Selasa, 01 April 2014

Hijab dan Berbagai Kisah Di Baliknya #2

Berkisah soal hijab, bukan cuma hal-hal yang bikin risih saja sih, kadang juga penampilan berbeda ini membawa hal lain yang malah tak terduga. Yang paling gak akan ku lupakan adalah kejadian di suatu hari di kantor, saat aku berpapasan dengan Mas Hide, seorang staf kantor yang sudah mencuri perhatianku sejak hari pertama magang karena “Otsukaresama desu”-nya selalu berulas senyum maut. Pagi itu, dia bilang padaku,

Kore, niattemasune~” sambil mengisyaratkan tangan di kepala, menunjuk hijab putih yang kukenakan hari itu. Dan tentu saja, senyum mautnya gak ketinggalan!

ah, a, arigatou gozaimasu!” responku gagap, syok pagi-pagi dapat pujian darinya. Kalau di film kartun, mungkin dari kepalaku langsung tumbuh setunas bunga dan mengembang indah saat itu juga. Kejadian pagi itu menerbitkan senyum yang tak surut di wajahku sampai jam pulang kerja sore harinya. Hhihi

Kejadian tak terduga lainnya terjadi saat aku dan kawan-kawan sesama internship berencana nonton Hanabi Matsuri di tepi sungai Sumidagawa. Musim panas di Jepang memang identik dengan pesta kembang api. Orang-orang dari segenap penjuru berbondong-bondong datang menikmati pesta tahunan itu. Aku dan beberapa kawan yang sudah siap dengan yukata lengkap dengan geta-nya, sore itu menunggu Liu yang belum juga muncul di stasiun Akihabara. Tempat menunggu yang tak jauh dari pintu keluar membuat para gaijin ber-yukata mencolok mata seperti kami menjadi perhatian banyak orang. Untung saja mood-ku sedang bagus saat itu. Antara antusias dengan pesta kembang api dan yukata baru yang pertama kali kukenakan. Maka tatapan banyak mata pun tak mengusikku. Aku cuek saja setiap ada yang kelihatannya aneh menatap kombinasi hijabku dengan yukata gelap bermotif bunga ungu berhias benang keemasan.

Tak berapa lama, seorang mahasiswa bule bermuka Eropa yang akan keluar stasiun, mendekat kearahku, dan sambil berkata “That’s so Good!” tangannya mengacungkan jempol, tersenyum di depanku. Aku mendongak dan refleks menjawab “Thank you”, lalu membalas senyumnya dengan aneh. Kaget. Setelah si bule pergi, Milana dan Valerie dua teman yang sedari tadi berdiri disampingku rusuh, “ciyeee ditembak begituu!” Apaan sih? Ejekan mereka malah justru bikin aku salah tingkah. Hahaha. Ada-ada saja.

Tiga minggu sebelum kepulanganku ke tanah air, aku diajak makan siang bersama manajerku, Kimura Satoyo-san, atau aku biasa memanggilnya ketua grup Kimura. Walaupun di kantor aku tak banyak bicara dengannya, tapi dia sudah seperti kakak perempuanku sendiri. Aku bahkan diam-diam menjulukinya Bos Malaikat, karena ketika aku tumbang keracunan makanan, dia berbaik hati mengurusku. Saat jam makan siang itu, aku kembali banyak mengobrol dengannya, dan ada sepotong pembicaraan yang juga menyangkut soal hijab.

“Kalau di tempat-tempat umum, aku sering merasa diperhatikan oleh orang-orang sekitar. Mungkin mereka melihatku aneh ya…? Kadang jadi gak enak sendiri”

Ketua grup Kimura tertawa ringan mendengar aduanku. “Kalau ada yang begitu lagi, kamu senyumin aja, bilang ‘konnichiwa’ atau lambaikan tangan, gitu… hahaha” selorohnya.

Tapi candanya itu membuatku serius berpikir.

Benar juga… Kenapa aku harus selalu merasa risih cuma karena mereka melihatku berbeda? Kenapa harus tidak nyaman jadi perhatian? Dan tersenyum... Aku alpa soal itu. Kenapa aku jadi pelit senyum ya? Kenapa harus selalu disenyumin dulu baru mau balas tersenyum? Kenapa tidak mulai lebih dulu? Dengan senyum, mungkin pandangan aneh mereka, atau malah (jika ada) stigma tidak benar yang mereka lekatkan pada umat islam bisa berubah…?

Setelah hari itu, aku benar-benar berupaya untuk mengamalkan saran Ketua grup Kimura. Saat aku kembali ke Osaka sebulan setelahnya, aku sudah tidak peduli soal pandangan-pandangan aneh lagi. Be different? Why not? Just smile! Show that mosleem's heart is full of kindness!

Dan jurus senyum itu benar-benar menunjukkan tuahnya.

Hari kedua di Osaka, aku dan teman-teman mengurus dokumen-dokumen lapor diri di kantor walikota Yao, Osaka. Disana seperti biasa, ada beberapa orang sejenak memperhatikanku, sebelum kembali ke urusannya masing-masing. Seorang nenek yang duduk di sampingku bahkan beberapa kali melirik diam-diam ke arahku. Aku senyum dan sedikit mengangguk hormat padanya. “Konnichiwa” sapaku. Mata nenek itupun membesar, mungkin agak kaget dengan reaksiku. Dia membalas sapaanku dan tersenyum balik sambil berkata, “Itu yang kamu pakai di kepala, modis ya!”

Aku tertawa. Benar kan, dari tadi nenek itu penasaran dengan hijabku. Berawal dari situ kita jadi mengobrol, Nenek itu bertanya dan bercerita banyak hal dengan dialek Osaka yang kental. Setengah mati aku mencoba menangkap maksudnya. Maklum, telingaku belum biasa dengan Osaka-ben saat itu. Maka berawal dari hijab dan senyum, hari kedua aku sudah kenalan dengan seorang nenek baik hati. Sebelum pulang dia memberiku alamat, “Main ya kalau ada waktu, rumah Nenek dekat sini. Dan ini buat jajan juga. Semangat belajarnya ya!” katanya sambil menyodorkan secarik kertas alamat plus selembar uang seribu yen. Awalnya aku berusaha menolak, tapi si Nenek terus memaksa. Ya sudah, mungkin rizki karena hijab? Alhamdulillaah… hehehe

Hijab pun menunjukkan perannya lagi sebagai identitas (plus menjadi rizki) buatku, saat aku tersesat mencari jalan menuju Masjid Central Osaka. Pagi itu hari raya Iedul Adha, sudah setengah jam aku berputar-putar kesasar sendirian ditengah gerimis, bertanya lokasi masjid pada banyak orang Jepang, tapi tidak ada yang tahu. Sementara waktu sholat Ied sudah akan dimulai. Aku mulai cemas. Sambil terus melantunkan takbiran sendiri dalam hati, aku berdoa semoga Allah memberiku petunjuk untuk bisa sampai ke Masjid.

Aku celingukan bingung, dan panik. Ibu muda Jepang yang baru saja ku tanya pergi setelah minta maaf karena dia tidak tahu tempat yang ku maksud. Tapi tak berapa lama sebuah mobil hitam berhenti di depanku. Di dalamnya ada tiga orang laki-laki berwajah Pakistan, mengenakan songkok dan baju putih-putih. Salah seorang dari mereka menyapaku.

Assalamualaikum, Come in sister, we will also go to the Mosque!”

Allahuakbaar! Pertolongan Allah. Aku dikenal karena hijabku. ^_^

Jadi terkenal karena hijab? Agak lebay sih, tapi mungkin bisa jadi. Buktinya penampakan berbeda ini bahkan membuatku sampai diminta jadi model cover buletin kampus, bersama dua orang mahasiswa asing lainnya. Mungkin dengan menampilkan sosok berhijab satu-satunya di kampus ini, memperlihatkan bahwa OKU memiliki mahasiswa asing dari beragam bangsa dan negara. Maka setelah 20 tahun lebih tinggal di Jakarta, baru di Osaka ini aku tahu rasanya ikut sesi pemotretan, dan janggalnya lihat muka sendiri terpampang di banyak tempat sekitaran kampus. Hahaha
 
Tenyuu, Buletin OKU
Akihiro, cowok Jepang teman sekelasku pernah bertanya, “Cewek islam selalu pakai ini ya? Kalau di depan pacarnya juga?”

“Iyaa! Kecuali kalau sudah menikah dan jadi suami” kataku.

“Terus ada gak yah cowok yang menikahi cewek islam cuma biar bisa lihat rambutnya saja?” ujarnya lagi, kali ini seperti bertanya sendiri. Aku menahan tawa dengar ujarannya. “Tapi di balik itu, mereka (cewek islam) pasti punya rambut kaan?” lanjutnya lagi, meminta kepastian padaku. Astagaa… jadi dia pikir kami botak? Tawaku pecah demi mendengar pertanyaan polosnya.

Begitulah.

Hijab, melahirkan banyak kisah dibaliknya. Mungkin bagi orang Jepang yang tidak terbiasa, kain sederhana ini terlihat unik melingkar di kepala. Bagi orang yang belum mengerti, hijab identik sebagai simbol. Simbol yang menyatakan bahwa pemakainya adalah pemeluk agama yang disebut Islam. Maka rasanya bagiku, dan mungkin bagi semua muslimah di negeri islam minoritas, berhijab seperti jadi tantangan sendiri. Selain sebagai identitas pribadi dan pernyataan tak tertulis “Ya, saya muslimah”, hijab kemudian menjadi sehelai kain yang membawa tanggung jawab bagi pemakainya untuk selalu menjaga laku, terus berupaya “jaim” alias jaga image serta jaga iman agar selalu bisa menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang santun. Hijab, memiliki caranya sendiri untuk ikut “berdakwah” secara tidak langsung mengenalkan Islam pada dunia.



Otsukaresamadesu  : Ungkapan standar di tempat kerja. Biasanya sebagai sapaan kepada rekan kerja. Bisa berarti "Terimakasih atas kerjasamanya"
Kore, niattemasune..: Ini-nya cocok deh..
Hanabi Matsuri        : Festival kembang api
Yukata                      : kimono musim panas
Geta                         : bakiak kayu
Gaijin                       : orang asing



1 April 2014 , 22.10 JST

aL - Kamar Asrama, Osaka

Tidak ada komentar:

Posting Komentar