Kamis, 27 Februari 2014

Kilas Balik . Goes to Tokyo ! #part - 2

Hari Wawancara Kedua
Aku gugup sekali! Kertas coret-coret berisi jawaban yang sudah kutulis dari pertanyaan yang mungkin akan diajukan dalam sesi wawancara kedua itu, sampai lecek saking kubolak-balik berkali-kali sejak baru bangun tidur. Kucoba hafal mati kalimat-kalimat yang kurangkai sendiri itu. Dalam sholat malam, aku berdoa semoga apa yang kupersiapkan bisa maksimal, semoga dimudahkan menjawab pertanyaan-pertanyaan, dilancarkan, dan diberi hasil yang terbaik. 

 “Ya Allah, mudahkanlah prosesnya, jika memang urusan magang ke Jepang ini baik bagiku… “ doa itu kurapal berkali-kali. Sesering aku meminta doa ke Mama, tentang urusan ini. “Mah, doain yaa.. semoga nanti bisa wawancaranya… semoga ada rizki disana yaa” pintaku setulus hati, mencium tangan Mama sebelum berangkat ke pasar pagi itu. 

“Iya, semoga bisa ya..” ucapan Mama menguatkanku ditengah kegugupan.

                                                                              ***

Aku sampai lebih cepat setengah jam sebelum waktu bertemu. Masih ada kesempatan untuk sholat Dhuha, berdoa, berdoa! Aku sholat 2 rakaat di mushola Mall Casablanka, tempat kantor itu berada. Setelahnya, ku ulang-ulang doa mengiring langkahku menuju lantai 5, kantor Pasona.

“Ya Allah, lapangkanlah dadaku, permudahlah urusanku, hilangkanlah kekeluan dari lisanku, agar mereka mengerti perkataanku”

Anggrelita, mahasiswa dari UNSADA itu sudah di tempat. Dia maju lebih dulu. Aku mendengar suara tawa-tawa renyah ketika sesi wawancaranya berlangsung. Ditanya apa saja yaa? Kok sepertinya mereka santai dan menyenangkan sekali, pikirku. Sementara aku masih begitu gugup, mencoba membaca surat-surat pendek Alquran untuk menenangkan hati. 10 menit berlalu, Anggrel keluar. Giliranku! Bismillahi Tawakaltu alallahu...

Berantakan. Semua jawaban yang ku hapal mati tak terpakai. Pertanyaan yang ku kira akan keluar, sama sekali tak ditanyakan. Gugup luar biasa, berhadapan dengan orang nomor satu di perusahaan itu membuat pikiran blank, alhasil apa saja yang ditanyakan (pertanyaan paling simple pun) sepertinya tak bisa kujawab dengan baik. Toyazaki-san, tantousha cantik itu menatapku dengan senyum simpati, mungkin lebih tepat karena kasihan, atau bahkan kecewa? Sensei bilang Toyazaki-san sangat terkesan padaku pada sesi wawancara sebelumnya. Mataku berkaca-kaca.

Bukan langsung pulang, aku kembali menuju mushola. Gak tahan rasanya. Beruntung pada jam itu, tak ada satu orang pun disana, aku mengambil tempat di sudut belakang mushola, meringkuk dan menangis… Sudah di depan mata, karena kesalahanku hilang begitu saja kesempatan ini? Hopeless. Walaupun pengumuman resmi belum keluar, aku sudah merasa 99% gagal. Hanya 1% saja kemungkinan untukku berhasil. Itu pun hanya jika ada “Keajaiban”. Tiba-tiba satu pesan masuk dari whatsappku. Dari Sensei.

“Tuti-chan, kata Toyazaki-san tadi kamu gugup banget yah? Ya udah gapapa, kalau ternyata belum rezeki tahun ini, jangan sedih ya.. Berjuang lagi tahun depan. Sudah sampai tahap ini bagus kok, share pengalaman ke adik-adik kelasnya ya.. Semangat juga untuk beasiswa Monbusho.”

Air mataku semakin deras. Tahun depan? Aku mau berangkat ke Jepang tahun ini ! Monbusho? bersaing dengan satu universitas saja payah begini, apalagi Monbusho yang harus bersaing dengan ratusan anak dari seluruh Indonesia?? Tahun lalu aku sudah gagal dalam seleksi beasiswa Monbusho, padahal saat itu Mama sudah gembar-bembor ke teman-temannya di pasar, bilang kalau anaknya mau ke Jepang, nyatanya aku gagal di tengah jalan. Ah, aku mengusap muka, kebas. Seperti merasa tak berani pulang. Tak berani menghadapi pertanyaan Mama, “Gimana wawancaranya?” sesampainya nanti di rumah.

Aku tahu Mama takkan memarahiku. Aku bukan anak kelas dua SD yang gagal dapat rangking karena malas belajar. Untuk urusan ini, aku tahu Mama tak akan marah. Hanya saja, aku tak berani melihat tatapan Mama, yang sudah kuartikan sebagai “harapan”. Hari itu, sampai Dzuhur aku tak beranjak. Terus menangis.., berdoa... Semoga aku diberi kekuatan menerima apapun hasilnya, semoga Allah berikan yang terbaik… dan semoga… kalau memang masih mungkin… 1% itu bisa benar-benar membawa keajaiban. Aku tak ingin mengecewakan Mama lagi…

Musholla Mall Casablanka - bersama tangis dan doa-doaku siang itu ..
  
Pulang dari sana, sekali lagi aku berjalan dengan hati hampa sendirian menyusuri halte busway Karet. Seolah Déjà vu. Sekali lagi. Empat tahun sebelumnya aku pernah merasakan hal yang sama, di jalan yang sama, ketika pulang dari tes masuk Univ.Indonesia (SIMAK-UI). Bedanya, saat itu aku bersama Riska, kawan karibku sejak SMA. Saat itu kita mampir ke Mall Ambassador melepas stress. Tapi kali ini, aku sendiri, dan rasanya jadi lebih berat. Gak ada acara ngayap ke Mall melepas stress seperti waktu itu, lagipula, aku juga harus segera berangkat mengajar lagi ke Pluit siang itu.

“Nyiing, gue Déjà vu…” bisikku lirih teringat Riska, dan semua kejadian empat tahun lalu dengannya. Mataku masih sembab.

 
Dan Allah Maha Mengabulkan Doa ..
Dua jam perjalanan Kasablanka-Pluit membuatku sedikit lebih tenang. Waktu mengajar belum mulai, aku menunggu bel bunyi di ruang tunggu. Akhirnya aku sudah bisa berdamai dan memaafkan diri sendiri atas kejadian hari itu. Apapun hasilnya nanti, aku siap berlapang dada. Masih banyak jalan menuju Jepang, Inshaa Allah.
 
 Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahawasanya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu mendapat petunjuk (berada dalam kebenaran)”  QS. Al Baqarah : 186

Kawan, pernahkah kalian dengar bahwa doa mampu merubah takdir?


Satu pesan masuk di whatsapp tabletku. Dari Sensei.


“Alhamdulillaah, Tuti. Baru saja diputuskan ternyata kamu yang terpilih. Saya telpon ya.”


Belum bisa mencerna situasi, akari sudah bernyanyi. Sensei menelpon dan mengabari bahwa aku benar-benar terpilih untuk berangkat mengikuti program magang ke Tokyo selama dua bulan. Penampilanku di wawancara pertama mengesankan Toyazaki-san, dan hari ini dimaklumi karena gugup, aku terlihat tidak percaya diri. Masha Allaah, seolah sulit dipercaya, ternyata 1% harapan itu benar-benar membawa keajaiban! Allah SWT membuktikan janji-Nya memenuhi pintaku hari itu juga… Alhamdulillah ya Allahu ya Mujiib… Air mataku menetes lagi. Gemetar menahan buncah rasa bahagia dan tak percaya! Kalau bukan karena tanggung jawab mengajar, rasanya ingin segera pulang ke rumah mengabarkan pada Mama bahwa doanya mustajab untukku!


“Tapi jangan gembar-gembor dulu ya, Ti… Semua bisa terjadi. Sampai semua prosedur selesai, tiket sudah di tangan, jangan banyak gembar-gembor kemana-mana… Tahun ini pertama kalinya mahasiswa Indonesia ikut program ini, jadi kemungkinan apa saja bisa terjadi…” pesan Sensei, meredam kebuncahan di dadaku. Ya, semua memang belum final... Ya Allah, aku pasrah… paling tidak, hari itu aku bisa pulang dan berani menjawab pertanyaan Mama dengan, “Alhamdulillaah, Mah… kemungkinannya sudah ada, cuma masih perlu banyak yang diurus sampai keberangkatan bulan Juni nanti, doain terus ya, semoga semuanya lancar…”


Dan benar saja, ditetapkan terpilih bukan seperti menjadi juara dalam kompetisi yang tinggal pulang membawa piala karena perjuangan telah selesai. Bukan. Justru dari sana lah bermula tantangan-tantangan lain, hambatan-hambatan berbaris, satu persatu silih berganti. Di situlah proses “perjuangan” berlanjut, menguras bukan hanya pikiran dan perasaan, tapi juga tenaga serta uang yang bagiku, tentu tidak sedikit jumlahnya. Di situlah cara Allah melihat hamba-Nya mengoptimalkan ikhtiar, memperkuat doa-doa…



“Jika memang baik untukku menurut pengetahuanMu, ya Rabb…. Mudahkanlah…” Di tengah kegalauan tingkat dewa yang kurasakan, kekurangan dana dan sebagainya, bahkan sampai H-2 sebelum keberangkatan pun, aku masih harus menghadapi beberapa masalah. Namun Allah, maha melihat tiap perjuangan, maha menghitung tiap ikhtiar, maha mendengar tiap doa. Dengan rencana-Nya, maha sempurna pertolongan-Nya melalui banyak orang-orang baik disekitarku, membuat semua hal satu persatu dapat teratasi. Alhamdulillaah, segala puji hanya bagi Allah, dan Dia sebaik-baik pemberi pertolongan. Semoga Allah SWT membalas segala kebaikan sahabat-sahabat, keluarga dan semua pihak yang membantuku dalam perjuangan panjang saat itu. Allah, berikan mereka semua kebaikan yang lebih baik…


Dikala hectic melanda, waktu melesat bagai peluru. Akhirnya tibalah hari keberangkatan yang ditunggu. 25 Juni 2013. Bukan cuma aku, kami sekeluarga berdebar-debar hari itu. Staf Pasona Indonesia yang mengurus keberangkatanku ke Tokyo pun tentu merasakan hal yang sama. Pasona Kokusai Kouryuu Program 2013. Dua bulan program yang membawa banyak kenangan, dan pengalaman luar biasa.


                                                                                   *** 


Bagaimana noraknya aL naik pesawat terbang pertama kalinya? Apa dia benar-benar “sendirian” berangkat menuju negeri impiannya itu? Untuk yang belum baca, yuk lihat kisahnya di sini : 


http://toluteli38.blogspot.jp/2013/11/suatu-hari-di-kisahku-welcome-to-japan.html



28 Februari 2014 . 15.20 PM JST 

aL, Kamar Asrama . Osaka

2 komentar:

  1. Nying gue baru baca yg ini sama Part I-nya. Sedih banget nying gue sampek nangis. Bayangin yg di Part I elu ujan - ujanan demi buat scan & send dokumen itu terus pakek acara kecebur got, gue pengen bantuin rasanya, terus elu bikin essay saat H-1 baru muncul ide (gue juga gitu nying. :D)... Gue jg ngerasain deg-degannya elu pas wawancara, pas sedih ngerasa pasti gagal & nyalahin diri sendiri juga takut kecewain orgtua dirumah, ngerasain sendiriannya elu & butuh dukungan banget itu kek gimana. Gue ngerasain nying makanya bikin nangis ini. :') Ya Allah nying... Kalau butuh apa-apa bilang apa, gue emang nggak bisa selalu ada tapi gue bakal selalu berusaha ada kapanpun elu butuhin. Butuh pelukan, dukungan, semangat, doa, apapun gue ada disini nying kapanpun bisa elu mintain bantuan. :')

    Pokoknya gue suka, gue suka... Terus nulis ya nying, apapun itu, daripada kita disindir bang Tere distatusnya gara-gara curhat bleberan di media sosial? Hahahahaha. :D Keep blogging, nying! Gue tunggu tulisan - tulisan selanjutnya. ({}) ({}) ({})

    BalasHapus