Kamis, 26 Desember 2013

Sepotong Doa untuk Kakek dan Nenek . *EdisiBongkarFile-FileLama*

Libur musim dingin dimulai ! Aku yang gak punya rencana khusus bolang ke luar kota seperti kebanyakan anak-anak Japanese Studies yang lain, menghabiskan hari pertama libur musim dingin dengan tidur-tiduran di apaato! Sedih sih, sendirian~ Main sama Shiro, bukannya buka folder skripsi malah iseng buka-buka folder lama. *buat yang belum kenal, Shiro itu panggilan sayang utk laptopku :)*
Nah, nemu file-file lamaaa, salah satunya yang dibawah ini .
Tulisan ini dibuat suatu pagi di Indramayu, saat aku sekeluarga mudik lebaran tahun 2012 lalu. Dari data file, diketahui tulisan ini dibuat tanggal 26 Agustus 2012. Saat itu tulisan ini belum selesai, baru diselesaikan malam ini, dengan menghadirkan lagi memori dan perasaan pagi itu, alhasil sempat bikin terisak-isak sendirian di kamar. Kangen rumah... :')

***

Sainah . kupandangi lekat nama yang terukir di batu nisan tua itu, sore hari kemarin. Entah berapa lama, nenek telah terbaring di sana. 10 tahun kah? Lebih kah? Ah, tak dapat kuingat pasti kapan nenek pulang ke sisi Allah. Yang pasti, aku sangat merindukannya. Nenekku tersayang.

Mbok Sainah, begitu suara kecilku dulu memanggilnya. Sosok itu tetap lekat di memoriku, meski raganya tak lagi mampu kujumpai. Samar tergambar figurnya yang penyayang dan senang pergi ke surau. Kain, kebaya, tudung khas yang selalu menjadi penampilannya sehari-hari. Sosok kurus, berhidung mancung, selalu sumringah menyambut kepulangan cucu kecilnya dari Jakarta.

Ah, jika ku dengar kisah-kisah tentangnya dari Kakak, betapa bisa kurasakan kasih sayangnya luar biasa besar. Mbok Sainah yang selalu sabar merawat cucunya yang “berbeda”. Tiap hari setia memanggilkan tukang urut untuk meluruskan tangan bayi premature yang masih bengkok itu. Menyapih dengan segenap kasih. Menadah air dari pancuran tempat wudhu di surau untuk memandikan cucu kecilnya, dan  membacakan sholawat pengantar tidur setiap malam. Pengganti sosok Mama yang ikut mencari nafkah bersama Bapak.

Mbok, andaikan masih bisa kutemui, ingin sekali aku mengucapkan sayang dan terima kasih. Kini aku di sini, di ruangan yang dulu menjadi kamar Mbok, mencoba mengurai rindu melalui tulisan ini. Rumah ini, esok sudah harus kembali kutinggal pergi… Berat rasanya, karena di rumah inilah aku bisa mengenang dan merasa dekat dengan Mbok Sainah. Keseharian Mbok, melewati hari tuanya seorang diri menjaga rumah ini. Mbok pasti dulu kesepian, tapi tetap setia bertahan. Meski di rumah ini, belum ada kamar mandi, membuat Mbok harus berjalan cukup jauh untuk sekedar mandi dan buang air.

Satu dari sekian banyak sifat Mbok yang ku kagumi, adalah semangatnya dalam ibadah. 5 waktu sholat tak absen dikerjakan berjamaah. Dituntun tongkat, kaki ringkihnya menapak satu-satu jalan menuju surau. Semoga Allah menghitung langkah-langkah itu sebagai timbangan pahala terbaik untukmu, Mbok...

Mbok, kini tanganku sudah tak bengkok lagi. Rindu . Ingin ku dengar lagi senandung sholawatmu menina-bobokkanku semasa kecil. Hanya dengan melihat wajah Bapak, aku bisa ingat lagi bagaimana wajah Mbok. Aku berjanji akan membahagiakan Bapak, Mbok… Aku berjanji akan membahagiakan anakmu di hari tuanya… Dan rumah ini, rumah yang selalu kosong sepanjang tahun… tentu juga kesepian dan rindu akan sosokmu. Kalau saja rumah ini bisa menangis, pasti ia sudah menangis sepanjang waktu, Mbok. Lihat ubinnya sudah pecah disana-sini, dindingnya juga retak dimana-mana, berdebu tebal, bersarang laba-laba, belukar merambahi tiap jengkal halamannya. Kusam dan tua. Tak ada yang membersihkannya setiap hari seperti saat Mbok masih disini…

Mbok, ketika kakak bercerita tentangmu, dia juga membagi kisahnya tentang sosok Bapak Tua Kalsum, suamimu… Betapa banyak tauladan yang kakak dapatkan dari sosok Kakek yang juga sama bersahajanya denganmu. Satu hal unik yang ku dengar dari Kakak, hobi Bapak Tua menghitung dzikir dengan batu-batu kerikil tiap malam, sampai membuat batu-batu itu licin dan halus permukaannya. Mashaa Allah. Aku pun kagum dengan sosok Bapak Tua yang katanya sering mengajak Kakak berdiskusi, bercerita banyak hal penuh petuah dan hikmah. Ah, jujur aku iri, Mbok! aku iri tidak bisa mengenal dekat sosok Bapak Tua. Aku masih terlalu kecil saat beliau berpulang, aku tak punya banyak kenangan… Hanya sosok sederhana yang tak banyak bicara, yang bisa kugambarkan tentangnya.


Saat sore kemarin aku dan Bapak mengunjungi pusaramu yang berjajaran dengan pusara Bapak Tua, dalam hening kuamati wajah Bapak yang juga telah semakin menua… Aku sedih, Mbok… seolah bisa kurasakan betapa jauh lebih besar rasa rindu Bapak pada sosok Mbok dan Bapak Tua. Bapak, yang meski kini telah menjadi orangtua, tentu punya banyak kenangan sendiri sebagai anak bersama kalian... Aku sungguh tak bisa membayangkan jika harus berada di posisinya, berdoa di depan makam kedua orangtua… Astaghfirullaah! Semoga aku bisa lekas membahagiakan Bapak dan Mama, Mbok! Begitu juga doaku untukmu dan Bapak Tua, semoga pusara sederhana kalian, senantiasa menjadi taman surga yang membawa kedamaian. Aaamiin ya Robbal ’alamiin…

Beristirahatlah dalam limpahan kasih dan rahmat Allah SWT, Mbok... Bapak Tua…
Ah, aku sungguh sayang kalian ...


 ***

26 Desember 2013, 10.10 PM JST

aL, Kamar Apaato . Osaka .

Tidak ada komentar:

Posting Komentar