Jumat, 06 Desember 2013

イケメン (IKEMEN)~~ Kamis Ceria .

Beberapa waktu ini sering ngetik hal-hal yang menyedihkan (walaupun gak di posting di blog sih, hhehe) tapi kali ini mau kembali berbagi keceriaan. Hahaha
Dari judul aja udah ketauan yah, sekarang ini mau rumpi soal Ikemen .

Teman-teman di Indonesia, dalam beberapa kesempatan sering nanya, “Tuti, gimanaa? Banyak ikemen gak disana?? Ada yang nyantol, nggak?! Bawa pulang ke Indonesia dong buat gueee!!!” Oalaaah… suka ketawa sendiri jadinya.

Pertama, buat yang belum familiar sama istilah “Ikemen”, Apa sih ikemen, ikemen?? Bahas dulu yuk sedikit. Mengutip kata Om Wiki (Wikipedia) “Ikemen” adalah istilah slang bahasa Jepang untuk menunjuk “pria tampan”. Kata ini mulai tenar tahun 2000-an, asal katanya sendiri adalah “ikeru” いける atau “iketeru” いけてる yang bisa diartikan “Cool, Baik, Tampan” ditambah “Men”, kata dalam bahasa Inggris yang merujuk pada cowok, berkesan manly atau macho. Ada juga yang menyebutkan kalau “Men” berasal dari kata bahasa Jepang sendiri yaitu 面、yang artinya “wajah”.
まあ、とにかく(イケメン)とか(イケ面)っていうのは(ハンサムでかっこい男性)ということだよね!Pokoknya Ikemen itu artinya “cowok ganteng” deh yah! hihihi

Balik ke pertanyaan temanku tadi. Maksudnya Ikemen menurut mereka pasti “Cowok Jepang”. Kalau ditanya, banyak Ikemen gak disini? Hoh, banyak! Dulu waktu di Tokyo, selain Mas Hide #ehh :P sering ketemu Ikemen di kereta atau stasiun. Sekarang, saat kuliah di Jepang, Ikemen banyak tuh di kampus! cuman namanya cantik/tampan kan relatif, jadi aku sendiri sejujurnya juga gak tahu kriteria Ikemen yang sebenarnya tuh yang kayak gimana sih? Pokoknya kalo keliatannya good-looking, aku sebut Ikemen deh. Tapi yah, kalo ngeliat sebagian besar Ikemen menurut beberapa temanku, kebanyakan kok ya pada pakai tas kayak perempuan yah? (Mungkin memang trendnya di Jepang begitu kali yah) Jadi daripada ngelirik apalagi naksir orangnya, aku malahan lebih fokus ke tasnya. Hhaha >_<

Nah, kenapa sub judulnya Kamis Ceria? Karena hari Kamis adalah hari dimana aku ikut dua mata kuliah dengan *Nihonjin (biasanya kelas yang ku ikuti, kelas khusus mahasiswa asing). Dan di dua kelas itu (kelas berbahasa Inggris), aku sekelas dengan beberapa Ikemen, satu diantaranya sebut saja namanya Ken (bukan nama sebenarnya), Ikemen yang baik hati dan tidak sombong. Dan bagusnya, dia gak pakai tas perempuan. Hehehe ^_^

Kelas Japanese Culture yang kami ikuti selalu menyajikan diskusi kelompok, Jadi pertama kali kenal dengannya itu saat kita kebetulan tergabung dalam satu kelompok. Orangnya supel, jadi aku pun gak canggung ngobrol dengannya meski dengan bahasa Jepang yang pas-pasan. Selain itu, di luar kelas pun saat kita kebetulan ketemu di mana saja dia selalu menyapa dengan hangatnya, “Tuti, Ohayoo!” Gak pake jaim kayak cowok-cowok Jepang lain, (atau mungkin juga cowok Indonesia?) yang kebanyakan cuma menyapa dengan senyum tipis dan anggukan kepala kalau ketemu di jalan. Sejauh ini, Ken adalah cowok Jepang paling ramah yang aku kenal.

Saking enaknya diajak ngobrol, bahkan saat pertama kali kenal, teman-teman satu kelompok sampai tahu kalau kalau dia sedang single, alias nggak punya pacar. Hahaha saat itu memang tema diskusi di kelas sedang membahas soal “Relationship and Marriage”. “Will you get married?” Pertanyaan yang diajukan dalam diskusi saat itu, mengingat zaman sekarang banyak kaum muda di Jepang yang tidak ingin menikah. “I want to have married someday because I want to play sports with my child. I want to have many children” jawabnya. Manis sekali. Dia memang suka olahraga, apalagi basket, makanya posturnya tinggi. Kami juga membahas soal bagaimana pacaran dan pernikahan di negara masing-masing. Waktu itu dia bertanya padaku, “Jadi, di Indonesia, kalau mau menikah harus agamanya sama?” Aku mengangguk mantap. (1)Waa, muzukashii naa.. muri, muri ya naa… sore wa muzuii” keluhnya dengan aksen Osaka yang kental. Membuatku tertawa melihatnya. Walaupun harusnya kelas bahasa Inggris, tapi kami kebanyakan malah bandel diskusi pakai bahasa Jepang.

Tiap minggu, tema diskusi kami berbeda dan kelompok pun di random ulang. Makanya setiap minggu itu aku selalu berharap bisa sekelompok dengannya. Minggu lalu, beruntung aku bisa sekelompok lagi dengan Ken. Kali ini kita membahas soal liburan. Aku bercerita tentang libur Lebaran di Indonesia. Aku cerita tentang Ramadhan dan puasa, dan begitu kagetnya dia, (2)He?! Chotto matte! Ikkagetsukan de danjiki??” Ah, aku pernah dengar sih… Beneran tuh??” tanyanya keheranan. Aku mengangguk senang demi melihat muka kagetnya itu. “Iya, emang kamu dengar dimana?” aku balik bertanya.

“Dulu pernah liat di Tv, waktu itu aku mikir, Hee… ternyata ada yaa orang di luar sana yang melakukan hal seperti itu (puasa)… dan sekarang, orangnya ada di depan mata!” Aku cuma nyengir lebar.

Banyak informasi yang ku dapat tentangnya saat kita sekelompok. Diantaranya adalah dia mahasiswa jurusan Pend. Bahasa Inggris tingkat 1, dan masih 19 tahun. “Aku baru 19 tahun, tapi tenang, aku nggak bakal nanya umur kamu kok!” katanya. Astaga ! Hhaha >_<

Mata kuliah ke dua, kita nggak sekelompok, tapi kebetulan tempat duduk dia dengan kelompoknya masih berdekatan dengan kelompokku. Jadi masih bisa ngobrol begitu mata kuliah usai. “Hari ini pakai ungu-ungu nih yee” iseng sekali dia menggodaku begitu. Bikin aku malu saja! Aku langsung mengalihkan pembicaraan, “Ken, kamu tinggal dimana?” tanyaku.

“Di Pref. Hyogo”

“Wah, bukan orang Osaka dong yah? Padahal aku mau nanya-nanya soal *Osaka-ben..”

(3)Betsu ni, ee yo !” jawabnya mantap dengan Osaka ben.

(4)ii no?? Atode, Line de renraku shitemo ii? Arigatou! Yoroshiku ne!” kataku senang. Yosh! Kebetulan memang ada PR Osaka-ben yang belum ku kerjakan.

“O.K.!”

Malamnya, aku menghubunginya dan banyak terbantu soal Osaka-ben. *Yokatta! Katanya, kapan pun butuh bantuan soal Osaka-ben, tanya aja ke dia. Hahaha Baik sekali. Begitulah, hari Kamis ceriaku minggu lalu.

***

Dan kemarin, hari Kamis, seminggu setelahnya. Aku berharap bisa sekelompok lagi dengannya. Saat random kelompok, aku dapat nomor satu, dan dia nomor dua! *Oshikatta! Gak jadi sekelompok deh. Tapi begitu kelas usai, seperti biasa dia menyapaku dan kita sama-sama berjalan menuju kelas kedua. Sepanjang jalan menuju kelas kedua itu, lagi-lagi aku banyak belajar Osaka-ben darinya. “Kalau di Kansai, cewek yang ngomong pake Osaka-ben itu kesannya lebih kawaii tahu” katanya. Hahaha sayangnya aku nggak bisa, tuh!  (5)Osaka ben tte muzuii yotte yan! >_<

Mata kuliah ke dua, English Oral Communication, ada games mencari kamar *apaato. Jadi oleh Sensei kita dibagi sehelai kertas deskripsi tentang siapa kita, dan siapa tetangga kamar kita. Kita diharuskan saling berbicara ke sebanyak mungkin orang lain, bertukar informasi tentang diri kita dan mencari tetangga apaato untuk tahu di kamar mana kita tinggal. Games yang menarik. Karena yang ikut kelas itu ada lebih dari 60 orang, jadi mencarinya tidak mudah.

You are a sociologist, you’re living on the 3rd floor of an apartement. You’re living between a cello player and someone who always doing strange voice exercises” Itulah deskripsi singkat yang tertulis dalam sehelai kertas di tanganku. Setelah bertanya ke banyak orang, Berkali-kali harus bilang, “I’m a sociologist, are you playing Cello? Or doing strange voice exercices??” Nggak juga ketemu siapa pemain Cello dan siapa seseorang yang selalu berlatih dengan suara aneh itu?! Niatnya mau bertanya ke Ken, tapi dia juga kelihatan sibuk bertanya-tanya dengan anak lain, mencari tetangganya. Dalam hati, “Kalau ternyata Ken itu tetanggaku, seru nih. Jangan-jangan dia-lah si pemain Cello itu! Hahaha”

Setelah beberapa lama, akhirnya aku ketemu juga dengan si pemain Cello! Ternyata bukan Ken, tapi seorang cewek Jepang berambut pirang yang tak ku kenal. Gak beberapa lama, seorang cowok Jepang yang sebelumnya sudah kutanya mendekatiku, diikuti Ken dibelakangnya. “Nih, dia sociologist!”.

Excuse me, Are you sociologist?” Ken bertanya padaku.

Yes.” Jawabku. Kemudian dia menjelaskan bahwa dirinya adalah mahasiswa Jurusan Bahasa Cina yang tinggal bertetangga dengan seorang sociologist. Bahasa Cina yang sulit, memaksanya tiap hari harus berlatih pronounciation. Ah, ternyata dia toh, orang yang dimaksud selalu berlatih dengan suara aneh itu!

“Waa, aku cari-cari daritadi, ternyata kamu toh tetanggaku! Hahaha Lucu!”Aku gak bisa menahan tawa mendengar deskripsinya, ditambah ternyata apa yang ku pikir sebelumnya benar terjadi.

“Hahahah iya, yah!” jawabnya yang juga daritadi mencari seorang sociologist.

Lengkap! Kita bertiga, (Aku, Ken dan si pemain Cello) kemudian menuju baris ke tiga, tempat duduk yang menjadi kamar kami. Setelah itu, kuliah berlanjut dengan percakapan latihan menelepon dalam bahasa Inggris secara berpasangan. Ken meminta berpasangan denganku. Wah, malu sebenarnya, bahasa Inggrisku acak-adut. Hhaha . Beberapa kali latihan dengan bahasa Inggris, setelah itu kita malah latihan dengan bahasa Jepang. Banyak belajar bahasa Jepang nih darinya! Isi dialog latihan kami tentang “Mengajak Jalan-Jalan”. Wah, sayangnya cuma latihan, kalau serius, seru kayaknya! #ehh

Hahaha  

Itulah kisah tentang Ken, si Ikemen baik hati yang membuat hari Kamis selalu ceria. Ramah pada siapa saja, hal positif utama yang bisa kuambil darinya. Keramahan selalu membuat suasana menyenangkan, bukan?
Hff, ya Allah… aku berharap semoga dua orang yang berubah itu, bisa lekas kembali dengan sikap ramahnya padaku seperti dulu. aamiin !



*Nihonjin : Orang Jepang
Osaka-ben : Dialek Osaka
Yokatta : Syukurlah !
Oshikatta : Disayangkan !
Apaato : Apartemen

(1) Ahh.. susah yaah.. gak mungkin deh.. gak mungkin! Susah itu mah...
(2) Eh?! Bentar! Puasa... selama sebulan??
(3) Nggak papa kok !
(4) Boleh?? Nanti aku hubungi via Line, ya? Makasih ! Mohon bantuannya!
(5) Soalnya dialek Osaka susah sih! 




Jumat, 6 Desember 2013 . 21.30 JST


aL
Kamar Asrama, Osaka .

Tidak ada komentar:

Posting Komentar