Senin, 11 November 2013

KERETA

Naik kereta api~ Tuuut … Tuuut … Tuuuuuuuut… siiiapaaa hendak turuuuut…?
Eh, malah nyanyi . hhihi ;p

Kereta. Sewaktu tinggal di Jakarta, aku juga gak begitu familiar sih dengan transportasi massal yang satu ini. Jarang banget naik kereta. Bahkan setahun sekali aja belum tentu. Biasa, transportasi andalan sehari-hari kan Transjakarta. Hampir semua koridor busway yang ada pernah dicobain semua, sampai hafal sebagian besar jalur-jalurnya. Wajar kalau dulu sering dapat predikat sebagai “Anak Busway”.

Tapi sejak kedatanganku ke Jepang 4 bulan lalu, sekarang malah jadi akrab banget sama kereta. Maklum, transportasi utama di Jepang kan kereta dan subway (kereta bawah tanah), jadi kemana-mana kebanyakan pakai kereta. Saat ini pun, pulang pergi kuliah selalu dengan transportasi umum yang panjang mengular ini.

Eh, tapi dalam posting kali ini, aku bukan ingin membahas tentang kereta di Jepang. Beberapa waktu lalu, saat sedang menunggu kereta di stasiun tiba-tiba teringat sebuah sajak puisi yang berjudul Kereta. Sajak karya Sitok Srengenge ini memang sudah lama jadi salah satu puisi favoritku. Soalnya syairnya bagus plus “ngena” banget.

Dan saat ini, kayaknya suasana hatiku sedang terwakili sekali dengan isi sajak ini. Aku tuliskan disini ya sajaknya… Buat yang suka puisi, enjoy this one !
*Beberapa bagian sengaja di-Bold mark, soalnya Makjleb banget!* >_<

KERETA .
By : Sitok Srengenge .


1

Sendiri di Stasiun Tugu,
entah siapa yang ia tunggu
Orang-orang datang dan lalu,
ia cuma termangu

Sepasang orang muda berpelukan
(sebelum pisah) seolah memeluk harapan
Ia mendesis,
serasa mengecap dusta yang manis

Kapankah benih kenangan pertama kali tumbuh,
kenapa ingatan begitu rapuh?
Cinta mungkin sempurna,
tapi asmara sering merana

Ia tatap rel menjauh dan lenyap di dalam gelap
Di mana ujung perjalanan, kapan akhir penantian?
Lengking peluit, roda- roda besi berderit,
tepat ketika jauh di hulu hatinya terasa sisa sakit

2

Andai akulah gerbong kosong itu,
akan kubawa kau dalam seluruh perjalananku
Di antara orang berlalang-lalu,
ada masinis dan para portir
Di antara kenanganku denganmu,
ada yang berpangkal manis berujung getir

Cahaya biru berkelebat dalam gelap,
kunang-kunang di gerumbul malam
Serupa harapanku padamu yang lindap,
tinggal kenang timbul-tenggelam


Dua garis rel itu, seperti kau dan aku
hanya bersama tapi tak bertemu
Bagai balok-balok bantalan tangan kita bertautan,
terlalu berat menahan beban

Di persimpangan kau akan bertemu garis lain,
begitu pula aku
Kau akan jadi kemarin,
Ku kenang sebagai pengantar esokku

Mungkin kita hanya penumpang,
duduk berdampingan tapi tak berbincang,
dalam gerbong yang beringsut
ke perhentian berikut


Mungkin kau akan tertidur dan bermimpi tentang bukan aku,
sedang aku terus melantur mencari mata air rindu
Tidak, aku tahu, tak ada kereta menjelang mata air
Mungkin kau petualang yang (semoga tak) menganggapku tempat parkir
Kita berjalan dalam kereta berjalan
Kereta melaju dalam waktu melaju
Kau-aku tak saling tuju
Kau-aku selisipan dalam rindu

Jadilah masinis bagi kereta waktumu,
menembus padang lembah gulita
Tak perlu tangis jika kita sua suatu waktu,
sebab segalanya sudah beda.
Aku tak tahu kapan keretaku akan letih,
tapi aku tahu, dalam buku harianku kau tak lebih dari sebaris kalimat sedih .


11 November 2013 . 08.39 PM
aL - Kamar Asrama .  Osaka .

nb : ilustrasi gambar adalah foto jepretan sendiri yang dimodifikasi dengan aplikasi SketchGuru :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar