Senin, 26 Desember 2016

1. TerBahagia : My Hatsuyuki

            22 tahun lebih hidup di negara tropis, sepanjang tahun berganti hanya musim hujan dan kemarau, menjadikan aku sangat ingin sekali merasakan seperti apa rasanya musim dingin, musim semi, musim gugur, dan musim panas. Ingin sekali melihat dan merasakan salju. Selama ini kalau lihat di film atau pun foto, sepertinya indah sekali. Maka ketika musim dingin menyapa, meski tubuh makhluk tropis ini harus berjuang melawan suhu dingin yang menusuk tulang, turunnya salju dengan lebat adalah hal paling ditunggu-tunggu tiap harinya.
            Pagi itu, 20 Desember 2013, cuaca mendung. Pukul 10 pagi aku berangkat menuju kampus bersama dua orang kawan, Yulia dari Rusia dan Hania dari Polandia. Baru beberapa langkah keluar asrama, gerimis turun. Aku yang telah siap dengan payung di tangan terkesiap karena gerimis pagi itu agak lain dari biasanya. Air yang jatuh seperti butiran es batu yang diserut. Aku lantas berteriak kegirangan, ku pikir itu salju.
           Dua temanku tertawa melihat tingkah norakku. Salju tidak seperti itu, kata mereka. Meskipun agak malu, aku tetap tak bisa mengendalikan rasa excited yang membuncah. Hari itu, aku sangat yakin hatsuyuki atau salju pertama dalam hidupku akan turun.
           Benar saja, saat kami berada di kereta, di luar jendela, di antara pemandangan yang berlari aku melihat butiran-butiran putih ringan seperti kapas turun dari langit! Banyak sekali. Terbang bersama angin. Aku tak sabar untuk segera turun dari kereta saat itu. Aku merasakan salju pertamaku, turun dengan lebatnya ketika aku sampai di depan kampus. “Ini beneran salju kan?!” tanyaku berkali-kali pada Hania, memastikan bahwa aku tak salah lagi. Alhamdulillaah. Entah bagaimana, suhu minus saat itu terasa hangat. Hatiku buncah oleh rasa bahagia dan syukur yang tiada habisnya. Maha Besar Allah, pencipta salju yang begitu indahnya!

Selfie bersama Hania

Salju pertama di depan Gd. A kampus OKU

Tidak ada komentar:

Posting Komentar