Jumat, 25 April 2014

A-chan dan "Mbak"nya dari Indonesia .

Musim semi ini OKU kedatangan banyak mahasiswa asing baru. Salah satunya adalah A.chan, cewek super cute dari H. Salah satu negara di Asia bekas jajahan Inggris.

Saat pesta penyambutan mahasiswa baru, kita gak sempat berkenalan langsung. Tapi setelah beberapa kali masuk kelas bareng, selesai kuliah aku menghampirinya, mengajak kenalan. A.chan lebih nyaman berbahasa inggris daripada bahasa jepang.

"Kamu dari mana?" tanyanya.
"Indonesia"
"Oh, aku tahu beberapa kata bahasa Indonesia !" responnya antusias.
"Wah, apa??" aku penasaran.
"Minye~" jawabnya sambil nyengir.
"Hah?" coba ulang??" aku ikut nyengir, mendengar suara imutnya menyebut satu kata yang asing di telingaku.
"Minyet? hahaha" Dia mengulang, menambahkan gerakan garuk-garuk kepala, dan menyebutkan bahasa inggris dari nama binatang yang dimaksud.

Aku tertawa. Oh, itu rupanya? Aku pun meluruskan pengucapannya. Penasaran. Dari mana dia tahu kata itu? Mungkinkah A.chan pernah ke Indonesia?

"Waktu aku kecil, aku pernah diasuh oleh orang dari Indonesia. Aku diajari kata itu. Dia bahkan sering memanggilku begitu. Hahaha" A.chan mengakhiri jawabannya dengan tawa lebar. Jawaban yang cukup mengagetkanku. Tapi demi melihat tawa manisnya, aku juga jadi ikut tertawa.

Astaga, sering dipanggil monyet?

Di hari berikutnya, saat ku sapa, A.chan kembali bercerita.

"Aku ingat lagi kata bahasa Indonesia. Tapi mungkin kurang baik ya?"
"Apa? Apa??" Mataku membulat. Apa lagi kali ini?
"Simpa! Simpa!! Sejenis pakaian dalam kan?! Dan, babi. Hehehehe" katanya, kali ini sambil melebarkan lubang hidung ke atas dengan jari telunjuknya.

Aku tertawa melihat ekspresinya yang lucu. Tapi jujur, dalam hati miris.

Ada apa?? Anak kecil akan mudah ingat, apalagi kalau sering diulang-ulang. Tapi kenapa anak semanis A.chan ini justru diajarkan kata-kata bahasa Indonesianya yang begitu? Hffff...

Sudahlah. Daripada jadi suudzon dengan mantan "Mbak"nya itu, besok-besok, kalau A.chan menyebut kata bahasa Indonesia yang 'ajaib' lagi, aku akan bilang,

"A.chan, kita belajar bahasa Indonesia lagi yuk~!"


25 April 2014 , 11.00 PM JST


aL - Kamar Asrama, Osaka .


Selasa, 01 April 2014

Hijab dan Berbagai Kisah Di Baliknya #2

Berkisah soal hijab, bukan cuma hal-hal yang bikin risih saja sih, kadang juga penampilan berbeda ini membawa hal lain yang malah tak terduga. Yang paling gak akan ku lupakan adalah kejadian di suatu hari di kantor, saat aku berpapasan dengan Mas Hide, seorang staf kantor yang sudah mencuri perhatianku sejak hari pertama magang karena “Otsukaresama desu”-nya selalu berulas senyum maut. Pagi itu, dia bilang padaku,

Kore, niattemasune~” sambil mengisyaratkan tangan di kepala, menunjuk hijab putih yang kukenakan hari itu. Dan tentu saja, senyum mautnya gak ketinggalan!

ah, a, arigatou gozaimasu!” responku gagap, syok pagi-pagi dapat pujian darinya. Kalau di film kartun, mungkin dari kepalaku langsung tumbuh setunas bunga dan mengembang indah saat itu juga. Kejadian pagi itu menerbitkan senyum yang tak surut di wajahku sampai jam pulang kerja sore harinya. Hhihi

Kejadian tak terduga lainnya terjadi saat aku dan kawan-kawan sesama internship berencana nonton Hanabi Matsuri di tepi sungai Sumidagawa. Musim panas di Jepang memang identik dengan pesta kembang api. Orang-orang dari segenap penjuru berbondong-bondong datang menikmati pesta tahunan itu. Aku dan beberapa kawan yang sudah siap dengan yukata lengkap dengan geta-nya, sore itu menunggu Liu yang belum juga muncul di stasiun Akihabara. Tempat menunggu yang tak jauh dari pintu keluar membuat para gaijin ber-yukata mencolok mata seperti kami menjadi perhatian banyak orang. Untung saja mood-ku sedang bagus saat itu. Antara antusias dengan pesta kembang api dan yukata baru yang pertama kali kukenakan. Maka tatapan banyak mata pun tak mengusikku. Aku cuek saja setiap ada yang kelihatannya aneh menatap kombinasi hijabku dengan yukata gelap bermotif bunga ungu berhias benang keemasan.

Tak berapa lama, seorang mahasiswa bule bermuka Eropa yang akan keluar stasiun, mendekat kearahku, dan sambil berkata “That’s so Good!” tangannya mengacungkan jempol, tersenyum di depanku. Aku mendongak dan refleks menjawab “Thank you”, lalu membalas senyumnya dengan aneh. Kaget. Setelah si bule pergi, Milana dan Valerie dua teman yang sedari tadi berdiri disampingku rusuh, “ciyeee ditembak begituu!” Apaan sih? Ejekan mereka malah justru bikin aku salah tingkah. Hahaha. Ada-ada saja.

Tiga minggu sebelum kepulanganku ke tanah air, aku diajak makan siang bersama manajerku, Kimura Satoyo-san, atau aku biasa memanggilnya ketua grup Kimura. Walaupun di kantor aku tak banyak bicara dengannya, tapi dia sudah seperti kakak perempuanku sendiri. Aku bahkan diam-diam menjulukinya Bos Malaikat, karena ketika aku tumbang keracunan makanan, dia berbaik hati mengurusku. Saat jam makan siang itu, aku kembali banyak mengobrol dengannya, dan ada sepotong pembicaraan yang juga menyangkut soal hijab.

“Kalau di tempat-tempat umum, aku sering merasa diperhatikan oleh orang-orang sekitar. Mungkin mereka melihatku aneh ya…? Kadang jadi gak enak sendiri”

Ketua grup Kimura tertawa ringan mendengar aduanku. “Kalau ada yang begitu lagi, kamu senyumin aja, bilang ‘konnichiwa’ atau lambaikan tangan, gitu… hahaha” selorohnya.

Tapi candanya itu membuatku serius berpikir.

Benar juga… Kenapa aku harus selalu merasa risih cuma karena mereka melihatku berbeda? Kenapa harus tidak nyaman jadi perhatian? Dan tersenyum... Aku alpa soal itu. Kenapa aku jadi pelit senyum ya? Kenapa harus selalu disenyumin dulu baru mau balas tersenyum? Kenapa tidak mulai lebih dulu? Dengan senyum, mungkin pandangan aneh mereka, atau malah (jika ada) stigma tidak benar yang mereka lekatkan pada umat islam bisa berubah…?

Setelah hari itu, aku benar-benar berupaya untuk mengamalkan saran Ketua grup Kimura. Saat aku kembali ke Osaka sebulan setelahnya, aku sudah tidak peduli soal pandangan-pandangan aneh lagi. Be different? Why not? Just smile! Show that mosleem's heart is full of kindness!

Dan jurus senyum itu benar-benar menunjukkan tuahnya.

Hari kedua di Osaka, aku dan teman-teman mengurus dokumen-dokumen lapor diri di kantor walikota Yao, Osaka. Disana seperti biasa, ada beberapa orang sejenak memperhatikanku, sebelum kembali ke urusannya masing-masing. Seorang nenek yang duduk di sampingku bahkan beberapa kali melirik diam-diam ke arahku. Aku senyum dan sedikit mengangguk hormat padanya. “Konnichiwa” sapaku. Mata nenek itupun membesar, mungkin agak kaget dengan reaksiku. Dia membalas sapaanku dan tersenyum balik sambil berkata, “Itu yang kamu pakai di kepala, modis ya!”

Aku tertawa. Benar kan, dari tadi nenek itu penasaran dengan hijabku. Berawal dari situ kita jadi mengobrol, Nenek itu bertanya dan bercerita banyak hal dengan dialek Osaka yang kental. Setengah mati aku mencoba menangkap maksudnya. Maklum, telingaku belum biasa dengan Osaka-ben saat itu. Maka berawal dari hijab dan senyum, hari kedua aku sudah kenalan dengan seorang nenek baik hati. Sebelum pulang dia memberiku alamat, “Main ya kalau ada waktu, rumah Nenek dekat sini. Dan ini buat jajan juga. Semangat belajarnya ya!” katanya sambil menyodorkan secarik kertas alamat plus selembar uang seribu yen. Awalnya aku berusaha menolak, tapi si Nenek terus memaksa. Ya sudah, mungkin rizki karena hijab? Alhamdulillaah… hehehe

Hijab pun menunjukkan perannya lagi sebagai identitas (plus menjadi rizki) buatku, saat aku tersesat mencari jalan menuju Masjid Central Osaka. Pagi itu hari raya Iedul Adha, sudah setengah jam aku berputar-putar kesasar sendirian ditengah gerimis, bertanya lokasi masjid pada banyak orang Jepang, tapi tidak ada yang tahu. Sementara waktu sholat Ied sudah akan dimulai. Aku mulai cemas. Sambil terus melantunkan takbiran sendiri dalam hati, aku berdoa semoga Allah memberiku petunjuk untuk bisa sampai ke Masjid.

Aku celingukan bingung, dan panik. Ibu muda Jepang yang baru saja ku tanya pergi setelah minta maaf karena dia tidak tahu tempat yang ku maksud. Tapi tak berapa lama sebuah mobil hitam berhenti di depanku. Di dalamnya ada tiga orang laki-laki berwajah Pakistan, mengenakan songkok dan baju putih-putih. Salah seorang dari mereka menyapaku.

Assalamualaikum, Come in sister, we will also go to the Mosque!”

Allahuakbaar! Pertolongan Allah. Aku dikenal karena hijabku. ^_^

Jadi terkenal karena hijab? Agak lebay sih, tapi mungkin bisa jadi. Buktinya penampakan berbeda ini bahkan membuatku sampai diminta jadi model cover buletin kampus, bersama dua orang mahasiswa asing lainnya. Mungkin dengan menampilkan sosok berhijab satu-satunya di kampus ini, memperlihatkan bahwa OKU memiliki mahasiswa asing dari beragam bangsa dan negara. Maka setelah 20 tahun lebih tinggal di Jakarta, baru di Osaka ini aku tahu rasanya ikut sesi pemotretan, dan janggalnya lihat muka sendiri terpampang di banyak tempat sekitaran kampus. Hahaha
 
Tenyuu, Buletin OKU
Akihiro, cowok Jepang teman sekelasku pernah bertanya, “Cewek islam selalu pakai ini ya? Kalau di depan pacarnya juga?”

“Iyaa! Kecuali kalau sudah menikah dan jadi suami” kataku.

“Terus ada gak yah cowok yang menikahi cewek islam cuma biar bisa lihat rambutnya saja?” ujarnya lagi, kali ini seperti bertanya sendiri. Aku menahan tawa dengar ujarannya. “Tapi di balik itu, mereka (cewek islam) pasti punya rambut kaan?” lanjutnya lagi, meminta kepastian padaku. Astagaa… jadi dia pikir kami botak? Tawaku pecah demi mendengar pertanyaan polosnya.

Begitulah.

Hijab, melahirkan banyak kisah dibaliknya. Mungkin bagi orang Jepang yang tidak terbiasa, kain sederhana ini terlihat unik melingkar di kepala. Bagi orang yang belum mengerti, hijab identik sebagai simbol. Simbol yang menyatakan bahwa pemakainya adalah pemeluk agama yang disebut Islam. Maka rasanya bagiku, dan mungkin bagi semua muslimah di negeri islam minoritas, berhijab seperti jadi tantangan sendiri. Selain sebagai identitas pribadi dan pernyataan tak tertulis “Ya, saya muslimah”, hijab kemudian menjadi sehelai kain yang membawa tanggung jawab bagi pemakainya untuk selalu menjaga laku, terus berupaya “jaim” alias jaga image serta jaga iman agar selalu bisa menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang santun. Hijab, memiliki caranya sendiri untuk ikut “berdakwah” secara tidak langsung mengenalkan Islam pada dunia.



Otsukaresamadesu  : Ungkapan standar di tempat kerja. Biasanya sebagai sapaan kepada rekan kerja. Bisa berarti "Terimakasih atas kerjasamanya"
Kore, niattemasune..: Ini-nya cocok deh..
Hanabi Matsuri        : Festival kembang api
Yukata                      : kimono musim panas
Geta                         : bakiak kayu
Gaijin                       : orang asing



1 April 2014 , 22.10 JST

aL - Kamar Asrama, Osaka

Hijab dan Berbagai Kisah Di Baliknya #1

Menyambung postingan sebelumnya, kali ini aku ingin cerita segala macam pengalaman unik yang pernah ku alami di Jepang berkaitan dengan hijab.

Awal dinyatakan lolos wawancara tahap pertama saat seleksi program magang di PT. Pasona, Tokyo, aku cukup khawatir juga soal hijab yang ku kenakan. Apalagi salah seorang Sensei di kampusku bilang biasanya perusahaan Jepang sulit menerima karyawan yang berhijab. Lalu, apa karena hijab ini aku akan gagal di seleksi selanjutnya? Ah, tapi bukankah lebih baik tidak jadi berangkat, daripada sudah sampai di Tokyo harus terpaksa melepas hijab karena dilarang perusahaan? Aku menggeleng jeri. Pasrah.

Jawaban atas galauku soal hijab langsung ditunjukkan Allah saat tes wawancara tahap kedua berlangsung.
“Apa kamu tetap akan menggunakan itu jika diterima magang di Jepang nanti?” Shachou bertanya padaku sambil memegang kepalanya, mengisyaratkan hijab yang ku kenakan.
Di bawah tekanan rasa gugup yang luar biasa, plus ditanya pertanyaan yang tak kuduga sebelumnya, akhirnya dengan jawaban terbata dan belepotan aku menjawab, “Iya, Shachou. Bagi saya hijab ini sudah seperti identitas. Saya tidak berniat untuk melepasnya.”

Maka Alhamdulillaah, beberapa bulan setelah itu akhirnya hijab ini tetap membingkai wajahku yang dengan ekspresi norak celingukan terkagum-kagum melihat pesona kota Tokyo.

Dan rupanya hijab ini punya magnetnya sendiri.

Menjadi “berbeda” di antara peserta internship yang lain, penampilan dengan penutup kepala ini cukup menarik perhatian rekan-rekan kerjaku.

“Maaf kalau saya tidak sopan, kain ini ada hubungannya dengan agama ya?” tanya Liu, teman baruku peserta internship dari Cina. Aku mengiyakan sambil tersenyum lebar demi mendengar pertanyaannya yang teramat santun itu. Mungkin dia khawatir pertanyaan soal hijab ini terlalu sensitif buatku.

“Aku punya teman orang Indonesia juga, tapi kok dia tidak pakai baju adat seperti kamu ya..?” Thuy, temanku peserta internship dari Vietnam juga pernah bertanya polos pada kesempatan yang lain. Ternyata dia mengira hijab yang ku kenakan ini termasuk bagian dari baju adat Indonesia.

“Ini apa namanya? Kamu punya banyak warna ya? Cara pakainya bagaimana? Terus apa tiap hari ditentukan harus pakai warna apa?” suatu ketika, rekan Nihon-jin lain yang merasa unik dengan penampilanku memberondong dengan banyak pertanyaan. Membuatku tersenyum lucu. Sebisa mungkin aku menjelaskannya dengan sederhana, supaya mudah dimengerti.

Kore wa Hijab to iimasu. Ini namanya hijab, yang biasa dipakai oleh wanita muslim. Saya punya banyak koleksi warna, corak, dan model. Jadi biar tidak kalah dari fashion sekarang hehehe... Tiap hari bebas kok mau pakai warna apa, tergantung mood saja, dan pakainya mudah. Ini kain segiempat yang dilipat jadi bentuk segitiga, lalu dipakaikan menutupi kepala, dijepit dengan peniti, sudah. Gampang kok, Gak sampai 5 menit pakainya.” Aku menutup penjelasanku dengan cengiran. Disusul “oh…” panjang dari Hayashi-san, cewek cantik yang cerdas, karyawan baru juga di Pasona Global tempatku magang. Kelihatannya dia takjub.

Bukan cuma di kantor, magnet hijab ini juga berpengaruh di setiap tempat. Jujur aku orangnya memang agak perasa. Tapi bukannya ke-GeeR-an atau apa, sepertinya karena hijab ini aku jadi sering diperhatikan oleh orang-orang. Saat berjalan di stasiun atau sedang ada di dalam kereta, pasti ada saja orang yang tertangkap basah tengah memperhatikan, atau paling tidak melirik kearahku. Tatapan aneh, tatapan penasaran, mungkin juga tatapan curiga. Sepertinya pengaruh dari pemberitaan-pemberitaan tentang Islam di media. Entah orang tua, muda, atau bahkan anak-anak. Dan pada banyak kasus, mereka belum akan mengalihkan mata dariku, sampai aku benar-benar balik menatap mereka. Apa sih? Aku yang tidak biasa, kadang jadi merasa risih sendiri. Apa dimata mereka aku seperti alien, makhluk asing dari planet lain?

Pernah suatu sore saat pulang kerja, aku berpapasan dengan sepasang kekasih yang sedang bergandengan tangan di stasiun Ikebukuro. Dari jauh aku sudah tahu kedua orang itu melihat ke arahku. Si Cewek sudah mengalihkan pandangannya begitu bertemu mata denganku. Namun si Cowok masih saja memperhatikanku dengan tatapan anehnya sampai dia benar-benar melewatiku. Hff… rasanya saat itu ingin sekali teriak ke si Cewek, “Mbak, pacarmu itu loh matanya jelalatan!”

Sebenarnya di Tokyo lumayan banyak komunitas muslim, Kalau aku ke Masjid, atau pengajian, banyak berkumpul wanita-wanita berhijab. Aku sendiri kadang sampai heran, sebegitu banyaknya tapi kenapa mereka jarang sekali terlihat di stasiun Tokyo atau Ikebukuro, stasiun padat yang harus kulalui setiap pulang pergi kerja ya? Maka sepertinya aku sendiri lah yang jadi pemandangan aneh di stasiun itu tiap pagi dan sore, lima kali dalam seminggu. “Ya, sudahlah. Mungkin mereka asing dengan penampilan wanita berhijab, atau memang dasarnya aku terlalu kawaii yaa? Hahaha” Begitulah, Usahaku menghibur diri.

Narsis di depan St.Tokyo (mumpung sepi )
Pertengahan Juli. Musim panas menyapa Tokyo. Suhu udara terus merangkak naik bahkan pernah hampir mencapai 40 derajat celcius. Maka saat dimana orang-orang umumnya mulai menipiskan dan atau memperpendek pakaian yang dikenakan, aku masih dengan rok panjang hitam, blazer hitam, serta kerudung (yang juga seringnya) berwarna gelap rapat membungkus kepala. Maka mungkin bagi orang Jepang, sempurna sudah penampilanku bagai ninja nyasar di tengah kota. (Duh!)

Kebiasaan kebanyakan orang Jepang di musim panas, tiada hari tanpa mengeluh “atsuii.. atsuii..!!”. Sampai aku bosan mendengarnya. “Kamu gak panas pakai itu?” tanya salah satu teman kerjaku. “Nggak, malah ini melindungiku dari sengatan matahari langsung” belaku. Siapa bilang tidak panas? Tapi aku sudah berjanji pada diri sendiri, ‘stop mengeluh panas! Karena padang mahsyar dan neraka akan jauh lebih panas dari ini!’

Pada suatu pagi yang lembab, saat berjalan pergi ke kantor di sebuah jalan bawah tanah padat yang tersambung dengan St.Tokyo, tak jauh dari pintu keluar Subway Marunouchi Line seorang ibu tiba-tiba berjalan cepat mendahuluiku, lantas dengan gerakan kilat tanpa aba-aba langsung memfotoku dengan kamera ponselnya. Lalu si ibu buru-buru pergi, meninggalkanku yang terbengong-bengong sendiri.

Omaigat! Kaget. Begitu sadar baru saja “difoto tanpa sadar”, aku langsung bete. Pasti ekspresiku di foto itu nggak banget deh. Lagi jalan sambil bengong juga. Kenapa sih? Kalau tadi bilang jujur minta foto bareng kan aku pasti gak akan nolak, malah bakal pasang pose paling yahuud ! Aduh, ini memang bukan Harajuku, tapi mungkin si Ibu mengira aku sedang cosplay.

Eh, bicara soal cosplay, di St.Tokyo aku pernah melihat seorang kakek pakai baju seragam sailor ala anak SMA plus wig pirang panjang kuncir dua. Kakinya yang berbulu ditutupi kaos kaki putih panjang. Aku takjub. Antara mau ketawa dan jujur agak jeri juga melihatnya. Ya salaam! Itu kakek-kakek yang pernah ku lihat di internet, yang memang terkenal suka pakai seragam perempuan atau baju sailormoon, berjalan melenggang di depan mataku. Ah, saking takjubnya aku sampai gak kepikiran buat minta foto, atau paling tidak, nekat candid seperti ibu-ibu itu.

Oops! Back to the plot. Kejadian difoto tiba-tiba yang kualami kembali terulang saat aku dan rombongan muslimah Masjid Otsuka pulang dari kemping di Pref. Yamanashi. Di bus yang sedang berhenti sejenak di tempat peristirahatan jalan tol, aku yang duduk di pinggir jendela melihat bus lain berhenti di sebelah kami berisi anak-anak SMP yang sepertinya baru pulang studytour. Setelah tersenyum ramah dan membalas dadah-dadah dari mereka (entah siapa yang memulai, anak-anak dalam bus kami dan anak-anak SMP di bus itu jadi saling melempar senyum dan lambaian tangan), salah satu anak SMP cowok yang daritadi senyum-senyum malu tidak ikut melambaikan tangan mengeluarkan kamera dan memfotoku dari balik kaca busnya. Sejurus setelah itu bus mereka bergerak pergi. Duileh, berasa artis jadinya! Tapi yang ini sih mungkin karena saat itu aku juga sedang menggendong Abu-chan, bayi super lucu peranakan Jepang-Pakistan, anak kenalanku seorang muslimah Jepang. Jadi gak usah Geer, aL ! Hahaha


to be continued .

Shachou : Direktur, Kepala Perusahaan
Kawaii   : Manis, Imut
Atsui      : Panas



1 April 2014 .  21.15 JST

-aL- Kamar Asrama, Osaka .