Di awal-awal kedatangan ke
Jepang, kami mahasiswa nikkensei penerima beasiswa Monbusho dari berbagai
negara sering kumpul-kumpul “pesta” untuk merayakan berbagai hal, misalnya
perayaan seminggu setelah kedatangan, perayaan hari turunnya uang beasiswa,
dsb. Dan memang, hari turunnya uang beasiswa pertama adalah hal yang paling
kami tunggu karena setelah sebulan mengencangkan ikat pinggang akibat biaya
hidup di bulan pertama yang harus ditanggung sendiri seadanya, akhirnya
diganti juga oleh Monbusho. Maka hari itu, ketika kami mengecek rekening dan
pundi-pundi kami terisi, malamnya teman-teman internasional sepakat untuk
berkumpul di kamar cowok-cowok di lantai satu asrama kami untuk ber”pesta”.
Setelah mandi dan sholat Maghrib
dulu di kamar, aku baru ikut bergabung. Aku kaget rupanya “pesta” kali ini agak
berbeda. Ternyata teman-teman bukan hanya membeli banyak
cemilan, tapi juga bir. Bahkan ada yang niat banget sampai membawa wine khusus
dari negaranya. Pasti harganya selangit, batinku. Mungkin memang minum alkohol
merupakan hal yang biasa bagi mereka saat berkumpul merayakan sesuatu bersama
teman-teman. Aku yang muslim sendiri, dan beberapa teman dari Asia Tenggara
lain yang “belum berani” minum, memilih menenggak Ocha dan jus jeruk saja.
Pesta itu berjalan seru dan
menyenangkan. Kita mengobrol bersama, bercanda, foto-foto, main kartu, sampai
lupa waktu. Entah ide dari siapa awalnya, jadi dalam permainan kartu disepakati
yang kalah harus menenggak segelas Wine. Dengan ini, teman-temanku yang tadinya
masih enggan minum akhirnya terpaksa harus minum. Aku tentu keberatan, “Aku tak
bisa minum”, kataku. Tapi mereka tetap mengajakku main meski sudah kuingatkan,
kalah pun aku tetap tidak mau minum. Hania, salah satu kawanku dari Polandia
berkata padaku, “Kalau kamu kalah, aku yang menggantikanmu minum”. Maka sepanjang
permainan aku berdoa semoga aku tidak pernah kalah. Sekuat apapun kelihatannya
Hania pada alkohol, aku tidak ingin menjadi alasan baginya untuk minum lebih
banyak.
Waktu sudah menunjukkan jam 11
malam ketika akhirnya sisi hatiku protes minta pulang, “Kamu belum sholat Isya,
aL” bisikku mengingatkan diri sendiri. Namun karena saat itu permainan kartu
masih setengah jalan, pulang sekarang akan dianggap curang. Teman-teman yang
sering kalah sudah mulai teler dan bertingkah aneh. Setelah ini aku akan pamit
pulang, aku meyakinkan diri. Namun belum sampai permainan kartu kami berakhir,
salah satu teman yang mabuk di depanku menyenggol botol wine di tengah kami, membuat isinya yang masih sepertiga tumpah berceceran ke arahku, bahkan mengenai
rok yang kupakai. Seketika bau alkohol merebak kemana-mana. Teman-teman lain yang
kaget mengerang kesal penuh sesal, sementara aku sendiri terhenyak.
“Astaghfirullaah~ ini PASTI teguran dari Allaah” perasaan kalut langsung menyelimutiku
kala itu. Maka saat itu juga aku segera bangkit dan pamit kembali ke kamar.
Malam itu aku harus mandi lagi karena sebal dengan bau alkohol yang seperti menempel
meski aku sudah ganti bawahan. Selesai mandi, sholat dan berdoa meminta maaf pada
Tuhan aku pun tidur. Elena teman satu kamarku masih di bawah, terdengar suara
berisik mereka melanjutkan pesta entah sampai jam berapa.
Esoknya, aku dengar katanya tak
lama setelah aku pulang, pesta malam tadi harus bubar karena Wakou Sensei,
salah satu dosen kami yang juga tinggal di lingkungan asrama kami datang dan
memarahi mereka semua karena gaduh. Aku bergidik ngeri membayangkan wajah Wakou
Sensei yang terkenal cukup kibishii memarahi teman-teman semua. Dalam hati aku juga
bersyukur, Allaah rupanya masih menyelamatkanku dari “penggerebekan” itu dengan
insiden tumpahnya wine mahal ke bajuku. Alhamdulillaah~ makanya lain kali
jangan nakal lagi, ya aL~ Deuh !
*nikkensei : Nihongo-Nihon bunka Kenkyuu Ryuugakusei. Sebutan untuk mahasiswa asing penerima beasiswa program Japanese Studies dari MEXT
*kibishii : Disiplin, Galak

Tidak ada komentar:
Posting Komentar