Minggu, 03 November 2013

Suatu Hari di Kisahku . Welcome to Japan !

25 Juni 2013 .

Aku menoleh lagi dan membalas lambaian tangan Mama, Kakak, dan sahabat-sahabatku di balik kaca. Bapak hanya berdiam di belakang mereka. Menatap keberangkatanku dengan tatapan yang sulit kuungkapkan maknanya. Aku beringsut menyeret koper berat ke tempat check in bagasi. Setelah semua prosedur bagasi dan pengecekan paspor selesai, aku menyusuri lobby airport menuju gate keberangkatan. Ada perasaan aneh yang tiba-tiba menyeruak, mungkin rasa yang sering kita sebut “sepi”.

Kutarik nafas dalam-dalam, menghembuskannya perlahan.
“Yosh ! Setelah ini hanya aku, Allah, beserta dua malaikat di sisiku. Jangan pernah Kau biarkan aku merasa sendiri, Tuhan..” bisikku.
Ini kali pertama aku pergi jauh meninggalkan keluarga untuk waktu yang tidak singkat, 2 bulan. Kali pertama pula aku akan naik si burung besi, keluar dari negeri bernama Indonesia.
Tokyo, kota yang kutuju.

“Berkahilah aku yang pergi, dan jagalah mereka yang kutinggalkan ya Rabb…” Jalan yang kutapaki mulai buram, pelupuk mataku membendung cairan bening. Segera ku seka agar tak keburu deras menetes.
"Ada Allah, aku tak akan pernah sendirian !" Ku ulang-ulang kalimat itu bagai mantra yang menyugesti.

Ah mengerti apa aku soal prosedur bepergian ke luar negeri? Mengerti apa aku soal prosedur di bandara? Hanya berbekal sedikit pengetahuan dari browsing internet, tanya-tanya kerabat beberapa hari sebelum beragkat. Di lapangan, aku hanya mencoba praktek dengan mengikuti apa-apa yang orang lakukan, dan sedikit bertanya jika memang benar-benar diperlukan. Selebihnya banyak diam dan belajar mencerna situasi sendiri. Semua tampak sibuk dengan urusan masing-masing. Tak usahlah aku menambah kesibukan mereka dengan pertanyaan-pertanyaan. Tak ada kawan disebelah kanan kiri yang bisa ku ajak bicara. Ah, pikiranku sibuk membaca keadaan, sedang hatiku sibuk berdialog dengan Tuhan. Terus minta arahan, minta perlindungan. Menanti saatnya boarding, hening sekali senja itu. Hening di benakku sendiri.

Saat mulai masuk pesawat, pramugari cantik menyapaku, bertanya nomor seat-ku dengan bahasa Melayu. Agaknya dia pikir aku orang Malaysia. Seatku di kelas ekonomi, dapat di tepi jalan lewat. Ah, padahal pertama kalinya naik pesawat, ingin duduk di pojok, dekat jendela. Ingin menikmati hamparan cahaya lampu kota dari ketinggian. Tetangga sebelah seat-ku wanita, dua dosen muda dari Universitas Syah Kuala, Malaysia. Mereka baru menyelesaikan studi banding dengan Universitas Trisakti Jakarta, katanya.
“Nak ke Jepun seorang je?” tanya Kak Ros, salah satu dari dua dosen itu setelah kita berkenalan. Aku mengangguk dan tersenyum. “Iye…” tambahku. Tak sadar kenapa pula jadi ikut beraksen melayu?

Begitu pesawat mulai take off, mataku terus menatap ke arah jendela. Berdebar-debar antusias.
Kita terbang ! Kelap-kelip cahaya lampu sedikit terlihat dari jendela. Indahnya ! Bagai hamparan berlian berkilau-kilau di gelap malam. Kak Ros yang duduk paling dekat dengan jendela menyadari keantusiasanku.
“Kali pertama kah? Kenapa tak cakap? Kita boleh tukar seat tadi…” katanya sambil tersenyum, mungkin lucu melihat binar antusias di mataku.
“Ah, tak ape…” sahutku malu.

Selama mungkin dua jam perjalanan Jakarta-Kuala Lumpur aku ditemani mengobrol dengan dua dosen ini. Bersyukur dulu sempat hobi menonton Upin-Ipin di TV, jadi aku tak kesulitan memahami pembicaraan saat itu. Mereka bahkan memberiku petunjuk transit begitu sampai di Bandara KL. Ah, Alhamdulillah.. pertolongan Allah selalu datang lewat siapa saja.

Transit tengah malam di Bandara semegah Kuala Lumpur International Airport sempat membuatku jiper. Meskipun sudah banyak dijelaskan tetap saja begitu jalan sendiri bingung lagi. Rumus ikut-ikut dan tanya-tanya akhirnya mengantarku ke gate keberangkatan selanjutnya menuju Narita Airport. Sempat berkenalan juga dengan Sisy, bule Mexico dan mengobrol sebentar dengan bahasa inggrisku yang sangat seadanya. Begitu masuk pesawat, sayangnya kami pisah duduk sehingga aku “sendirian” lagi.

Yes ! Pesawat kedua ini seatku di pojok, dekat jendela. Mentari pagi pertamaku di Jepang bisa kusapa dibalik jendela itu dalam tujuh atau delapan jam kedepan. Laki-laki Jepang datang, duduk di seat sebelahku. Namun tak lama, karena pesawat tidak terlalu banyak penumpang, akhirnya dia pindah mencari seat kosong yang lain. Ah baguslah. Aku memang butuh duduk sendiri saat ini. Tidak ingin dilihat aneh oleh tetangga saat sholat sambil duduk nanti.

Waktu sudah hampir pukul tiga dini hari dan pesawat sudah lepas landas sekitar tiga jam yang lalu. Aku terbangun dari tidur singkatku. Di luar jendela hanya kegelapan. Sama seperti di dalam kabin, hanya beberapa lampu-lampu petunjuk Lavatory dan Exit Door yang terlihat menyala. Memang sudah jamnya istirahat. Beberapa pramugari menyusur lorong kabin, memeriksa barangkali ada yang butuh sesuatu. “Water, Please?” pintaku pada seorang pramugari yang lewat seatku. Haus.

Seolah masih belum bisa percaya, malam itu aku dalam perjalanan menuju negeri Sakura yang selama ini kuimpikan ! Sejurus setelah itu aku pergi ke lavatory mengambil wudhu. Susah payah aku mengangkat kaki ke westafel dan me-lap sisa-sisa air yang berceceran setelahnya. Ah, setelah ini urusan wudhu dan ibadah tidak akan semudah biasanya. Perasaanku bergolak, sedikit cemas, semangat, dan tertantang.

Sholat malam itu, berbeda. Deru mesin pesawat menjadi latar belakang mengiring doa-doa yang kupanjatkan. Tak bisa kubendung lagi, butiran-butiran bening itu akhirnya deras tercurah. Rasa syukur yang tak terhingga, kecemasan-kecemasan bercampur harapan, semua menyeruak dalam benak. Akan seperti apa kehidupanku dua bulan ini, ya Rabb?

Setelah itu aku tak bisa tidur lagi. Pikiran melayang kemana-mana, tentang keluarga, teman-teman, proses penuh liku, kegalauan tingkat dewa, dan perjuangan yang ku jalani sampai bisa berangkat ke Jepang saat ini. Aku sibuk menulisinya di selembar kertas. Sesekali airmata menetes lagi. Ah, aku memang mudah sekali menangis ! Tanpa sadar langit di jendela sudah mulai berwarna biru tua. Aku lihat flight information di monitor seat, kita sudah di atas pulau Kyushuu. Time to Landing 2 hours.

Setelah sarapan dan sholat subuh, aku kembali tertidur sebentar. Begitu bangun, warna biru cerah dan awan putih bersih bagai kapas menyapaku. Sudah hampir sampai ! Waktu landing 30 menit lagi. Nihon, Ohayou ! Saat pesawat mulai merendah dan landscape Jepang sudah terlihat, antusiasku tak terbendung ! Bukit, sungai, ladang yang hijau dan jalan-jalan beraspal mengurat di sela-selanya. Subhanallah, Indah ! Mataku tak berpaling sedikitpun dari kaca jendela sampai roda pesawat benar-benar menyentuh tanah dan berhenti.

Welcome to Narita ! Welcome to Japan, Youkoso !

Sempat ikut-ikut dengan satu keluarga Indonesia yang akan liburan ke Jepang, aku akhirnya sampai di bagian imigrasi. Namun karena proses pemeriksaanku cukup lama, akhirnya terpisah lagi dari keluarga itu. Sempat berkenalan juga dengan Mbak Yayan, guru bahasa Jepang yang datang bersama rombongan magang lain. Ah, ada rasa iri juga melihat mereka datang beramai-ramai. Seru sekali sepertinya ! Aku pun magang, tapi datang sendirian.

Aku bergegas, rumus tanya-tanya dengan bahasa Jepang se”ngerti”nya berhasil mengantarku menemukan bagasi dan berjumpa dengan Mr.Jim, kerabat di Tokyo yang menjemputku, dan mengantar menuju kantor Pasona, tempatku magang 2 bulan ke depan. Mr.Jim, ohisashiburi ! Pertama kali bertemu dengan beliau dua tahun lalu di Bandara Soekarno-Hatta, Alhamdulillah ya Allah, kami bisa bertemu lagi di Tokyo, kata-kata yang dulu aku sampaikan padanya bahwa aku akan ke Jepang suatu saat nanti, terwujud hari itu. Unbelievable !

Kami menuju St. Tokyo dengan NEX, Narita Express bertarif sekitar 3000 yen sekali jalan per orang. Aku di traktir ! Hontouni Arigatou gozaimasu, Mr.Jim .. Sepanjang jalan Ia banyak memberiku pengarahan tentang kehidupan di Jepang. Sampai di St.Tokyo roda koperku patah. Mungkin karena isinya keterlaluan berat. Kasihan Mr.Jim yang membantuku membawanya jadi kepayahan.

By the way, Stasiun Tokyo benar-benar luaaasss… jauh lebih besar daripada Bandara Soekarno Hatta. Ah, suasana St.Tokyo pukul 9 pagi. Ramaaai ~

                                          Stasiun Tokyo

Begitu keluar Stasiun Tokyo, gedung-gedung mentereng menyambutku. Benar-benar khas Ibu kota ! Kesan pertamaku, Jepang bersih sekali ! Tak satu pun sampah kulihat bercecer di jalan. Semua rapih dan kinclong. Kantor pusat Pasona yang terletak di  distrik Otemachi segera bisa ditemukan, hanya 5 menit berjalan dari Exit Nihombashi St.Tokyo. Setelah sampai di kantor, Hirano-san, salah satu staf HRD panitia penyelengara program Pasona Kokusai Kouryuu Program 2013 itu mengizinkanku untuk menghubungi Mama di Indonesia. Ah, betapa jauhnya suara Mama kurasa saat itu. Berulang kali Mama harus memastikan, ”Ini Tuti?! Udah sampai??” Seolah tak percaya, anak bungsunya yang kemarin Ia lepas berangkat seorang diri sudah tiba di negeri orang dengan selamat. Alhamdulillah ya Allah…

Aku anggota internship yang datang paling awal. Begitu Mr.Jim pulang, Hirano-san menemaniku mengenal suasana kantor. Pasona adalah kantor yang “berbeda” dari kantor-kantor biasa. Suatu saat aku akan ceritakan ya, uniknya kantor Pasona, perusahaan staffing dan recruitment yang cukup terkenal di Jepang ini. Selanjutnya Milana Kuzmanovic, mahasiswa asal Bosnia Herzegovina yang kuliah di USA adalah peserta internship kedua yang datang, teman pertamaku di Jepang.

Setelah itu, aku dan Milana menghabiskan siang di kantor, menunggu peserta lain datang. Valerie Wu dari Hongkong, Lu Chi Liu dari Taiwan, dan James Lunde dari USA adalah teman-temanku selanjutnya. Pukul 5.00 PM JST (Japan Standart Time) kami diantar menuju apartemen tempat kami akan tinggal selama dua bulan waktu magang. Kami masing-masing tinggal dalam single-room di apartemen bernama West Inn 137, terletak di distrik Toshima, sebuah kawasan dekat Ikebukuro dan Mejiro. 402 nomor kamarku. Lantai empat, pas di depan lift.

Pukul 7.00 PM, setelah mandi dan sholat Maghrib, aku keluar bersama empat teman baruku itu untuk mencari makan malam. Saat itu pertama kalinya mereka kuberi tahu bahwa aku tidak bisa makan daging. Maka setelah memilih tempat makan yang ada menu non-daging, Kitsune-Udon lah menu makan malam pertamaku di Tokyo. Ah, sejak makan siang tadi makan masakan Jepang, sejujurnya perutku yang belum beradaptasi merasa mual. Namun aku harus tetap makan, menghindari kambuhnya sakit maag-ku. Memegang erat salah satu amanah dari keluarga, “Jaga makan, jaga kesehatan!”

Selesai makan kami pulang dan beristirahat di kamar masing-masing. Agaknya perjalanan panjang membuat kami sama-sama lelah. Ditambah lagi besoknya, jam 8 pagi kami sudah harus berangkat ke kantor untuk acara orientasi. Ah, malam pertamaku di Jepang. Di kamar yang nyaman. Meskipun minimalis, tapi membuat betah. Aku mengingat lagi perjalanan dan banyak hal lain hingga sampai bisa berada disitu malam itu sebagai pengantar tidurku.
Segala puji bagi-Mu Allah, aku menutup hari pertamaku di Tokyo dengan penuh rasa syukur.



di kenang dan dituliskan kembali.


2 November 2013
aL- Kamar Asrama, Osaka.

1 komentar: