Beberapa waktu ini sering ngetik
hal-hal yang menyedihkan (walaupun gak di posting di blog sih, hhehe) tapi kali
ini mau kembali berbagi keceriaan. Hahaha
Dari judul aja udah ketauan yah, sekarang
ini mau rumpi soal Ikemen .
Teman-teman di Indonesia, dalam beberapa
kesempatan sering nanya, “Tuti, gimanaa? Banyak ikemen gak disana?? Ada yang
nyantol, nggak?! Bawa pulang ke Indonesia dong buat gueee!!!” Oalaaah… suka
ketawa sendiri jadinya.
Pertama, buat yang belum familiar sama
istilah “Ikemen”, Apa sih ikemen, ikemen?? Bahas dulu yuk sedikit. Mengutip
kata Om Wiki (Wikipedia) “Ikemen” adalah istilah slang bahasa Jepang untuk
menunjuk “pria tampan”. Kata ini mulai tenar tahun 2000-an, asal katanya
sendiri adalah “ikeru” いける atau “iketeru” いけてる yang bisa diartikan “Cool, Baik, Tampan” ditambah “Men”, kata dalam
bahasa Inggris yang merujuk pada cowok, berkesan manly atau macho. Ada juga yang menyebutkan kalau “Men” berasal dari
kata bahasa Jepang sendiri yaitu 面、yang artinya “wajah”.
まあ、とにかく(イケメン)とか(イケ面)っていうのは(ハンサムでかっこい男性)ということだよね!Pokoknya Ikemen itu artinya “cowok ganteng” deh yah! hihihi
Balik ke pertanyaan temanku tadi. Maksudnya
Ikemen menurut mereka pasti “Cowok Jepang”. Kalau ditanya, banyak Ikemen gak
disini? Hoh, banyak! Dulu waktu di Tokyo, selain Mas Hide #ehh :P sering ketemu
Ikemen di kereta atau stasiun. Sekarang, saat kuliah di Jepang, Ikemen banyak
tuh di kampus! cuman namanya cantik/tampan kan relatif, jadi aku sendiri
sejujurnya juga gak tahu kriteria Ikemen yang sebenarnya tuh yang kayak gimana
sih? Pokoknya kalo keliatannya good-looking, aku sebut Ikemen deh. Tapi yah,
kalo ngeliat sebagian besar Ikemen menurut beberapa temanku, kebanyakan kok ya
pada pakai tas kayak perempuan yah? (Mungkin memang trendnya di Jepang begitu kali
yah) Jadi daripada ngelirik apalagi naksir orangnya, aku malahan lebih fokus ke
tasnya. Hhaha >_<
Nah, kenapa sub judulnya Kamis Ceria?
Karena hari Kamis adalah hari dimana aku ikut dua mata kuliah dengan *Nihonjin
(biasanya kelas yang ku ikuti, kelas khusus mahasiswa asing). Dan di dua kelas
itu (kelas berbahasa Inggris), aku sekelas dengan beberapa Ikemen, satu
diantaranya sebut saja namanya Ken (bukan nama sebenarnya), Ikemen yang baik hati dan tidak sombong. Dan
bagusnya, dia gak pakai tas perempuan. Hehehe ^_^
Kelas Japanese Culture yang kami ikuti
selalu menyajikan diskusi kelompok, Jadi pertama kali kenal dengannya itu saat
kita kebetulan tergabung dalam satu kelompok. Orangnya supel, jadi aku pun gak
canggung ngobrol dengannya meski dengan bahasa Jepang yang pas-pasan. Selain
itu, di luar kelas pun saat kita kebetulan ketemu di mana saja dia selalu
menyapa dengan hangatnya, “Tuti, Ohayoo!” Gak pake jaim kayak cowok-cowok Jepang
lain, (atau mungkin juga cowok Indonesia?) yang kebanyakan cuma menyapa dengan
senyum tipis dan anggukan kepala kalau ketemu di jalan. Sejauh ini, Ken adalah cowok Jepang paling ramah yang aku kenal.
Saking enaknya diajak ngobrol, bahkan saat
pertama kali kenal, teman-teman satu kelompok sampai tahu kalau kalau dia sedang
single, alias nggak punya pacar. Hahaha saat itu memang tema diskusi di kelas
sedang membahas soal “Relationship and Marriage”. “Will you get married?” Pertanyaan yang diajukan dalam diskusi saat itu, mengingat zaman sekarang banyak kaum muda di
Jepang yang tidak ingin menikah. “I want to have married someday
because I want to play sports with my child. I want to have many children” jawabnya.
Manis sekali. Dia memang suka olahraga, apalagi basket, makanya posturnya
tinggi. Kami juga membahas soal bagaimana pacaran dan pernikahan di negara
masing-masing. Waktu itu dia bertanya padaku, “Jadi, di Indonesia, kalau mau
menikah harus agamanya sama?” Aku mengangguk mantap. (1)“Waa, muzukashii naa..
muri, muri ya naa… sore wa muzuii” keluhnya dengan aksen Osaka yang kental. Membuatku
tertawa melihatnya. Walaupun harusnya kelas bahasa Inggris, tapi kami
kebanyakan malah bandel diskusi pakai bahasa Jepang.
Tiap minggu, tema diskusi kami berbeda dan
kelompok pun di random ulang. Makanya setiap minggu itu aku selalu berharap
bisa sekelompok dengannya. Minggu lalu, beruntung aku bisa sekelompok lagi
dengan Ken. Kali ini kita membahas soal liburan. Aku bercerita tentang libur
Lebaran di Indonesia. Aku cerita tentang Ramadhan dan puasa, dan begitu
kagetnya dia, (2)“He?! Chotto matte! Ikkagetsukan de danjiki??” Ah, aku pernah
dengar sih… Beneran tuh??” tanyanya keheranan. Aku mengangguk senang demi
melihat muka kagetnya itu. “Iya, emang kamu dengar dimana?” aku balik bertanya.
“Dulu pernah liat di Tv, waktu itu aku
mikir, Hee… ternyata ada yaa orang di luar sana yang melakukan hal seperti itu
(puasa)… dan sekarang, orangnya ada di depan mata!” Aku cuma nyengir lebar.
Banyak informasi yang ku dapat tentangnya
saat kita sekelompok. Diantaranya adalah dia mahasiswa jurusan Pend. Bahasa
Inggris tingkat 1, dan masih 19 tahun. “Aku baru 19 tahun, tapi tenang, aku
nggak bakal nanya umur kamu kok!” katanya. Astaga ! Hhaha >_<
Mata kuliah ke dua, kita nggak sekelompok,
tapi kebetulan tempat duduk dia dengan kelompoknya masih berdekatan dengan kelompokku. Jadi masih bisa ngobrol begitu mata kuliah usai. “Hari
ini pakai ungu-ungu nih yee” iseng sekali dia menggodaku begitu. Bikin aku malu
saja! Aku langsung mengalihkan pembicaraan, “Ken, kamu tinggal dimana?” tanyaku.
“Di Pref. Hyogo”
“Wah, bukan orang Osaka dong yah? Padahal
aku mau nanya-nanya soal *Osaka-ben..”
(3)“Betsu ni, ee yo !” jawabnya mantap dengan
Osaka ben.
(4)“ii no?? Atode, Line de renraku shitemo ii? Arigatou! Yoroshiku ne!” kataku senang. Yosh! Kebetulan memang ada PR
Osaka-ben yang belum ku kerjakan.
“O.K.!”
Malamnya, aku menghubunginya dan banyak
terbantu soal Osaka-ben. *Yokatta! Katanya, kapan pun butuh bantuan soal
Osaka-ben, tanya aja ke dia. Hahaha Baik sekali. Begitulah, hari Kamis ceriaku
minggu lalu.
***
Dan kemarin, hari Kamis, seminggu setelahnya. Aku
berharap bisa sekelompok lagi dengannya. Saat random kelompok, aku dapat nomor
satu, dan dia nomor dua! *Oshikatta! Gak jadi sekelompok deh. Tapi begitu kelas
usai, seperti biasa dia menyapaku dan kita sama-sama berjalan menuju kelas
kedua. Sepanjang jalan menuju kelas kedua itu, lagi-lagi aku banyak belajar
Osaka-ben darinya. “Kalau di Kansai, cewek yang ngomong pake Osaka-ben itu kesannya
lebih kawaii tahu” katanya. Hahaha sayangnya aku nggak bisa, tuh! (5)Osaka ben
tte muzuii yotte yan! >_<
Mata kuliah ke dua, English Oral
Communication, ada games mencari kamar *apaato. Jadi oleh Sensei kita dibagi
sehelai kertas deskripsi tentang siapa kita, dan siapa tetangga kamar kita. Kita
diharuskan saling berbicara ke sebanyak mungkin orang lain, bertukar informasi
tentang diri kita dan mencari tetangga apaato untuk tahu di kamar mana kita
tinggal. Games yang menarik. Karena yang ikut kelas itu ada lebih dari 60
orang, jadi mencarinya tidak mudah.
“You are a sociologist, you’re living on
the 3rd floor of an apartement. You’re living between a cello player
and someone who always doing strange voice exercises” Itulah deskripsi singkat
yang tertulis dalam sehelai kertas di tanganku. Setelah bertanya ke banyak
orang, Berkali-kali harus bilang, “I’m a sociologist, are you playing Cello? Or
doing strange voice exercices??” Nggak juga ketemu siapa pemain Cello dan siapa
seseorang yang selalu berlatih dengan suara aneh itu?! Niatnya mau bertanya ke Ken, tapi dia juga kelihatan sibuk bertanya-tanya dengan anak lain, mencari
tetangganya. Dalam hati, “Kalau ternyata Ken itu tetanggaku, seru nih. Jangan-jangan
dia-lah si pemain Cello itu! Hahaha”
Setelah beberapa lama, akhirnya aku ketemu
juga dengan si pemain Cello! Ternyata
bukan Ken, tapi seorang cewek Jepang berambut pirang yang tak ku kenal. Gak beberapa lama, seorang cowok Jepang yang sebelumnya sudah kutanya mendekatiku,
diikuti Ken dibelakangnya. “Nih, dia sociologist!”.
“Excuse me, Are you sociologist?” Ken
bertanya padaku.
“Yes.” Jawabku. Kemudian dia menjelaskan
bahwa dirinya adalah mahasiswa Jurusan Bahasa Cina yang tinggal bertetangga dengan
seorang sociologist. Bahasa Cina yang sulit, memaksanya tiap hari harus berlatih
pronounciation. Ah, ternyata dia toh, orang yang dimaksud selalu
berlatih dengan suara aneh itu!
“Waa, aku cari-cari daritadi, ternyata kamu
toh tetanggaku! Hahaha Lucu!”Aku gak bisa menahan tawa mendengar deskripsinya, ditambah ternyata apa yang ku pikir sebelumnya benar terjadi.
“Hahahah iya, yah!” jawabnya yang juga
daritadi mencari seorang sociologist.
Lengkap! Kita bertiga, (Aku, Ken dan si pemain Cello) kemudian
menuju baris ke tiga, tempat duduk yang menjadi kamar kami. Setelah itu, kuliah
berlanjut dengan percakapan latihan menelepon dalam bahasa Inggris secara
berpasangan. Ken meminta berpasangan denganku. Wah, malu sebenarnya, bahasa
Inggrisku acak-adut. Hhaha . Beberapa kali latihan dengan bahasa Inggris, setelah
itu kita malah latihan dengan bahasa Jepang. Banyak belajar bahasa Jepang nih
darinya! Isi dialog latihan kami tentang “Mengajak Jalan-Jalan”. Wah, sayangnya
cuma latihan, kalau serius, seru kayaknya! #ehh
Hahaha
Itulah kisah tentang Ken, si Ikemen baik
hati yang membuat hari Kamis selalu ceria. Ramah pada siapa saja, hal positif
utama yang bisa kuambil darinya. Keramahan selalu membuat suasana menyenangkan,
bukan?
Hff, ya Allah… aku berharap semoga dua orang yang berubah itu, bisa lekas
kembali dengan sikap ramahnya padaku seperti dulu. aamiin !
*Nihonjin : Orang Jepang
Osaka-ben : Dialek Osaka
Yokatta : Syukurlah !
Oshikatta : Disayangkan !
Apaato : Apartemen
(1) Ahh.. susah yaah.. gak mungkin deh.. gak mungkin! Susah itu mah...
(2) Eh?! Bentar! Puasa... selama sebulan??
(3) Nggak papa kok !
(4) Boleh?? Nanti aku hubungi via Line, ya? Makasih ! Mohon bantuannya!
(5) Soalnya dialek Osaka susah sih!
(5) Soalnya dialek Osaka susah sih!
Jumat, 6 Desember 2013 . 21.30 JST
aL
Kamar Asrama, Osaka .
Tidak ada komentar:
Posting Komentar