Kamis, 26 Desember 2013

Sepotong Doa untuk Kakek dan Nenek . *EdisiBongkarFile-FileLama*

Libur musim dingin dimulai ! Aku yang gak punya rencana khusus bolang ke luar kota seperti kebanyakan anak-anak Japanese Studies yang lain, menghabiskan hari pertama libur musim dingin dengan tidur-tiduran di apaato! Sedih sih, sendirian~ Main sama Shiro, bukannya buka folder skripsi malah iseng buka-buka folder lama. *buat yang belum kenal, Shiro itu panggilan sayang utk laptopku :)*
Nah, nemu file-file lamaaa, salah satunya yang dibawah ini .
Tulisan ini dibuat suatu pagi di Indramayu, saat aku sekeluarga mudik lebaran tahun 2012 lalu. Dari data file, diketahui tulisan ini dibuat tanggal 26 Agustus 2012. Saat itu tulisan ini belum selesai, baru diselesaikan malam ini, dengan menghadirkan lagi memori dan perasaan pagi itu, alhasil sempat bikin terisak-isak sendirian di kamar. Kangen rumah... :')

***

Sainah . kupandangi lekat nama yang terukir di batu nisan tua itu, sore hari kemarin. Entah berapa lama, nenek telah terbaring di sana. 10 tahun kah? Lebih kah? Ah, tak dapat kuingat pasti kapan nenek pulang ke sisi Allah. Yang pasti, aku sangat merindukannya. Nenekku tersayang.

Mbok Sainah, begitu suara kecilku dulu memanggilnya. Sosok itu tetap lekat di memoriku, meski raganya tak lagi mampu kujumpai. Samar tergambar figurnya yang penyayang dan senang pergi ke surau. Kain, kebaya, tudung khas yang selalu menjadi penampilannya sehari-hari. Sosok kurus, berhidung mancung, selalu sumringah menyambut kepulangan cucu kecilnya dari Jakarta.

Ah, jika ku dengar kisah-kisah tentangnya dari Kakak, betapa bisa kurasakan kasih sayangnya luar biasa besar. Mbok Sainah yang selalu sabar merawat cucunya yang “berbeda”. Tiap hari setia memanggilkan tukang urut untuk meluruskan tangan bayi premature yang masih bengkok itu. Menyapih dengan segenap kasih. Menadah air dari pancuran tempat wudhu di surau untuk memandikan cucu kecilnya, dan  membacakan sholawat pengantar tidur setiap malam. Pengganti sosok Mama yang ikut mencari nafkah bersama Bapak.

Mbok, andaikan masih bisa kutemui, ingin sekali aku mengucapkan sayang dan terima kasih. Kini aku di sini, di ruangan yang dulu menjadi kamar Mbok, mencoba mengurai rindu melalui tulisan ini. Rumah ini, esok sudah harus kembali kutinggal pergi… Berat rasanya, karena di rumah inilah aku bisa mengenang dan merasa dekat dengan Mbok Sainah. Keseharian Mbok, melewati hari tuanya seorang diri menjaga rumah ini. Mbok pasti dulu kesepian, tapi tetap setia bertahan. Meski di rumah ini, belum ada kamar mandi, membuat Mbok harus berjalan cukup jauh untuk sekedar mandi dan buang air.

Satu dari sekian banyak sifat Mbok yang ku kagumi, adalah semangatnya dalam ibadah. 5 waktu sholat tak absen dikerjakan berjamaah. Dituntun tongkat, kaki ringkihnya menapak satu-satu jalan menuju surau. Semoga Allah menghitung langkah-langkah itu sebagai timbangan pahala terbaik untukmu, Mbok...

Mbok, kini tanganku sudah tak bengkok lagi. Rindu . Ingin ku dengar lagi senandung sholawatmu menina-bobokkanku semasa kecil. Hanya dengan melihat wajah Bapak, aku bisa ingat lagi bagaimana wajah Mbok. Aku berjanji akan membahagiakan Bapak, Mbok… Aku berjanji akan membahagiakan anakmu di hari tuanya… Dan rumah ini, rumah yang selalu kosong sepanjang tahun… tentu juga kesepian dan rindu akan sosokmu. Kalau saja rumah ini bisa menangis, pasti ia sudah menangis sepanjang waktu, Mbok. Lihat ubinnya sudah pecah disana-sini, dindingnya juga retak dimana-mana, berdebu tebal, bersarang laba-laba, belukar merambahi tiap jengkal halamannya. Kusam dan tua. Tak ada yang membersihkannya setiap hari seperti saat Mbok masih disini…

Mbok, ketika kakak bercerita tentangmu, dia juga membagi kisahnya tentang sosok Bapak Tua Kalsum, suamimu… Betapa banyak tauladan yang kakak dapatkan dari sosok Kakek yang juga sama bersahajanya denganmu. Satu hal unik yang ku dengar dari Kakak, hobi Bapak Tua menghitung dzikir dengan batu-batu kerikil tiap malam, sampai membuat batu-batu itu licin dan halus permukaannya. Mashaa Allah. Aku pun kagum dengan sosok Bapak Tua yang katanya sering mengajak Kakak berdiskusi, bercerita banyak hal penuh petuah dan hikmah. Ah, jujur aku iri, Mbok! aku iri tidak bisa mengenal dekat sosok Bapak Tua. Aku masih terlalu kecil saat beliau berpulang, aku tak punya banyak kenangan… Hanya sosok sederhana yang tak banyak bicara, yang bisa kugambarkan tentangnya.


Saat sore kemarin aku dan Bapak mengunjungi pusaramu yang berjajaran dengan pusara Bapak Tua, dalam hening kuamati wajah Bapak yang juga telah semakin menua… Aku sedih, Mbok… seolah bisa kurasakan betapa jauh lebih besar rasa rindu Bapak pada sosok Mbok dan Bapak Tua. Bapak, yang meski kini telah menjadi orangtua, tentu punya banyak kenangan sendiri sebagai anak bersama kalian... Aku sungguh tak bisa membayangkan jika harus berada di posisinya, berdoa di depan makam kedua orangtua… Astaghfirullaah! Semoga aku bisa lekas membahagiakan Bapak dan Mama, Mbok! Begitu juga doaku untukmu dan Bapak Tua, semoga pusara sederhana kalian, senantiasa menjadi taman surga yang membawa kedamaian. Aaamiin ya Robbal ’alamiin…

Beristirahatlah dalam limpahan kasih dan rahmat Allah SWT, Mbok... Bapak Tua…
Ah, aku sungguh sayang kalian ...


 ***

26 Desember 2013, 10.10 PM JST

aL, Kamar Apaato . Osaka .

Senin, 16 Desember 2013

Kobe Mosque . Berkah dan Bersejarah ~

Bukan Tokyo Tower ataupun Sky Tree, bukan juga Tokyo Disneyland atau Gunung Fuji. Tempat yang paling ingin ku kunjungi di Bumi Para Samurai, Jepang adalah… Masjid Kobe! 
Minggu, 15 Desember 2013 dengan izin dan karunia Allah SWT akhirnya satu mimpiku, bertamu ke “Rumah-Nya” itu dapat terwujud. Segala puji bagi-Mu ya Allah, Tuhan seru sekalian alam…


Rumah Allah yang Pertama.

Kobe, sebuah kota yang terletak di Prefektur Hyogo, tentu bukan suatu kebetulan rumah Allah yang pertama dibangun di kota itu. Dari namanya saja, Kou-be (神戸) yang diartikan sebagai “Gerbang Tuhan”, pas sekali menggambarkan bahwa dari sana lah pijar dien Islam bermula, memendarkan sinar yang hingga kini, dan seterusnya akan bercahaya terang di negeri Matahari Terbit ini. Inshaa Allah…

Mimpi untuk bisa sholat berjamaah di Masjid Kobe sudah mulai ada sejak aku masih duduk di tingkat pertama bangku kuliah. Aku memang suka Jepang, selalu memendam harapan untuk bisa merasakan tinggal di negeri Doraemon ini sejak SMP, namun perhatianku akan lika-liku kehidupan muslim dan nafas dien Islam di Jepang baru mulai muncul saat mengambil matakuliah Pendidikan Agama Islam di bangku Universitas. Saat itu, Ibu dosen memberikan tugas akhir berupa penulisan makalah yang berkaitan antara Islam dengan Jepang. Dari situlah aku mulai menjelajah internet untuk membaca artikel tentang kehidupan muslim di Jepang, sekaligus mencari tahu soal Rumah Allah. Saat itu juga baru tahu, kalau Masjid Kobe adalah masjid pertama yang dibangun dan diresmikan oleh pemerintah Jepang. Masha Allah~

Aku (berbekal GoogleMap sang sahabat sejati), bersama Narumi dan Kak Tanty, salah satu teman liqo-ku menyusuri jalan Nakayamate Dori, distrik Chuo, kota Kobe. Hari itu adalah hari pertamaku menginjakkan kaki di Kobe. Suhu udara yang mulai menggigit di awal musim dingin tak menyurutkan semangatku. Kami menyusur jalan berupa gang-gang di area pemukiman dan pertokoan. Begitu menara dan kubah Masjid mulai terlihat menyembul di antara gedung-gedung apaato, sontak aku melompat kegirangan! Semangat 90 (dua kali lipat dari semangat 45. hehehe) dan memang girang bukan kepalang! ^_^

Masha Allah.. Masha Allaah… Benar-benar di depan mata! Sama persis seperti gambar yang selama ini hanya ku lihat lewat dunia maya. Kegiranganku seketika berubah haru. Alhamdulillaah ya Rabbanaa… Mataku berkaca-kaca. Masjid ini adalah Masjid kedua yang benar-benar menyerupai masjid bentuknya, yang telah ku kunjungj setelah Masjid Tokyo Camii. Membawa kenangan akan Masjid di Yoyogi Uehara itu, aku melangkah masuk dan mengisi buku tamu.
“Assalamualaikuum, ya Allah… Alhamdulillaah akhirnya bisa kesini juga!” Kami pun naik ke lantai 2 tempat sholat wanita. Beberapa anak berwajah arab dan jepang bercanda, berlarian dengan tawa. Mengingatkanku juga akan suasana di Masjid Otsuka. Kangen!

Waktu menunjukkan pukul 12.10 JST, dua muslimah, satu orang Indonesia bernama Mbak Yuyun, dan satu lagi ibu-ibu (aku tidak tanya namanya, tapi sepertinya orang Jepang), telah bersiap dengan mukena di dalam. Sholat Jamaah belum mulai. Yes! Setelah mengambil wudhu dan sholat tahiyatul Masjid, akhirnya aku mendengar kumandang azan dilantunkan. Allahu Akbar! 

Sensitifitasku yang super duper sensitif ini akhirnya membuat butiran-butiran airmata jatuh penuh rasa syukur kepada-Nya yang telah memberiku izin sholat berjamaah di sana. “Semoga kelak keluargaku, teman-temanku di Indonesia juga bisa berkesempatan sholat di Masjid ini ya Allah… dan setelah ini, izinkan aku dan keluargaku suatu saat nanti bisa sholat di rumah-Mu yang lain lagi, tempat yang paling ingin kami datangi lagi, Masjidil Haram dan Masjid Nabawi… Aamiin yaa Rabb, Allahu yaa Mujiib…” untaian doa yang mengiring isakku ba’da Dzuhur, siang itu.

Sungguh tak habis kagumku dengan Masjid Kobe itu. Masjid yang berkah dan juga bersejarah, saksi bisu geliat perkembangan dien Islam di Jepang. Entah sudah berapa banyak muallaf mengikrar syahadat di sana. Membaca dari situs islami eramuslim.com, aku ceritakan lagi yah sejarah tentang masjid Kobe ini. Masjid Kobe atau dikenal juga Masjid Muslim Kobe mulai dibangun tahun 1928 dan diresmikan tahun 1935.

Masha Allah, masjid ini tetap berdiri kokoh saat tahun 1945 Jepang kalah Perang Dunia Kedua. Walaupun bukan jenis bom atom seperti di Hiroshima dan Nagasaki, kota Kobe (dan Osaka juga) nyaris luluh lantak oleh serangan bom dari udara saat itu. Kerusakan hanya pada dinding bagian luar yang retak dan menghitam oleh asap, lalu semua kaca hancur. Selain itu semua aman, bahkan tentara yang berlindung di basement masjid (kala itu) selamat, dan Masjid Kobe dijadikan tempat mengungsi bagi para korban perang. 

Dan bukan cuma itu, kokohnya rumah Allah satu ini juga kembali diuji saat gempa paling besar di wilayah Hyogo (Gempa Kobe), yang terjadi pada suatu fajar di hari Selasa, 17 Januari 1995. Gempa yang katanya cuma terjadi 20 detik itu meluluh lantakkan kota Kobe dan menelan lebih dari 6000 korban jiwa. Waktu SMP aku pernah baca komik yang mengambil latar cerita tentang gempa Kobe itu. Suasana kota yang digambarkan hancur berantakan dalam komik, dan membayangkan masjid Kobe masih tetap utuh berdiri, aku jadi teringat akan Masjid Raya di Banda Aceh saat terjadi Tsunami 9 tahun lalu. Allahu Akbar!

Tentu bukan karena kokohnya pilar bangunan semata, tapi memang benar-benar itu merupakan “cara” Allah SWT menunjukkan kuasa-Nya. Seharusnya itu bisa menjadi renungan untuk semua orang, juga untuk Narumi, dan orang Jepang lainnya. Tapi sekali lagi, memang hidayah adalah Hak Allah, mau diberikan-Nya pada siapa. Aku sungguh berdoa, semoga dien Islam dapat terus bergeliat positif di negeri sakura ini.

Selesai sholat Dzuhur, aku, Kak Tanty, Narumi serta Mbak Yuyun dan suaminya (Btw ini nih, bikin iri :3 ingin deh nanti bisa datang ke Masjid Kobe dengan suamiku juga, hhihi) kami foto-foto sebentar di depan Masjid. Setelah itu Mbak Yuyun dan suami pamit, kami bertiga pun jalan-jalan di sekitar Masjid. Makan siang di Restoran Halal masakan India, dan belanja di Halal Food Store di sana. Ya ampun… niat jalan-jalan malah uang ludes duluan buat belanja. Kak Tanty apalagi, kalap melihat toko makanan halal dan keperluan dapur lengkap begitu. Mulai dari segala macam bumbu dapur, sampai tempe juga ada!

Ngomong-ngomong, Halal Food Store itu... salah satu mimpiku juga! >_< Semoga kelak Allah SWT mengizinkanku untuk membuka dan mengelola toko produk halal-ku sendiri, suatu hari nanti bersama suami, hhihi (///_///) "aL-awiyah Halal Food Store" namanya. aamiin... ya Robbal ‘alamiin :’) Ah, memang banyak sekali pinta dan mimpiku, semoga Engkau berkenan memberiku jalan untuk mewujudkannya, ya Rabb…

Siang itu, terbersit pikiran "Duh, enak yaa~ tinggal di Kobe… Masjid dekat… Restoran halal ada... Toko bahan makanan halal lengkap…" tak sengaja muncul lagi rasa kecewa karena aku tidak diterima di Universitas Kobe. Namun Astaghfirullah… maafkan aku ya Allahu Ghafuur! Maafkan aku yang sering kufur! Aku harusnya bersyukur luar biasa sudah bisa dikaruniai kesempatan belajar di negeri ini. Osaka Kyouiku Daigaku, kampusku saat ini, tentu telah Allah pilihkan yang terbaik, dan aku pasti akan tahu “alasan” Allah menempatkanku di OKU. Inshaa Allah! Kembali aku menyalakan pijar optimis. Kesulitan dan “usaha lebih” yang harus ku hadapi untuk beribadah adalah nikmat yang luar biasa dari-Nya, sekaligus tantangan, dan kesempatan untuk mendapat poin pahala lebih, inshaa Allah ! Semangat, aL !!!
 
Ya Allah, aku selalu memohon ridho dan ampunan-Mu…


Ditulis dalam keharuan, dengan rasa syukur yang membuncah tak terungkapkan.
Terimakasih, Tuhan…

  
 sumber gambar : dokumentasi pribadi dan eramuslim.com


Minggu, 15 Desember 2013 .  11.45 JST

aL ~ Kamar Asrama, Osaka .

Jumat, 06 Desember 2013

イケメン (IKEMEN)~~ Kamis Ceria .

Beberapa waktu ini sering ngetik hal-hal yang menyedihkan (walaupun gak di posting di blog sih, hhehe) tapi kali ini mau kembali berbagi keceriaan. Hahaha
Dari judul aja udah ketauan yah, sekarang ini mau rumpi soal Ikemen .

Teman-teman di Indonesia, dalam beberapa kesempatan sering nanya, “Tuti, gimanaa? Banyak ikemen gak disana?? Ada yang nyantol, nggak?! Bawa pulang ke Indonesia dong buat gueee!!!” Oalaaah… suka ketawa sendiri jadinya.

Pertama, buat yang belum familiar sama istilah “Ikemen”, Apa sih ikemen, ikemen?? Bahas dulu yuk sedikit. Mengutip kata Om Wiki (Wikipedia) “Ikemen” adalah istilah slang bahasa Jepang untuk menunjuk “pria tampan”. Kata ini mulai tenar tahun 2000-an, asal katanya sendiri adalah “ikeru” いける atau “iketeru” いけてる yang bisa diartikan “Cool, Baik, Tampan” ditambah “Men”, kata dalam bahasa Inggris yang merujuk pada cowok, berkesan manly atau macho. Ada juga yang menyebutkan kalau “Men” berasal dari kata bahasa Jepang sendiri yaitu 面、yang artinya “wajah”.
まあ、とにかく(イケメン)とか(イケ面)っていうのは(ハンサムでかっこい男性)ということだよね!Pokoknya Ikemen itu artinya “cowok ganteng” deh yah! hihihi

Balik ke pertanyaan temanku tadi. Maksudnya Ikemen menurut mereka pasti “Cowok Jepang”. Kalau ditanya, banyak Ikemen gak disini? Hoh, banyak! Dulu waktu di Tokyo, selain Mas Hide #ehh :P sering ketemu Ikemen di kereta atau stasiun. Sekarang, saat kuliah di Jepang, Ikemen banyak tuh di kampus! cuman namanya cantik/tampan kan relatif, jadi aku sendiri sejujurnya juga gak tahu kriteria Ikemen yang sebenarnya tuh yang kayak gimana sih? Pokoknya kalo keliatannya good-looking, aku sebut Ikemen deh. Tapi yah, kalo ngeliat sebagian besar Ikemen menurut beberapa temanku, kebanyakan kok ya pada pakai tas kayak perempuan yah? (Mungkin memang trendnya di Jepang begitu kali yah) Jadi daripada ngelirik apalagi naksir orangnya, aku malahan lebih fokus ke tasnya. Hhaha >_<

Nah, kenapa sub judulnya Kamis Ceria? Karena hari Kamis adalah hari dimana aku ikut dua mata kuliah dengan *Nihonjin (biasanya kelas yang ku ikuti, kelas khusus mahasiswa asing). Dan di dua kelas itu (kelas berbahasa Inggris), aku sekelas dengan beberapa Ikemen, satu diantaranya sebut saja namanya Ken (bukan nama sebenarnya), Ikemen yang baik hati dan tidak sombong. Dan bagusnya, dia gak pakai tas perempuan. Hehehe ^_^

Kelas Japanese Culture yang kami ikuti selalu menyajikan diskusi kelompok, Jadi pertama kali kenal dengannya itu saat kita kebetulan tergabung dalam satu kelompok. Orangnya supel, jadi aku pun gak canggung ngobrol dengannya meski dengan bahasa Jepang yang pas-pasan. Selain itu, di luar kelas pun saat kita kebetulan ketemu di mana saja dia selalu menyapa dengan hangatnya, “Tuti, Ohayoo!” Gak pake jaim kayak cowok-cowok Jepang lain, (atau mungkin juga cowok Indonesia?) yang kebanyakan cuma menyapa dengan senyum tipis dan anggukan kepala kalau ketemu di jalan. Sejauh ini, Ken adalah cowok Jepang paling ramah yang aku kenal.

Saking enaknya diajak ngobrol, bahkan saat pertama kali kenal, teman-teman satu kelompok sampai tahu kalau kalau dia sedang single, alias nggak punya pacar. Hahaha saat itu memang tema diskusi di kelas sedang membahas soal “Relationship and Marriage”. “Will you get married?” Pertanyaan yang diajukan dalam diskusi saat itu, mengingat zaman sekarang banyak kaum muda di Jepang yang tidak ingin menikah. “I want to have married someday because I want to play sports with my child. I want to have many children” jawabnya. Manis sekali. Dia memang suka olahraga, apalagi basket, makanya posturnya tinggi. Kami juga membahas soal bagaimana pacaran dan pernikahan di negara masing-masing. Waktu itu dia bertanya padaku, “Jadi, di Indonesia, kalau mau menikah harus agamanya sama?” Aku mengangguk mantap. (1)Waa, muzukashii naa.. muri, muri ya naa… sore wa muzuii” keluhnya dengan aksen Osaka yang kental. Membuatku tertawa melihatnya. Walaupun harusnya kelas bahasa Inggris, tapi kami kebanyakan malah bandel diskusi pakai bahasa Jepang.

Tiap minggu, tema diskusi kami berbeda dan kelompok pun di random ulang. Makanya setiap minggu itu aku selalu berharap bisa sekelompok dengannya. Minggu lalu, beruntung aku bisa sekelompok lagi dengan Ken. Kali ini kita membahas soal liburan. Aku bercerita tentang libur Lebaran di Indonesia. Aku cerita tentang Ramadhan dan puasa, dan begitu kagetnya dia, (2)He?! Chotto matte! Ikkagetsukan de danjiki??” Ah, aku pernah dengar sih… Beneran tuh??” tanyanya keheranan. Aku mengangguk senang demi melihat muka kagetnya itu. “Iya, emang kamu dengar dimana?” aku balik bertanya.

“Dulu pernah liat di Tv, waktu itu aku mikir, Hee… ternyata ada yaa orang di luar sana yang melakukan hal seperti itu (puasa)… dan sekarang, orangnya ada di depan mata!” Aku cuma nyengir lebar.

Banyak informasi yang ku dapat tentangnya saat kita sekelompok. Diantaranya adalah dia mahasiswa jurusan Pend. Bahasa Inggris tingkat 1, dan masih 19 tahun. “Aku baru 19 tahun, tapi tenang, aku nggak bakal nanya umur kamu kok!” katanya. Astaga ! Hhaha >_<

Mata kuliah ke dua, kita nggak sekelompok, tapi kebetulan tempat duduk dia dengan kelompoknya masih berdekatan dengan kelompokku. Jadi masih bisa ngobrol begitu mata kuliah usai. “Hari ini pakai ungu-ungu nih yee” iseng sekali dia menggodaku begitu. Bikin aku malu saja! Aku langsung mengalihkan pembicaraan, “Ken, kamu tinggal dimana?” tanyaku.

“Di Pref. Hyogo”

“Wah, bukan orang Osaka dong yah? Padahal aku mau nanya-nanya soal *Osaka-ben..”

(3)Betsu ni, ee yo !” jawabnya mantap dengan Osaka ben.

(4)ii no?? Atode, Line de renraku shitemo ii? Arigatou! Yoroshiku ne!” kataku senang. Yosh! Kebetulan memang ada PR Osaka-ben yang belum ku kerjakan.

“O.K.!”

Malamnya, aku menghubunginya dan banyak terbantu soal Osaka-ben. *Yokatta! Katanya, kapan pun butuh bantuan soal Osaka-ben, tanya aja ke dia. Hahaha Baik sekali. Begitulah, hari Kamis ceriaku minggu lalu.

***

Dan kemarin, hari Kamis, seminggu setelahnya. Aku berharap bisa sekelompok lagi dengannya. Saat random kelompok, aku dapat nomor satu, dan dia nomor dua! *Oshikatta! Gak jadi sekelompok deh. Tapi begitu kelas usai, seperti biasa dia menyapaku dan kita sama-sama berjalan menuju kelas kedua. Sepanjang jalan menuju kelas kedua itu, lagi-lagi aku banyak belajar Osaka-ben darinya. “Kalau di Kansai, cewek yang ngomong pake Osaka-ben itu kesannya lebih kawaii tahu” katanya. Hahaha sayangnya aku nggak bisa, tuh!  (5)Osaka ben tte muzuii yotte yan! >_<

Mata kuliah ke dua, English Oral Communication, ada games mencari kamar *apaato. Jadi oleh Sensei kita dibagi sehelai kertas deskripsi tentang siapa kita, dan siapa tetangga kamar kita. Kita diharuskan saling berbicara ke sebanyak mungkin orang lain, bertukar informasi tentang diri kita dan mencari tetangga apaato untuk tahu di kamar mana kita tinggal. Games yang menarik. Karena yang ikut kelas itu ada lebih dari 60 orang, jadi mencarinya tidak mudah.

You are a sociologist, you’re living on the 3rd floor of an apartement. You’re living between a cello player and someone who always doing strange voice exercises” Itulah deskripsi singkat yang tertulis dalam sehelai kertas di tanganku. Setelah bertanya ke banyak orang, Berkali-kali harus bilang, “I’m a sociologist, are you playing Cello? Or doing strange voice exercices??” Nggak juga ketemu siapa pemain Cello dan siapa seseorang yang selalu berlatih dengan suara aneh itu?! Niatnya mau bertanya ke Ken, tapi dia juga kelihatan sibuk bertanya-tanya dengan anak lain, mencari tetangganya. Dalam hati, “Kalau ternyata Ken itu tetanggaku, seru nih. Jangan-jangan dia-lah si pemain Cello itu! Hahaha”

Setelah beberapa lama, akhirnya aku ketemu juga dengan si pemain Cello! Ternyata bukan Ken, tapi seorang cewek Jepang berambut pirang yang tak ku kenal. Gak beberapa lama, seorang cowok Jepang yang sebelumnya sudah kutanya mendekatiku, diikuti Ken dibelakangnya. “Nih, dia sociologist!”.

Excuse me, Are you sociologist?” Ken bertanya padaku.

Yes.” Jawabku. Kemudian dia menjelaskan bahwa dirinya adalah mahasiswa Jurusan Bahasa Cina yang tinggal bertetangga dengan seorang sociologist. Bahasa Cina yang sulit, memaksanya tiap hari harus berlatih pronounciation. Ah, ternyata dia toh, orang yang dimaksud selalu berlatih dengan suara aneh itu!

“Waa, aku cari-cari daritadi, ternyata kamu toh tetanggaku! Hahaha Lucu!”Aku gak bisa menahan tawa mendengar deskripsinya, ditambah ternyata apa yang ku pikir sebelumnya benar terjadi.

“Hahahah iya, yah!” jawabnya yang juga daritadi mencari seorang sociologist.

Lengkap! Kita bertiga, (Aku, Ken dan si pemain Cello) kemudian menuju baris ke tiga, tempat duduk yang menjadi kamar kami. Setelah itu, kuliah berlanjut dengan percakapan latihan menelepon dalam bahasa Inggris secara berpasangan. Ken meminta berpasangan denganku. Wah, malu sebenarnya, bahasa Inggrisku acak-adut. Hhaha . Beberapa kali latihan dengan bahasa Inggris, setelah itu kita malah latihan dengan bahasa Jepang. Banyak belajar bahasa Jepang nih darinya! Isi dialog latihan kami tentang “Mengajak Jalan-Jalan”. Wah, sayangnya cuma latihan, kalau serius, seru kayaknya! #ehh

Hahaha  

Itulah kisah tentang Ken, si Ikemen baik hati yang membuat hari Kamis selalu ceria. Ramah pada siapa saja, hal positif utama yang bisa kuambil darinya. Keramahan selalu membuat suasana menyenangkan, bukan?
Hff, ya Allah… aku berharap semoga dua orang yang berubah itu, bisa lekas kembali dengan sikap ramahnya padaku seperti dulu. aamiin !



*Nihonjin : Orang Jepang
Osaka-ben : Dialek Osaka
Yokatta : Syukurlah !
Oshikatta : Disayangkan !
Apaato : Apartemen

(1) Ahh.. susah yaah.. gak mungkin deh.. gak mungkin! Susah itu mah...
(2) Eh?! Bentar! Puasa... selama sebulan??
(3) Nggak papa kok !
(4) Boleh?? Nanti aku hubungi via Line, ya? Makasih ! Mohon bantuannya!
(5) Soalnya dialek Osaka susah sih! 




Jumat, 6 Desember 2013 . 21.30 JST


aL
Kamar Asrama, Osaka .