Naik kereta api~ Tuuut … Tuuut … Tuuuuuuuut…
siiiapaaa hendak turuuuut…?
Eh, malah nyanyi . hhihi ;p
Kereta. Sewaktu tinggal di Jakarta, aku
juga gak begitu familiar sih dengan transportasi massal yang satu ini. Jarang
banget naik kereta. Bahkan setahun sekali aja belum tentu. Biasa, transportasi
andalan sehari-hari kan Transjakarta. Hampir semua koridor busway yang ada pernah
dicobain semua, sampai hafal sebagian besar jalur-jalurnya. Wajar kalau dulu
sering dapat predikat sebagai “Anak Busway”.
Tapi sejak kedatanganku ke Jepang 4 bulan
lalu, sekarang malah jadi akrab banget sama kereta. Maklum, transportasi utama
di Jepang kan kereta dan subway (kereta bawah tanah), jadi kemana-mana
kebanyakan pakai kereta. Saat ini pun, pulang pergi kuliah selalu dengan transportasi
umum yang panjang mengular ini.
Eh, tapi dalam posting kali ini, aku bukan
ingin membahas tentang kereta di Jepang. Beberapa waktu lalu, saat sedang
menunggu kereta di stasiun tiba-tiba teringat sebuah sajak puisi yang berjudul Kereta.
Sajak karya Sitok Srengenge ini memang sudah lama jadi salah satu puisi
favoritku. Soalnya syairnya bagus plus “ngena” banget.
Dan saat ini, kayaknya suasana hatiku sedang
terwakili sekali dengan isi sajak ini. Aku tuliskan disini ya sajaknya… Buat
yang suka puisi, enjoy this one !
*Beberapa bagian sengaja di-Bold mark,
soalnya Makjleb banget!* >_<
KERETA .
By : Sitok Srengenge .
1
entah siapa
yang ia tunggu
Orang-orang
datang dan lalu,
ia cuma
termangu
Sepasang orang
muda berpelukan
(sebelum pisah)
seolah memeluk harapan
Ia mendesis,
serasa mengecap
dusta yang manis
Kapankah benih
kenangan pertama kali tumbuh,
kenapa ingatan
begitu rapuh?
Cinta mungkin
sempurna,
tapi asmara
sering merana
Ia tatap rel
menjauh dan lenyap di dalam gelap
Di mana ujung perjalanan,
kapan akhir penantian?
Lengking
peluit, roda- roda besi berderit,
tepat ketika
jauh di hulu hatinya terasa sisa sakit
2
Andai akulah gerbong kosong itu,
akan kubawa kau
dalam seluruh perjalananku
Di antara orang
berlalang-lalu,
ada masinis dan
para portir
Di antara
kenanganku denganmu,
ada yang
berpangkal manis berujung getir
Cahaya biru
berkelebat dalam gelap,
kunang-kunang
di gerumbul malam
Serupa
harapanku padamu yang lindap,
Dua garis rel itu, seperti kau dan aku
hanya bersama tapi tak bertemu
Bagai
balok-balok bantalan tangan kita bertautan,
terlalu berat
menahan beban
Di persimpangan
kau akan bertemu garis lain,
begitu pula aku
Kau akan jadi kemarin,
Ku kenang sebagai pengantar esokku
Mungkin kita hanya penumpang,
duduk berdampingan tapi tak berbincang,
dalam gerbong yang beringsut
ke perhentian berikut
Mungkin kau akan tertidur dan bermimpi tentang bukan aku,
sedang aku terus melantur mencari mata air rindu
Tidak, aku tahu, tak ada kereta menjelang mata air
Mungkin kau petualang yang (semoga tak) menganggapku
tempat parkir
Kita berjalan dalam kereta berjalan
Kereta melaju dalam waktu melaju
Kau-aku tak saling tuju
Jadilah masinis
bagi kereta waktumu,
menembus padang
lembah gulita
Tak perlu tangis
jika kita sua suatu waktu,
sebab segalanya
sudah beda.
Aku tak tahu kapan keretaku akan letih,
tapi aku tahu, dalam buku harianku kau tak lebih dari
sebaris kalimat sedih .
11 November 2013 . 08.39 PM
aL - Kamar Asrama . Osaka .
nb : ilustrasi gambar adalah foto jepretan sendiri yang dimodifikasi dengan aplikasi SketchGuru :)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar