Bukan Tokyo Tower ataupun Sky Tree, bukan juga Tokyo Disneyland atau Gunung Fuji. Tempat yang paling ingin ku
kunjungi di Bumi Para Samurai, Jepang adalah… Masjid Kobe!
Minggu, 15
Desember 2013 dengan izin dan karunia Allah SWT akhirnya satu mimpiku, bertamu
ke “Rumah-Nya” itu dapat terwujud. Segala puji bagi-Mu ya Allah, Tuhan seru
sekalian alam…
Rumah Allah yang Pertama.
Kobe, sebuah kota yang terletak di
Prefektur Hyogo, tentu bukan suatu kebetulan rumah Allah yang pertama dibangun
di kota itu. Dari namanya saja, Kou-be (神戸) yang diartikan
sebagai “Gerbang Tuhan”, pas sekali menggambarkan bahwa dari sana lah pijar
dien Islam bermula, memendarkan sinar yang hingga kini, dan seterusnya
akan bercahaya terang di negeri Matahari Terbit ini. Inshaa Allah…
Mimpi untuk bisa sholat berjamaah di Masjid
Kobe sudah mulai ada sejak aku masih duduk di tingkat pertama bangku kuliah.
Aku memang suka Jepang, selalu memendam harapan untuk bisa merasakan tinggal di
negeri Doraemon ini sejak SMP, namun perhatianku akan lika-liku kehidupan
muslim dan nafas dien Islam di Jepang baru mulai muncul saat mengambil
matakuliah Pendidikan Agama Islam di bangku Universitas. Saat itu, Ibu dosen
memberikan tugas akhir berupa penulisan makalah yang berkaitan antara Islam
dengan Jepang. Dari situlah aku mulai menjelajah internet untuk membaca artikel
tentang kehidupan muslim di Jepang, sekaligus mencari tahu soal Rumah Allah.
Saat itu juga baru tahu, kalau Masjid Kobe adalah masjid pertama yang dibangun
dan diresmikan oleh pemerintah Jepang. Masha Allah~
Aku (berbekal GoogleMap sang sahabat
sejati), bersama Narumi dan Kak Tanty, salah satu teman liqo-ku menyusuri jalan
Nakayamate Dori, distrik Chuo, kota Kobe. Hari itu adalah hari pertamaku
menginjakkan kaki di Kobe. Suhu udara yang mulai menggigit di awal musim dingin tak menyurutkan semangatku. Kami menyusur jalan berupa gang-gang di area
pemukiman dan pertokoan. Begitu menara dan kubah Masjid mulai terlihat
menyembul di antara gedung-gedung apaato,
sontak aku melompat kegirangan! Semangat 90 (dua kali lipat dari semangat 45. hehehe) dan memang girang bukan kepalang! ^_^
Masha Allah.. Masha Allaah… Benar-benar di
depan mata! Sama persis seperti gambar yang selama ini hanya ku lihat lewat
dunia maya. Kegiranganku seketika berubah haru. Alhamdulillaah ya Rabbanaa…
Mataku berkaca-kaca. Masjid ini adalah Masjid kedua yang benar-benar menyerupai
masjid bentuknya, yang telah ku kunjungj setelah Masjid Tokyo Camii. Membawa
kenangan akan Masjid di Yoyogi Uehara itu, aku melangkah masuk dan mengisi
buku tamu.
“Assalamualaikuum, ya Allah… Alhamdulillaah
akhirnya bisa kesini juga!” Kami pun naik ke lantai 2 tempat sholat wanita.
Beberapa anak berwajah arab dan jepang bercanda, berlarian dengan tawa.
Mengingatkanku juga akan suasana di Masjid Otsuka. Kangen!
Waktu menunjukkan pukul 12.10 JST, dua muslimah, satu orang Indonesia bernama Mbak Yuyun, dan satu lagi ibu-ibu (aku tidak tanya namanya, tapi sepertinya orang Jepang), telah bersiap dengan mukena di dalam. Sholat Jamaah belum mulai. Yes! Setelah mengambil wudhu dan sholat tahiyatul Masjid, akhirnya aku mendengar kumandang azan dilantunkan. Allahu Akbar!
Sensitifitasku yang super duper sensitif
ini akhirnya membuat butiran-butiran airmata jatuh penuh rasa syukur kepada-Nya
yang telah memberiku izin sholat berjamaah di sana. “Semoga kelak keluargaku,
teman-temanku di Indonesia juga bisa berkesempatan sholat di Masjid ini ya
Allah… dan setelah ini, izinkan aku dan keluargaku suatu saat nanti bisa sholat
di rumah-Mu yang lain lagi, tempat yang paling ingin kami datangi lagi,
Masjidil Haram dan Masjid Nabawi… Aamiin yaa Rabb, Allahu yaa Mujiib…” untaian
doa yang mengiring isakku ba’da Dzuhur, siang itu.
Sungguh tak habis kagumku dengan Masjid Kobe itu.
Masjid yang berkah dan juga bersejarah, saksi bisu geliat perkembangan dien Islam
di Jepang. Entah sudah berapa banyak muallaf mengikrar syahadat di sana. Membaca dari situs islami eramuslim.com, aku
ceritakan lagi yah sejarah tentang masjid Kobe ini. Masjid Kobe atau dikenal
juga Masjid Muslim Kobe mulai dibangun tahun 1928 dan diresmikan tahun 1935.
Masha Allah, masjid ini tetap berdiri kokoh saat tahun 1945 Jepang kalah Perang
Dunia Kedua. Walaupun bukan jenis bom atom seperti di Hiroshima dan Nagasaki,
kota Kobe (dan Osaka juga) nyaris luluh lantak oleh serangan bom dari udara
saat itu. Kerusakan hanya pada dinding bagian luar yang retak dan menghitam
oleh asap, lalu semua kaca hancur. Selain itu semua aman, bahkan tentara yang
berlindung di basement masjid (kala itu) selamat, dan Masjid Kobe dijadikan
tempat mengungsi bagi para korban perang.
Dan bukan cuma itu, kokohnya rumah Allah
satu ini juga kembali diuji saat gempa paling besar di wilayah Hyogo (Gempa Kobe),
yang terjadi pada suatu fajar di hari Selasa, 17 Januari 1995. Gempa yang
katanya cuma terjadi 20 detik itu meluluh lantakkan kota Kobe dan menelan lebih
dari 6000 korban jiwa. Waktu SMP aku pernah baca komik yang mengambil latar
cerita tentang gempa Kobe itu. Suasana kota yang digambarkan hancur berantakan
dalam komik, dan membayangkan masjid Kobe masih tetap utuh berdiri, aku jadi teringat
akan Masjid Raya di Banda Aceh saat terjadi Tsunami 9 tahun lalu. Allahu Akbar!
Tentu bukan karena kokohnya pilar bangunan
semata, tapi memang benar-benar itu merupakan “cara” Allah SWT menunjukkan
kuasa-Nya. Seharusnya itu bisa menjadi renungan untuk semua orang, juga untuk
Narumi, dan orang Jepang lainnya. Tapi sekali lagi, memang hidayah adalah Hak
Allah, mau diberikan-Nya pada siapa. Aku sungguh berdoa, semoga dien Islam
dapat terus bergeliat positif di negeri sakura ini.
Selesai sholat Dzuhur, aku, Kak Tanty,
Narumi serta Mbak Yuyun dan suaminya (Btw ini nih, bikin iri :3 ingin deh
nanti bisa datang ke Masjid Kobe dengan suamiku juga, hhihi) kami foto-foto
sebentar di depan Masjid. Setelah itu Mbak Yuyun dan suami pamit, kami bertiga pun
jalan-jalan di sekitar Masjid. Makan siang di Restoran Halal masakan India, dan
belanja di Halal Food Store di sana. Ya ampun… niat jalan-jalan malah uang
ludes duluan buat belanja. Kak Tanty apalagi, kalap melihat toko makanan halal
dan keperluan dapur lengkap begitu. Mulai dari segala macam bumbu dapur, sampai tempe juga ada!
Ngomong-ngomong, Halal Food Store itu... salah satu
mimpiku juga! >_< Semoga kelak Allah SWT mengizinkanku untuk membuka dan
mengelola toko produk halal-ku sendiri, suatu hari
nanti bersama suami, hhihi (///_///) "aL-awiyah Halal Food Store" namanya. aamiin... ya Robbal ‘alamiin :’) Ah,
memang banyak sekali pinta dan mimpiku, semoga Engkau berkenan memberiku jalan
untuk mewujudkannya, ya Rabb…
Siang itu, terbersit pikiran "Duh, enak yaa~ tinggal di Kobe… Masjid
dekat… Restoran halal ada... Toko bahan makanan halal lengkap…" tak sengaja muncul lagi rasa kecewa
karena aku tidak diterima di Universitas Kobe. Namun Astaghfirullah… maafkan
aku ya Allahu Ghafuur! Maafkan aku yang sering kufur! Aku harusnya bersyukur
luar biasa sudah bisa dikaruniai kesempatan belajar di negeri ini. Osaka Kyouiku Daigaku,
kampusku saat ini, tentu telah Allah pilihkan yang terbaik, dan aku pasti akan
tahu “alasan” Allah menempatkanku di OKU. Inshaa Allah! Kembali aku menyalakan
pijar optimis. Kesulitan dan “usaha lebih” yang harus ku hadapi untuk beribadah
adalah nikmat yang luar biasa dari-Nya, sekaligus tantangan, dan kesempatan
untuk mendapat poin pahala lebih, inshaa Allah ! Semangat, aL !!!
Ya Allah, aku selalu memohon ridho dan
ampunan-Mu…
Ditulis dalam keharuan, dengan rasa syukur
yang membuncah tak terungkapkan.
Terimakasih, Tuhan…
sumber gambar : dokumentasi pribadi dan eramuslim.com
Minggu, 15 Desember 2013 . 11.45 JST
aL ~ Kamar Asrama, Osaka .



Tidak ada komentar:
Posting Komentar