Berkisah soal hijab, bukan cuma hal-hal
yang bikin risih saja sih, kadang juga penampilan berbeda ini membawa hal lain
yang malah tak terduga. Yang paling gak akan ku lupakan adalah kejadian di
suatu hari di kantor, saat aku berpapasan dengan Mas Hide, seorang staf kantor yang
sudah mencuri perhatianku sejak hari pertama magang karena “Otsukaresama desu”-nya selalu berulas senyum maut. Pagi itu, dia
bilang padaku,
“Kore,
niattemasune~” sambil mengisyaratkan tangan di kepala, menunjuk hijab putih
yang kukenakan hari itu. Dan tentu saja, senyum mautnya gak ketinggalan!
“ah,
a, arigatou gozaimasu!” responku gagap, syok pagi-pagi dapat pujian
darinya. Kalau di film kartun, mungkin dari kepalaku langsung tumbuh setunas
bunga dan mengembang indah saat itu juga. Kejadian pagi itu menerbitkan senyum
yang tak surut di wajahku sampai jam pulang kerja sore harinya. Hhihi
Kejadian tak terduga lainnya terjadi saat
aku dan kawan-kawan sesama internship berencana nonton Hanabi Matsuri di tepi sungai Sumidagawa. Musim panas di Jepang memang
identik dengan pesta kembang api. Orang-orang dari segenap penjuru
berbondong-bondong datang menikmati pesta tahunan itu. Aku dan beberapa kawan yang
sudah siap dengan yukata lengkap
dengan geta-nya, sore itu menunggu Liu
yang belum juga muncul di stasiun Akihabara. Tempat menunggu yang tak jauh dari
pintu keluar membuat para gaijin ber-yukata mencolok mata seperti kami
menjadi perhatian banyak orang. Untung saja mood-ku
sedang bagus saat itu. Antara antusias dengan pesta kembang api dan yukata baru yang pertama kali kukenakan.
Maka tatapan banyak mata pun tak mengusikku. Aku cuek saja setiap ada yang
kelihatannya aneh menatap kombinasi hijabku dengan yukata gelap bermotif bunga ungu berhias benang keemasan.
Tak berapa lama, seorang mahasiswa bule
bermuka Eropa yang akan keluar stasiun, mendekat kearahku, dan sambil berkata “That’s so Good!” tangannya mengacungkan
jempol, tersenyum di depanku. Aku mendongak dan refleks menjawab “Thank you”, lalu membalas senyumnya
dengan aneh. Kaget. Setelah si bule pergi, Milana dan Valerie dua teman yang
sedari tadi berdiri disampingku rusuh, “ciyeee ditembak begituu!” Apaan sih? Ejekan
mereka malah justru bikin aku salah tingkah. Hahaha. Ada-ada saja.
Tiga minggu sebelum kepulanganku ke tanah
air, aku diajak makan siang bersama manajerku, Kimura Satoyo-san, atau aku
biasa memanggilnya ketua grup Kimura. Walaupun di kantor aku tak banyak bicara
dengannya, tapi dia sudah seperti kakak perempuanku sendiri. Aku bahkan
diam-diam menjulukinya Bos Malaikat, karena ketika aku tumbang keracunan
makanan, dia berbaik hati mengurusku. Saat jam makan siang itu, aku kembali
banyak mengobrol dengannya, dan ada sepotong pembicaraan yang juga menyangkut
soal hijab.
“Kalau di tempat-tempat umum, aku sering
merasa diperhatikan oleh orang-orang sekitar. Mungkin mereka melihatku aneh ya…?
Kadang jadi gak enak sendiri”
Ketua grup Kimura tertawa ringan mendengar
aduanku. “Kalau ada yang begitu lagi, kamu senyumin aja, bilang ‘konnichiwa’
atau lambaikan tangan, gitu… hahaha” selorohnya.
Tapi candanya itu membuatku serius
berpikir.
Benar juga… Kenapa aku harus selalu merasa
risih cuma karena mereka melihatku berbeda? Kenapa harus tidak nyaman jadi
perhatian? Dan tersenyum... Aku alpa soal itu. Kenapa aku jadi pelit senyum ya?
Kenapa harus selalu disenyumin dulu baru mau balas tersenyum? Kenapa tidak
mulai lebih dulu? Dengan senyum, mungkin pandangan aneh mereka, atau malah (jika
ada) stigma tidak benar yang mereka lekatkan pada umat islam bisa berubah…?
Setelah hari itu, aku benar-benar berupaya
untuk mengamalkan saran Ketua grup Kimura. Saat aku kembali ke Osaka sebulan
setelahnya, aku sudah tidak peduli soal pandangan-pandangan aneh lagi. Be different? Why not? Just smile! Show that mosleem's heart is full of kindness!
Dan jurus senyum itu benar-benar
menunjukkan tuahnya.
Hari kedua di Osaka, aku dan teman-teman
mengurus dokumen-dokumen lapor diri di kantor walikota Yao, Osaka. Disana
seperti biasa, ada beberapa orang sejenak memperhatikanku, sebelum kembali ke
urusannya masing-masing. Seorang nenek yang duduk di sampingku bahkan beberapa
kali melirik diam-diam ke arahku. Aku senyum dan sedikit mengangguk hormat
padanya. “Konnichiwa” sapaku. Mata nenek itupun membesar, mungkin agak kaget
dengan reaksiku. Dia membalas sapaanku dan tersenyum balik sambil berkata, “Itu
yang kamu pakai di kepala, modis ya!”
Aku tertawa. Benar kan, dari tadi nenek itu
penasaran dengan hijabku. Berawal dari situ kita jadi mengobrol, Nenek itu
bertanya dan bercerita banyak hal dengan dialek Osaka yang kental. Setengah
mati aku mencoba menangkap maksudnya. Maklum, telingaku belum biasa dengan
Osaka-ben saat itu. Maka berawal dari hijab dan senyum, hari kedua aku sudah
kenalan dengan seorang nenek baik hati. Sebelum pulang dia memberiku alamat, “Main
ya kalau ada waktu, rumah Nenek dekat sini. Dan ini buat jajan juga. Semangat
belajarnya ya!” katanya sambil menyodorkan secarik kertas alamat plus selembar
uang seribu yen. Awalnya aku berusaha menolak, tapi si Nenek terus memaksa. Ya
sudah, mungkin rizki karena hijab? Alhamdulillaah… hehehe
Hijab pun menunjukkan perannya lagi sebagai
identitas (plus menjadi rizki) buatku, saat aku tersesat mencari jalan menuju
Masjid Central Osaka. Pagi itu hari raya Iedul Adha, sudah setengah jam aku
berputar-putar kesasar sendirian ditengah gerimis, bertanya lokasi masjid pada
banyak orang Jepang, tapi tidak ada yang tahu. Sementara waktu sholat Ied sudah
akan dimulai. Aku mulai cemas. Sambil terus melantunkan takbiran sendiri dalam
hati, aku berdoa semoga Allah memberiku petunjuk untuk bisa sampai ke Masjid.
Aku celingukan bingung, dan panik. Ibu muda
Jepang yang baru saja ku tanya pergi setelah minta maaf karena dia tidak tahu
tempat yang ku maksud. Tapi tak berapa lama sebuah mobil hitam berhenti di
depanku. Di dalamnya ada tiga orang laki-laki berwajah Pakistan, mengenakan
songkok dan baju putih-putih. Salah seorang dari mereka menyapaku.
“Assalamualaikum, Come in sister, we will
also go to the Mosque!”
Allahuakbaar! Pertolongan Allah. Aku dikenal
karena hijabku. ^_^
Jadi terkenal karena hijab? Agak lebay sih,
tapi mungkin bisa jadi. Buktinya penampakan berbeda ini bahkan membuatku sampai
diminta jadi model cover buletin kampus, bersama dua orang mahasiswa asing
lainnya. Mungkin dengan menampilkan sosok berhijab satu-satunya di kampus ini,
memperlihatkan bahwa OKU memiliki mahasiswa asing dari beragam bangsa dan
negara. Maka setelah 20 tahun lebih tinggal di Jakarta, baru di Osaka ini aku
tahu rasanya ikut sesi pemotretan, dan janggalnya lihat muka sendiri terpampang
di banyak tempat sekitaran kampus. Hahaha
 |
| Tenyuu, Buletin OKU |
Akihiro, cowok Jepang teman sekelasku
pernah bertanya, “Cewek islam selalu pakai ini ya? Kalau di depan pacarnya
juga?”
“Iyaa! Kecuali kalau sudah menikah dan jadi
suami” kataku.
“Terus ada gak yah cowok yang menikahi
cewek islam cuma biar bisa lihat rambutnya saja?” ujarnya lagi, kali ini
seperti bertanya sendiri. Aku menahan tawa dengar ujarannya. “Tapi di balik
itu, mereka (cewek islam) pasti punya rambut kaan?” lanjutnya lagi, meminta
kepastian padaku. Astagaa… jadi dia pikir kami botak? Tawaku pecah demi mendengar pertanyaan polosnya.
Begitulah.
Hijab, melahirkan banyak kisah dibaliknya. Mungkin
bagi orang Jepang yang tidak terbiasa, kain sederhana ini terlihat unik
melingkar di kepala. Bagi orang yang belum mengerti, hijab identik sebagai simbol.
Simbol yang menyatakan bahwa pemakainya adalah pemeluk agama yang disebut
Islam. Maka rasanya bagiku, dan mungkin bagi semua muslimah di negeri islam
minoritas, berhijab seperti jadi tantangan sendiri. Selain sebagai identitas
pribadi dan pernyataan tak tertulis “Ya, saya muslimah”, hijab kemudian menjadi
sehelai kain yang membawa tanggung jawab bagi pemakainya untuk selalu menjaga
laku, terus berupaya “jaim” alias jaga image serta jaga iman agar selalu bisa menunjukkan
bahwa Islam adalah agama yang santun. Hijab, memiliki caranya sendiri untuk ikut
“berdakwah” secara tidak langsung mengenalkan Islam pada dunia.
Otsukaresamadesu : Ungkapan standar di tempat kerja. Biasanya sebagai sapaan kepada rekan kerja. Bisa berarti "Terimakasih atas kerjasamanya"
Kore, niattemasune..: Ini-nya cocok deh..
Hanabi Matsuri : Festival kembang api
Yukata : kimono musim panas
Geta : bakiak kayu
Gaijin : orang asing
1 April 2014 , 22.10 JST
aL - Kamar Asrama, Osaka