Minggu, 2 Maret 2014. Pukul setengah tujuh pagi aku
sudah berangkat dengan semangat. Hari ini mau main ski ! Asyik !!! Setelah
janjian di Shin-Osaka Eki, aku dan ketiga kakakku, (jadi berasa adik, soalnya
paling muda) menuju ke Biwako Valley, di Prefektur Shiga. Kami berangkat satu
bus dengan rombongan pemuda-pemudi Jepang lainnya.
Ketiga kakak tadi maksudnya adalah Teh
Nurma dan Kak Okie, dua kakak dari PPI-ON (Perhimpunan Pelajar Indonesia
Osaka-Nara), lalu Tylor, bule Amrik teman Teh Nurma. Pukul 8 rombongan kami
berangkat dari stasiun Shin-Osaka, tak sampai satu setengah jam berikutnya kami
sudah sampai di Biwako-Valley, salah satu resort ski-snowboard terkenal di
wilayah Kansai.
Biwako Valley ski resort ternyata berada di
pegunungan dengan ketinggian lebih dari 1700 M. Tak jauh dari gunung itu
terhampar indah danau terluas di Jepang, yaitu Danau Biwa (Biwa-ko). Sejak dari
dalam bus, mataku sudah membulat begitu melihat danau yang sering disebut-sebut
di buku Minna no Nihongo, buku teks saat aku kuliah di tahun pertama dulu.
Ku kira suhu akan bersahabat karena
beberapa hari belakangan sudah mulai terasa hangat, tapi ternyata disana aku
masih kedinginan, padahal saat itu kita belum naik ke atas gunung. “Ya ampun,
kau kedinginan?! Ini belum apa-apa… apalagi nanti diatas?!” Komentar Tylor
melihatku menggigil. Sejurus kemudian kami pun menyewa perlengkapan berupa
baju, sepatu, papan ski atau snowboard.
Aku dan Taylor main ski, sedang Kak Okie
dan Teh Nurma memilih ber-snowboard. Awalnya aku sendiri bingung mau memilih
ski atau snowboard, karena belum pernah dua-duanya, belum tahu mana yang lebih
“asyik”. Tapi karena lebih familiar dengan kata ski, jadilah aku memutuskan
main ski hari itu.
Betapa kagetnya aku pertama kali mencoba
menggunakan sepatu ski. Keras dan sakit luar biasa. “Memang begitu, sepatu itu
harus menopang tulang kaki dengan kuat, kalau nggak, bisa patah kakinya” terang
Teh Nurma saat aku mengeluh sakit dan susah berjalan. Glek. Patah kaki? Aku menelan ludah
mendengarnya.
Amat disayangkan tak ada penyewaan sarung
tangan. Jadi aku terpaksa harus beli, karena sarung tangan biasa yang kubawa
ternyata tak bisa terpakai. Harus sarung tangan khusus. 2500 yen dana tak
terduga yang harus keluar hari itu, demi sepasang sarung tangan ski. “Ya Allah,
semoga tahun-tahun berikutnya ada kesempatan lagi bisa main ski. Sayang ini
sarung tangannya beli mahal-mahal kalau cuma dipakai sekali…” harapku nelangsa saat
itu.
Setelah berganti kostum, lengkap dari
sepatu ski, baju-atas bawah, sarung tangan, plus berat menenteng papan ski, aku
si anak baru tergopoh-gopoh kepayahan mengiring tiga kakak berpengalaman itu
menuju rope-way, sebuah lift besar yang akan mengantar kami ke atas gunung,
medan tempur bermain salju 1700 meter dpl tingginya. Pertama kalinya aku naik
rope-way begitu. Alhasil noraknya keluar deh, melihat sebuah kendaraan seperti
lift yang berjalan horizontal, memuat lebih dari 100 orang sekaligus dan
mengantarnya ke atas ketinggian lebih dari seribu meter hanya dalam lima menit.
Sebenarnya kalau tidak tertutup embun di
kaca lift, (saking dinginnya suhu udara) 5 menit perjalanan naik itu kami
disuguhi pemandangan indah rimbun pepohonan, panorama lereng gunung, hamparan danau
Biwa, dan kota di Pref.Shiga yang terlihat dari ketinggian. Sayangnya, uap di
kaca lift tadi mengaburkan pandangan kami.
![]() |
| Rope-way (sumber gambar: Google) |
![]() |
| Biwako Valley Ski-Snowboard Arena |
Sampai di atas gunung, aku terkesima dengan
hamparan putih di depan mataku. Wajahku mengernyit silau, sinar mentari cerah
hari itu memantul di hamparan es., seluas mata memandang. Seolah memasuki dunia
yang lain, mengingat di bawah tadi, tak ada sebutir salju pun. Excited !!!
Itulah pemandangan masshiro yang selalu kutunggu-tunggu sejak awal musim
dingin. Aku antusias untuk berjalan diatas tumpukan salju~ tapi, saat
menginjakkan kaki di sana, hampir-hampir aku terpeleset. Oh men, sepatu ski itu
memang menyiksa. Bukan cuma di tanah biasa, di atas salju pun ternyata masih
susah untuk berjalan. Harus ekstra pelan-pelan, tertatih-tatih menahan sakit.
Tapi aku masih semangat !
Biwako Valley ramai hari itu, maklum, weekend.
Bukan hanya orang dewasa dan remaja saja, banyak juga anak-anak kecil usia TK-SD
ikut main ski dan snowboard. Bahkan tak sedikit juga balita yang diajak keluarganya,
bermain di tempat khusus main salju untuk anak-anak. “Bruk” seorang anak
jatuh, tak jauh dari tempat kami berdiri. Tak lama kemudian dibangunkan oleh
Ibunya.
“Bersiaplah.. Hari ini kau akan sering
mengalami itu” kata Tylor padaku. Aku meringis, “Ya, aku siap!!” jawabku
semangat. Well, saat itu maksudnya siap untuk main salju, bukan siap untuk
jatuh…
Ternyata arena ski sudah diatur
track-tracknya. Zona merah untuk tingkat mahir, zona kuning untuk tingkat menengah,
dan zona hijau untuk tingkat pemula. Kelandaian lereng tentu berbeda-beda tiap
zonanya. Waktu menunjukkan pukul 11 siang, kami berjanji untuk ketemu pada jam
1 siang untuk makan siang. Teh Nurma dan Kak Okie kemudian berpisah dengan aku
dan Tylor untuk mulai berseluncur dengan papan snowboard di zona-zona favorit
mereka. Sementara aku, berada di zona hijau, dengan kemiringan lereng 0-15 derajat. Ditemani Tylor, yang berbaik hati mengajari dari nol
segala macam soal ski. Mulai dari cara pakai sepatu, pasang papan ski di kaki,
cara pegang tongkat ski, cara meluncur, cara mengerem, cara berbelok, dan lainnya,
dan lainnya lagi…
Tapi… Ada masalah.
Pertama. Kupingku gak bisa menangkap American English Tylor yang bicara
dengan speed sehari-harinya. Mungkin
karena udara dingin, atau memang dasarnya kemampuan listening-ku yang payah yaa? ^_^;; Jadi ya begitu deh, walaupun gak
100%, tapi paling tidak, sedikit-sedikit bisalah aku menangkap tutorial ski
darinya.
Lalu, masalah kedua. Ternyata ski itu TIDAK
SEMUDAH yang dibayangkan dan yang dilihat, Saudara-saudara ! Setelah kedua papan
itu terpasang di kaki, rupanya pijakan jadi berkali-kali lipat lebih licin,
sehingga aku hampir-hampir tak bisa berdiri. Padahal tanah yang kupijak masih
datar, bukan medan yang menurun. Saat coba bergerak, BRUK! Aku terjatuh. Dan
sialnya lagi, badanku kenapa berat sekali??! susah payah aku mengangkat badan
untuk kembali berdiri. Tylor membantuku.
Hari itu aku benar-benar baru sadar kalau
ternyata aku keberatan badan. Medan datar, dimana aku diminta Tylor untuk
mendorong badan sendiri agar papan ski bisa membawaku bergerak maju saja, susah
payah kulakukan. Rasanya beraaaat sekali ! Begitu sudah bergerak meskipun amat
sangat perlahan, tanah mulai melandai, sehingga aku jadi meluncur. Panik tak
bisa mengendalikan diri, akhirnya aku jatuh lagi. Aaaarrrggghhh! Belum ada
sepuluh menit papan ski terpasang, aku sudah dua kali jatuh !
Satu jam kemudian aku habiskan dengan
meluncur sedikit, panik, jatuh, susah payah bangun, meluncur lagi sedikit,
jatuh lagi, susah berdiri lagi, begitu saja terus. Progress yang terlihat mungkin adalah saat aku jatuh, sudah bisa
bangun sendiri, tanpa dibantu Tylor. Sesekali juga saat meluncur pelan aku
berhasil mengerem tanpa jatuh, tapi itu cuma sesekali, mungkin sedang
beruntung. Lebih banyak jatuhnya. Dan sekali jatuh, butuh hampir 5 menit untuk
bangun saja. Kasihan Tylor. Capek sepertinya melihat progress murid ski-nya yang lambat ini. Aku sendiri mulai frustasi.
Kok susah banget siiiiiiiihh…??!!!!
Dan aku nggak enak hati dengan Tylor. Dia
mahal-mahal datang ke tempat ski bukan untuk mengajariku saja kan? Makanya saat
kebetulan Teh Nurma menghampiri kami, dan bertanya soal kemajuanku, aku bilang
saja, “Kayaknya aku pengen belajar sendiri aja deh, Teh.. kasian Tylor nungguin
aku kelamaan.” Akhirnya setelah itu kita berpencar. Lebih baik begitu menurutku,
jadi tak ada beban merasa ditunggu. Dan juga tak perlu dilihat jatuh berulang-ulang kali.
Malu juga kan…
Susah payah jatuh bangun berkali-kali
akhirnya aku bisa juga sampai bawah lereng zona hijau. Haus berat. Bisa pingsan
dehidrasi kalo gak buru-buru cari air untuk minum. Tapi jidouhanbaiki mesin otomatis
penjual minuman ada di atas lereng tadi, jadi harus pakai lift untuk naik lagi.
Dan kawan, untuk duduk di lift saja aku harus jatuh dulu ! Turun lift juga
jatuh lagi, kejadian itu sampai-sampai menghentikan laju lift sejenak karena
petugasnya harus membantuku berdiri. Aihhhhh… mana mas-mas penjaga lift-nya
ikemen pula. Malu-maluin aseli !
Setelah membasahi tenggorokan, aku yang
masih bersungut-sungut sebal karena malu atas kejadian di lift tadi memutuskan
untuk duduk menepi, di depan area bermain salju anak-anak. Waktu sudah hampir
menunjukkan setengah satu. Kalau aku turun ke bawah lereng, malu naik lift-nya
lagi. Akhirnya, sambil menunggu ketiga kakak itu datang, aku memandangi
anak-anak asyik bermain. Ah~ enaknya… aku juga ingin main perang bola salju
saja rasanya. Ternyata ski itu susah… Aku tersenyum kecut teringat percakapanku
dengan Teh Nurma di bus pagi tadi.
“Teh, hari ini kita main sampai jam
berapa?”
“Sampai jam 4 sore…”
“Yaah.. kurang puas kayaknya ya Teh…”
“Hahaha, masaa? Capek loh, baru dua jam aja
ntar kamu pasti minta pulang”
“Hahahaha Nggak lah Teh, masa mahal-mahal
baru dua jam minta pulang? Asik kayaknya…” jawabku cengar-cengir saat itu.
Ya, asik kayaknya… kalau bisa ! Dan benar
saja, bahkan belum ada dua jam aku sudah frustasi duluan. Padahal ongkos buat
ikutan ski, bisa buat uang belanja sebulan~ Hffft… Mungkin karena lapar juga,
jadi loyo. Yosh! Setelah makan siang, harus semangat lagi !! tekadku.
Pukul satu. Kak Okie sudah datang. Selama
menunggu Tylor dan Teh Nurma, aku dan Kak Okie dikejutkan oleh bunyi sirine.
Ternyata sumbernya dari motor salju bertanda plus di bagian depannya. Motor itu
mengangkut seorang pria paruh baya. Kuperhatikan kakinya saat pria itu turun
dari motor serupa ambulans di atas gunung itu. Jalannya tertatih.
“Aa.. Kega shicchatta…” Kak Okie bergumam.
Aku mengernyit ngeri. Ya Allah, lindungilah aku dari hal yang semacam itu…
Melihat kejadian sebelum makan siang tadi,
aku jadi lebih hati-hati dalam berlatih. Namun tetap saja, jatuh memang jadi
harga mati. Entah kenapa, jurus mengerem yang sudah ku pelajari sebelumnya seperti
menguap berganti rasa panik saat aku mulai meluncur. Apalagi saat itu arena
meluncur cukup ramai, jadi riskan sekali aku menabrak orang lain. Bukan cuma
takut mencederai diri sendiri, aku justru lebih takut akan mencederai orang
lain, makanya saat meluncur dan tidak bisa mengerem, daripada nanti menabrak
orang lain, caraku untuk berhenti adalah dengan menjatuhkan diri.
Dan jatuhnya pun bukan jatuh biasa. Terhempas, terbanting, terpental, terguling, atau apapun namanya. Untung itu
salju, tak terlalu sakit. Rasa sakit justru terasa saat mencoba bangun,
menopang badan. Begitulah. Hari itu, serasa kembali ke masa balita. Belajar
berjalan (baca : meluncur), terjatuh, susah payah bangun dan mencoba lagi.
Begitu seterusnya. Rasanya, seumur hidup baru kali itu aku terjatuh sebanyak
itu dalam satu hari.
Nyeri menggigit yang terasa di lututku
akhirnya membuatku menyerah hari itu. aku khawatir cedera. Bisa gawat kalau
sampai terjadi. Akhirnya, di bawah lereng itu aku kembali menepi, sendirian
saja bermain-main dengan salju. Sementara waktu kian sore, dan kabut mulai
membatasi jarak pandang. Ku dengar beberapa lereng di zona merah dan kuning
sudah ditutup karena tebalnya kabut, bahaya. Pukul setengah empat aku kembali menaiki lift untuk naik ke atas, menunggu ketiga kakak. Sebentar lagi waktunya pulang. Sebelum naik lift, aku buru-buru melepas papan ski di kaki supaya insiden jatuh disitu tak terulang lagi, dan mas-mas ikemen juga sudah tak ada, sudah ganti shift sepertinya. Hehehe
Alhamdulillaah, Terimakasih ya Rabb.. Meski
hari itu belum berhasil berseluncur ski dengan baik, tapi bisa berkesempatan
datang ke Biwako Valley itu menyenangkan! Seru untuk dijadikan pengalaman, dan
tentu pemuas rasa penasaranku selama ini. Terimakasih juga untuk Teh Nurma, Kak
Okie dan Tylor atas kebersamaan dan bimbingannya~ Otsukaresama~!
![]() |
| Kak Okie - Teh Nurma - aL - Tylor |
Satu hal yang benar-benar
bisa kupahami setelah itu, bahwa ski adalah olahraga, bukan sekedar bermain salju.
Dan bagiku, ski berarti seni. Seni menjatuhkan diri. >_<
*kega shicchatta : terluka/cedera
sumber gambar : google dan dokumentasi pribadi
10 Maret 2014 . 9.45 JST
aL, kamar asrama . Osaka




Tidak ada komentar:
Posting Komentar