Selasa, 03 Juni 2014

S.chan dan Jimat Pengikat Jodoh

Ini satu cerita lama sebenarnya. Musim dingin lalu aku dan teman-teman study tour ke Prefektur Shimane, yang berjarak sekitar 4 jam perjalanan dari Osaka. Sebetulnya aku ikut study tour kali ini dengan setengah hati. Melihat list daftar tempat yang akan di kunjungi, rasanya tak ada satu pun yang benar-benar menyentuh minatku. Tapi karena hampir semua teman ryuugaku ikut, menghabiskan liburan bersama mereka di suatu tempat mungkin bisa jadi kenangan yang manis.

S.chan, salah satu kawan karibku dari negara T, negaranya Sanchai dan Tao Ming Tse (Inget mereka dong yaa? Hahaha Yup, Meteor Garden) menjadi teman duduk seperjalananku dalam bus. Cewek imut ini, meskipun sepertinya sama denganku yang kurang begitu minat dengan sebagian besar tempat yang akan kami kunjungi, rupanya punya “misi khusus” yang memantik semangatnya sendiri.

“En Musubi!” katanya dengan mata bersinar dan senyum sumringah.

“Izumo Taisha, salah satu kuil di Jepang yang terkenal ampuh En-Musubinya. Banyak orang jauh-jauh datang ke sana cuma untuk berdoa, dan mendapatkan jimat pengikat jodoh loh!” terangnya lagi, mengulangi penjelasan Sensei pada kuliah umum pra-studytour yang dilaksanakan seminggu sebelumnya. Tak kusangka dia benar-benar berniat berburu jimat pengikat jodoh di sana.

“Hahahaha menarik, ya…” responku sambil tertawa. Bukan en-musubi itu, tapi S.chan yang menarik. Aku tahu betul apa yang akan dia ucapkan dalam doanya di kuil itu nanti. Kita sering bertukar cerita, dan tahu satu sama lain siapa orang yang sedang kita sukai masing-masing.

“Ah, gak sabaar ! Pengen langsung ke Izumo Taisha aja deh” serunya dengan semangat 46. (karena semangat 45 cuma punya orang Indonesia, Hahaha) Aku tersenyum demi melihat kebulatan tekadnya itu, lalu menatap ke luar jendela bus. Terbersit selintas wajah seseorang, namun kemudian segera hilang terbang terbawa pemandangan salju tebal pegunungan yang berlari di luar kaca bus.

Dan setelah hari pertama study tour dilewatkan dengan bermain salju, mengunjungi berbagai tempat sejarah, kemudian onsen, akhirnya hari yang S.chan tunggu datang juga! Mbak pemandu wisata dalam bus seolah tahu betul bagaimana cara memantik antusias peserta tour. Beberapa kali dia sengaja menambah bumbu-bumbu kisah membahas kemashyuran Izumo Taisha yang konon kabarnya selain sebagai tempat para Dewa se-antero Jepang rapat tahunan, juga merupakan sarana para jomblowan/wati banyak berdatangan untuk berdoa minta jodohnya. Suara cekikikan terdengar riuh rendah dalam bus. Ya begitu deh anak muda, gak bisa banget gitu denger kata jodoh! Hahaha

Setelah berkeliling komplek kuil dan mendengarkan berbagai macam penjabaran sejarahnya, kami, yang sebagian besar aku yakin kurang konsen menyimak gara-gara kepikiran en-musubi, (hahaha) akhirnya diantar ke sebuah bangunan yang terlihat lebih tua dan terletak di bagian belakang komplek kuil. Disitulah katanya tempat berdoa minta jodohnya. S.chan segera merogoh dompet mungilnya, mencari uang receh.

“Sini kameramu, aku rekam video nanti ya! Doanya udah disiapin kan?” selorohku padanya seraya menepi, keluar dari kerumunan yang mulai membentuk barisan ke depan altar doa. S.chan mengangguk dengan binar antusias di matanya. Setelah melempar uang receh dan beberapa kali bertepuk tangan, S.chan tertunduk khusyuk dengan tangan tertangkup di depan wajah. Aku dipinggir sibuk bertugas sebagai kameraman.

Selesai. S.chan mengangkat wajahnya dan menoleh ke arahku. Senyumnya merekah. Seolah lega telah menuntaskan misi besarnya itu. “Tutiii, Makasiiiih… sini gantian. Kamu berdoa, aku yang ambil gambarnya.” katanya.

“Aku nggak usah. Yuk, kita jalan lagi!” jawabku.

“Eh? Nggak berdoa dulu buat…?” tanyanya lagi memastikan. Kaget.

“Uun,. Shinai yo.. Ikou~!” Aku menggeleng mantap. Tertawa melihat ekspresi kaget S.chan. Mungkin baginya, sayang sekali melewatkan kesempatan berdoa di tempat itu.

“Sasuga, Tuti.” timpal satu temanku yang lain, heran dan menyayangkan sikapku juga. Aku cuma tertawa dan bilang…

“Loh, aku mah kan tiap hari juga berdoa, lima kali malah. Hahaha”

Seolah belum afdol, S.chan pun membeli sabuah omamori (jimat) mungil berwarna merah bertuliskan kanji “En” (Jodoh). Harganya aku lupa, kalau tidak salah lebih dari 1000 yen (lebih dari seratus ribu rupiah). Mahal~ Mungkin karena tempat terkenal yaa… Dalam bungkus jimat itu terselip kertas berisi ramalan. Aku tak tahu persis lah, banyak kanji yang tak bisa kubaca. S.chan karena berasal dari negeri kanji, makanya walaupun gak mengerti cara baca, tapi sedikit banyak paham maksudnya. Dan dia senyum-senyum sendiri baca itu. Oh, rupanya dapat ramalan yang bagus, toh~

Setelah dibaca, kertas itu dia ikatkan ke sebuah pohon yang memang menjadi tempat khusus mengikat kertas-kertas ramalan. Bahkan sampai bertumpuk dan batang pohon jadi berwarna putih. Mission Completed! S.chan tersenyum puas. Dan bukan cuma dia, Banyak teman lain juga melakukan hal yang sama. Semua heboh dalam euphoria en-musubi. Yang jomblo ngarep dapat pacar, yang lagi PDKT ngarep biar lancar sama yang digebet, yang udah ada pacar ngarep biar awet, yah begitulah mungkin kira-kira. Atau malah ada juga kali yang ngarep pacarnya nambah? Hahaha #sotoy ah!
                                                                             ***

Tapi… sayang disayang, kira-kira dua bulan setelah itu, S.chan datang padaku dengan wajah lesu. Dia menunjukkan sebuah halaman medsos cowok yang disukainya, dan disana tertulis bahwa cowok itu baru jadian dengan cewek lain. Aku kaget. Hatiku ikut terusik melihat S.chan bersedih. Hari itu, karibku patah hati.

“Aku gak papa, yang penting dia senang.” S.chan mencoba menegarkan hati. Kalimat sakti #akurapopo diaplikasi juga oleh orang asing ternyata.

“Iya, mungkin ini yang terbaik S.chan, kita kan cuma satu tahun disini. Kalau kamu pacaran sama dia, nanti susah kalau udah saatnya pulang kan~?” aku menambahkan. Bingung sebenarnya bagaimana cara menghibur hati yang terluka. eaaah~

Hari berganti, musim semi datang, semester baru pun tiba. Dan waktu memang obat paling mujarab. Sekarang S.chan sudah berhasil move on dan kembali ceria. Dan walaupun gak terjadi sesuai yang diharapkan, tapi sampai sekarang sepertinya S.chan masih terus menyimpan jimat pengikat jodoh itu bersamanya. 



3 Juni 2014 . 11.48 PM JST

aL, kamar asrama . Osaka

Sabtu, 10 Mei 2014

M.san dan Negeri Impian

Kemarin salah satu temanku berulang tahun. Ada perayaan sederhana dimana kita makan siang dan mengobrol bersama. Tidak banyak yang datang, dan justru karena itu kita bisa lebih banyak interaksi satu sama lain.

Salah satu teman yang datang adalah M.san, teman se-program dari S, sebuah negara maju di Eropa yang tahun ini gak lolos piala dunia (aduh, clue-nya absurd ya? hahaha) yah, gampangnya kalo orang Indonesia pasti kenal dengan pepatah "SW*** payung sebelum hujan". Nah, itu .

Aku gak begitu akrab dengan M.san, interaksi kami selama ini bisa dihitung jari. Tapi kemarin kita banyak mengobrol bersama. Mulai dari pembicaraan soal hari turunnya beasiswa bulanan, (yang alhamdulillaah, turun hari ini! >_<) sampai ke statementnya yang membuatku melongo.
"Gak tahu deh soal bayaran sekolah, gue nggak pernah."

What?! NGGAK PERNAH bayaran sekolah??

"Maksudnya?" tanyaku, minta penjelasan lebih lanjut.
"Gak pernah. Di negara gue sekolah gratis. Bahkan buat yang mau, bisa dapat uang dari pemerintah tiap bulan, sekitar 3 man (3 juta rupiah)." jawabnya santai, sambil mengunyah puding.

"Gratis?? berarti gak ada anak yang gak sekolah dong?"
"Banyak, di sana banyak kok yang gak mau kuliah dan lebih milih langsung kerja.."
"Maksudku, gak ada dong anak yang gak bisa sekolah karena kendala ekonomi??"
"Wah kalo itu mah gak ada. SAMA SEKALI."

Aku menahan nafas demi mendengar jawabannya itu.

"Enak ya... Gratis ya dari SD sampai SMA...?" gumamku pelan, mengaduk-aduk teh (yang sebenarnya gak pakai gula juga), lebih seperti bertanya pada diri sendiri. Terbayang sosok anak-anak kampung di pelosok negeri, masih banyak yang gak bisa sekolah.

"Sampe kuliah." tandasnya.
"sampe KULIAH??" suaraku meninggi, mengangkat wajah dan memandang M.san gak percaya. Dia serius?!

Entahlah, dibilang norak atau apa. Aku memang pernah dengar kalau ada negara yang benar-benar membebaskan biaya pendidikan begitu. Hanya saja, aku belum percaya salah satu anak beruntung yang bisa merasakan fasilitas itu duduk di depanku saat ini. Aku terdiam. Sebersit rasa iri menjalari hati. Terbayang lagi masa-masa dimana aku nyaris putus kuliah dulu...

Dan bukan cuma aku, beberapa teman lain juga sepertinya merasakan iri yang sama pada M.san.

"Ah, tapi kan disana biaya hidup mahal. Mana pajaknya gede banget" sergah salah seorang temanku yang lain.

"Ya justru karena pajak itu kita bisa sekolah gratis kan.." lanjut M.san lagi, masih dengan gaya santainya. Menyuap puding terakhir di piringnya.

'Ah, sial. Coba di Indonesia gak ada korupsi.' aku mengumpat dalam hati. Mungkin memang tak bisa dibandingkan Indonesia yang luas dari sabang sampai merauke dengan negara M.san, tapi paling tidak, andai tak ada korupsi... andai tak ada korupsi...!!!

Aku percaya pendidikan merupakan salah satu jalan meningkatkan kesejahteraan hidup. Dan betapa irinya mengetahui kontrasnya negara M.san dengan negeriku, dimana pendidikan, terutama jenjang universitas masih jadi barang "mewah" bagi sebagian besar penduduknya.

Ah, negara M.san seolah bagai negeri impian. Indonesia kapan ya bisa begitu?
Balik lagi deh tanya diri sendiri, "Aku bisa apa ya untuk Indonesia?"

Pertanyaan yang bikin galau.



28 April 2014 . 07.58 AM JST


aL - Kamar Asrama . Osaka

Jumat, 25 April 2014

A-chan dan "Mbak"nya dari Indonesia .

Musim semi ini OKU kedatangan banyak mahasiswa asing baru. Salah satunya adalah A.chan, cewek super cute dari H. Salah satu negara di Asia bekas jajahan Inggris.

Saat pesta penyambutan mahasiswa baru, kita gak sempat berkenalan langsung. Tapi setelah beberapa kali masuk kelas bareng, selesai kuliah aku menghampirinya, mengajak kenalan. A.chan lebih nyaman berbahasa inggris daripada bahasa jepang.

"Kamu dari mana?" tanyanya.
"Indonesia"
"Oh, aku tahu beberapa kata bahasa Indonesia !" responnya antusias.
"Wah, apa??" aku penasaran.
"Minye~" jawabnya sambil nyengir.
"Hah?" coba ulang??" aku ikut nyengir, mendengar suara imutnya menyebut satu kata yang asing di telingaku.
"Minyet? hahaha" Dia mengulang, menambahkan gerakan garuk-garuk kepala, dan menyebutkan bahasa inggris dari nama binatang yang dimaksud.

Aku tertawa. Oh, itu rupanya? Aku pun meluruskan pengucapannya. Penasaran. Dari mana dia tahu kata itu? Mungkinkah A.chan pernah ke Indonesia?

"Waktu aku kecil, aku pernah diasuh oleh orang dari Indonesia. Aku diajari kata itu. Dia bahkan sering memanggilku begitu. Hahaha" A.chan mengakhiri jawabannya dengan tawa lebar. Jawaban yang cukup mengagetkanku. Tapi demi melihat tawa manisnya, aku juga jadi ikut tertawa.

Astaga, sering dipanggil monyet?

Di hari berikutnya, saat ku sapa, A.chan kembali bercerita.

"Aku ingat lagi kata bahasa Indonesia. Tapi mungkin kurang baik ya?"
"Apa? Apa??" Mataku membulat. Apa lagi kali ini?
"Simpa! Simpa!! Sejenis pakaian dalam kan?! Dan, babi. Hehehehe" katanya, kali ini sambil melebarkan lubang hidung ke atas dengan jari telunjuknya.

Aku tertawa melihat ekspresinya yang lucu. Tapi jujur, dalam hati miris.

Ada apa?? Anak kecil akan mudah ingat, apalagi kalau sering diulang-ulang. Tapi kenapa anak semanis A.chan ini justru diajarkan kata-kata bahasa Indonesianya yang begitu? Hffff...

Sudahlah. Daripada jadi suudzon dengan mantan "Mbak"nya itu, besok-besok, kalau A.chan menyebut kata bahasa Indonesia yang 'ajaib' lagi, aku akan bilang,

"A.chan, kita belajar bahasa Indonesia lagi yuk~!"


25 April 2014 , 11.00 PM JST


aL - Kamar Asrama, Osaka .


Selasa, 01 April 2014

Hijab dan Berbagai Kisah Di Baliknya #2

Berkisah soal hijab, bukan cuma hal-hal yang bikin risih saja sih, kadang juga penampilan berbeda ini membawa hal lain yang malah tak terduga. Yang paling gak akan ku lupakan adalah kejadian di suatu hari di kantor, saat aku berpapasan dengan Mas Hide, seorang staf kantor yang sudah mencuri perhatianku sejak hari pertama magang karena “Otsukaresama desu”-nya selalu berulas senyum maut. Pagi itu, dia bilang padaku,

Kore, niattemasune~” sambil mengisyaratkan tangan di kepala, menunjuk hijab putih yang kukenakan hari itu. Dan tentu saja, senyum mautnya gak ketinggalan!

ah, a, arigatou gozaimasu!” responku gagap, syok pagi-pagi dapat pujian darinya. Kalau di film kartun, mungkin dari kepalaku langsung tumbuh setunas bunga dan mengembang indah saat itu juga. Kejadian pagi itu menerbitkan senyum yang tak surut di wajahku sampai jam pulang kerja sore harinya. Hhihi

Kejadian tak terduga lainnya terjadi saat aku dan kawan-kawan sesama internship berencana nonton Hanabi Matsuri di tepi sungai Sumidagawa. Musim panas di Jepang memang identik dengan pesta kembang api. Orang-orang dari segenap penjuru berbondong-bondong datang menikmati pesta tahunan itu. Aku dan beberapa kawan yang sudah siap dengan yukata lengkap dengan geta-nya, sore itu menunggu Liu yang belum juga muncul di stasiun Akihabara. Tempat menunggu yang tak jauh dari pintu keluar membuat para gaijin ber-yukata mencolok mata seperti kami menjadi perhatian banyak orang. Untung saja mood-ku sedang bagus saat itu. Antara antusias dengan pesta kembang api dan yukata baru yang pertama kali kukenakan. Maka tatapan banyak mata pun tak mengusikku. Aku cuek saja setiap ada yang kelihatannya aneh menatap kombinasi hijabku dengan yukata gelap bermotif bunga ungu berhias benang keemasan.

Tak berapa lama, seorang mahasiswa bule bermuka Eropa yang akan keluar stasiun, mendekat kearahku, dan sambil berkata “That’s so Good!” tangannya mengacungkan jempol, tersenyum di depanku. Aku mendongak dan refleks menjawab “Thank you”, lalu membalas senyumnya dengan aneh. Kaget. Setelah si bule pergi, Milana dan Valerie dua teman yang sedari tadi berdiri disampingku rusuh, “ciyeee ditembak begituu!” Apaan sih? Ejekan mereka malah justru bikin aku salah tingkah. Hahaha. Ada-ada saja.

Tiga minggu sebelum kepulanganku ke tanah air, aku diajak makan siang bersama manajerku, Kimura Satoyo-san, atau aku biasa memanggilnya ketua grup Kimura. Walaupun di kantor aku tak banyak bicara dengannya, tapi dia sudah seperti kakak perempuanku sendiri. Aku bahkan diam-diam menjulukinya Bos Malaikat, karena ketika aku tumbang keracunan makanan, dia berbaik hati mengurusku. Saat jam makan siang itu, aku kembali banyak mengobrol dengannya, dan ada sepotong pembicaraan yang juga menyangkut soal hijab.

“Kalau di tempat-tempat umum, aku sering merasa diperhatikan oleh orang-orang sekitar. Mungkin mereka melihatku aneh ya…? Kadang jadi gak enak sendiri”

Ketua grup Kimura tertawa ringan mendengar aduanku. “Kalau ada yang begitu lagi, kamu senyumin aja, bilang ‘konnichiwa’ atau lambaikan tangan, gitu… hahaha” selorohnya.

Tapi candanya itu membuatku serius berpikir.

Benar juga… Kenapa aku harus selalu merasa risih cuma karena mereka melihatku berbeda? Kenapa harus tidak nyaman jadi perhatian? Dan tersenyum... Aku alpa soal itu. Kenapa aku jadi pelit senyum ya? Kenapa harus selalu disenyumin dulu baru mau balas tersenyum? Kenapa tidak mulai lebih dulu? Dengan senyum, mungkin pandangan aneh mereka, atau malah (jika ada) stigma tidak benar yang mereka lekatkan pada umat islam bisa berubah…?

Setelah hari itu, aku benar-benar berupaya untuk mengamalkan saran Ketua grup Kimura. Saat aku kembali ke Osaka sebulan setelahnya, aku sudah tidak peduli soal pandangan-pandangan aneh lagi. Be different? Why not? Just smile! Show that mosleem's heart is full of kindness!

Dan jurus senyum itu benar-benar menunjukkan tuahnya.

Hari kedua di Osaka, aku dan teman-teman mengurus dokumen-dokumen lapor diri di kantor walikota Yao, Osaka. Disana seperti biasa, ada beberapa orang sejenak memperhatikanku, sebelum kembali ke urusannya masing-masing. Seorang nenek yang duduk di sampingku bahkan beberapa kali melirik diam-diam ke arahku. Aku senyum dan sedikit mengangguk hormat padanya. “Konnichiwa” sapaku. Mata nenek itupun membesar, mungkin agak kaget dengan reaksiku. Dia membalas sapaanku dan tersenyum balik sambil berkata, “Itu yang kamu pakai di kepala, modis ya!”

Aku tertawa. Benar kan, dari tadi nenek itu penasaran dengan hijabku. Berawal dari situ kita jadi mengobrol, Nenek itu bertanya dan bercerita banyak hal dengan dialek Osaka yang kental. Setengah mati aku mencoba menangkap maksudnya. Maklum, telingaku belum biasa dengan Osaka-ben saat itu. Maka berawal dari hijab dan senyum, hari kedua aku sudah kenalan dengan seorang nenek baik hati. Sebelum pulang dia memberiku alamat, “Main ya kalau ada waktu, rumah Nenek dekat sini. Dan ini buat jajan juga. Semangat belajarnya ya!” katanya sambil menyodorkan secarik kertas alamat plus selembar uang seribu yen. Awalnya aku berusaha menolak, tapi si Nenek terus memaksa. Ya sudah, mungkin rizki karena hijab? Alhamdulillaah… hehehe

Hijab pun menunjukkan perannya lagi sebagai identitas (plus menjadi rizki) buatku, saat aku tersesat mencari jalan menuju Masjid Central Osaka. Pagi itu hari raya Iedul Adha, sudah setengah jam aku berputar-putar kesasar sendirian ditengah gerimis, bertanya lokasi masjid pada banyak orang Jepang, tapi tidak ada yang tahu. Sementara waktu sholat Ied sudah akan dimulai. Aku mulai cemas. Sambil terus melantunkan takbiran sendiri dalam hati, aku berdoa semoga Allah memberiku petunjuk untuk bisa sampai ke Masjid.

Aku celingukan bingung, dan panik. Ibu muda Jepang yang baru saja ku tanya pergi setelah minta maaf karena dia tidak tahu tempat yang ku maksud. Tapi tak berapa lama sebuah mobil hitam berhenti di depanku. Di dalamnya ada tiga orang laki-laki berwajah Pakistan, mengenakan songkok dan baju putih-putih. Salah seorang dari mereka menyapaku.

Assalamualaikum, Come in sister, we will also go to the Mosque!”

Allahuakbaar! Pertolongan Allah. Aku dikenal karena hijabku. ^_^

Jadi terkenal karena hijab? Agak lebay sih, tapi mungkin bisa jadi. Buktinya penampakan berbeda ini bahkan membuatku sampai diminta jadi model cover buletin kampus, bersama dua orang mahasiswa asing lainnya. Mungkin dengan menampilkan sosok berhijab satu-satunya di kampus ini, memperlihatkan bahwa OKU memiliki mahasiswa asing dari beragam bangsa dan negara. Maka setelah 20 tahun lebih tinggal di Jakarta, baru di Osaka ini aku tahu rasanya ikut sesi pemotretan, dan janggalnya lihat muka sendiri terpampang di banyak tempat sekitaran kampus. Hahaha
 
Tenyuu, Buletin OKU
Akihiro, cowok Jepang teman sekelasku pernah bertanya, “Cewek islam selalu pakai ini ya? Kalau di depan pacarnya juga?”

“Iyaa! Kecuali kalau sudah menikah dan jadi suami” kataku.

“Terus ada gak yah cowok yang menikahi cewek islam cuma biar bisa lihat rambutnya saja?” ujarnya lagi, kali ini seperti bertanya sendiri. Aku menahan tawa dengar ujarannya. “Tapi di balik itu, mereka (cewek islam) pasti punya rambut kaan?” lanjutnya lagi, meminta kepastian padaku. Astagaa… jadi dia pikir kami botak? Tawaku pecah demi mendengar pertanyaan polosnya.

Begitulah.

Hijab, melahirkan banyak kisah dibaliknya. Mungkin bagi orang Jepang yang tidak terbiasa, kain sederhana ini terlihat unik melingkar di kepala. Bagi orang yang belum mengerti, hijab identik sebagai simbol. Simbol yang menyatakan bahwa pemakainya adalah pemeluk agama yang disebut Islam. Maka rasanya bagiku, dan mungkin bagi semua muslimah di negeri islam minoritas, berhijab seperti jadi tantangan sendiri. Selain sebagai identitas pribadi dan pernyataan tak tertulis “Ya, saya muslimah”, hijab kemudian menjadi sehelai kain yang membawa tanggung jawab bagi pemakainya untuk selalu menjaga laku, terus berupaya “jaim” alias jaga image serta jaga iman agar selalu bisa menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang santun. Hijab, memiliki caranya sendiri untuk ikut “berdakwah” secara tidak langsung mengenalkan Islam pada dunia.



Otsukaresamadesu  : Ungkapan standar di tempat kerja. Biasanya sebagai sapaan kepada rekan kerja. Bisa berarti "Terimakasih atas kerjasamanya"
Kore, niattemasune..: Ini-nya cocok deh..
Hanabi Matsuri        : Festival kembang api
Yukata                      : kimono musim panas
Geta                         : bakiak kayu
Gaijin                       : orang asing



1 April 2014 , 22.10 JST

aL - Kamar Asrama, Osaka

Hijab dan Berbagai Kisah Di Baliknya #1

Menyambung postingan sebelumnya, kali ini aku ingin cerita segala macam pengalaman unik yang pernah ku alami di Jepang berkaitan dengan hijab.

Awal dinyatakan lolos wawancara tahap pertama saat seleksi program magang di PT. Pasona, Tokyo, aku cukup khawatir juga soal hijab yang ku kenakan. Apalagi salah seorang Sensei di kampusku bilang biasanya perusahaan Jepang sulit menerima karyawan yang berhijab. Lalu, apa karena hijab ini aku akan gagal di seleksi selanjutnya? Ah, tapi bukankah lebih baik tidak jadi berangkat, daripada sudah sampai di Tokyo harus terpaksa melepas hijab karena dilarang perusahaan? Aku menggeleng jeri. Pasrah.

Jawaban atas galauku soal hijab langsung ditunjukkan Allah saat tes wawancara tahap kedua berlangsung.
“Apa kamu tetap akan menggunakan itu jika diterima magang di Jepang nanti?” Shachou bertanya padaku sambil memegang kepalanya, mengisyaratkan hijab yang ku kenakan.
Di bawah tekanan rasa gugup yang luar biasa, plus ditanya pertanyaan yang tak kuduga sebelumnya, akhirnya dengan jawaban terbata dan belepotan aku menjawab, “Iya, Shachou. Bagi saya hijab ini sudah seperti identitas. Saya tidak berniat untuk melepasnya.”

Maka Alhamdulillaah, beberapa bulan setelah itu akhirnya hijab ini tetap membingkai wajahku yang dengan ekspresi norak celingukan terkagum-kagum melihat pesona kota Tokyo.

Dan rupanya hijab ini punya magnetnya sendiri.

Menjadi “berbeda” di antara peserta internship yang lain, penampilan dengan penutup kepala ini cukup menarik perhatian rekan-rekan kerjaku.

“Maaf kalau saya tidak sopan, kain ini ada hubungannya dengan agama ya?” tanya Liu, teman baruku peserta internship dari Cina. Aku mengiyakan sambil tersenyum lebar demi mendengar pertanyaannya yang teramat santun itu. Mungkin dia khawatir pertanyaan soal hijab ini terlalu sensitif buatku.

“Aku punya teman orang Indonesia juga, tapi kok dia tidak pakai baju adat seperti kamu ya..?” Thuy, temanku peserta internship dari Vietnam juga pernah bertanya polos pada kesempatan yang lain. Ternyata dia mengira hijab yang ku kenakan ini termasuk bagian dari baju adat Indonesia.

“Ini apa namanya? Kamu punya banyak warna ya? Cara pakainya bagaimana? Terus apa tiap hari ditentukan harus pakai warna apa?” suatu ketika, rekan Nihon-jin lain yang merasa unik dengan penampilanku memberondong dengan banyak pertanyaan. Membuatku tersenyum lucu. Sebisa mungkin aku menjelaskannya dengan sederhana, supaya mudah dimengerti.

Kore wa Hijab to iimasu. Ini namanya hijab, yang biasa dipakai oleh wanita muslim. Saya punya banyak koleksi warna, corak, dan model. Jadi biar tidak kalah dari fashion sekarang hehehe... Tiap hari bebas kok mau pakai warna apa, tergantung mood saja, dan pakainya mudah. Ini kain segiempat yang dilipat jadi bentuk segitiga, lalu dipakaikan menutupi kepala, dijepit dengan peniti, sudah. Gampang kok, Gak sampai 5 menit pakainya.” Aku menutup penjelasanku dengan cengiran. Disusul “oh…” panjang dari Hayashi-san, cewek cantik yang cerdas, karyawan baru juga di Pasona Global tempatku magang. Kelihatannya dia takjub.

Bukan cuma di kantor, magnet hijab ini juga berpengaruh di setiap tempat. Jujur aku orangnya memang agak perasa. Tapi bukannya ke-GeeR-an atau apa, sepertinya karena hijab ini aku jadi sering diperhatikan oleh orang-orang. Saat berjalan di stasiun atau sedang ada di dalam kereta, pasti ada saja orang yang tertangkap basah tengah memperhatikan, atau paling tidak melirik kearahku. Tatapan aneh, tatapan penasaran, mungkin juga tatapan curiga. Sepertinya pengaruh dari pemberitaan-pemberitaan tentang Islam di media. Entah orang tua, muda, atau bahkan anak-anak. Dan pada banyak kasus, mereka belum akan mengalihkan mata dariku, sampai aku benar-benar balik menatap mereka. Apa sih? Aku yang tidak biasa, kadang jadi merasa risih sendiri. Apa dimata mereka aku seperti alien, makhluk asing dari planet lain?

Pernah suatu sore saat pulang kerja, aku berpapasan dengan sepasang kekasih yang sedang bergandengan tangan di stasiun Ikebukuro. Dari jauh aku sudah tahu kedua orang itu melihat ke arahku. Si Cewek sudah mengalihkan pandangannya begitu bertemu mata denganku. Namun si Cowok masih saja memperhatikanku dengan tatapan anehnya sampai dia benar-benar melewatiku. Hff… rasanya saat itu ingin sekali teriak ke si Cewek, “Mbak, pacarmu itu loh matanya jelalatan!”

Sebenarnya di Tokyo lumayan banyak komunitas muslim, Kalau aku ke Masjid, atau pengajian, banyak berkumpul wanita-wanita berhijab. Aku sendiri kadang sampai heran, sebegitu banyaknya tapi kenapa mereka jarang sekali terlihat di stasiun Tokyo atau Ikebukuro, stasiun padat yang harus kulalui setiap pulang pergi kerja ya? Maka sepertinya aku sendiri lah yang jadi pemandangan aneh di stasiun itu tiap pagi dan sore, lima kali dalam seminggu. “Ya, sudahlah. Mungkin mereka asing dengan penampilan wanita berhijab, atau memang dasarnya aku terlalu kawaii yaa? Hahaha” Begitulah, Usahaku menghibur diri.

Narsis di depan St.Tokyo (mumpung sepi )
Pertengahan Juli. Musim panas menyapa Tokyo. Suhu udara terus merangkak naik bahkan pernah hampir mencapai 40 derajat celcius. Maka saat dimana orang-orang umumnya mulai menipiskan dan atau memperpendek pakaian yang dikenakan, aku masih dengan rok panjang hitam, blazer hitam, serta kerudung (yang juga seringnya) berwarna gelap rapat membungkus kepala. Maka mungkin bagi orang Jepang, sempurna sudah penampilanku bagai ninja nyasar di tengah kota. (Duh!)

Kebiasaan kebanyakan orang Jepang di musim panas, tiada hari tanpa mengeluh “atsuii.. atsuii..!!”. Sampai aku bosan mendengarnya. “Kamu gak panas pakai itu?” tanya salah satu teman kerjaku. “Nggak, malah ini melindungiku dari sengatan matahari langsung” belaku. Siapa bilang tidak panas? Tapi aku sudah berjanji pada diri sendiri, ‘stop mengeluh panas! Karena padang mahsyar dan neraka akan jauh lebih panas dari ini!’

Pada suatu pagi yang lembab, saat berjalan pergi ke kantor di sebuah jalan bawah tanah padat yang tersambung dengan St.Tokyo, tak jauh dari pintu keluar Subway Marunouchi Line seorang ibu tiba-tiba berjalan cepat mendahuluiku, lantas dengan gerakan kilat tanpa aba-aba langsung memfotoku dengan kamera ponselnya. Lalu si ibu buru-buru pergi, meninggalkanku yang terbengong-bengong sendiri.

Omaigat! Kaget. Begitu sadar baru saja “difoto tanpa sadar”, aku langsung bete. Pasti ekspresiku di foto itu nggak banget deh. Lagi jalan sambil bengong juga. Kenapa sih? Kalau tadi bilang jujur minta foto bareng kan aku pasti gak akan nolak, malah bakal pasang pose paling yahuud ! Aduh, ini memang bukan Harajuku, tapi mungkin si Ibu mengira aku sedang cosplay.

Eh, bicara soal cosplay, di St.Tokyo aku pernah melihat seorang kakek pakai baju seragam sailor ala anak SMA plus wig pirang panjang kuncir dua. Kakinya yang berbulu ditutupi kaos kaki putih panjang. Aku takjub. Antara mau ketawa dan jujur agak jeri juga melihatnya. Ya salaam! Itu kakek-kakek yang pernah ku lihat di internet, yang memang terkenal suka pakai seragam perempuan atau baju sailormoon, berjalan melenggang di depan mataku. Ah, saking takjubnya aku sampai gak kepikiran buat minta foto, atau paling tidak, nekat candid seperti ibu-ibu itu.

Oops! Back to the plot. Kejadian difoto tiba-tiba yang kualami kembali terulang saat aku dan rombongan muslimah Masjid Otsuka pulang dari kemping di Pref. Yamanashi. Di bus yang sedang berhenti sejenak di tempat peristirahatan jalan tol, aku yang duduk di pinggir jendela melihat bus lain berhenti di sebelah kami berisi anak-anak SMP yang sepertinya baru pulang studytour. Setelah tersenyum ramah dan membalas dadah-dadah dari mereka (entah siapa yang memulai, anak-anak dalam bus kami dan anak-anak SMP di bus itu jadi saling melempar senyum dan lambaian tangan), salah satu anak SMP cowok yang daritadi senyum-senyum malu tidak ikut melambaikan tangan mengeluarkan kamera dan memfotoku dari balik kaca busnya. Sejurus setelah itu bus mereka bergerak pergi. Duileh, berasa artis jadinya! Tapi yang ini sih mungkin karena saat itu aku juga sedang menggendong Abu-chan, bayi super lucu peranakan Jepang-Pakistan, anak kenalanku seorang muslimah Jepang. Jadi gak usah Geer, aL ! Hahaha


to be continued .

Shachou : Direktur, Kepala Perusahaan
Kawaii   : Manis, Imut
Atsui      : Panas



1 April 2014 .  21.15 JST

-aL- Kamar Asrama, Osaka .

Jumat, 28 Maret 2014

Hijab, I'm in Love !

Hijab, I’m in Love .

Mengutip sebuah tagline populer milik Kak Oky Setiana Dewi, aku mau memulai menuliskan kisah yang sudah lamaaaa sekali ingin dituliskan. Ini tentang Hijab. Aku mulai memakai penutup kepala ini sejak dinyatakan lulus dari SMA, kalau tidak salah ingat, terakhir aku bertemu kawan-kawan SMA-ku tanpa hijab adalah saat acara wisuda kelulusan SMA. Hari itu aku berkebaya biru dengan rambut di keriting ikal merayakan kelulusan 100% plus predikat kelas bahasaku sebagai kelas Bahasa nomor 1 se-DKI Jakarta. Senangnya hari itu bisa membuktikan ke Bapak/Ibu guru kalau kelas bahasa kami bukan sekedar kelas berisik bin bandel, tapi juga bisa mempertahankan gelar yang sudah diraih IPB SMAN 33 selama beberapa tahun belakangan.

Anyway, back to the topic. Kalau ingat zaman-zaman masih nakal dulu… (duileh, kayak sekarang udah nggak aja yah!) parah banget deh pokoknya. Ada satu kisah di masa SMA-ku, yang membuatku sampai sekarang pun masih geleng-geleng kepala kalau ingat. Sewaktu SMA semua siswi di sekolah negeri Jakarta diwajibkan memakai kerudung ke sekolah di hari Jumat. Nah walau cuma diwajibkan seminggu sekali saja~ aku ini bandel. Suatu hari Jumat yang gerah, saat aku masih duduk di kelas sebelas SMA, datang alim ke sekolah dengan kerudung di kepala, tapi belum juga sampai bedug dzuhur berkumandang, kerudungku sudah lepas, terlipat rapih di kolong meja. Bukan cuma aku sih, beberapa teman se-genk juga melakukan hal yang sama. Alasannya? Panas euy! Maklum, di kelas belum ada AC waktu itu. Guru yang seharusnya mengajar pun tidak masuk, jadilah kelas bahasa yang terkenal ramai bikin suasana kelas seketika bak pasar kaki lima.

Tak tahan dengan berisiknya kelas kami yang kebetulan (atau mungkin memang sengaja?) terletak di sebelah ruang guru, seorang guru akhirnya menyambangi kelas kami. Apes buatku, (juga beberapa teman lain) karena guru yang barusan masuk itu adalah guru Agama Islam! Setelah menertibkan kondisi kelas, Pak Guru itu menghampiri tempat dudukku, yang sedari awal sudah ketar-ketir karena tidak keburu memasang lagi kerudung di kepala.

“Mana jilbab kamu?” si Bapak melotot.

“Ada, Pak” jawabku pelan, tertunduk. Tanganku mengeluarkan lipatan kerudung putih dari dalam laci meja.

“Pakai ! kenapa dilepas?! Kalian juga !” hardik si Bapak lagi, kali ini beberapa teman se-genk ku yang lain yang disemprot. Kami pun kembali “terpaksa” memasang kain putih itu menutupi kepala.

Teman-teman (khususnya para teman cowok yang duduk bergerombol di belakang kelas) kontan menyoraki kami. Setelah itu Bapak Guru Agama ini pun melengkapi “serangannya” pada kami dengan wejangan panjang pasal menutup aurat, dan sebagainya, dan sebagainya… Sayangnya aku tak fokus mendengarkan waktu itu karena telinga ini rasanya tersumbat rasa malu! >_<

Setelah Pak Guru keluar, seisi kelas riuh. Gerombolan cowok dibelakang makin semarak menyoraki kami. Beberapa dari mereka bahkan sampai membuat paduan suara dadakan mendendangkan lagu qasidah, “Astagfirullaah Robbal baroyyaa… Astaghfirullaah minal khotuuyaa…” Aku tertunduk makin dalam. Mukaku semerah cumi-cumi rebus. (kepiting sudah terlalu mainstream, hhehe)

Hari Jumat di minggu-minggu berikutnya aku memilih menggunakan kerudung bergo, dengan alasan supaya ringkas dan bisa lepas pakai dengan mudah kalau gerah, tentu saja ini sebagai antisipasi agar kejadian sebelumnya tidak terulang. (duh!)

Kebiasaan lepas pakai jilbab masih terus berlanjut sampai booming novel dan film Ayat-Ayat Cinta. Aku yang sedari SMP sudah tergila-gila dengan Bang Fedi, pemeran Fahri dalam film fenomenal itu pun tak pelak terkena demam AAC. Aku mulai kagum dengan sosok Aisha yang sholehah, dan berpikir bahwa seperti itulah seharusnya untuk jadi wanita yang baik.

Seolah ikut memanas-manasi perhatianku dengan sosok wanita sholehah, beredar rumor kalau kakak kelas cowok yang sudah lama kutaksir di sekolah sedang dekat dengan anak kelas sepuluh, adik kelas yang juga berjilbab dan memiliki pembawaannya kalem. Ah, jealouuuuus…!!! Padahal belakangan aku tahu kalau ternyata adik kelas itu adalah sepupu si kakak kelas.

Lepas dari soal kakak kelas itu pun, entah kenapa seperti mulai ada ketertarikan sendiri untuk pakai kerudung. Aku ingat guru ngajiku sewaktu SD. Aku juga kagum dengan seorang kakak kelas yang lain (kali ini cewek) yang dimataku bagaikan bidadari surga, cantik, kalem dan sholehahnya minta ampun. Diam-diam aku nge-fans dengan kakak itu. Kebiasaannya pergi ke masjid sekolah tiap istirahat pertama untuk sholat dhuha, akhirnya ku ikuti. Aku ingin jadi seperti kakak cantik nan sholehah itu…

“Kalau ada audisi pemeran Aisha di sini, pasti kakak itu yang paling pas!” ujarku suatu hari, melihatnya melintas menuju masjid sekolah dengan jilbab putih panjang yang berkibar tertiup angin, serta wajah teduhnya yang selalu seperti tersenyum. Anggun sekali.

Sejak ngefans dengan Kak Aisha-nya 33 itu, aku insyaf untuk berusaha rutin sholat 5 waktu, sholat sunnah, pokoknya ingin lebih baik dengan belajar tentang islam. Ingin lebih dekat dengan Allah. Setelah itu aku juga mulai SKSD dengan anak-anak KSI (Kelompok Studi Islam, atau bahasa populernya mungkin, anak Rohis). Walaupun bukan anggota resmi, tapi aku mulai suka ikut nimbrung mentoring, rajin datang keputrian tiap Jumat (padahal sebelumnya rajin bolos), dan rajin baca-baca buku atau novel bertema rohani. Dari situ lah semakin terasa keinginan berhijab. Apalagi begitu dapat “surat cinta” dari seorang ukhti yang membuatku sampai terisak-isak membacanya. Surat cinta tentang keutamaan hijab. Surat yang semakin membuatku ingin cepat berhijab. Bahkan aku pernah sampai kebawa mimpi dipakaikan hijab oleh Kak Aisha 33. hhihihihi

Hijab I’m in Love… mungkin tagline itu pas dengan suasana hatiku saat itu. Tapi belum bisa kilat aku menyatakan rasa sukaku dengan langsung mengenakannya di kepala. Masih banyak keraguan yang timbul tenggelam. Selain malu, khawatir diejek teman-teman sekelas (diejek “ciyee tobaaat…!!!”), aku juga tidak punya seragam panjang. Kepalang tanggung, saat itu sudah hampir setengah tahun aku jadi siswa kelas duabelas. Kak Aisha-nya 33 yang kukagumi dan Kakak senior yang kutaksir sudah lulus.

“Mah, aku mau pakai kerudung, kayak gitu…” aku mengaku pada Mama suatu hari, seraya menunjuk seorang gadis kuliahan berjilbab yang berdiri tak jauh dari kami, menunggu angkot.

“Jangan macam-macam, ah” sahut Mama, sepertinya kaget dengan statement-ku yang tiba-tiba itu. Sejurus kemudian Mama menatapku dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan mata tak percaya. Belum setuju rupanya. Keluargaku memang bukan tipe yang agamis sekali. Tradisi pakai jilbab itu ya identik dengan ibu-ibu yang sudah menikah saja. Apalagi saat itu banyak kasus aliran sesat dan penyimpangan agama. Agaknya Mama khawatir aku mendadak minta berhijab karena terpengaruh salah satu aliran aneh. Dan lagi, karena dianggap masih labil, kalaupun benar-benar mau berhijab, khawatir tidak istiqomah dan lepas ditengah jalan. Atau malah nanti susah cari kerja? Ah, tatapan Mama saat itu menyiratkan berbagai kekhawatiran.

Maka setelah menunggu lagi setengah tahun, sambil terus memantapkan hati, sambil terus usaha “ngerecokin” koleksi kerudung Mama dengan memakainya di beberapa kesempatan saat keluar rumah (modus biar dibeliin kerudung sendiri >_<), akhirnya begitu mendapat kabar gembira diterimanya aku di perguruan tinggi negeri, Bismillaah… aku mulai memutuskan untuk terus memakai penutup kepala.

“Ciyeee-ciyeee” dari teman-teman awalnya cukup bikin kuping panas dan muka memerah, lama-lama reda sendiri. Toh walaupun kelihatannya seperti mengejek, sebenarnya mereka senang dengan penampilan baruku dan mendoakan semoga aku istiqomah. Aamiin…!! Semoga dengan ini bisa benar-benar jadi wanita yang lebih baik. Sebagai bonus, bahkan ada yang bilang aku makin cantik dengan hijab, duileh! Jadi senang. Hhaha

Dan yang bikin aku lebih senang, di kampus aku jadi lebih dekat dengan Kak Aisha 33 itu. Kami memang akhirnya sama-sama kuliah di jurusan Pend.Bahasa Jepang UNJ. Thanks for being one of my inspiration, Kuntum Khairunnisa Senpai :)

Kini, sudah masuk tahun kelima wajahku berbingkai hijab. Meski belum rapih menggunakannya, mungkin masih jauh dari kata syar’i, tapi Alhamdulillaah, masih terus berproses menyelaraskan laku dengan hijab yang kukenakan. Semoga Allah SWT senantiasa mengistiqomahkan kita dalam kebaikan.

Hijab, bukan pilihan tapi kewajiban. Hijab merupakan langkah awal untuk memulai perbaikan diri. Kalau logikanya dibalik, menunggu jadi baik dulu baru berhijab, sampai kapan pun mungkin gak akan bisa mulai, karena kita cuma manusia dan bukan malaikat yang bersih dari dosa. So, untuk yang belum atau masih ragu untuk berhijab, tunggu apa? Bismillaah… Yuk, mulai !

Cause every women looks more beautiful in Hijab~


28 Maret 2014 . 21.45 PM JST

-aL- Kamar Asrama , Osaka.