walaupun
kelihatannya seperti mengejek, sebenarnya mereka senang dengan penampilan
baruku dan mendoakan semoga aku istiqomah. Aamiin…!! Semoga dengan ini bisa benar-benar jadi wanita yang lebih baik. Sebagai bonus, bahkan ada yang bilang aku
makin cantik dengan hijab, duileh! Jadi senang. Hhaha
Dan yang bikin aku lebih senang, di kampus
aku jadi lebih dekat dengan Kak Aisha 33 itu. Kami memang akhirnya sama-sama kuliah
di jurusan Pend.Bahasa Jepang UNJ. Thanks for being one of my inspiration,
Kuntum Khairunnisa Senpai :)
Kini, sudah masuk tahun kelima wajahku
berbingkai hijab. Meski belum rapih menggunakannya, mungkin masih jauh dari
kata syar’i, tapi Alhamdulillaah, masih terus berproses menyelaraskan laku
dengan hijab yang kukenakan. Semoga Allah SWT senantiasa mengistiqomahkan kita
dalam kebaikan.
Hijab, bukan pilihan tapi kewajiban. Hijab
merupakan langkah awal untuk memulai perbaikan diri. Kalau logikanya dibalik, menunggu
jadi baik dulu baru berhijab, sampai kapan pun mungkin gak akan bisa mulai, karena kita
cuma manusia dan bukan malaikat yang bersih dari dosa. So, untuk yang belum atau
masih ragu untuk berhijab, tunggu apa? Bismillaah… Yuk, mulai !
Cause every women looks more beautiful in
Hijab~
28 Maret 2014 . 21.45 PM JST
-aL- Kamar Asrama , Osaka.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar