Senin, 23 Januari 2017

5. TerNakal : Ayo Pulang, kamu belum sholat Isya!



Di awal-awal kedatangan ke Jepang, kami mahasiswa nikkensei penerima beasiswa Monbusho dari berbagai negara sering kumpul-kumpul “pesta” untuk merayakan berbagai hal, misalnya perayaan seminggu setelah kedatangan, perayaan hari turunnya uang beasiswa, dsb. Dan memang, hari turunnya uang beasiswa pertama adalah hal yang paling kami tunggu karena setelah sebulan mengencangkan ikat pinggang akibat biaya hidup di bulan pertama yang harus ditanggung sendiri seadanya, akhirnya diganti juga oleh Monbusho. Maka hari itu, ketika kami mengecek rekening dan pundi-pundi kami terisi, malamnya teman-teman internasional sepakat untuk berkumpul di kamar cowok-cowok di lantai satu asrama kami untuk ber”pesta”.
Setelah mandi dan sholat Maghrib dulu di kamar, aku baru ikut bergabung. Aku kaget rupanya “pesta” kali ini agak berbeda. Ternyata teman-teman bukan hanya membeli banyak cemilan, tapi juga bir. Bahkan ada yang niat banget sampai membawa wine khusus dari negaranya. Pasti harganya selangit, batinku. Mungkin memang minum alkohol merupakan hal yang biasa bagi mereka saat berkumpul merayakan sesuatu bersama teman-teman. Aku yang muslim sendiri, dan beberapa teman dari Asia Tenggara lain yang “belum berani” minum, memilih menenggak Ocha dan jus jeruk saja.
Pesta itu berjalan seru dan menyenangkan. Kita mengobrol bersama, bercanda, foto-foto, main kartu, sampai lupa waktu. Entah ide dari siapa awalnya, jadi dalam permainan kartu disepakati yang kalah harus menenggak segelas Wine. Dengan ini, teman-temanku yang tadinya masih enggan minum akhirnya terpaksa harus minum. Aku tentu keberatan, “Aku tak bisa minum”, kataku. Tapi mereka tetap mengajakku main meski sudah kuingatkan, kalah pun aku tetap tidak mau minum. Hania, salah satu kawanku dari Polandia berkata padaku, “Kalau kamu kalah, aku yang menggantikanmu minum”. Maka sepanjang permainan aku berdoa semoga aku tidak pernah kalah. Sekuat apapun kelihatannya Hania pada alkohol, aku tidak ingin menjadi alasan baginya untuk minum lebih banyak.
Waktu sudah menunjukkan jam 11 malam ketika akhirnya sisi hatiku protes minta pulang, “Kamu belum sholat Isya, aL” bisikku mengingatkan diri sendiri. Namun karena saat itu permainan kartu masih setengah jalan, pulang sekarang akan dianggap curang. Teman-teman yang sering kalah sudah mulai teler dan bertingkah aneh. Setelah ini aku akan pamit pulang, aku meyakinkan diri. Namun belum sampai permainan kartu kami berakhir, salah satu teman yang mabuk di depanku menyenggol botol wine di tengah kami, membuat isinya yang masih sepertiga tumpah berceceran ke arahku, bahkan mengenai rok yang kupakai. Seketika bau alkohol merebak kemana-mana. Teman-teman lain yang kaget mengerang kesal penuh sesal, sementara aku sendiri terhenyak. “Astaghfirullaah~ ini PASTI teguran dari Allaah” perasaan kalut langsung menyelimutiku kala itu. Maka saat itu juga aku segera bangkit dan pamit kembali ke kamar. Malam itu aku harus mandi lagi karena sebal dengan bau alkohol yang seperti menempel meski aku sudah ganti bawahan. Selesai mandi, sholat dan berdoa meminta maaf pada Tuhan aku pun tidur. Elena teman satu kamarku masih di bawah, terdengar suara berisik mereka melanjutkan pesta entah sampai jam berapa.
Esoknya, aku dengar katanya tak lama setelah aku pulang, pesta malam tadi harus bubar karena Wakou Sensei, salah satu dosen kami yang juga tinggal di lingkungan asrama kami datang dan memarahi mereka semua karena gaduh. Aku bergidik ngeri membayangkan wajah Wakou Sensei yang terkenal cukup kibishii memarahi teman-teman semua. Dalam hati aku juga bersyukur, Allaah rupanya masih menyelamatkanku dari “penggerebekan” itu dengan insiden tumpahnya wine mahal ke bajuku. Alhamdulillaah~ makanya lain kali jangan nakal lagi, ya aL~ Deuh !

*nikkensei : Nihongo-Nihon bunka Kenkyuu Ryuugakusei. Sebutan untuk mahasiswa asing penerima beasiswa program Japanese Studies dari MEXT
*kibishii : Disiplin, Galak

Tidak ada komentar:

Posting Komentar