Libur musim dingin dimulai ! Aku yang gak punya rencana khusus bolang ke luar kota seperti kebanyakan anak-anak Japanese Studies yang lain, menghabiskan hari pertama libur musim dingin dengan tidur-tiduran di apaato! Sedih sih, sendirian~ Main sama Shiro, bukannya buka folder skripsi malah iseng buka-buka folder lama. *buat yang belum kenal, Shiro itu panggilan sayang utk laptopku :)*
Nah, nemu file-file lamaaa, salah satunya yang dibawah ini .
Tulisan ini dibuat suatu pagi di Indramayu, saat aku sekeluarga mudik lebaran tahun 2012 lalu. Dari data file, diketahui tulisan ini dibuat tanggal 26 Agustus 2012. Saat itu tulisan ini belum selesai, baru diselesaikan malam ini,
dengan menghadirkan lagi memori dan perasaan pagi itu, alhasil sempat bikin terisak-isak sendirian di kamar. Kangen rumah... :')
***
Sainah . kupandangi lekat nama yang terukir
di batu nisan tua itu, sore hari kemarin. Entah berapa lama, nenek telah
terbaring di sana. 10 tahun kah? Lebih kah? Ah, tak dapat kuingat pasti kapan
nenek pulang ke sisi Allah. Yang pasti, aku sangat merindukannya. Nenekku
tersayang.
Mbok Sainah, begitu suara kecilku dulu
memanggilnya. Sosok itu tetap lekat di memoriku, meski raganya tak lagi mampu
kujumpai. Samar tergambar figurnya yang penyayang dan senang pergi ke surau.
Kain, kebaya, tudung khas yang selalu menjadi penampilannya sehari-hari. Sosok
kurus, berhidung mancung, selalu sumringah menyambut kepulangan cucu kecilnya
dari Jakarta.
Ah, jika ku dengar kisah-kisah tentangnya
dari Kakak, betapa bisa kurasakan kasih sayangnya luar biasa besar. Mbok Sainah
yang selalu sabar merawat cucunya yang “berbeda”. Tiap hari setia memanggilkan
tukang urut untuk meluruskan tangan bayi premature yang masih bengkok itu.
Menyapih dengan segenap kasih. Menadah air dari pancuran tempat wudhu di surau
untuk memandikan cucu kecilnya, dan membacakan
sholawat pengantar tidur setiap malam. Pengganti sosok Mama yang ikut mencari
nafkah bersama Bapak.
Mbok, andaikan masih bisa kutemui, ingin
sekali aku mengucapkan sayang dan terima kasih. Kini aku di sini, di ruangan
yang dulu menjadi kamar Mbok, mencoba mengurai rindu melalui tulisan ini. Rumah
ini, esok sudah harus kembali kutinggal pergi… Berat rasanya, karena di rumah
inilah aku bisa mengenang dan merasa dekat dengan Mbok Sainah. Keseharian Mbok,
melewati hari tuanya seorang diri menjaga rumah ini. Mbok pasti dulu kesepian,
tapi tetap setia bertahan. Meski di rumah ini, belum ada kamar mandi, membuat
Mbok harus berjalan cukup jauh untuk sekedar mandi dan buang air.
Satu dari sekian banyak sifat Mbok yang ku
kagumi, adalah semangatnya dalam ibadah. 5 waktu sholat tak absen dikerjakan berjamaah.
Dituntun tongkat, kaki ringkihnya menapak satu-satu jalan menuju surau. Semoga
Allah menghitung langkah-langkah itu sebagai timbangan pahala terbaik untukmu,
Mbok...
Mbok, kini tanganku sudah tak bengkok lagi.
Rindu . Ingin ku dengar lagi senandung sholawatmu menina-bobokkanku semasa
kecil. Hanya dengan melihat wajah Bapak, aku bisa ingat lagi bagaimana wajah
Mbok. Aku berjanji akan membahagiakan Bapak, Mbok… Aku berjanji akan
membahagiakan anakmu di hari tuanya… Dan rumah ini, rumah yang selalu kosong
sepanjang tahun… tentu juga kesepian dan rindu akan sosokmu. Kalau saja rumah
ini bisa menangis, pasti ia sudah menangis sepanjang waktu, Mbok. Lihat ubinnya
sudah pecah disana-sini, dindingnya juga retak dimana-mana, berdebu tebal, bersarang
laba-laba, belukar merambahi tiap jengkal halamannya. Kusam dan tua. Tak ada yang
membersihkannya setiap hari seperti saat Mbok masih disini…
Mbok, ketika kakak bercerita tentangmu, dia
juga membagi kisahnya tentang sosok Bapak Tua Kalsum, suamimu… Betapa banyak
tauladan yang kakak dapatkan dari sosok Kakek yang juga sama bersahajanya denganmu.
Satu hal unik yang ku dengar dari Kakak, hobi Bapak Tua menghitung dzikir dengan
batu-batu kerikil tiap malam, sampai membuat batu-batu itu licin dan halus
permukaannya. Mashaa Allah. Aku pun kagum dengan sosok Bapak Tua yang katanya
sering mengajak Kakak berdiskusi, bercerita banyak hal penuh petuah dan hikmah.
Ah, jujur aku iri, Mbok! aku iri tidak bisa mengenal dekat sosok Bapak Tua. Aku masih
terlalu kecil saat beliau berpulang, aku tak punya banyak kenangan… Hanya sosok
sederhana yang tak banyak bicara, yang bisa kugambarkan tentangnya.
Saat sore kemarin aku dan Bapak mengunjungi
pusaramu yang berjajaran dengan pusara Bapak Tua, dalam hening kuamati wajah
Bapak yang juga telah semakin menua… Aku sedih, Mbok… seolah bisa kurasakan
betapa jauh lebih besar rasa rindu Bapak pada sosok Mbok dan Bapak Tua. Bapak, yang meski kini telah menjadi orangtua, tentu punya banyak kenangan sendiri sebagai anak bersama kalian... Aku sungguh
tak bisa membayangkan jika harus berada di posisinya, berdoa di depan makam kedua
orangtua… Astaghfirullaah! Semoga aku bisa lekas membahagiakan Bapak dan Mama, Mbok! Begitu
juga doaku untukmu dan Bapak Tua, semoga pusara sederhana kalian, senantiasa
menjadi taman surga yang membawa kedamaian. Aaamiin ya Robbal ’alamiin…
Beristirahatlah dalam limpahan kasih dan rahmat Allah SWT, Mbok... Bapak Tua…
Ah, aku sungguh sayang kalian ...
Beristirahatlah dalam limpahan kasih dan rahmat Allah SWT, Mbok... Bapak Tua…
Ah, aku sungguh sayang kalian ...
***
26 Desember 2013, 10.10 PM JST
aL, Kamar Apaato . Osaka .






