Menyambung postingan sebelumnya, kali ini aku
ingin cerita segala macam pengalaman unik yang pernah ku alami di Jepang
berkaitan dengan hijab.
Awal dinyatakan lolos wawancara tahap
pertama saat seleksi program magang di PT. Pasona, Tokyo, aku cukup khawatir
juga soal hijab yang ku kenakan. Apalagi salah seorang Sensei di kampusku bilang biasanya perusahaan Jepang sulit menerima
karyawan yang berhijab. Lalu, apa karena hijab ini aku akan gagal di seleksi
selanjutnya? Ah, tapi bukankah lebih baik tidak jadi berangkat, daripada sudah
sampai di Tokyo harus terpaksa melepas hijab karena dilarang perusahaan? Aku
menggeleng jeri. Pasrah.
Jawaban atas galauku soal hijab langsung
ditunjukkan Allah saat tes wawancara tahap kedua berlangsung.
“Apa kamu tetap akan menggunakan itu jika
diterima magang di Jepang nanti?” Shachou
bertanya padaku sambil memegang kepalanya, mengisyaratkan hijab yang ku
kenakan.
Di bawah tekanan rasa gugup yang luar
biasa, plus ditanya pertanyaan yang tak kuduga sebelumnya, akhirnya dengan jawaban
terbata dan belepotan aku menjawab, “Iya, Shachou.
Bagi saya hijab ini sudah seperti identitas. Saya tidak berniat untuk
melepasnya.”
Maka Alhamdulillaah, beberapa bulan setelah
itu akhirnya hijab ini tetap membingkai wajahku yang dengan ekspresi norak celingukan
terkagum-kagum melihat pesona kota Tokyo.
Dan rupanya hijab ini punya magnetnya sendiri.
Menjadi “berbeda” di antara peserta internship
yang lain, penampilan dengan penutup kepala ini cukup menarik perhatian
rekan-rekan kerjaku.
“Maaf kalau saya tidak sopan, kain ini ada
hubungannya dengan agama ya?” tanya Liu, teman baruku peserta internship dari
Cina. Aku mengiyakan sambil tersenyum lebar demi mendengar pertanyaannya yang
teramat santun itu. Mungkin dia khawatir pertanyaan soal hijab ini terlalu
sensitif buatku.
“Aku punya teman orang Indonesia juga, tapi
kok dia tidak pakai baju adat seperti kamu ya..?” Thuy, temanku peserta
internship dari Vietnam juga pernah bertanya polos pada kesempatan yang lain. Ternyata
dia mengira hijab yang ku kenakan ini termasuk bagian dari baju adat Indonesia.
“Ini apa namanya? Kamu punya banyak warna
ya? Cara pakainya bagaimana? Terus apa tiap hari ditentukan harus pakai warna
apa?” suatu ketika, rekan Nihon-jin
lain yang merasa unik dengan penampilanku memberondong dengan banyak pertanyaan.
Membuatku tersenyum lucu. Sebisa mungkin aku menjelaskannya dengan sederhana,
supaya mudah dimengerti.
“Kore
wa Hijab to iimasu. Ini namanya hijab, yang biasa dipakai oleh wanita
muslim. Saya punya banyak koleksi warna, corak, dan model. Jadi biar tidak
kalah dari fashion sekarang hehehe... Tiap hari bebas kok mau pakai warna apa,
tergantung mood saja, dan pakainya mudah. Ini kain segiempat yang dilipat jadi
bentuk segitiga, lalu dipakaikan menutupi kepala, dijepit dengan peniti, sudah.
Gampang kok, Gak sampai 5 menit pakainya.” Aku menutup penjelasanku dengan
cengiran. Disusul “oh…” panjang dari Hayashi-san, cewek cantik yang cerdas,
karyawan baru juga di Pasona Global tempatku magang. Kelihatannya dia takjub.
Bukan cuma di kantor, magnet hijab ini juga
berpengaruh di setiap tempat. Jujur aku orangnya memang agak perasa. Tapi bukannya
ke-GeeR-an atau apa, sepertinya karena hijab ini aku jadi sering diperhatikan
oleh orang-orang. Saat berjalan di stasiun atau sedang ada di dalam kereta,
pasti ada saja orang yang tertangkap basah tengah memperhatikan, atau paling
tidak melirik kearahku. Tatapan aneh, tatapan penasaran, mungkin juga tatapan
curiga. Sepertinya pengaruh dari pemberitaan-pemberitaan tentang Islam di
media. Entah orang tua, muda, atau bahkan anak-anak. Dan pada banyak kasus,
mereka belum akan mengalihkan mata dariku, sampai aku benar-benar balik menatap
mereka. Apa sih? Aku yang tidak biasa, kadang jadi merasa risih sendiri. Apa
dimata mereka aku seperti alien, makhluk asing dari planet lain?
Pernah suatu sore saat pulang kerja, aku berpapasan
dengan sepasang kekasih yang sedang bergandengan tangan di stasiun Ikebukuro.
Dari jauh aku sudah tahu kedua orang itu melihat ke arahku. Si Cewek sudah
mengalihkan pandangannya begitu bertemu mata denganku. Namun si Cowok masih
saja memperhatikanku dengan tatapan anehnya sampai dia benar-benar melewatiku.
Hff… rasanya saat itu ingin sekali teriak ke si Cewek, “Mbak, pacarmu itu loh
matanya jelalatan!”
Sebenarnya di Tokyo lumayan banyak
komunitas muslim, Kalau aku ke Masjid, atau pengajian, banyak berkumpul
wanita-wanita berhijab. Aku sendiri kadang sampai heran, sebegitu banyaknya
tapi kenapa mereka jarang sekali terlihat di stasiun Tokyo atau Ikebukuro,
stasiun padat yang harus kulalui setiap pulang pergi kerja ya? Maka sepertinya
aku sendiri lah yang jadi pemandangan aneh di stasiun itu tiap pagi dan sore,
lima kali dalam seminggu. “Ya, sudahlah. Mungkin mereka asing dengan penampilan
wanita berhijab, atau memang dasarnya aku terlalu kawaii yaa? Hahaha” Begitulah, Usahaku menghibur diri.
![]() |
| Narsis di depan St.Tokyo (mumpung sepi ) |
Pertengahan Juli. Musim panas menyapa
Tokyo. Suhu udara terus merangkak naik bahkan pernah hampir mencapai 40 derajat
celcius. Maka saat dimana orang-orang umumnya mulai menipiskan dan atau
memperpendek pakaian yang dikenakan, aku masih dengan rok panjang hitam, blazer
hitam, serta kerudung (yang juga seringnya) berwarna gelap rapat membungkus
kepala. Maka mungkin bagi orang Jepang, sempurna sudah penampilanku bagai ninja
nyasar di tengah kota. (Duh!)
Kebiasaan kebanyakan orang Jepang di musim
panas, tiada hari tanpa mengeluh “atsuii..
atsuii..!!”. Sampai aku bosan mendengarnya. “Kamu gak panas pakai itu?” tanya
salah satu teman kerjaku. “Nggak, malah ini melindungiku dari sengatan matahari
langsung” belaku. Siapa bilang tidak panas? Tapi aku sudah berjanji pada diri
sendiri, ‘stop mengeluh panas! Karena padang mahsyar dan neraka akan jauh lebih
panas dari ini!’
Pada suatu pagi yang lembab, saat berjalan
pergi ke kantor di sebuah jalan bawah tanah padat yang tersambung dengan
St.Tokyo, tak jauh dari pintu keluar Subway Marunouchi Line seorang ibu
tiba-tiba berjalan cepat mendahuluiku, lantas dengan gerakan kilat tanpa
aba-aba langsung memfotoku dengan kamera ponselnya. Lalu si ibu buru-buru
pergi, meninggalkanku yang terbengong-bengong sendiri.
Omaigat! Kaget. Begitu sadar baru saja
“difoto tanpa sadar”, aku langsung bete. Pasti ekspresiku di foto itu nggak
banget deh. Lagi jalan sambil bengong juga. Kenapa sih? Kalau tadi bilang jujur
minta foto bareng kan aku pasti gak akan nolak, malah bakal pasang pose paling
yahuud ! Aduh, ini memang bukan Harajuku, tapi mungkin si Ibu mengira aku sedang
cosplay.
Eh, bicara soal cosplay, di St.Tokyo aku pernah melihat seorang kakek pakai baju
seragam sailor ala anak SMA plus wig pirang panjang kuncir dua. Kakinya yang
berbulu ditutupi kaos kaki putih panjang. Aku takjub. Antara mau ketawa dan
jujur agak jeri juga melihatnya. Ya salaam! Itu kakek-kakek yang pernah ku
lihat di internet, yang memang terkenal suka pakai seragam perempuan atau baju
sailormoon, berjalan melenggang di depan mataku. Ah, saking takjubnya aku
sampai gak kepikiran buat minta foto, atau paling tidak, nekat candid seperti
ibu-ibu itu.
Oops!
Back to the plot. Kejadian difoto tiba-tiba yang
kualami kembali terulang saat aku dan rombongan muslimah Masjid Otsuka pulang dari
kemping di Pref. Yamanashi. Di bus yang sedang berhenti sejenak di tempat
peristirahatan jalan tol, aku yang duduk di pinggir jendela melihat bus lain
berhenti di sebelah kami berisi anak-anak SMP yang sepertinya baru pulang studytour. Setelah tersenyum ramah dan
membalas dadah-dadah dari mereka (entah siapa yang memulai, anak-anak dalam bus
kami dan anak-anak SMP di bus itu jadi saling melempar senyum dan lambaian
tangan), salah satu anak SMP cowok yang daritadi senyum-senyum malu tidak ikut
melambaikan tangan mengeluarkan kamera dan memfotoku dari balik kaca busnya.
Sejurus setelah itu bus mereka bergerak pergi. Duileh, berasa artis jadinya!
Tapi yang ini sih mungkin karena saat itu aku juga sedang menggendong Abu-chan,
bayi super lucu peranakan Jepang-Pakistan, anak kenalanku seorang muslimah
Jepang. Jadi gak usah Geer, aL ! Hahaha
to be continued .
Shachou : Direktur, Kepala Perusahaan
Kawaii : Manis, Imut
Atsui : Panas
1 April 2014 . 21.15 JST
-aL- Kamar Asrama, Osaka .

Tidak ada komentar:
Posting Komentar