Musim gugur mungkin tinggal menghitung hari.
Daun-daun indah berwarna-warni hanya tinggal menunggu angin dingin bertiup menerbangkannya,
memaksanya lepas dari dahan dan jatuh berguguran. Melihat ranting-ranting pohon
yang telah kehilangan daun itu, entah kenapa membuat perasaan sepi menyeruak,
ditambah suhu yang kian menurun…
Bukan cerita seperti biasa, aku hanya ingin
membagi perasaan hati lewat tulisan kali ini. Perasaan yang sejak beberapa
waktu lalu terus merisaukanku. Semoga dengan menuliskannya, bisa sedikit melegakan...
"Suhu dan cuaca bisa dengan mudah berubah drastis
dalam waktu singkat, apakah manusia juga sama?"
Pertanyaan itu memenuhi benakku saat ini. Dua
orang yang ku kenal, berubah drastis dalam waktu singkat secara tiba-tiba. Mendinginnya
udara berbanding lurus dengan sikap mereka terhadapku. Entah kenapa, aku tidak
tahu !
Aku tidak ingin membahas seseorang yang pertama,
karena akan banyak tercampur unsur perasaan pribadi. Tentangnya, cerita bisa
jadi melebar kemana-mana… Aku ingin berbagi cerita tentang seseorang yang ke
dua, temanku satu program sesama mahasiswa asing. Entah kenapa beberapa waktu
ini, sikapnya pun sama seperti orang pertama, berubah kepadaku. Aku mulai
menyadarinya ketika suatu pagi, saat aku menyapa teman-teman seperti biasanya,
dia berpaling, tak menjawab sapaanku. Tidak seperti sikapnya yang biasanya
hangat. Ada apa…?
Keanehan terus terjadi sejak saat itu. Mulai
dari sama sekali tidak menyapaku, hanya menjawab seadanya ketika ku ajak
bicara, tidak mau menungguku, bahkan sampai tidak mau berjalan bersamaku. Benar-benar
berbeda ! Padahal sebelumnya kami sering mengobrol. Diantara mahasiswa asing,
dia justru teman yang paling ku kagumi karena sifat supel dan baiknya pada
siapa saja sejak awal kita kenal.
Kini sudah hampir tiga minggu keadaan ini
terus berlanjut. Pagi ini pun, sikapnya masih begitu. Saat dia dan dua temanku
yang lain berangkat ke kampus bersama, aku yang kebetulan bertemu di jalan segera
bergabung dengan mereka. Dua temanku yang lain biasa saja, tapi begitu ada aku dia
langsung agak memisahkan diri dan tidak lagi niat ikut bergabung dalam
pembicaraan sebelumnya. Ah, aku jadi merasa nggak enak sendiri~
Memang hanya padaku saja sikapnya berubah
begini. Dengan teman yang lain dia masih tetap jadi dirinya yang supel dan
hangat seperti yang ku kenal sebelumnya. Agaknya teman-teman yang lain tidak
(atau belum) menyadari keanehan sikapnya padaku. Aku sendiri bukannya cuek
saja. Tentu takkan ada asap tanpa ada api. Aku terus interospeksi diri sendiri,
mungkin tanpa sadar aku berbuat kesalahan atau apa saja yang membuatnya berubah
begitu, namun sampai saat ini sama sekali belum kutemukan jawabannya ! Semua sepertinya
baik-baik saja sampai hari dimana dia mulai berubah. Ah, benar-benar tanda tanya
besar ! Aku bingung…
Sampai saat ini aku tetap mencoba bersikap
biasa kepadanya, sama seperti sikapku pada yang lain. Meski tak dapat ku pungkiri
ada rasa sakit yang timbul setiap dia mengacuhkanku. Sayangnya, aku juga bukan
tipe orang yang bisa dengan mudahnya mengkomunikasikan perasaan kepada orang
lain. Jadi ya begini, aku hanya memendam dalam diam segala kebingungan, menelan
bulat-bulat setiap tanda tanya yang muncul acap kali dia mengacuhkanku tanpa
alasan pasti.
“Yah, namanya juga orang, Ti… ada aja yang
tiba-tiba benci tanpa alasan… Sabar ya… Kamu gabung aja dengan teman-teman yang
mau menerimamu…” Begitu kata salah seorang sahabat, membesarkan hatiku.
Ini benar-benar ujian. Di tempat baru di mana
harus jauh dari keluarga, sahabat, di sekitar hanya orang-orang baru yang belum
dikenal, adaptasi terhadap berbagai hal, perbedaan budaya dan cara berpikir,
ini menjadi perjuangan yang tak mudah. Di mana pun aku selalu mencoba untuk
tidak membenci dan dibenci orang. Di sini pun, aku selalu berupaya untuk dapat “diterima”
meski aku “berbeda” dari mereka. Dengan ujian ini, aku jadi tahu rasanya “diabaikan”
dan semoga bisa menjadi pembelajaran bagiku untuk tidak mengabaikan orang lain
tanpa alasan lagi.
Sedih, sudah tentu. Aku merasa kehilangan
dua sosok hangat yang ku kenal sebelumnya. Sambil terus introspeksi diri dan mencari
jawaban yang mungkin bisa membawa pemahamanku akan alasan perubahan mereka, aku
hanya bisa berdoa…
“Wahai Tuhan yang Maha membolak-balikan
hati… Izinkan hati mereka yang berubah dapat kembali seperti dulu, dan semoga keadaan
ini dapat segera membaik…”
Semoga Allah SWT segera memberiku jawaban,
pemahaman, dan mengembalikan mereka berdua seperti yang ku kenal dulu… aamiin ya
Robbal ‘alamiin…
27 November 2013 . 16.25 JST
aL - Kamar Asrama, Osaka .
27 November 2013 . 16.25 JST
aL - Kamar Asrama, Osaka .

Tidak ada komentar:
Posting Komentar