Nakata Narumi
namanya. Teman baruku orang Jepang ini mulai tertarik mempelajari islam setelah
melihat penampilan muslimah yang tertutup dalam sebuah film yang pernah
ditontonnya. Setelah itu, dia mulai ada minat dengan hal-hal yang berkaitan
dengan negara timur tengah seperti Arab dan Dubai. Unik memang.
Pertama kali
berkenalan dengannya saat acara gathering muslim-muslimah se Kansai di Arashiyama,
dan beberapa hari lalu kami bisa bertemu lagi. Senang sekali ! Aku main ke
Apartemennya di daerah Kyobashi, Osaka. Sebuah kunjungan yang tak direncanakan,
karena kebetulan sedang ada outing class di museum dekat Osaka Castle,
pulangnya jadi sekalian mampir ke tempat Narumi.
Semula berawal
dari sehari sebelumnya, Narumi tiba-tiba mengontakku bertanya dimana dia bisa
membeli penutup kepala yang biasa kugunakan? Aku bilang kalau di Jepang masih
langka sekali toko yang menjual keperluan muslimah, aku membawa semua hijab
dari Jakarta.
“Pakai hijab itu
kawaaiii… aku mau coba. Apalagi yang model ada topinya, bisa langsung mudah
dipakai kan…” katanya.
“Iya, tapi masih
jarang banget yang jual disini… Kalau di Jakarta yang begitu dimana-mana ada.
Tapi kalau kamu mau, kain syal juga bisa kok dipakai jadi hijab, nanti kalau
ketemuan, aku ajari cara pakainya ya…” balasku. Sedih juga, menyadari masih
jarang sekali toko yang menjual keperluan muslim-muslimah di Jepang ini. Dalam
hati lirih membisikkan doa, “Ya Allah… Semoga aku bisa membuka toko produk
halal dan baju muslim-muslimah di sini suatu hari nanti… aamiiin…” satu dari
sekian banyak mimpiku. Semoga malaikat ikut mengamininya juga. Aamiin
ya Allahu Rabb… (Hei kamu yang baca, minta “aamiiin”-nya juga yaa…) ^_^
Dan esok paginya saat
di perjalanan menuju kampus, Narumi mengontakku lagi. Dia bilang akhirnya dia
menemukan toko yang menjual hijab di internet dan sudah memesannya. Yokatta !
Kontak berlanjut via chat di LINE.
“Tapi aku masih
mau dong diajarin cara pakai hijab. Hari ini atau besok kalau kamu ada waktu,
ayo kita ketemuan…”
“Wah, hari ini
sebenarnya aku ada outing class sih, setelah itu mungkin kita bisa ketemu. Tapi
aku nggak bawa hijab buat kamu belajar, Narumi”
“Aku ada syal,
bisa pakai itu. Selain itu aku juga bikin Nasi Goreng loh ! Kalau kamu mau,
nanti aku buatkan!”
Dan begitulah.
Rencana dadakan kita akhirnya membawaku bertemu lagi dengan Narumi di Kyobashi
Eki. Dia menjemputku di stasiun itu. Dalam perjalanan menuju apatonya, kami
sempat mampir ke Hyaku-en Shop untuk membeli peniti
dan jarum pentul (ternyata ada loh ! Hhaha) Sampai di apato, aku izin
melaksanakan sholat maghrib dulu. Karena dia tinggal di apato yang single room,
otomatis dia ada di satu ruangan di mana aku sholat. Sambil mengerjakan hal
lain, mungkin dia memperhatikan cara sholatku juga. Jadi malu ! *ehh
Selesai sholat,
dia menyuguhiku nasi goreng buatannya ! Dia serius ternyata ! Benar-benar sengaja dibuatkan untukku ! Wah senang sekali~ Nasi goreng adalah makanan favorit yang paling aku kangen
semenjak tinggal di Osaka ! >_<
Itadakimaaaa~~~~su
!
Ups ! Gawaaat !!!
Ternyata nasi goreng buatan Narumi ada dagingnya !
Ya Allah, gimana
ini ??!! *Panic at the Apato* halah !
“Waduh, Narumi…
ini ada dagingnya ya?” tanyaku ragu.
“Iya, ini daging
ayam kok ! Bukan butaniku. Tenang sajaa…”
“Nggh… Maaf ya
Narumi, aku nggak makan daging…” lanjutku lagi.
“Hee?? Tapi waktu
di Arashiyama, bento-nya daging ayam, kamu makan kan…?” tanyanya kebingungan.
“Ah, kalau itu daging Halal,
Narumi… kamu pernah dengar label ‘Halal’? Jadi beli dagingnya khusus… kalau
daging ini kamu beli di tempat biasa kan yaa?” kataku lagi, mencoba sehati-hati
mungkin supaya tidak menyakiti hatinya.
“Oh, iya iya.. Halal yaa? Ya,
aku pernah dengar sih… Tapi karena gak tahu, maaf yaa,,, Gimana dong ya? Kalau
dipisah saja daging ayamnya nggak perlu dimakan gimana?” katanya lagi memberi
usulan.
Ya Allah, biarpun dipisahkan dagingnya, tapi
masakan ini kan sudah tercampur… Tapi… Kalau aku menolak makan, jelas-jelas
sudah susah payah dibuatkan, Narumi pasti kecewa… Astaghfirullah... teringat sebuah
kisah saat Rasulullah SAW diberi tiga buah limau oleh seorang kafir, akhirnya
aku memutuskan untuk tetap memakan nasi goreng itu, setelah memisahkan daging
ayamnya.
“Hmm… ya sudah Narumi, ayamnya
buat kamu saja ya… ini banyak sekali soalnya, sayang kan kalau nggak dimakan…
maaf ya Narumi…” kataku merasa bersalah. Merasa bersalah pada Narumi, terlebih
lagi pada Allah ! Maaf ya Allah… Aku makan makanan ini… Meskipun dilihat dari sisi manapun,
kondisiku tentu berbeda dengan situasi Rasulullah SAW saat menerima buah limau
dari seorang kafir itu, tapi esensinya aku hanya tidak ingin menyakiti hati
Narumi yang sudah wazawaza membuatkanku nasi goreng, aku nggak mau Narumi jadi
berpikiran buruk tentang muslim yang tidak menghargai pemberian oranglain… Maaf
ya Allah… Maaf… Maaf sekali ya…
Meskipun makan
dengan rasa bersalah, tapi aku akui memang enak sekali nasi goreng buatan
Narumi. Dia yang hobi masak bilang kalau dia belajar otodidak masak masakan
Indonesia dari resep di internet. Sugoi jyan ?!
“Memang kenapa sih
daging itu ada yang halal dan tidak?” tanyanya ketika kita sedang makan. Duh,
bisakah aku menjelaskannya?
“Hmm… cara memotongnya
beda Narumi, jadi dalam Islam… sebelum memotong hewan harus menyebut nama Tuhan
dulu. Hewan kan juga hidup ya, jadi kita nggak boleh sembarangan membunuhnya
begitu aja, harus dengan menyebut nama Allah, meminta izin dari Tuhan dulu,
baru boleh membunuh binatang dan dagingnya boleh dimakan…” begitulah kira-kira
penjelasanku dengan bahasa Jepang yang belepotan.
“Oh, begitu yaa…”
katanya, mengangguk mengerti. Ya Allah, semoga dia benar bisa menerima
penjelasanku yang ala kadarnya itu.
Kami ngobrol
banyak hal, tentang Islam, juga tentang yang lainnya. Dia mengeluarkan Al Quran
dengan terjemah versi bahasa Jepang yang tempo hari ku lihat dibacanya di
Arashiyama.
“Tuti, aku pusing
baca ini… Susah sekali, aku nggak ngerti…” keluhnya sambil membuka lembaran
kitab suci bersampul merah itu. Dia membuka bagian surat Al Baqarah.
Waduh… Al Quran
bahasa Jepang ini sudah dibuat seperti buku biasa, dari kiri-ke kanan, tidak
seperti Al Quran biasa yang terbalik, dari kanan ke kiri. Jadi tidak seperti
kebanyakan “calon muallaf” lain, (aamiiin) Narumi langsung baca terjemah Al
Quran dari surah Al-Fatihaah dan Al Baqarah. Dan karena Al Quran terjemah
bahasa Jepang banyak kanji, aku juga nggak bisa bacanya… Jangankan aku,
ternyata Narumi pun banyak tidak tahu kanji yang tertulis di dalamnya karena
kata-kata yang ada mungkin tidak umum baginya.
“Hmm… Karena baru
awal pasti susah Narumi, kamu kalau mau baca ini dari belakang saja dulu ya,
yang bagiannya pendek-pendek…” aku membukakan untuknya bagian Juz 30. Mulai
dari surat An Naas ke atas. Selain itu, ada beberapa buku tentang Islam berbahasa Jepang yang di dapat Narumi dari Masjid Jami Tokyo, aku menyarankannya untuk baca itu dulu.
“Al Quran ini
kata-kata dari Allah, bukan buatan manusia… Disampaikan kepada Nabi Muhammad.
Jadi bahasanya indah, tidak sama dengan bahasa arab yang digunakan
sehari-hari…” tambahku lagi.
“Hoo… Allah dan
Muhammad itu beda yaa?” pertanyaan Narumi berikutnya ini membuatku kaget.
“Beda Narumi…
Allah itu Tuhan, Islam kan agama satu tuhan ya? Kalau kepercayaan Jepang kan
ada banyak Dewa di dunia, ada Dewa Laut, Dewa Hutan, tapi kalau di Islam
Tuhannya cuma satu... Only One ! Nah… Nabi Muhammad adalah orang yang dipilih
Allah untuk mengajarkan ajaran agamaNya…” kataku, dengan terbata-bata
menjelaskannya dalam bahasa Jepang.
“Oh… jadi Allah
itu Tuhan, Only One. Sedangkan Muhammad itu manusia yang dipilih untuk
menyampaikan Islam kepada orang-orang yaa?”
“Iya, dan Nabi
Muhammad ini dipilih karena dia adalah manusia terbaik di dunia, jadi umat
Islam harus selalu menghormatinya…” tambahku lagi.
Nasi goreng di
piring kami sudah habis seiring banyak perbincangan kesana-kemari. “Yosh Narumi
! ayo kita mulai belajar pakai hijab !” seruku semangat. Narumi pun dengan
semangatnya mengeluarkan syal pink, yang senada dengan warna bajunya saat itu.
Hanya dalam
beberapa menit, wajah oriental Narumi terbingkai dengan hijab. “Kawaiii~~!”
seruku melihatnya penampilan barunya. Narumi segera mengambil cermin dan
melihat pantulan dirinya, kemudian tertawa.
“Hahahha wajahku
jadi kelihatan lebih mungil, ya… seperti bukan aku! Cocok nggak nih?” katanya
sumringah. Agaknya dia menyukai hasil kerjaku.
“Cocok ! Cantik,
Narumi. Bener deh !” kataku tulus. Dia terus mematut diri di cermin dengan
wajah sumringahnya.
“Nggak aneh? Wajah
Jepang sepertiku ini pake hijab?” tanyanya lagi
“Hahaha nggak aneh
kok… aku rasa ya, semua wanita dari negara apapun cocok loh kalo pake hijab.”
jawabku. Dan memang benar, ku rasa semua wanita di dunia ini memang terlihat
lebih cantik dan anggun dengan hijab.
“Ayo Narumi, di
foto !” kataku lagi, disambutnya semangat dengan menyerahkan I-phonenya padaku,
“Oke, fotoin ya !” Dia langsung berpose di depan kamera. Kami juga sempat foto
bersama.
Udara malam kian
dingin seiring obrolan kita yang kesana-kemari. Narumi yang juga bilang suka
Indonesia membuatkanku wedang jahe. Minuman yang menghangatkan hati, sejenak
membawa rasa kangenku pada Mama di Jakarta. Wedang jahe minuman favorit Mama…
Pukul 08.30 PM. Aku
pamit pada Narumi. Saat mengantarku pulang sampai ke stasiun, dia melepas
hijabnya. Belum pede, katanya. Aku mengerti sekali. masih butuh banyak waktu
dan proses panjang untuk Narumi mengenal Allah SWT. Aku berharap Allah mengizinkanku
bersamanya mengayun langkah belajar Islam lebih jauh, meniti jalan menuju hidayah-Nya...
Hidayah, semua hak
prerogratif Allah SWT semata. Allah saja yang memiliki kuasa mengetuk pintu
hati manusia, menentukan siapa yang Dia izinkan menerima hadiah terindah itu. Ya
Allah, entah bagaimana nantinya, saat ini Engkau tentu lebih tahu tentang Narumi. Aku hanya mampu berdoa, semoga kelak Engkau izinkan dia segera menerima cahaya Islam dalam hidupnya. Aamiin
ya Robbal ‘alamiiin…
‘…Maka
Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki, dan memberi Petunjuk kepada siapa
yang Dia kehendaki. Dan Dia-lah Tuhan Yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana’ (QS.
Ibrahim: 4)
Ya Robbanaa, berilah kami petunjuk-Mu selalu, istiqomahkan kami untuk
terus berjalan di jalan-Mu selalu, sesungguhnya sebaik-baik pemberian-Mu kepada
kami adalah Hidayah…
*Kawaii : Manis, imut
Yokatta : Syukurlah !
Hyaku-en Shop : Toko serba seratus yen
Butaniku : daging babi
wazawaza : sengaja bersusah payah
Sugoi jyan?! : Hebat kan yah?!
Yokatta : Syukurlah !
Hyaku-en Shop : Toko serba seratus yen
Butaniku : daging babi
wazawaza : sengaja bersusah payah
Sugoi jyan?! : Hebat kan yah?!
Jumat, 22 November 2013 - 10.20 PM JST
aL - Kamar Asrama . Osaka

Manis sekali ceritanya, Tuti... Nanka kandoo shita :')
BalasHapusAh, rasanya agak ngiri deh liat Tuti keliatannya makin deket sama Islam di sana.
Tetep semangat yaaa :D