Selasa, 01 April 2014

Hijab dan Berbagai Kisah Di Baliknya #1

Menyambung postingan sebelumnya, kali ini aku ingin cerita segala macam pengalaman unik yang pernah ku alami di Jepang berkaitan dengan hijab.

Awal dinyatakan lolos wawancara tahap pertama saat seleksi program magang di PT. Pasona, Tokyo, aku cukup khawatir juga soal hijab yang ku kenakan. Apalagi salah seorang Sensei di kampusku bilang biasanya perusahaan Jepang sulit menerima karyawan yang berhijab. Lalu, apa karena hijab ini aku akan gagal di seleksi selanjutnya? Ah, tapi bukankah lebih baik tidak jadi berangkat, daripada sudah sampai di Tokyo harus terpaksa melepas hijab karena dilarang perusahaan? Aku menggeleng jeri. Pasrah.

Jawaban atas galauku soal hijab langsung ditunjukkan Allah saat tes wawancara tahap kedua berlangsung.
“Apa kamu tetap akan menggunakan itu jika diterima magang di Jepang nanti?” Shachou bertanya padaku sambil memegang kepalanya, mengisyaratkan hijab yang ku kenakan.
Di bawah tekanan rasa gugup yang luar biasa, plus ditanya pertanyaan yang tak kuduga sebelumnya, akhirnya dengan jawaban terbata dan belepotan aku menjawab, “Iya, Shachou. Bagi saya hijab ini sudah seperti identitas. Saya tidak berniat untuk melepasnya.”

Maka Alhamdulillaah, beberapa bulan setelah itu akhirnya hijab ini tetap membingkai wajahku yang dengan ekspresi norak celingukan terkagum-kagum melihat pesona kota Tokyo.

Dan rupanya hijab ini punya magnetnya sendiri.

Menjadi “berbeda” di antara peserta internship yang lain, penampilan dengan penutup kepala ini cukup menarik perhatian rekan-rekan kerjaku.

“Maaf kalau saya tidak sopan, kain ini ada hubungannya dengan agama ya?” tanya Liu, teman baruku peserta internship dari Cina. Aku mengiyakan sambil tersenyum lebar demi mendengar pertanyaannya yang teramat santun itu. Mungkin dia khawatir pertanyaan soal hijab ini terlalu sensitif buatku.

“Aku punya teman orang Indonesia juga, tapi kok dia tidak pakai baju adat seperti kamu ya..?” Thuy, temanku peserta internship dari Vietnam juga pernah bertanya polos pada kesempatan yang lain. Ternyata dia mengira hijab yang ku kenakan ini termasuk bagian dari baju adat Indonesia.

“Ini apa namanya? Kamu punya banyak warna ya? Cara pakainya bagaimana? Terus apa tiap hari ditentukan harus pakai warna apa?” suatu ketika, rekan Nihon-jin lain yang merasa unik dengan penampilanku memberondong dengan banyak pertanyaan. Membuatku tersenyum lucu. Sebisa mungkin aku menjelaskannya dengan sederhana, supaya mudah dimengerti.

Kore wa Hijab to iimasu. Ini namanya hijab, yang biasa dipakai oleh wanita muslim. Saya punya banyak koleksi warna, corak, dan model. Jadi biar tidak kalah dari fashion sekarang hehehe... Tiap hari bebas kok mau pakai warna apa, tergantung mood saja, dan pakainya mudah. Ini kain segiempat yang dilipat jadi bentuk segitiga, lalu dipakaikan menutupi kepala, dijepit dengan peniti, sudah. Gampang kok, Gak sampai 5 menit pakainya.” Aku menutup penjelasanku dengan cengiran. Disusul “oh…” panjang dari Hayashi-san, cewek cantik yang cerdas, karyawan baru juga di Pasona Global tempatku magang. Kelihatannya dia takjub.

Bukan cuma di kantor, magnet hijab ini juga berpengaruh di setiap tempat. Jujur aku orangnya memang agak perasa. Tapi bukannya ke-GeeR-an atau apa, sepertinya karena hijab ini aku jadi sering diperhatikan oleh orang-orang. Saat berjalan di stasiun atau sedang ada di dalam kereta, pasti ada saja orang yang tertangkap basah tengah memperhatikan, atau paling tidak melirik kearahku. Tatapan aneh, tatapan penasaran, mungkin juga tatapan curiga. Sepertinya pengaruh dari pemberitaan-pemberitaan tentang Islam di media. Entah orang tua, muda, atau bahkan anak-anak. Dan pada banyak kasus, mereka belum akan mengalihkan mata dariku, sampai aku benar-benar balik menatap mereka. Apa sih? Aku yang tidak biasa, kadang jadi merasa risih sendiri. Apa dimata mereka aku seperti alien, makhluk asing dari planet lain?

Pernah suatu sore saat pulang kerja, aku berpapasan dengan sepasang kekasih yang sedang bergandengan tangan di stasiun Ikebukuro. Dari jauh aku sudah tahu kedua orang itu melihat ke arahku. Si Cewek sudah mengalihkan pandangannya begitu bertemu mata denganku. Namun si Cowok masih saja memperhatikanku dengan tatapan anehnya sampai dia benar-benar melewatiku. Hff… rasanya saat itu ingin sekali teriak ke si Cewek, “Mbak, pacarmu itu loh matanya jelalatan!”

Sebenarnya di Tokyo lumayan banyak komunitas muslim, Kalau aku ke Masjid, atau pengajian, banyak berkumpul wanita-wanita berhijab. Aku sendiri kadang sampai heran, sebegitu banyaknya tapi kenapa mereka jarang sekali terlihat di stasiun Tokyo atau Ikebukuro, stasiun padat yang harus kulalui setiap pulang pergi kerja ya? Maka sepertinya aku sendiri lah yang jadi pemandangan aneh di stasiun itu tiap pagi dan sore, lima kali dalam seminggu. “Ya, sudahlah. Mungkin mereka asing dengan penampilan wanita berhijab, atau memang dasarnya aku terlalu kawaii yaa? Hahaha” Begitulah, Usahaku menghibur diri.

Narsis di depan St.Tokyo (mumpung sepi )
Pertengahan Juli. Musim panas menyapa Tokyo. Suhu udara terus merangkak naik bahkan pernah hampir mencapai 40 derajat celcius. Maka saat dimana orang-orang umumnya mulai menipiskan dan atau memperpendek pakaian yang dikenakan, aku masih dengan rok panjang hitam, blazer hitam, serta kerudung (yang juga seringnya) berwarna gelap rapat membungkus kepala. Maka mungkin bagi orang Jepang, sempurna sudah penampilanku bagai ninja nyasar di tengah kota. (Duh!)

Kebiasaan kebanyakan orang Jepang di musim panas, tiada hari tanpa mengeluh “atsuii.. atsuii..!!”. Sampai aku bosan mendengarnya. “Kamu gak panas pakai itu?” tanya salah satu teman kerjaku. “Nggak, malah ini melindungiku dari sengatan matahari langsung” belaku. Siapa bilang tidak panas? Tapi aku sudah berjanji pada diri sendiri, ‘stop mengeluh panas! Karena padang mahsyar dan neraka akan jauh lebih panas dari ini!’

Pada suatu pagi yang lembab, saat berjalan pergi ke kantor di sebuah jalan bawah tanah padat yang tersambung dengan St.Tokyo, tak jauh dari pintu keluar Subway Marunouchi Line seorang ibu tiba-tiba berjalan cepat mendahuluiku, lantas dengan gerakan kilat tanpa aba-aba langsung memfotoku dengan kamera ponselnya. Lalu si ibu buru-buru pergi, meninggalkanku yang terbengong-bengong sendiri.

Omaigat! Kaget. Begitu sadar baru saja “difoto tanpa sadar”, aku langsung bete. Pasti ekspresiku di foto itu nggak banget deh. Lagi jalan sambil bengong juga. Kenapa sih? Kalau tadi bilang jujur minta foto bareng kan aku pasti gak akan nolak, malah bakal pasang pose paling yahuud ! Aduh, ini memang bukan Harajuku, tapi mungkin si Ibu mengira aku sedang cosplay.

Eh, bicara soal cosplay, di St.Tokyo aku pernah melihat seorang kakek pakai baju seragam sailor ala anak SMA plus wig pirang panjang kuncir dua. Kakinya yang berbulu ditutupi kaos kaki putih panjang. Aku takjub. Antara mau ketawa dan jujur agak jeri juga melihatnya. Ya salaam! Itu kakek-kakek yang pernah ku lihat di internet, yang memang terkenal suka pakai seragam perempuan atau baju sailormoon, berjalan melenggang di depan mataku. Ah, saking takjubnya aku sampai gak kepikiran buat minta foto, atau paling tidak, nekat candid seperti ibu-ibu itu.

Oops! Back to the plot. Kejadian difoto tiba-tiba yang kualami kembali terulang saat aku dan rombongan muslimah Masjid Otsuka pulang dari kemping di Pref. Yamanashi. Di bus yang sedang berhenti sejenak di tempat peristirahatan jalan tol, aku yang duduk di pinggir jendela melihat bus lain berhenti di sebelah kami berisi anak-anak SMP yang sepertinya baru pulang studytour. Setelah tersenyum ramah dan membalas dadah-dadah dari mereka (entah siapa yang memulai, anak-anak dalam bus kami dan anak-anak SMP di bus itu jadi saling melempar senyum dan lambaian tangan), salah satu anak SMP cowok yang daritadi senyum-senyum malu tidak ikut melambaikan tangan mengeluarkan kamera dan memfotoku dari balik kaca busnya. Sejurus setelah itu bus mereka bergerak pergi. Duileh, berasa artis jadinya! Tapi yang ini sih mungkin karena saat itu aku juga sedang menggendong Abu-chan, bayi super lucu peranakan Jepang-Pakistan, anak kenalanku seorang muslimah Jepang. Jadi gak usah Geer, aL ! Hahaha


to be continued .

Shachou : Direktur, Kepala Perusahaan
Kawaii   : Manis, Imut
Atsui      : Panas



1 April 2014 .  21.15 JST

-aL- Kamar Asrama, Osaka .

Tidak ada komentar:

Posting Komentar