25 Juni 2013 .
Aku menoleh lagi dan membalas lambaian
tangan Mama, Kakak, dan sahabat-sahabatku di balik kaca. Bapak hanya berdiam di
belakang mereka. Menatap keberangkatanku dengan tatapan yang sulit kuungkapkan maknanya. Aku beringsut menyeret
koper berat ke tempat check in bagasi. Setelah semua prosedur bagasi dan
pengecekan paspor selesai, aku menyusuri lobby airport menuju gate keberangkatan.
Ada perasaan aneh yang tiba-tiba menyeruak, mungkin rasa yang sering kita sebut
“sepi”.
Kutarik nafas dalam-dalam, menghembuskannya
perlahan.
“Yosh ! Setelah ini hanya aku, Allah,
beserta dua malaikat di sisiku. Jangan pernah Kau biarkan aku merasa sendiri,
Tuhan..” bisikku.
Ini kali pertama aku pergi jauh
meninggalkan keluarga untuk waktu yang tidak singkat, 2 bulan. Kali pertama pula
aku akan naik si burung besi, keluar dari negeri bernama Indonesia.
Tokyo, kota yang kutuju.
“Berkahilah aku yang pergi, dan jagalah
mereka yang kutinggalkan ya Rabb…” Jalan yang kutapaki mulai buram, pelupuk
mataku membendung cairan bening. Segera ku seka agar tak keburu deras menetes.
"Ada Allah, aku tak akan pernah sendirian !" Ku ulang-ulang kalimat itu bagai
mantra yang menyugesti.
Ah mengerti apa aku soal prosedur bepergian
ke luar negeri? Mengerti apa aku soal prosedur di bandara? Hanya berbekal sedikit pengetahuan dari browsing internet, tanya-tanya kerabat beberapa hari sebelum beragkat. Di lapangan, aku hanya mencoba praktek dengan mengikuti
apa-apa yang orang lakukan, dan sedikit bertanya jika memang benar-benar
diperlukan. Selebihnya banyak diam dan belajar mencerna situasi sendiri. Semua
tampak sibuk dengan urusan masing-masing. Tak usahlah aku menambah kesibukan
mereka dengan pertanyaan-pertanyaan. Tak ada kawan disebelah kanan kiri yang
bisa ku ajak bicara. Ah, pikiranku sibuk membaca keadaan, sedang hatiku sibuk
berdialog dengan Tuhan. Terus minta arahan, minta perlindungan. Menanti saatnya
boarding, hening sekali senja itu. Hening di benakku sendiri.
Saat mulai masuk pesawat, pramugari cantik
menyapaku, bertanya nomor seat-ku dengan bahasa Melayu. Agaknya dia pikir aku
orang Malaysia. Seatku di kelas ekonomi, dapat di tepi jalan lewat. Ah, padahal
pertama kalinya naik pesawat, ingin duduk di pojok, dekat jendela. Ingin
menikmati hamparan cahaya lampu kota dari ketinggian. Tetangga sebelah seat-ku
wanita, dua dosen muda dari Universitas Syah Kuala, Malaysia. Mereka baru
menyelesaikan studi banding dengan Universitas Trisakti Jakarta, katanya.
“Nak ke Jepun seorang je?” tanya Kak Ros,
salah satu dari dua dosen itu setelah kita berkenalan. Aku mengangguk dan
tersenyum. “Iye…” tambahku. Tak sadar kenapa pula jadi ikut beraksen melayu?
Begitu pesawat mulai take off, mataku terus
menatap ke arah jendela. Berdebar-debar antusias.
Kita terbang ! Kelap-kelip
cahaya lampu sedikit terlihat dari jendela. Indahnya ! Bagai hamparan berlian
berkilau-kilau di gelap malam. Kak Ros yang duduk paling dekat dengan jendela
menyadari keantusiasanku.
“Kali pertama kah? Kenapa tak cakap? Kita
boleh tukar seat tadi…” katanya sambil tersenyum, mungkin lucu melihat binar
antusias di mataku.
“Ah, tak ape…” sahutku malu.
Selama mungkin dua jam perjalanan
Jakarta-Kuala Lumpur aku ditemani mengobrol dengan dua dosen ini. Bersyukur
dulu sempat hobi menonton Upin-Ipin di TV, jadi aku tak kesulitan memahami
pembicaraan saat itu. Mereka bahkan memberiku petunjuk transit begitu sampai di
Bandara KL. Ah, Alhamdulillah.. pertolongan Allah selalu datang lewat siapa
saja.
Transit tengah malam di Bandara semegah Kuala Lumpur International Airport
sempat membuatku jiper. Meskipun sudah banyak dijelaskan tetap saja begitu
jalan sendiri bingung lagi. Rumus ikut-ikut dan tanya-tanya akhirnya
mengantarku ke gate keberangkatan selanjutnya menuju Narita Airport. Sempat
berkenalan juga dengan Sisy, bule Mexico dan mengobrol sebentar dengan bahasa
inggrisku yang sangat seadanya. Begitu masuk pesawat, sayangnya kami pisah
duduk sehingga aku “sendirian” lagi.
Yes ! Pesawat kedua ini seatku di pojok, dekat
jendela. Mentari pagi pertamaku di Jepang bisa kusapa dibalik jendela itu dalam
tujuh atau delapan jam kedepan. Laki-laki Jepang datang, duduk di seat
sebelahku. Namun tak lama, karena pesawat tidak terlalu banyak penumpang,
akhirnya dia pindah mencari seat kosong yang lain. Ah baguslah. Aku memang
butuh duduk sendiri saat ini. Tidak ingin dilihat aneh oleh tetangga saat
sholat sambil duduk nanti.
Waktu sudah hampir pukul tiga dini hari dan
pesawat sudah lepas landas sekitar tiga jam yang lalu. Aku terbangun dari tidur singkatku. Di luar jendela hanya kegelapan. Sama seperti di dalam kabin, hanya
beberapa lampu-lampu petunjuk Lavatory dan Exit Door yang terlihat menyala.
Memang sudah jamnya istirahat. Beberapa pramugari menyusur lorong kabin,
memeriksa barangkali ada yang butuh sesuatu. “Water, Please?” pintaku pada
seorang pramugari yang lewat seatku. Haus.
Seolah masih belum bisa percaya, malam itu
aku dalam perjalanan menuju negeri Sakura yang selama ini kuimpikan ! Sejurus
setelah itu aku pergi ke lavatory mengambil wudhu. Susah payah aku mengangkat
kaki ke westafel dan me-lap sisa-sisa air yang berceceran setelahnya. Ah,
setelah ini urusan wudhu dan ibadah tidak akan semudah biasanya. Perasaanku
bergolak, sedikit cemas, semangat, dan tertantang.
Sholat malam itu, berbeda. Deru mesin
pesawat menjadi latar belakang mengiring doa-doa yang kupanjatkan. Tak bisa kubendung
lagi, butiran-butiran bening itu akhirnya deras tercurah. Rasa syukur yang tak
terhingga, kecemasan-kecemasan bercampur harapan, semua menyeruak dalam benak.
Akan seperti apa kehidupanku dua bulan ini, ya Rabb?
Setelah itu aku tak bisa tidur lagi.
Pikiran melayang kemana-mana, tentang keluarga, teman-teman, proses penuh liku,
kegalauan tingkat dewa, dan perjuangan yang ku jalani sampai bisa berangkat ke
Jepang saat ini. Aku sibuk menulisinya di selembar kertas. Sesekali airmata
menetes lagi. Ah, aku memang mudah sekali menangis ! Tanpa sadar langit di
jendela sudah mulai berwarna biru tua. Aku lihat flight information di monitor
seat, kita sudah di atas pulau Kyushuu. Time to Landing 2 hours.
Setelah sarapan dan sholat subuh, aku
kembali tertidur sebentar. Begitu bangun, warna biru cerah dan awan putih
bersih bagai kapas menyapaku. Sudah hampir sampai ! Waktu landing 30 menit
lagi. Nihon, Ohayou ! Saat pesawat mulai merendah dan landscape Jepang
sudah terlihat, antusiasku tak terbendung ! Bukit, sungai, ladang yang hijau
dan jalan-jalan beraspal mengurat di sela-selanya. Subhanallah, Indah ! Mataku
tak berpaling sedikitpun dari kaca jendela sampai roda pesawat benar-benar menyentuh
tanah dan berhenti.
Welcome to Narita ! Welcome to Japan,
Youkoso !
Sempat ikut-ikut dengan satu keluarga Indonesia
yang akan liburan ke Jepang, aku akhirnya sampai di bagian imigrasi. Namun
karena proses pemeriksaanku cukup lama, akhirnya terpisah lagi dari keluarga
itu. Sempat berkenalan juga dengan Mbak Yayan, guru bahasa Jepang yang datang
bersama rombongan magang lain. Ah, ada rasa iri juga melihat mereka datang beramai-ramai. Seru sekali sepertinya ! Aku pun magang, tapi datang sendirian.
Aku bergegas, rumus tanya-tanya dengan
bahasa Jepang se”ngerti”nya berhasil mengantarku menemukan bagasi dan berjumpa
dengan Mr.Jim, kerabat di Tokyo yang menjemputku, dan mengantar menuju kantor
Pasona, tempatku magang 2 bulan ke depan. Mr.Jim, ohisashiburi ! Pertama kali
bertemu dengan beliau dua tahun lalu di Bandara Soekarno-Hatta, Alhamdulillah ya
Allah, kami bisa bertemu lagi di Tokyo, kata-kata yang dulu aku sampaikan
padanya bahwa aku akan ke Jepang suatu saat nanti, terwujud hari itu.
Unbelievable !
Kami menuju St. Tokyo dengan NEX, Narita
Express bertarif sekitar 3000 yen sekali jalan per orang. Aku di traktir ! Hontouni Arigatou gozaimasu, Mr.Jim .. Sepanjang
jalan Ia banyak memberiku pengarahan tentang kehidupan di Jepang. Sampai di
St.Tokyo roda koperku patah. Mungkin karena isinya keterlaluan berat. Kasihan
Mr.Jim yang membantuku membawanya jadi kepayahan.
By the way, Stasiun Tokyo benar-benar luaaasss… jauh lebih besar daripada Bandara Soekarno Hatta. Ah, suasana St.Tokyo pukul 9 pagi. Ramaaai ~
Begitu keluar Stasiun Tokyo, gedung-gedung
mentereng menyambutku. Benar-benar khas Ibu kota ! Kesan pertamaku, Jepang
bersih sekali ! Tak satu pun sampah kulihat bercecer di jalan. Semua rapih dan
kinclong. Kantor pusat Pasona yang terletak di
distrik Otemachi segera bisa ditemukan, hanya 5 menit berjalan dari Exit
Nihombashi St.Tokyo. Setelah sampai di kantor, Hirano-san, salah satu staf HRD
panitia penyelengara program Pasona Kokusai Kouryuu Program 2013 itu
mengizinkanku untuk menghubungi Mama di Indonesia. Ah, betapa jauhnya suara
Mama kurasa saat itu. Berulang kali Mama harus memastikan, ”Ini Tuti?! Udah
sampai??” Seolah tak percaya, anak bungsunya yang kemarin Ia lepas berangkat
seorang diri sudah tiba di negeri orang dengan selamat. Alhamdulillah ya Allah…
Aku anggota internship yang datang paling
awal. Begitu Mr.Jim pulang, Hirano-san menemaniku mengenal suasana kantor.
Pasona adalah kantor yang “berbeda” dari kantor-kantor biasa. Suatu saat aku
akan ceritakan ya, uniknya kantor Pasona, perusahaan staffing dan recruitment
yang cukup terkenal di Jepang ini. Selanjutnya Milana Kuzmanovic, mahasiswa asal Bosnia
Herzegovina yang kuliah di USA adalah peserta internship kedua yang datang,
teman pertamaku di Jepang.
Setelah itu, aku dan Milana menghabiskan siang di
kantor, menunggu peserta lain datang. Valerie Wu dari Hongkong, Lu Chi Liu dari
Taiwan, dan James Lunde dari USA adalah teman-temanku selanjutnya. Pukul 5.00
PM JST (Japan Standart Time) kami diantar menuju apartemen tempat kami akan tinggal selama dua bulan waktu
magang. Kami masing-masing tinggal dalam single-room di apartemen bernama West
Inn 137, terletak di distrik Toshima, sebuah kawasan dekat Ikebukuro dan Mejiro. 402
nomor kamarku. Lantai empat, pas di depan lift.
Pukul 7.00 PM, setelah mandi dan sholat Maghrib,
aku keluar bersama empat teman baruku itu untuk mencari makan malam. Saat itu pertama kalinya
mereka kuberi tahu bahwa aku tidak bisa makan daging. Maka setelah
memilih tempat makan yang ada menu non-daging, Kitsune-Udon lah menu makan
malam pertamaku di Tokyo. Ah, sejak makan siang tadi makan masakan Jepang,
sejujurnya perutku yang belum beradaptasi merasa mual. Namun aku harus tetap
makan, menghindari kambuhnya sakit maag-ku. Memegang erat salah satu amanah dari
keluarga, “Jaga makan, jaga kesehatan!”
Selesai makan kami pulang dan beristirahat
di kamar masing-masing. Agaknya perjalanan panjang membuat kami sama-sama
lelah. Ditambah lagi besoknya, jam 8 pagi kami sudah harus berangkat ke kantor
untuk acara orientasi. Ah, malam pertamaku di Jepang. Di kamar yang nyaman.
Meskipun minimalis, tapi membuat betah. Aku mengingat lagi perjalanan dan
banyak hal lain hingga sampai bisa berada disitu malam itu sebagai pengantar tidurku.
Segala puji bagi-Mu
Allah, aku menutup hari pertamaku di Tokyo dengan penuh rasa syukur.
di kenang dan dituliskan kembali.
2 November 2013
aL- Kamar Asrama, Osaka.

Keren banget senseeei :')
BalasHapus