Dengan segala kepraktisannya, aku
betah tinggal di Jepang. Namun adakalanya hati merasa sepi, homesick menyerang hingga merasa ingin
pulang. Salah satu penyebab homesick
dan ingin pulang adalah ketika seorang teman “memusuhiku” tanpa alasan pasti.
Aku pernah bercerita soal ini dalam postingan lain, dan memang saat itu rasanya
adalah waktu terberat yang harus kulalui. Aku merasa sendirian, karena saat itu, salah satu teman dari Thailand tiba-tiba menjauhiku.Aku pernah menuliskannya dalam posting lain berjudul "CaPer : Catatan Perasaan 1 ".
“Yaudah sih, cuma satu orang aja
kok segitu sedihnya?” Aku memang penganut paham 1000 teman masih kurang, 1
musuh terlalu banyak. Yang lebih membuatku sedih adalah ketidaktahuanku akan
kesalahan apa yang membuatnya jadi menjauhiku, sementara aku juga tak mampu
bicara padanya baik-baik soal itu. Maka tiap hari adalah tanda tanya besar,
serta harus ekstra sabar “tidak dianggap ada”.
Pada moment ulang tahunnya,
setelah sekitar 3 bulan dia mengabaikanku, kami akhirnya berbaikan dan sikapnya
kembali hangat padaku. Bahkan sampai sekarang pun kadang kita masih bertukar
kabar lewat media sosial. Meski sampai detik ini aku masih belum tahu penyebab
sikap “dingin”-nya padaku dulu, tapi aku tidak pernah mau menanyakannya lagi.
Tidak enak hati. Lagipula, tidak semua tanya harus terjawab, kan? Aku belajar
banyak dari hal itu. Utamanya, belajar untuk lebih berhati-hati agar sikap
maupun perkataanku tidak menyinggung seseorang tanpa sadar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar