Selasa, 26 November 2013

CaPer *Catatan Perasaan* 1

Musim gugur mungkin tinggal menghitung hari. Daun-daun indah berwarna-warni hanya tinggal menunggu angin dingin bertiup menerbangkannya, memaksanya lepas dari dahan dan jatuh berguguran. Melihat ranting-ranting pohon yang telah kehilangan daun itu, entah kenapa membuat perasaan sepi menyeruak, ditambah suhu yang kian menurun…

Bukan cerita seperti biasa, aku hanya ingin membagi perasaan hati lewat tulisan kali ini. Perasaan yang sejak beberapa waktu lalu terus merisaukanku. Semoga dengan menuliskannya, bisa sedikit melegakan...

"Suhu dan cuaca bisa dengan mudah berubah drastis dalam waktu singkat, apakah manusia juga sama?"

Pertanyaan itu memenuhi benakku saat ini. Dua orang yang ku kenal, berubah drastis dalam waktu singkat secara tiba-tiba. Mendinginnya udara berbanding lurus dengan sikap mereka terhadapku. Entah kenapa, aku tidak tahu !

Aku tidak ingin membahas seseorang yang pertama, karena akan banyak tercampur unsur perasaan pribadi. Tentangnya, cerita bisa jadi melebar kemana-mana… Aku ingin berbagi cerita tentang seseorang yang ke dua, temanku satu program sesama mahasiswa asing. Entah kenapa beberapa waktu ini, sikapnya pun sama seperti orang pertama, berubah kepadaku. Aku mulai menyadarinya ketika suatu pagi, saat aku menyapa teman-teman seperti biasanya, dia berpaling, tak menjawab sapaanku. Tidak seperti sikapnya yang biasanya hangat. Ada apa…?

Keanehan terus terjadi sejak saat itu. Mulai dari sama sekali tidak menyapaku, hanya menjawab seadanya ketika ku ajak bicara, tidak mau menungguku, bahkan sampai tidak mau berjalan bersamaku. Benar-benar berbeda ! Padahal sebelumnya kami sering mengobrol. Diantara mahasiswa asing, dia justru teman yang paling ku kagumi karena sifat supel dan baiknya pada siapa saja sejak awal kita kenal.

Kini sudah hampir tiga minggu keadaan ini terus berlanjut. Pagi ini pun, sikapnya masih begitu. Saat dia dan dua temanku yang lain berangkat ke kampus bersama, aku yang kebetulan bertemu di jalan segera bergabung dengan mereka. Dua temanku yang lain biasa saja, tapi begitu ada aku dia langsung agak memisahkan diri dan tidak lagi niat ikut bergabung dalam pembicaraan sebelumnya. Ah, aku jadi merasa nggak enak sendiri~

Memang hanya padaku saja sikapnya berubah begini. Dengan teman yang lain dia masih tetap jadi dirinya yang supel dan hangat seperti yang ku kenal sebelumnya. Agaknya teman-teman yang lain tidak (atau belum) menyadari keanehan sikapnya padaku. Aku sendiri bukannya cuek saja. Tentu takkan ada asap tanpa ada api. Aku terus interospeksi diri sendiri, mungkin tanpa sadar aku berbuat kesalahan atau apa saja yang membuatnya berubah begitu, namun sampai saat ini sama sekali belum kutemukan jawabannya ! Semua sepertinya baik-baik saja sampai hari dimana dia mulai berubah. Ah, benar-benar tanda tanya besar ! Aku bingung…

Sampai saat ini aku tetap mencoba bersikap biasa kepadanya, sama seperti sikapku pada yang lain. Meski tak dapat ku pungkiri ada rasa sakit yang timbul setiap dia mengacuhkanku. Sayangnya, aku juga bukan tipe orang yang bisa dengan mudahnya mengkomunikasikan perasaan kepada orang lain. Jadi ya begini, aku hanya memendam dalam diam segala kebingungan, menelan bulat-bulat setiap tanda tanya yang muncul acap kali dia mengacuhkanku tanpa alasan pasti.

“Yah, namanya juga orang, Ti… ada aja yang tiba-tiba benci tanpa alasan… Sabar ya… Kamu gabung aja dengan teman-teman yang mau menerimamu…” Begitu kata salah seorang sahabat, membesarkan hatiku.

Ini benar-benar ujian. Di tempat baru di mana harus jauh dari keluarga, sahabat, di sekitar hanya orang-orang baru yang belum dikenal, adaptasi terhadap berbagai hal, perbedaan budaya dan cara berpikir, ini menjadi perjuangan yang tak mudah. Di mana pun aku selalu mencoba untuk tidak membenci dan dibenci orang. Di sini pun, aku selalu berupaya untuk dapat “diterima” meski aku “berbeda” dari mereka. Dengan ujian ini, aku jadi tahu rasanya “diabaikan” dan semoga bisa menjadi pembelajaran bagiku untuk tidak mengabaikan orang lain tanpa alasan lagi.

Sedih, sudah tentu. Aku merasa kehilangan dua sosok hangat yang ku kenal sebelumnya. Sambil terus introspeksi diri dan mencari jawaban yang mungkin bisa membawa pemahamanku akan alasan perubahan mereka, aku hanya bisa berdoa…

“Wahai Tuhan yang Maha membolak-balikan hati… Izinkan hati mereka yang berubah dapat kembali seperti dulu, dan semoga keadaan ini dapat segera membaik…”

Semoga Allah SWT segera memberiku jawaban, pemahaman, dan mengembalikan mereka berdua seperti yang ku kenal dulu… aamiin ya Robbal ‘alamiin…



27 November 2013 . 16.25 JST

aL - Kamar Asrama, Osaka .

Tidak ada komentar:

Posting Komentar