Selasa, 26 November 2013

CaPer *Catatan Perasaan* 1

Musim gugur mungkin tinggal menghitung hari. Daun-daun indah berwarna-warni hanya tinggal menunggu angin dingin bertiup menerbangkannya, memaksanya lepas dari dahan dan jatuh berguguran. Melihat ranting-ranting pohon yang telah kehilangan daun itu, entah kenapa membuat perasaan sepi menyeruak, ditambah suhu yang kian menurun…

Bukan cerita seperti biasa, aku hanya ingin membagi perasaan hati lewat tulisan kali ini. Perasaan yang sejak beberapa waktu lalu terus merisaukanku. Semoga dengan menuliskannya, bisa sedikit melegakan...

"Suhu dan cuaca bisa dengan mudah berubah drastis dalam waktu singkat, apakah manusia juga sama?"

Pertanyaan itu memenuhi benakku saat ini. Dua orang yang ku kenal, berubah drastis dalam waktu singkat secara tiba-tiba. Mendinginnya udara berbanding lurus dengan sikap mereka terhadapku. Entah kenapa, aku tidak tahu !

Aku tidak ingin membahas seseorang yang pertama, karena akan banyak tercampur unsur perasaan pribadi. Tentangnya, cerita bisa jadi melebar kemana-mana… Aku ingin berbagi cerita tentang seseorang yang ke dua, temanku satu program sesama mahasiswa asing. Entah kenapa beberapa waktu ini, sikapnya pun sama seperti orang pertama, berubah kepadaku. Aku mulai menyadarinya ketika suatu pagi, saat aku menyapa teman-teman seperti biasanya, dia berpaling, tak menjawab sapaanku. Tidak seperti sikapnya yang biasanya hangat. Ada apa…?

Keanehan terus terjadi sejak saat itu. Mulai dari sama sekali tidak menyapaku, hanya menjawab seadanya ketika ku ajak bicara, tidak mau menungguku, bahkan sampai tidak mau berjalan bersamaku. Benar-benar berbeda ! Padahal sebelumnya kami sering mengobrol. Diantara mahasiswa asing, dia justru teman yang paling ku kagumi karena sifat supel dan baiknya pada siapa saja sejak awal kita kenal.

Kini sudah hampir tiga minggu keadaan ini terus berlanjut. Pagi ini pun, sikapnya masih begitu. Saat dia dan dua temanku yang lain berangkat ke kampus bersama, aku yang kebetulan bertemu di jalan segera bergabung dengan mereka. Dua temanku yang lain biasa saja, tapi begitu ada aku dia langsung agak memisahkan diri dan tidak lagi niat ikut bergabung dalam pembicaraan sebelumnya. Ah, aku jadi merasa nggak enak sendiri~

Memang hanya padaku saja sikapnya berubah begini. Dengan teman yang lain dia masih tetap jadi dirinya yang supel dan hangat seperti yang ku kenal sebelumnya. Agaknya teman-teman yang lain tidak (atau belum) menyadari keanehan sikapnya padaku. Aku sendiri bukannya cuek saja. Tentu takkan ada asap tanpa ada api. Aku terus interospeksi diri sendiri, mungkin tanpa sadar aku berbuat kesalahan atau apa saja yang membuatnya berubah begitu, namun sampai saat ini sama sekali belum kutemukan jawabannya ! Semua sepertinya baik-baik saja sampai hari dimana dia mulai berubah. Ah, benar-benar tanda tanya besar ! Aku bingung…

Sampai saat ini aku tetap mencoba bersikap biasa kepadanya, sama seperti sikapku pada yang lain. Meski tak dapat ku pungkiri ada rasa sakit yang timbul setiap dia mengacuhkanku. Sayangnya, aku juga bukan tipe orang yang bisa dengan mudahnya mengkomunikasikan perasaan kepada orang lain. Jadi ya begini, aku hanya memendam dalam diam segala kebingungan, menelan bulat-bulat setiap tanda tanya yang muncul acap kali dia mengacuhkanku tanpa alasan pasti.

“Yah, namanya juga orang, Ti… ada aja yang tiba-tiba benci tanpa alasan… Sabar ya… Kamu gabung aja dengan teman-teman yang mau menerimamu…” Begitu kata salah seorang sahabat, membesarkan hatiku.

Ini benar-benar ujian. Di tempat baru di mana harus jauh dari keluarga, sahabat, di sekitar hanya orang-orang baru yang belum dikenal, adaptasi terhadap berbagai hal, perbedaan budaya dan cara berpikir, ini menjadi perjuangan yang tak mudah. Di mana pun aku selalu mencoba untuk tidak membenci dan dibenci orang. Di sini pun, aku selalu berupaya untuk dapat “diterima” meski aku “berbeda” dari mereka. Dengan ujian ini, aku jadi tahu rasanya “diabaikan” dan semoga bisa menjadi pembelajaran bagiku untuk tidak mengabaikan orang lain tanpa alasan lagi.

Sedih, sudah tentu. Aku merasa kehilangan dua sosok hangat yang ku kenal sebelumnya. Sambil terus introspeksi diri dan mencari jawaban yang mungkin bisa membawa pemahamanku akan alasan perubahan mereka, aku hanya bisa berdoa…

“Wahai Tuhan yang Maha membolak-balikan hati… Izinkan hati mereka yang berubah dapat kembali seperti dulu, dan semoga keadaan ini dapat segera membaik…”

Semoga Allah SWT segera memberiku jawaban, pemahaman, dan mengembalikan mereka berdua seperti yang ku kenal dulu… aamiin ya Robbal ‘alamiin…



27 November 2013 . 16.25 JST

aL - Kamar Asrama, Osaka .

Jumat, 22 November 2013

Meniti Jalan Hidayah


Nakata Narumi namanya. Teman baruku orang Jepang ini mulai tertarik mempelajari islam setelah melihat penampilan muslimah yang tertutup dalam sebuah film yang pernah ditontonnya. Setelah itu, dia mulai ada minat dengan hal-hal yang berkaitan dengan negara timur tengah seperti Arab dan Dubai. Unik memang.

Pertama kali berkenalan dengannya saat acara gathering muslim-muslimah se Kansai di Arashiyama, dan beberapa hari lalu kami bisa bertemu lagi. Senang sekali ! Aku main ke Apartemennya di daerah Kyobashi, Osaka. Sebuah kunjungan yang tak direncanakan, karena kebetulan sedang ada outing class di museum dekat Osaka Castle, pulangnya jadi sekalian mampir ke tempat Narumi.

Semula berawal dari sehari sebelumnya, Narumi tiba-tiba mengontakku bertanya dimana dia bisa membeli penutup kepala yang biasa kugunakan? Aku bilang kalau di Jepang masih langka sekali toko yang menjual keperluan muslimah, aku membawa semua hijab dari Jakarta.

“Pakai hijab itu kawaaiii… aku mau coba. Apalagi yang model ada topinya, bisa langsung mudah dipakai kan…” katanya.

“Iya, tapi masih jarang banget yang jual disini… Kalau di Jakarta yang begitu dimana-mana ada. Tapi kalau kamu mau, kain syal juga bisa kok dipakai jadi hijab, nanti kalau ketemuan, aku ajari cara pakainya ya…” balasku. Sedih juga, menyadari masih jarang sekali toko yang menjual keperluan muslim-muslimah di Jepang ini. Dalam hati lirih membisikkan doa, “Ya Allah… Semoga aku bisa membuka toko produk halal dan baju muslim-muslimah di sini suatu hari nanti… aamiiin…” satu dari sekian banyak mimpiku. Semoga malaikat ikut mengamininya juga. Aamiin ya Allahu Rabb… (Hei kamu yang baca, minta “aamiiin”-nya juga yaa…) ^_^

Dan esok paginya saat di perjalanan menuju kampus, Narumi mengontakku lagi. Dia bilang akhirnya dia menemukan toko yang menjual hijab di internet dan sudah memesannya. Yokatta ! Kontak berlanjut via chat di LINE.

“Tapi aku masih mau dong diajarin cara pakai hijab. Hari ini atau besok kalau kamu ada waktu, ayo kita ketemuan…”

“Wah, hari ini sebenarnya aku ada outing class sih, setelah itu mungkin kita bisa ketemu. Tapi aku nggak bawa hijab buat kamu belajar, Narumi”

“Aku ada syal, bisa pakai itu. Selain itu aku juga bikin Nasi Goreng loh ! Kalau kamu mau, nanti aku buatkan!”

Dan begitulah. Rencana dadakan kita akhirnya membawaku bertemu lagi dengan Narumi di Kyobashi Eki. Dia menjemputku di stasiun itu. Dalam perjalanan menuju apatonya, kami sempat mampir ke Hyaku-en Shop untuk membeli peniti dan jarum pentul (ternyata ada loh ! Hhaha) Sampai di apato, aku izin melaksanakan sholat maghrib dulu. Karena dia tinggal di apato yang single room, otomatis dia ada di satu ruangan di mana aku sholat. Sambil mengerjakan hal lain, mungkin dia memperhatikan cara sholatku juga. Jadi malu ! *ehh

Selesai sholat, dia menyuguhiku nasi goreng buatannya ! Dia serius ternyata ! Benar-benar sengaja dibuatkan untukku ! Wah senang sekali~ Nasi goreng adalah makanan favorit yang paling aku kangen semenjak tinggal di Osaka ! >_<
Itadakimaaaa~~~~su !
Ups ! Gawaaat !!! Ternyata nasi goreng buatan Narumi ada dagingnya !
Ya Allah, gimana ini ??!! *Panic at the Apato* halah !

“Waduh, Narumi… ini ada dagingnya ya?” tanyaku ragu.
“Iya, ini daging ayam kok ! Bukan butaniku. Tenang sajaa…”
“Nggh… Maaf ya Narumi, aku nggak makan daging…” lanjutku lagi.
“Hee?? Tapi waktu di Arashiyama, bento-nya daging ayam, kamu makan kan…?” tanyanya kebingungan.
“Ah, kalau itu daging Halal, Narumi… kamu pernah dengar label ‘Halal’? Jadi beli dagingnya khusus… kalau daging ini kamu beli di tempat biasa kan yaa?” kataku lagi, mencoba sehati-hati mungkin supaya tidak menyakiti hatinya.
“Oh, iya iya.. Halal yaa? Ya, aku pernah dengar sih… Tapi karena gak tahu, maaf yaa,,, Gimana dong ya? Kalau dipisah saja daging ayamnya nggak perlu dimakan gimana?” katanya lagi memberi usulan.

 Ya Allah, biarpun dipisahkan dagingnya, tapi masakan ini kan sudah tercampur… Tapi… Kalau aku menolak makan, jelas-jelas sudah susah payah dibuatkan, Narumi pasti kecewa… Astaghfirullah... teringat sebuah kisah saat Rasulullah SAW diberi tiga buah limau oleh seorang kafir, akhirnya aku memutuskan untuk tetap memakan nasi goreng itu, setelah memisahkan daging ayamnya.

“Hmm… ya sudah Narumi, ayamnya buat kamu saja ya… ini banyak sekali soalnya, sayang kan kalau nggak dimakan… maaf ya Narumi…” kataku merasa bersalah. Merasa bersalah pada Narumi, terlebih lagi pada Allah ! Maaf ya Allah… Aku makan makanan ini… Meskipun dilihat dari sisi manapun, kondisiku tentu berbeda dengan situasi Rasulullah SAW saat menerima buah limau dari seorang kafir itu, tapi esensinya aku hanya tidak ingin menyakiti hati Narumi yang sudah wazawaza membuatkanku nasi goreng, aku nggak mau Narumi jadi berpikiran buruk tentang muslim yang tidak menghargai pemberian oranglain… Maaf ya Allah… Maaf… Maaf sekali ya…

Meskipun makan dengan rasa bersalah, tapi aku akui memang enak sekali nasi goreng buatan Narumi. Dia yang hobi masak bilang kalau dia belajar otodidak masak masakan Indonesia dari resep di internet. Sugoi jyan ?!

“Memang kenapa sih daging itu ada yang halal dan tidak?” tanyanya ketika kita sedang makan. Duh, bisakah aku menjelaskannya?

“Hmm… cara memotongnya beda Narumi, jadi dalam Islam… sebelum memotong hewan harus menyebut nama Tuhan dulu. Hewan kan juga hidup ya, jadi kita nggak boleh sembarangan membunuhnya begitu aja, harus dengan menyebut nama Allah, meminta izin dari Tuhan dulu, baru boleh membunuh binatang dan dagingnya boleh dimakan…” begitulah kira-kira penjelasanku dengan bahasa Jepang yang belepotan.

“Oh, begitu yaa…” katanya, mengangguk mengerti. Ya Allah, semoga dia benar bisa menerima penjelasanku yang ala kadarnya itu.

Kami ngobrol banyak hal, tentang Islam, juga tentang yang lainnya. Dia mengeluarkan Al Quran dengan terjemah versi bahasa Jepang yang tempo hari ku lihat dibacanya di Arashiyama.

“Tuti, aku pusing baca ini… Susah sekali, aku nggak ngerti…” keluhnya sambil membuka lembaran kitab suci bersampul merah itu. Dia membuka bagian surat Al Baqarah.

Waduh… Al Quran bahasa Jepang ini sudah dibuat seperti buku biasa, dari kiri-ke kanan, tidak seperti Al Quran biasa yang terbalik, dari kanan ke kiri. Jadi tidak seperti kebanyakan “calon muallaf” lain, (aamiiin) Narumi langsung baca terjemah Al Quran dari surah Al-Fatihaah dan Al Baqarah. Dan karena Al Quran terjemah bahasa Jepang banyak kanji, aku juga nggak bisa bacanya… Jangankan aku, ternyata Narumi pun banyak tidak tahu kanji yang tertulis di dalamnya karena kata-kata yang ada mungkin tidak umum baginya.

“Hmm… Karena baru awal pasti susah Narumi, kamu kalau mau baca ini dari belakang saja dulu ya, yang bagiannya pendek-pendek…” aku membukakan untuknya bagian Juz 30. Mulai dari surat An Naas ke atas. Selain itu, ada beberapa buku tentang Islam berbahasa Jepang yang di dapat Narumi dari Masjid Jami Tokyo, aku menyarankannya untuk baca itu dulu.

“Al Quran ini kata-kata dari Allah, bukan buatan manusia… Disampaikan kepada Nabi Muhammad. Jadi bahasanya indah, tidak sama dengan bahasa arab yang digunakan sehari-hari…” tambahku lagi.

“Hoo… Allah dan Muhammad itu beda yaa?” pertanyaan Narumi berikutnya ini membuatku kaget.

“Beda Narumi… Allah itu Tuhan, Islam kan agama satu tuhan ya? Kalau kepercayaan Jepang kan ada banyak Dewa di dunia, ada Dewa Laut, Dewa Hutan, tapi kalau di Islam Tuhannya cuma satu... Only One ! Nah… Nabi Muhammad adalah orang yang dipilih Allah untuk mengajarkan ajaran agamaNya…” kataku, dengan terbata-bata menjelaskannya dalam bahasa Jepang.

“Oh… jadi Allah itu Tuhan, Only One. Sedangkan Muhammad itu manusia yang dipilih untuk menyampaikan Islam kepada orang-orang yaa?”

“Iya, dan Nabi Muhammad ini dipilih karena dia adalah manusia terbaik di dunia, jadi umat Islam harus selalu menghormatinya…” tambahku lagi.

Nasi goreng di piring kami sudah habis seiring banyak perbincangan kesana-kemari. “Yosh Narumi ! ayo kita mulai belajar pakai hijab !” seruku semangat. Narumi pun dengan semangatnya mengeluarkan syal pink, yang senada dengan warna bajunya saat itu.

Hanya dalam beberapa menit, wajah oriental Narumi terbingkai dengan hijab. “Kawaiii~~!” seruku melihatnya penampilan barunya. Narumi segera mengambil cermin dan melihat pantulan dirinya, kemudian tertawa.

“Hahahha wajahku jadi kelihatan lebih mungil, ya… seperti bukan aku! Cocok nggak nih?” katanya sumringah. Agaknya dia menyukai hasil kerjaku.

“Cocok ! Cantik, Narumi. Bener deh !” kataku tulus. Dia terus mematut diri di cermin dengan wajah sumringahnya.

“Nggak aneh? Wajah Jepang sepertiku ini pake hijab?” tanyanya lagi

“Hahaha nggak aneh kok… aku rasa ya, semua wanita dari negara apapun cocok loh kalo pake hijab.” jawabku. Dan memang benar, ku rasa semua wanita di dunia ini memang terlihat lebih cantik dan anggun dengan hijab.

“Ayo Narumi, di foto !” kataku lagi, disambutnya semangat dengan menyerahkan I-phonenya padaku, “Oke, fotoin ya !” Dia langsung berpose di depan kamera. Kami juga sempat foto bersama.



Udara malam kian dingin seiring obrolan kita yang kesana-kemari. Narumi yang juga bilang suka Indonesia membuatkanku wedang jahe. Minuman yang menghangatkan hati, sejenak membawa rasa kangenku pada Mama di Jakarta. Wedang jahe minuman favorit Mama…

Pukul 08.30 PM. Aku pamit pada Narumi. Saat mengantarku pulang sampai ke stasiun, dia melepas hijabnya. Belum pede, katanya. Aku mengerti sekali. masih butuh banyak waktu dan proses panjang untuk Narumi mengenal Allah SWT. Aku berharap Allah mengizinkanku bersamanya mengayun langkah belajar Islam lebih jauh, meniti jalan menuju hidayah-Nya...

Hidayah, semua hak prerogratif Allah SWT semata. Allah saja yang memiliki kuasa mengetuk pintu hati manusia, menentukan siapa yang Dia izinkan menerima hadiah terindah itu. Ya Allah, entah bagaimana nantinya, saat ini Engkau tentu lebih tahu tentang Narumi. Aku hanya mampu berdoa, semoga kelak Engkau izinkan dia segera menerima cahaya Islam dalam hidupnya. Aamiin ya Robbal ‘alamiiin…


‘…Maka Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki, dan memberi Petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Dia-lah Tuhan Yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana’ (QS. Ibrahim: 4)


Ya Robbanaa, berilah kami petunjuk-Mu selalu, istiqomahkan kami untuk terus berjalan di jalan-Mu selalu, sesungguhnya sebaik-baik pemberian-Mu kepada kami adalah Hidayah…


*Kawaii : Manis, imut
  Yokatta : Syukurlah !
  Hyaku-en Shop : Toko serba seratus yen
  Butaniku : daging babi
  wazawaza : sengaja bersusah payah
  Sugoi jyan?! : Hebat kan yah?! 



Jumat, 22 November 2013 - 10.20 PM JST

aL - Kamar Asrama . Osaka

 

Minggu, 17 November 2013

Under The Momiji, Arashiyama .

Minggu, 17 November 2013

Bukit warna-warni dan gemericik air sungai menyambutku dan Yutha. Masha Allah… Indah sekali pemandangan yang terhampar di depan mata kami. Arashiyama, sebuah nama tempat di Kyoto yang terkenal sebagai destinasi wisata alam luar biasa indah, terutama saat musim gugur dan musim semi, di mana bunga-bunga sakura bermekaran.

Mungkin minggu ini belum puncaknya semua dedaunan momiji memerah, namun warna kehijauan yang masih tampak disana-sini makin membuat alam kian cantik, berwarna-warni. Matahari cerah menghangatkan udara bersuhu 17 derajat celcius siang itu.

“Ti, bener nih tempatnya? Kok kita daritadi nggak liat satupun orang berjilbab?” tanya Yutha, agaknya sedikit ragu dan khawatir tersasar di taman super luas itu. Perasaan sama kurasakan juga, meskipun kita sudah berjalan sesuai dengan navigasi googlemap di tanganku.

“Bener kok Tha, di peta sih kita udah jalan ke arah yang bener…” aku ikut celingukan, mencari sosok kepala berhijab diantara banyak orang yang ramai-ramai mengunjungi Arashiyama untuk menikmati momiji.

KMII Momiji Kansai 2013, acara gathering muslim-muslimah yang diselenggarakan KMII (Keluarga Masyarakat Islam Indonesia se-Kansai) lah yang kami tuju. Di bayanganku, setelah sampai Arashiyama Eki, kita akan banyak melihat wajah-wajah Indonesia dan wanita-wanita berhijab, jadi kita bisa sama-sama menuju ke tempat gathering. Tapi tadi di stasiun, tak satupun terlihat orang-orang yang dimaksud. Akhirnya aku dan Yutha, teman satu program yang saat ini kuliah di Kyoto Kyoiku University, nekat mencari tempatnya sendiri. Padahal kami sama-sama buta arah dan nggak bisa baca peta ! Duh >_<

“Jangan-jangan belum pada datang, Tha… tahu sendiri kan jam Indonesia !” aku nyeletuk, agak sebal juga karena jam sudah mepet mendekati waktu dimulainya acara. Setelah menelpon beberapa panitia, akhirnya kami memang tersasar. Karena gak ada petunjuk pasti, dimana tempat berlangsungnya acara, kami jalan terlalu jauh ke dalam, sampai masuk ke kawasan Bamboo Path yang juga terkenal di Arashiyama.

Acara sudah dimulai begitu kami sampai, namun baru beberapa orang saja yang hadir. Setelah game perkenalan dan sholat dzuhur berjamaah, baru mulai berdatangan orang-orang Indonesia dari berbagai penjuru Kansai. Waah… ramai sekali! Takjub melihat ternyata banyak sekali muslim-muslimah yang hadir, berasa seperti bukan sedang berada di Jepang ! Heran… sebanyak ini, kenapa di Yao sama sekali gak pernah kelihatan ya satu saja orang Indonesia selain aku? Hff~



Siang itu, aku dan Yutha merasakan atmosfer yang lain dari biasanya. Maklum, kita sama-sama terasing sebagai orang Indonesia satu-satunya di kampus kami masing-masing. Ah, kangeen~~ akhirnya aku bisa sholat berjamaah lagi, setelah hampir dua bulan tinggal di Jepang ini.

Setelah makan siang, ada kajian yang disampaikan oleh Ust.Syahirul Alim, ketua KMII Kansai yang membahas taddabur surah Al-Mukminuun ayat 1-11. Suasana syahdu, mendapat siraman ruhani di bawah indah momiji dan semilir angin dingin  yang menggugurkan merah-merah dedaunan membuat aku benar-benar merasa bersyukur bisa Allah izinkan berada disana saat itu. Terima kasih ya Rabb… Maka nikmat Allah mana lagi yang kamu dustakan, aL…? Mataku berkaca-kaca.

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
1. Sungguh beruntung orang-orang yang beriman
2. (yaitu) orang yang khusyu' dalam shalatnya,
3. dan orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tidak berguna.
4. dan orang yang menunaikan zakat.
5. dan orang yang memelihara kemaluannya.
6. Kecuali terhadap istri-istri mereka atau hamba sahaya yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka tidak terceIa.
7. Tetapi barang siapa mencari di balik itu, maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas.
8. dan (sungguh beruntung) orang yang memelihara amanat-amanat dan janjinya,
9. serta orang yang memelihara shalatnya.
10. Mereka itulah orang yang akan mewarisi,
11. (yakni) yang akan mewarisi (surga) Firdaus. Mereka kekal di dalamnya.

Karena aku bukan ahli tafsir, jadi mau men-share isi kajian rasanya agak khawatir. Takut salah tulis. Jadi, biar sama-sama belajar, yuk dilihat tafsir surah Al-Mukminun ayat 1-11, mampir dulu ke link berikut.


Sempat dibahas siang itu, bahwa hidup sebagai mukmin, kaum minoritas di Jepang memang sebuah tantangan. Ibadah-ibadah yang biasa dengan mudah dilakukan di tanah air terasa begitu sulit dilakukan di Jepang. Terutama sholat lima waktu. Kembali aku diingatkan bahwa sholat adalah ibadah yang paling pertama akan dihisab di hari pengadilan nanti, jadi biar bagaimanapun kondisinya, sebisa mungkin harus selalu menjaga sholat lima waktu. Masalah saat harus sholat bahkan di tempat-tempat tak wajar seperti pinggir jalan, stasiun, dsb juga sempat dikemukakan. Ah, aku jadi malu sendiri.. Jujur, jangankan untuk khusyu’, bahkan saat ini mentalku masih belum kuat jika harus beribadah sendirian di tempat-tempat umum begitu. Ya Robbana… ampuni hamba yang masih begitu lemah iman ini :’(

“Malu dan takutlah kepada Allah, bukan pada manusia ! Jepang, atau di manapun juga, adalah bumi kepunyaan Allah, jadi setiap orang boleh bersujud menyembah-Nya, mengagungkan nama-Nya di manapun ia berada. Bukan mata manusia yang memandangmu aneh yang harus kau risaukan, tapi pandangan Allah yang memuliakanmu yang harus kau perjuangkan !”

Ya Allah… Semoga Engkau selalu menguatkan hati hamba dengan kalimat ini …
Kajian yang menggugah. Semoga Kau senantiasa menjaga kami istiqomah, ya Allah…

 Hari itu, aku kembali diberikan hikmah dan pembelajaran. Terimakasih, Tuhan… selain membahas tafsir surah Al-mukminun, sempat dibahas pula tentang organisasi KMII, dan info ibadah Haji dari negeri Sakura, tidak perlu antri bertahun-tahun, daftar dan bisa langsung berangkat tahun itu juga. Ya Allah… salah satu miimpiku bisa berangkat Haji dari Jepang… Semoga kelak Engkau ridhoi aku, kedua orang tua dan kakakku, serta keluargaku nanti bisa bertamu ke rumah-Mu. Aamiin ya Robbal aalamiin…

Acara siang itu benar-benar menyenangkan. Selain dapat ilmu, aku dan Yutha juga dapat banyak teman baru. Aku juga akhirnya bisa kopdar dengan kawan-kawan yang sudah lama kenal tapi hanya kontak via FB, Alhamdulillaah.. Dan yang menarik, diantara muslim-muslimah Indonesia, ada dua orang Jepang yang juga ikut bergabung. Satu laki-laki, suami dari Mbak Ita yang sudah menjadi muallaf, dan Narumi-san, wanita asal Kyobashi, Osaka yang sedang belajar Islam. Masha Allah, senang melihatnya membaca Al-Qur’an terjemah bahasa Jepang, belajar wudhu dan ikut sholat berjamaah. Semoga Allah SWT segera memberikan cahaya terindah di hatinya untuk memeluk dien Islam… Allahumma aamiin… Aku sempat bertukar kontak dengan Narumi-san, semoga kita bisa berteman baik :)

Setelah acara ditutup dengan games dan foto bersama, kami jalan-jalan seputar Arashiyama. Bernarsis ria dikawasan Bamboo Path dan Jembatan Togetsu. Sebenarnya ada lomba foto momiji dari KMII, tapi karena nggak Pede ikutan, foto-foto yang diambil, cukup di upload di page pribadi ini saja deh :)


18 November 2013  -  07.10 JST
Happy Monday !

aL- Kamar asrama , Osaka .